5 Fakta Mengejutkan Seputar Susu Kental Manis (SKM), yang Ternyata Bukan Susu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anda tentu familier dengan susu kental manis (SKM), kan? Susu yang bertekstur kental dan memiliki cita rasa manis ini ternyata sedang marak dibicarakan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan larangan adanya tampilan anak pada label maupun kemasannya. Beberapa iklan bahkan ada yang ditarik dari peredaran karena tidak sesuai dengan aturan tersebut.

Lantas, kenapa susu kental manis begitu kontrovesial akhir-akhir ini? Cari tahu fakta-fakta lengkapnya di sini.

Fakta susu kental manis yang perlu Anda ketahui

Susu kental manis memang menggugah selera karena memiliki rasa yang manis. Umumnya, susu ini digunakan sebagai topping atau campuran dalam makanan atau minuman. Beberapa orangtua juga bahkan memberikan susu ini kepada balita. Namun, Anda harus hati-hati karena manfaat susu ini belum tentu semanis rasanya.

Berikut beberapa fakta tentang SKM yang perlu Anda ketahui:

1. Beda dengan susu sapi

SKM berasal dari susu sapi. Namun, kandungan air di dalamnya sudah diambil dan dibuang melalui proses evaporasi atau penguapan. Selain diuapkan, susu ini juga diberikan gula tambahan sehingga teksturnya jadi lebih kental dan lengket. Sayangnya, hal tersebut justru menyebabkan kandungan protein di dalamnya lebih rendah, sementara kadar gula serta kalorinya tinggi.

Berbeda dengan kandungan susu sapi yang memiliki kadar protein cukup tinggi serta mengandung banyak vitamin lainnya yang diperlukan tubuh. Tak hanya itu, susu sapi juga dilengkapi dengan berbagai zat gizi lain seperti lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin D, dan vitamin A.

Faktanya, satu sachet SKM memiliki kalori sebesar 180 kkal dengan rincian 67% karbohidrat, 30% lemak, dan 3% protein. Sedangkan 1 gelas susu sapi segar memiliki kalori sebesar 146 kkal dengan rincian 49% lemak, 30% karbohidrat, dan 21% protein.

Oleh karena itu, SKM tidak sama dengan susu sapi dan bahkan tidak bisa dijadikan pengganti susu sapi biasa.

2. Tidak untuk konsumsi bayi dan anak

Selama ini, banyak orang menganggap bahwa SKM baik dikonsumsi setiap hari. Bahkan boleh juga diberikan secara teratur kepada balita. Persepsi ini salah kaprah.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), susu kental manis tidak boleh diberikan pada bayi dan anak. Susu kental manis tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi anak karena susu ini sudah kehilangan banyak sekali kandungan nutrisi dalam proses pengolahannya.

Selain itu, kandungan gula tambahan di dalamnya juga menjadi ancaman tersendiri jika dikonsumsi anak-anak. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) adalah kurang dari 10 persen total kebutuhan kalori.

SKM punya kadar gula tambahan yang tinggi dan melebihi batas tersebut. Dalam satu porsi (4 sendok makan) salah satu susu kental manis yang dijual di pasaran, kalorinya mencapai 130 kkal dengan kadar gula tambahan sebanyak 19 gram dan protein 1 gram.

Tak hanya itu, apabila sejak kecil anak sudah dikenalkan dengan makan yang manis-manis, nantinya mereka jadi tidak mau mencoba makanan jenis lainnya yang lebih kaya nutrisi. Inilah sebabnya kenapa susu kental manis tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak.

3. Bukan untuk diminum setiap hari

Berdasarkan anjuran dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), susu yang bertekstur kental dan memiliki rasa manis ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari. Hal ini karena kandungan gula dan lemaknya yang tinggi dapat mengganggu kesehatan.

Sebaliknya, susu jenis ini lebih cocok dikonsumsi sebagai pelengkap makanan atau minuman saja. Misalnya sebagai pemanis kopi, seperti yang diutarakan oleh Kirana Pritasari, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI.

4. Berisiko buat kesehatan

Tahukah Anda bahwa di balik manisnya rasa susu kental manis, terdapat bahaya kesehatan yang tidak boleh dianggap sepele? Ya, selain kandungan gizi yang jauh lebih sedikit ketimbang susu sapi biasa, ternyata terlalu banyak mengonsumsi susu kental manis juga berisiko bagi kesehatan Anda. Hal ini disebabkan karena susu kental manis mengandung gula dalam jumlah sangat tinggi.

Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula bisa menyebabkan Anda terkena penyakit diabetes (kencing manis), obesitas atau kelebihan berat badan, dan kerusakan gigi. Tak hanya itu, terlalu banyak makan makanan manis juga bisa memicu berbagai penyakit kronis seperti penyakit jantung atau stroke.

Oleh sebab itu, susu kental manis tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak dalam masa pertumbuhan.

5. Boleh dikonsumsi, asal jangan berlebihan

Dari penjelasan di atas, Anda pasti bertanya-tanya, jadi apakah susu kental manis boleh dikonsumsi? Jawabannya, tentu saja boleh dikonsumsi. Namun, pastikan Anda tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Selalu ingat, bahwa SKM berfungsi sebagai pelengkap makanan saja dan bukan merupakan susu yang baik untuk dikonsumsi secara rutin setiap harinya. Jika Anda minum es atau makan kue, susu kental manis tetap boleh digunakan. Akan tetapi, jangan minum susu kental manis untuk diseduh atau dilarutkan di dalam air setiap harin ya!

Selain itu, jangan jadikan susu yang punya rasa manis yang pekat ini sebagai pengganti ASI ataupun susu yang rutin dikonsumsi anak setiap hari. Yang tak kalah penting, hindari mengonsumsi susu kental manis jika Anda memiliki riwayat penyakit diabetes. Kandungan gula SKM yang tinggi bisa menyebabkan kadar gula darah jadi tidak terkendali, apalagi pada diabetesi.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

    Kenapa perokok lebih gampang sakit? Merokok ternyata memiliki dampak berbahaya terhadap daya tahan tubuh. Lalu apa yang bisa dilakukan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

    6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

    Urat menonjol pada permukaan kulit memang kerap ditemui pada orang berusia lanjut. Lalu apa artinya kalau masih muda sudah mengalami kondisi ini?

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan, Informasi Kesehatan 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

    Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

    Ternyata menonton film sedih bukan cuma membuat kita menangis, tapi ada juga manfaat lainnya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    mencium bau

    Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    makanan yang tidak boleh dimakan saat perut kosong

    7 Makanan dan Minuman yang Tidak Boleh Dimakan Saat Perut Kosong

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    memotong kuku

    Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    sakit kepala setelah makan

    Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit