6 Tanda Kekurangan Selenium dan Dampaknya bagi Kesehatan

    6 Tanda Kekurangan Selenium dan Dampaknya bagi Kesehatan

    Selenium merupakan salah satu mineral yang penting bagi tubuh untuk menjalankan beberapa fungsi, seperti metabolisme hormon, sistem imun, dan reproduksi. Kekurangan selenium bisa memberikan dampak buruk bagi tubuh Anda. Apa saja tanda-tandanya?

    Tanda-tanda tubuh kekurangan selenium

    kekurangan mineral

    Kadar selenium dalam makanan sangat bergantung pada kualitas tanah tempat tumbuh sayuran dan buah-buahan yang Anda konsumsi.

    Tubuh Anda membutuhkan selenium untuk melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, membantu kelenjar tiroid berfungsi normal, dan mencegah jenis kanker tertentu.

    Untuk mendapatkan manfaat selenium, sebenarnya tubuh hanya membutuhkan mineral dalam jumlah kecil.

    Meskipun begitu, kekurangan asupan selenium bisa menyebabkan gejala-gejala yang perlu Anda waspadai seperti berikut.

    1. Kelelahan

    Sejumlah kondisi tubuh kekurangan mineral, termasuk zat besi dan kalsium, dapat memicu tubuh Anda lelah dan lesu tanpa penyebab yang jelas.

    Kelelahan akibat defisiensi selenium mungkin juga berhubungan dengan hipotiroidisme, yakni kondisi saat kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon tiroid.

    Selenium membantu menjalankan fungsi kelenjar tiroid. Jika tubuh cukup mendapatkan asupan selenium, produksi hormon tiroid bisa terganggu.

    2. Brain fog

    Apabila sering merasa bingung, lupa, atau kurang berkonsentrasi, bisa saja Anda mengalami brain fog yang menjadi salah satu gejala tubuh kekurangan selenium.

    Brain fog atau mental fog dapat membuat seseorang kesulitan berpikir jernih. Hal ini lebih sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua.

    Nah, rendahnya kadar selenium di dalam tubuh dapat memengaruhi kemampuan berpikir seseorang sehingga mudah mengalami gangguan konsentrasi.

    Penurunan kadar selenium juga berkaitan dengan fungsi kognitif yang menurun seiring bertambahnya usia. Meski begitu, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

    3. Kelemahan otot

    Berkurangnya asupan selenium dari makanan yang Anda konsumsi dapat menyebabkan kelemahan otot. Selenium meningkatkan pelepasan kalsium yang mengoptimalkan kerja tulang dan otot.

    Itulah mengapa seseorang dengan kadar selenium rendah rentan mengalami gangguan otot rangka. Hal ini dapat menyebabkan gejala seperti kelemahan dan nyeri otot.

    Penelitian berjudul A Rare Cause of Cardiomyopathy juga menemukan kekurangan mineral ini dapat menyebabkan kardiomiopati, yakni penyakit terkait otot jantung yang melemah.

    4. Rambut rontok

    Pertumbuhan rambut juga dipengaruhi oleh hormon tiroid. Produksi tiroid yang terhambat akibat tubuh kekurangan selenium bisa menyebabkan rambut rontok.

    Penurunan hormon tiroid akan memengaruhi perkembangan sel-sel pada folikel rambut. Hal inilah yang membuat rambut Anda rontok lebih cepat dari biasanya.

    Sayangnya, kerontokan mungkin tidak diikuti pertumbuhan rambut baru. Rambut menipis hingga kebotakan merupakan risiko yang bisa terjadi akibat kondisi ini.

    5. Mudah terserang penyakit

    Kadar selenium yang rendah dalam tubuh dapat membuat Anda lebih rentan terhadap penyakit menular.

    Berkurangnya mineral ini dapat meningkatkan kadar radikal bebas. Jika radikal bebas meningkat dalam jumlah besar, kondisi ini bisa menyebabkan stres oksidatif.

    Akibatnya, Anda lebih mudah terkena penyakit dalam waktu lama, misalnya flu yang tak kunjung sembuh.

    6. Gangguan kesuburan

    Kekurangan selenium dapat menyebabkan gangguan kesuburan atau infertilitas pada pria dan wanita.

    Kadar mineral yang rendah dalam testis pria bisa mengakibatkan penurunan produksi dan kualitas sperma. Hal ini mungkin juga memengaruhi perkembangan kehamilan pada wanita.

    Asupan selenium yang rendah pada awal kehamilan bisa meningkatkan risiko keguguran, berat badan lahir rendah, hingga rusaknya sistem kekebalan dan saraf janin.

    Apa saja komplikasi akibat kekurangan selenium?

    pengobatan penyembuhan kanker tiroid

    Sebuah riset dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (2017) memperkirakan sekitar satu miliar orang di seluruh dunia mengalami defisiensi selenium.

    Kasus ini jarang terjadi pada orang yang tinggal di kawasan dengan tanah yang kaya akan selenium.

    Meski begitu, sebagian orang lebih berisiko mengalami kondisi ini, seperti orang yang menjalani dialisis, mengidap HIV, atau terkena penyakit Crohn atau gangguan pencernaan lainnya.

    Kekurangan selenium bisa berkembang jadi suatu kondisi yang serius. Ada dua komplikasi yang mungkin terjadi, yakni penyakit Keshan dan penyakit Kashin-Beck.

    Penyakit Keshan adalah infeksi virus yang merusak dinding jantung dan menyebabkan kardiomiopati. Hal ini lebih berisiko pada anak-anak dan wanita muda.

    Sementara itu, penyakit Kashin-Beck merupakan sejenis osteoarthritis yang menimbulkan gangguan sendi dan tulang akibat defisiensi selenium.

    Kedua masalah kesehatan akibat kekurangan selenium ini dapat menunjukkan gejala, seperti:

    • mual dan muntah,
    • sakit kepala,
    • kelesuan,
    • kebingungan,
    • perubahan mental, dan
    • koma.

    Bagaimana cara mengatasi kekurangan selenium?

    Berdasarkan Permenkes No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG), kebutuhan selenium laki-laki dewasa adalah 30 mcg per hari dan perempuan dewasa adalah 24 mg per hari.

    Sebagai langkah pencegahan defisiensi mineral selenium, Anda bisa mencoba untuk mengonsumsi makanan tinggi selenium. Beberapa di antaranya, termasuk:

    • nasi,
    • kacang-kacangan,
    • roti gandum utuh,
    • daging merah,
    • daging unggas,
    • telur, dan
    • ikan.

    Anda juga bisa meningkatkan asupan selenium harian dengan minum suplemen selenium. Mineral ini umumnya tersedia dalam multivitamin yang tersedia di apotek.

    Meski begitu, Anda perlu mengetahui anjuran pemakaian suplemen dengan benar. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum Anda minum suplemen multivitamin.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Selenium. The Nutrition Source – Harvard T.H. Chan School of Public Health. (2021). Retrieved 6 December 2021, from https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/selenium/

    Selenium. National Institutes of Health. (2021). Retrieved 6 December 2021, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/Selenium-HealthProfessional/

    Selenium Deficiency – Disorders of Nutrition. MSD Manual. (2020). Retrieved 6 December 2021, from https://www.msdmanuals.com/home/disorders-of-nutrition/minerals/selenium-deficiency

    Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Retrieved 6 December 2021, from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No__28_Th_2019_ttg_Angka_Kecukupan_Gizi_Yang_Dianjurkan_Untuk_Masyarakat_Indonesia.pdf

    Cardoso, B. R., Szymlek-Gay, E. A., Roberts, B. R., Formica, M., Gianoudis, J., O’Connell, S., Nowson, C. A., & Daly, R. M. (2018). Selenium Status Is Not Associated with Cognitive Performance: A Cross-Sectional Study in 154 Older Australian Adults. Nutrients, 10(12), 1847. https://doi.org/10.3390/nu10121847

    Jones, G., Droz, B., Greve, P., Gottschalk, P., Poffet, D., & McGrath, S. et al. (2017). Selenium deficiency risk predicted to increase under future climate change. Proceedings Of The National Academy Of Sciences, 114(11), 2848-2853. https://doi.org/10.1073/pnas.1611576114

    Munguti, C. M., Al Rifai, M., & Shaheen, W. (2017). A Rare Cause of Cardiomyopathy: A Case of Selenium Deficiency Causing Severe Cardiomyopathy that Improved on Supplementation. Cureus, 9(8), e1627. https://doi.org/10.7759/cureus.1627

    Pieczyńska, J., & Grajeta, H. (2015). The role of selenium in human conception and pregnancy. Journal of trace elements in medicine and biology : organ of the Society for Minerals and Trace Elements (GMS), 29, 31–38. https://doi.org/10.1016/j.jtemb.2014.07.003

    Huang, Z., Rose, A. H., & Hoffmann, P. R. (2012). The role of selenium in inflammation and immunity: from molecular mechanisms to therapeutic opportunities. Antioxidants & redox signaling, 16(7), 705–743. https://doi.org/10.1089/ars.2011.4145

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Dec 13, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan