Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

8 Ciri Hipokondria, Orang yang Sering Merasa Sakit Padahal Sehat

8 Ciri Hipokondria, Orang yang Sering Merasa Sakit Padahal Sehat

Apakah Anda pernah melihat orang yang selalu merasa sakit padahal sebenarnya sehat-sehat saja? Atau mungkin Anda sendiri yang mengalaminya? Kondisi ini bisa jadi merupakan salah satu ciri-ciri hipokondria.

Simak penjelasan lebih lengkap tentang hipokondria beserta ciri-cirinya pada ulasan berikut.

Apa itu hipokondria?

Hipokondria, atau dikenal dengan illness anxiety disorder, merupakan gangguan kecemasan ketika seseorang mengkhawatirkan kesehatannya secara berlebihan, padahal ia tidak mengidap penyakit yang dicemaskannya.

Orang-orang yang mengalami hipokondria selalu disibukkan dengan asumsi bahwa mereka mengidap penyakit yang sangat parah dan tidak bisa sembuh.

Kecemasan berlebih tersebut sering kali muncul begitu mereka mengalami gejala-gejala ringan. Biasanya, gejala terpusat pada salah satu organ atau bagian tubuh, seperti perut atau kepala.

Pada dasarnya, pengidap hipokondria harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyakitnya. Namun, banyak dari mereka malah memperburuk kondisinya dengan mendiagnosis diri sendiri berbekal Googling di internet.

Padahal, informasi kesehatan yang Anda dapatkan secara online belum tentu terbukti secara ilmiah. Obsesi untuk mencari tahu informasi kesehatan melalui internet ini dinamakan cyberchondria.

Ciri-ciri hipokondria yang dapat dikenali

dokter kandungan

Anda baru bisa didiagnosis mengidap hipokondria oleh dokter spesialis jiwa (psikiater) jika mengalami berbagai gejala gangguan mental ini dalam waktu lebih dari enam bulan.

Di antara sekian banyak gejala, berikut ciri-ciri hipokondria yang mungkin Anda miliki tanpa sadar.

1. Kecemasan berlangsung minimal selama enam bulan

Sangat wajar bila seseorang merasa cemas akan kondisi kesehatannya, apalagi jika ia mengalami tanda-tanda gangguan kesehatan yang serius.

Bedanya, orang-orang dengan hipokondria mengalami kecemasan dalam tingkat ekstrem dan/atau berlangsung minimal selama enam bulan.

Mereka juga cenderung fokus pada gejala-gejala spesifik yang muncul pada salah satu bagian tubuh, misalnya sakit kepala dikaitkan dengan tumor otak, sesak napas dikaitkan dengan penyakit jantung, atau sakit perut dikaitkan dengan kanker lambung.

Sementara itu, munculnya gejala pada bagian-bagian tubuh yang berbeda akibat sugesti atau kecemasan berlebih biasanya menandakan gangguan somatoform (somatisasi).

2. Selalu mencari pembenaran atas dugaan tentang kesehatan dirinya

Orang-orang dengan hipokondria memiliki kecemasan berlebih terhadap kesehatannya. Saat periksa ke dokter dan dikatakan bahwa dirinya sehat, dia justru akan menyangkal dan merasa ada yang salah dengan tubuhnya.

Oleh karena itu, ia akan terus mendatangi dokter yang berbeda sekalipun semua dokter mengatakan hal yang sama: “Anda sehat-sehat saja.”

Jika hal ini terjadi, tandanya masalahnya bukan ada pada kondisi fisik, melainkan mental. Untuk sedikit menenangkan diri, coba tanyakan pada diri Anda, ” Apa buktinya saya punya penyakit, padahal dokter menyatakan sehat?”.

Jika tidak ada buktinya, tanamkan dalam pikiran bahwa itu hanyalah ketakutan berlebihan yang tidak berdasar.

3. Suka memeriksa kondisi kesehatan secara tak wajar

Orang yang sering merasa sakit mungkin akan selalu membawa termometer ke mana pun. Sedikit-sedikit, ia akan langsung mengecek suhu tubuh dengan termometer karena merasa gelisah. Padahal, sebenarnya tidak ada yang salah dengan kesehatannya.

Ciri-ciri lainnya dari hipokondria yakni ia juga mungkin “mengoleksi” berbagai alat kesehatan seperti tensimeter atau alat tes gula darah, padahal tidak ada tanda-tanda penyakit tertentu yang harus dipantau kondisinya setiap hari.

