Genophobia, Kondisi yang Membuat Seseorang Takut Berhubungan Seks

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 November 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Bercinta harusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Namun pada kenyataannya, ada sebagian wanita yang takut berhubungan intim dengan pasangan. Wanita yang mengalami phobia terhadap seks biasanya takut untuk melakukan hubungan seksual. Apa yang menjadi penyebabnya? Simak artikel berikut.

Mengenal genophobia

Apakah Anda pernah mendengar istilah genophobia? Istilah ini yang akan menjelaskan kondisi ketakutan pada wanita untuk melakukan hubungan intim. Genophobia atau juga dikenal dengan coitophobia adalah ketakutan untuk melakukan hubungan seks. Wanita yang mengalami ketakutan ini, biasanya akan takut terhadap tindakan-tindakan yang mengarah ke seks dan takut untuk melakukan penetrasi.

Istilah genophobia ini juga sering tertukar dengan erotophobia. Meskipun dua hal ini sama-sama menjelaskan tentang ketakutan terhadap seks, namun kondisi keduanya berbeda. Erothophobia adalah ketakutan dengan semua hal yang berhubungan dengan seks.

Genophobia sama seperti phobia yang lain. Ketakutan ini muncul karena adanya trauma parah pada genophobia. Pemerkosaan dan penganiayaan adalah pemicu paling sering yang ditemukan pada orang-orang yang mengalami genophobia. Budaya dan agama juga kemungkinan besar ikut mempengaruhi berkembangnya genophobia pada seseorang.

Genophobia atau takut berhubungan intim ini sering juga dikaitkan dengan kekhawatiran pada bentuk tubuh atau rasa tidak percaya diri saat akan melakukan seks. Kondisi medis tertentu juga ikut berperan kenapa seseorang takut berhubungan intim.

Penyebab takut berhubungan intim

1. Sindrom trauma pemerkosaan

Pemerkosaan adalah tindakan kriminal seksual yang terjadi ketika seseorang memaksa untuk melakukan hubungan seksual dalam bentuk penetrasi vagina atau anus dengan penis. Setelah tindakan ini, korban akan mengalami reaksi psikologi. Korban pemerkosaan akan mengalami guncangan mental dan trauma yang mendalam.

Sindrom ini merupakan respon dari bentuk ketakutan mendalam terhadap kematian yang kebanyakan dialami oleh para korban pemerkosaan. Fase dari sindrom ini meliputi reaksi langsung dari dampak yang dialami (baik diungkapkan oleh si korban maupun tidak), reaksi fisik, dan reaksi emosional terhadap situasi yang mengancam jiwa mereka. Sedangkan, proses jangka panjangnya meliputi perubahan gaya hidup, mimpi buruk berkepanjangan dan genophobia. Hal ini yang menyebabkan kenapa takut berhubungan intim.

2. Khawatir berlebihan

Kekhawatiran ini terjadi biasanya karena kurangnya atau bahkan tidak adanya pengalaman atau pendidikan seks yang cukup. Mereka takut tidak bisa memuaskan atau meyenangkan pasangannya ketika bercinta. Meskipun terdengar sepele, jika dibiarkan hal ini bisa menyebabkan genophobia.

3. Penyakit tertentu

Ketakutan akan penyakit yang menular melalui seks dapat menyebabkan seseorang takut berhubungan intim. Orang yang mengalami genophoba karena ini biasanya memiliki pengalaman di sekitar mereka yang mengidap penyakit menular seks dan menyebabkan kematian. Sehingga menyebabkan ketakutan terhadap seks. Mereka beranggapan bahwa seks sangat berbahaya dan dapat menyebabkan mereka merasakan sakit.

4. Kondisi medis

Seseorang dengan kondisi medis tertentu sangat besar kemungkinannya takut berhubungan intim dengan berbagai alasan. Disfungsi ereksi dan penyakit jantung paling besar risikonya meningkatkan genophobia pada seseorang. Meskipun telah mendapatkan nasihat dokter bahwa aman melakukan hubungan seks. Mereka cenderung enggan bahkan tidak mau untuk melakukan seks. Hal ini biasanya sudah berlangsung cukup lama.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Gemetar Setelah Minum Kopi? Mungkin Anda Overdosis Kafein

Tangan atau tubuh tiba-tiba gemetar setelah minum kopi? Hati-hati, mungkin Anda sudah mengalami overdosis kafein. Apa saja gejala lainnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Fakta Gizi, Nutrisi 14 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

5 Fakta Unik Viagra, Bukan Sekadar Obat Kuat Pria

Obat viagra kini dikenal sebagai obat kuat pria. Padahal, ada beragam fakta obat viagra yang mungkin tidak Anda sangka. Yuk, ketahui info lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Sarmoko, Apt.
Kesehatan Pria, Impotensi 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Makan Telur Mentah, Sehat atau Malah Berbahaya?

Telur mentah bisa ditemukan dalam berbagai minuman dan masakan. Tapi ternyata ada banyak risiko makan telur mentah, apalagi untuk orang-orang tertentu.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Fakta Gizi, Nutrisi 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Inilah Fungsi 4 Hormon Penting untuk Manusia Bertahan Hidup

Anda mungkin sudah tahu kalau hormon yang tak seimbang bisa menimbulkan masalah kesehatan. Tapi, tahukah Anda apa saja fungsi hormon esensial dalam tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Kesehatan, Informasi Kesehatan 11 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara merangsang istri

Untuk Para Suami, Ini 10 Trik Memanjakan Istri Agar Lebih Bergairah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
sakit kepala setelah keramas

Tiba-tiba Sakit Kepala Setelah Keramas, Apa Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
setelah seks

4 Hal yang Harus Langsung Dilakukan Wanita Setelah Seks

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
payudara sakit tanda hamil

Payudara Terasa Sakit, Apa Penyebabnya Selalu Kanker?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit