home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengupas 5 Manfaat Biji Selasih yang Tak Boleh Dilewatkan

Mengupas 5 Manfaat Biji Selasih yang Tak Boleh Dilewatkan

Mungkin tak banyak orang yang rutin mengonsumsi biji selasih, sebab penggunaannya masih terbatas sebagai topping minuman atau campuran makanan penutup. Nyatanya, ada segudang kandungan manfaat yang ditawarkan biji selasih. Apa saja?

Kandungan biji selasih

manfaat dan kandungan biji selasih

Biji selasih adalah bibit dari tanaman basil yang daunnya sering dijadikan sebagai bumbu masakan. Dikenal dengan nama latin Ocimum basilicum, kandungan gizi tanaman basil dan biji-bijiannya mengandung beragam senyawa aktif yang bermanfaat di bawah ini.

  • Protein: 4 g
  • Lemak: 0,5 g
  • Karbohidrat: 10,5 g
  • Serat: 5,3 g
  • Kalsium: 122 mg
  • Fosfor: 16 mg
  • Besi: 13,9 mg
  • Natrium: 3 mg
  • Kalium: 259 mg
  • Tembaga: 0,4 mg
  • Seng: 0,7 mg
  • Beta-karoten: 4,112 mcg
  • Tiamin (vitamin B1): 0,5 mg
  • Riboflavin (vitamin B2): 0,1 mg
  • Niasin: 0,2 mg
  • Vitamin C: 24 mg.

Manfaat biji selasih

Usai mengenali betapa banyak kandungan vitamin dan mineral dalam biji selasih, sudah tentu ada banyak manfaat yang dihasilkan dari biji-bijian ini, bukan?

Berikut ini sederet khasiat biji selasih yang tentu baik untuk kesehatan tubuh dan sayang dilewatkan.

1. Membantu mengobati jerawat

infeksi pada jerawat

Bagi Anda yang memiliki jerawat, biji selasih mungkin bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah kulit ini. Pasalnya, biji selasih mengandung beragam jenis antioksidan, antara lain:

Senyawa antioksidan ini bisa membantu memelihara kesehatan kulit dengan cara menangkal radikal bebas yang merusak sel kulit. Bahkan, kandungan anti-mikroba pada biji selasih juga memiliki manfaat berupa membasmi jerawat.

Hal ini dibuktikan lewat penelitian dari The Journal of Cosmetic Medicine. Para peneliti mengungkapkan biji selasih yang diolah menjadi krim efektif mengobati jerawat secara alami.

Meski begitu, penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk melihat, apakah efeknya sama ketika biji selasih dikonsumsi.

2. Menurunkan kolesterol

Selain baik untuk kesehatan kulit, biji selasih juga berkhasiat dalam menurunkan kolesterol. Begini, hampir setiap tanaman mengandung pektin, termasuk selasih dan bijinya.

Pektin merupakan bentuk serat larut yang membuat tubuh merasa kenyang lebih lama. Sementara itu, jenis polisakarida kompleks ini memberikan tubuh lebih banyak waktu untuk menyerap zat gizi.

Kandungan serat ini yang membuat biji selasih berguna untuk menjaga jumlah kolesterol normal. Sementara itu, antioksidan di dalamnya melindungi pembuluh darah dan mencegah pembentukan plak.

Itu sebabnya, konsumsi biji selasih dalam batas wajar bisa membantu Anda menurunkan kolesterol dan risiko penyakit jantung.

3. Menjaga kesehatan tulang

Khasiat lain yang bisa Anda peroleh dari biji selasih yaitu baik untuk kesehatan tulang. Hal ini dikarenakan kandungan mineral dalam biji selasih mampu menjaga kekuatan dan kepadatan tulang, seperti:

Seluruh mineral yang disebutkan memang diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang. Sebagai contoh, tubuh membutuhkan kalsium yang ada dalam biji selasih untuk memelihara tulang dan mendukung struktur tulang serta gigi.

Jadi, pastikan Anda memenuhi kebutuhan harian kalsium dan mineral lainnya guna menghindari penyakit yang berkaitan dengan tulang, seperti osteoporosis.

4. Baik untuk sistem pencernaan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, biji selasih kaya akan serat larut yang disebut pektin. Berkat pektin ini, biji selasih memberikan manfaat yang baik untuk sistem pencernaan.