4. Gejala ringan dikaitkan dengan penyakit serius

hipokondria gangguan kecemasan

Forrest Talley, Ph.D., seorang psikolog sekaligus terapis dari Invictus Psychological Services di California, Amerika Serikat menyatakan bahwa orang dengan hipokondria biasanya suka melebih-lebihkan kondisinya.

Gejala penyakit yang ringan bisa dihubung-hubungkan dengan penyakit berbahaya. Ambil contoh, saat mereka mengalami tenggorokan gatal, hal ini dikaitkan dengan kemungkinan pneumonia dan serangkaian penyakit pernapasan akut lainnya.

Ketakutan ini pada akhirnya mengesampingkan logika Anda. Anda pun selalu menganggap gejala ringan sebagai musibah besar yang akan mengancam kesehatan atau bahkan nyawa.

5. Selalu merasa sakit

Ciri-ciri lainnya dari hipokondria yaitu pemikiran yang dipenuhi oleh kekhawatiran akan kondisi kesehatan yang selalu buruk.

Anda selalu pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang muncul pada tubuh. Bahkan, pikiran Anda akan berpindah dari memikirkan satu penyakit ke penyakit lainnya.

Akibatnya, Anda selalu merasa bahwa Anda sakit parah dan harus periksa ke dokter. Tak heran kalau orang dengan hipokondria hampir selalu menghabiskan waktu dan uangnya untuk ke dokter.

Cek kondisi kesehatan secara berkala memang dapat mendeteksi penyakit secara dini. Namun, jika dilakukan berlebihan tanpa alasan yang jelas, hal ini juga tidak baik bagi kesehatan mental Anda.

6. Melakukan tes kesehatan yang sama berkali-kali

Gejala hipokondria lainnya ialah selalu melakukan tes kesehatan yang sama berulang kali.

Anda biasanya sulit memercayai hasil pemeriksaan dokter dan hasil tesnya sehingga akan terus meminta tes tambahan atau melakukan tes serupa di tempat lain.

Padahal, hasil tes sebenarnya sama saja, yaitu menyatakan bahwa Anda baik-baik saja. Hal ini sangat melelahkan karena Anda terus-terusan mengejar vonis atau diagnosis dokter yang sebetulnya tidak ada.

7. Menghindari janji temu dengan dokter

Meskipun terkesan bertentangan, orang dengan hipokondria justru kerap memilih untuk menghindari janji temu dengan dokter.

Biasanya, ciri-ciri ini muncul karena orang dengan hipokondria merasa sangat khawatir mendengar informasi buruk tentang kesehatannya.

Maka, tak jarang ia justru mengabaikan janji untuk medical check-up rutin hanya karena rasa takutnya. Padahal, jika ia ternyata memiliki masalah kesehatan yang benar-benar serius, menghindari pemeriksaan justru akan memperburuk kondisinya.

8. Terus membicarakan kondisi kesehatannya

mendukung teman setelah keguguran

Menurut Lauren Mulheim, seorang psikolog di Eating Disorder Therapy di Los Angeles, salah satu ciri-ciri hipokondria adalah selalu membicarakan tentang masalah kesehatan yang dimiliki.

Orang-orang dengan hipokondria biasanya terlalu memikirkan masalah kesehatan yang mungkin tidak ada. Pikiran pun menjadi bercabang sehingga mereka sulit fokus pada hal-hal lain di luar kesehatannya.

Tak jarang orang dengan hipokondria selalu mendominasi percakapan dengan terus membicarakan masalah kesehatannya, lengkap dengan kekhawatiran yang ia pikirkan seolah-olah kondisinya sangat memprihatinkan dan terpuruk.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

14 Subtle Signs You’re a Hypochondriac. (2022). Retrieved 23 April 2022, from https://www.thehealthy.com/mental-health/subtle-signs-youre-a-hypochondriac/

Help, G., Professionals, F., Listed, S., Help, G., Professionals, F., & Therapist, F. et al. (2022). Cyberchondria – GoodTherapy.org Therapy Blog. Retrieved 23 April 2022, from https://www.goodtherapy.org/blog/psychpedia/cyberchondria

Hypochondria: What is illness anxiety disorder?. (2022). Retrieved 23 April 2022, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/9983

Illness anxiety disorder – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 23 April 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/illness-anxiety-disorder/symptoms-causes/syc-20373782

Illness Anxiety Disorder (Hypochondria): Symptoms & Treatments. (2022). Retrieved 23 April 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9886-illness-anxiety-disorder-hypochondria-hypochondriasis

Gangguan Hipokondrik: Sebuah Laporan Kasus. (n.d.). Retrieved 6 May 2022, from https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/download/8515/6376/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ocha Tri Rosanti Diperbarui May 18
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.