Pektin adalah serat larut yang bersifat prebiotik. Artinya, jenis serat pangan ini sangat sehat untuk usus dan fungsi pencernaan. Selain itu, sifat anti-peradangan dari pektin juga membantu menghentikan peradangan.

Bahkan, serat yang bisa dijumpai dalam suplemen ini membantu mengatur kadar air dalam tubuh dan mengendalikan sekresi hormon.

Itu sebabnya, konsumsi makanan yang mengandung pektin memberikan rasa kenyang lebih lama. Anda pun bisa memanfaatkan biji selasih untuk menjaga berat badan tetap ideal dan terhindar dari kenaikan berat badan.

5. Membantu mengontrol gula darah

Sudah sejak lama tanaman herbal digunakan sebagai cara alami untuk mengontrol gula darah dan salah satunya adalah biji selasih.

Biji selasih terkenal akan kandungan seratnya yang tinggi, sehingga dipercaya mampu membantu mengendalikan dan mencegah diabetes. Hal ini dibuktikan dalam penelitian yang dimuat dalam jurnal Biomedicine & Pharmacotherapy.

Penelitian ini mencoba menggunakan tikus diabetes yang mengonsumsi ekstrak air dari biji selasih. Hasilnya, larutan biji selasih berpotensi menurunkan kadar gula darah pada hewan tersebut dan mendorong kembali pembentukan pulau pankreas.

Meski biji selasih mungkin memiliki manfaat bagi para penyandang diabetes, diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia. Hal ini bertujuan mempelajari dosis dan respon biji selasih terhadap glukosa manusia.

Cara mengolah biji selasih

Guna memenuhi gizi seimbang dan kebutuhan kalori, Anda bisa menambahkan biji dalam berbagai makanan, seperti:

  • smoothie,
  • milkshake dan minuman lainnya,
  • puding,
  • oatmeal,
  • hidangan pasta, serta
  • roti serta muffin.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar manfaat dan kandungan biji selasih, silakan konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Lee, C., Chen, L., Chang, T., Ke, W., Lo, Y. and Wang, C. (2011). The correlation between skin-care effects and phytochemical contents in Lamiaceae plants. Food Chemistry, 124(3), pp.833-841. Retrieved 4 November 2019. 

Hozayen, W. G., El-Desouky, M. A., Soliman, H. A. et al. (2016). Antiosteoporotic effect of Petroselinum crispum, Ocimum basilicum and Cichorium intybus L. in glucocorticoid-induced osteoporosis in rats. BMC Complement Altern Med, (16)165. Retrieved 4 November 2019.

Daun selasih, segar (Hoary basil, leaf, fresh). (n.d). Panganku. Retrieved 25 February 2021, from https://www.panganku.org/id-ID/view 

Han, H. (2018). Development of an effective formulation for an acne treatment cream with Ocimum basilicumusing invasomes. Journal Of Cosmetic Medicine, 2(2), 69-75. https://doi.org/10.25056/jcm.2018.2.2.69. Retrieved 25 February 2021. 

Calcium. (n.d). National Institute of Health. Retrieved 25 February 2021, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/Calcium-Consumer/ 

Lara-Espinoza, C., Carvajal-Millán, E., Balandrán-Quintana, R., López-Franco, Y., & Rascón-Chu, A. (2018). Pectin and Pectin-Based Composite Materials: Beyond Food Texture. Molecules (Basel, Switzerland), 23(4), 942. https://doi.org/10.3390/molecules23040942. Retrieved 25 February 2021. 

Munir, M., Qayyum, A., Raza, S., Siddiqui, N., Mumtaz, A., & Safdar, N. et al. (2017). Nutritional Assessment of Basil Seed and its Utilization in Development of Value Added Beverage. Pakistan Journal Of Agricultural Research, 30(3). https://doi.org/10.17582/journal.pjar/2017.30.3.266.271. Retrieved 25 February 2021. 

Chaudhary, S., Semwal, A., Kumar, H., Verma, H. C., & Kumar, A. (2016). In-vivo study for anti-hyperglycemic potential of aqueous extract of Basil seeds (Ocimum basilicum Linn) and its influence on biochemical parameters, serum electrolytes and haematological indices. Biomedicine & pharmacotherapy = Biomedecine & pharmacotherapie, 84, 2008–2013. https://doi.org/10.1016/j.biopha.2016.11.020. Retrieved 25 February 2021.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Tanggal diperbarui 09/03/2021
x