home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengapa Semakin Tua Kemampuan Imajinasi Semakin Berkurang?

Mengapa Semakin Tua Kemampuan Imajinasi Semakin Berkurang?

Bermain dengan imajinasi sering tampak pada saat anak-anak sedang bermain. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan imajinasi? Seiring dengan bertambahnya usia, apakah kemampuan imajinasi itu akan tetap sama, atau justru semakin berkurang? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Kemampuan imajinasi sesuai usia

Imajinasi atau khayalan yang meningkatkan kreativitas adalah aktivitas yang melekat dengan anak-anak. Mereka melakukan hal ini, mulai dari saat bermain hingga membayangkan ingin menjadi apa ketika sudah dewasa nanti.

Hampir setiap anak-anak hingga yang telah memasuki usia remaja, masih memiliki imajinasi mengenai apa yang ingin dilakukannya pada saat mereka telah dewasa dengan mudah. Mulai dari menjadi astronot, dokter, hingga pahlawan, semua hal itu sering menjadi salah satu imajinasi mengenai apa yang akan dilakukan pada masa depan.

Meski demikian, kemampuan orang dewasa untuk menikmati imajinasi itu semakin berkurang, sehingga mereka sulit membayangkan mengenai apa yang akan terjadi pada masa depan. Menurut penelitian dari Harvard University, kemampuan imajinasi seseorang akan semakin berkurang seiring dengan pertambahan usia.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa ingatan episodik yang mewakili ingatan manusia tentang masa lalu memungkinkan seseorang berandai-andai tentang masa lalu dan masa depan. Namun, apabila ingin berimajinasi tentang masa depan, manusia perlu mengingat pengalaman pada masa lalu secara mendetail.

Sayangnya, pertambahan usia juga memengaruhi kemampuan otak dalam mengingat kejadian pada masa lalu. Artinya, orang yang sudah memasuki usia lanjut, semakin kesulitan saat hendak mengingat-ingat memori yang berkaitan dengan hal yang telah lalu.

Hal ini, pada akhirnya berdampak pada kemampuan berimajinasi. Pasalnya, kemampuan seseorang untuk memiliki imajinasi akan menurun saat kemampuan untuk mengingat memori pada masa lalu juga telah berkurang.

Penyebab berkurangnya kemampuan berimajinasi pada lansia

Tak sedikit orang menyangka penyebab lansia yang mulai tidak memiliki imajinasi adalah kemampuan berbicara yang menurun. Padahal, penelitian oleh para ahli dari Harvard University tersebut menunjukkan bahwa penyebabnya adalah penurunan fungsi kognitif pada otak.

Para peneliti dari Harvard melakukan wawancara kepada beberapa peserta dengan rentang usia 25-72 tahun. Para peserta itu diminta untuk menceritakan pengalaman pribadi pada masa lalu dan imajinasi mengenai apa yang akan terjadi pada masa depan setelah melihat kata yang ditentukan.

Dari hasil wawancara, terlihat bahwa kemampuan peserta yang telah memasuki usia lanjut dalam menceritakan kejadian pada masa lalu tidak lebih detail, dibandingkan cerita mengenai pengalaman masa lalu dari peserta yang lebih muda.

Selain itu, imajinasi para lansia mengenai masa depan memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan imajinasi peserta yang lebih muda. Kondisi ini tentu tidak terjadi karena peserta lansia sulit berbicara. Para peserta ini justru mendapatkan nilai yang cukup tinggi pada tes verbal dan dapat berbicara banyak perihal pengetahuan secara umum.

Oleh sebab itu, para peneliti menarik kesimpulan bahwa imajinasi sangat berkaitan erat dengan ingatan pada masing-masing individu. Mengingat kemampuan fungsi otak semakin menurun seiring dengan pertambahan usia, tak heran jika lansia sudah tidak lagi memiliki ingatan dan imajinasi layaknya anak muda.

Menjaga kesehatan otak adalah jalan terbaik

Walaupun kemampuan lansia dalam membentuk imajinasi mengenai masa depan semakin berkurang, bukan berarti para lansia tidak perlu menjaga kesehatan otak. Pasalnya, otak memiliki peranan penting dalam berpikir, belajar, dan mengingat berbagai hal dengan jelas.

Proses penuaan yang berdampak pada ingatan dan kemampuan imajinasi seharusnya tidak menghalangi untuk mempertahankan fungsi kognitif yang lansia miliki. Berikut adalah beberapa cara yang bisa lansia lakukan demi menjaga kesehatan otak agar tetap berfungsi dengan baik:

1. Membiasakan olahraga secara rutin

Menurut Harvard Medical School, menggerakkan otot dapat membantu otak untuk bekerja lebih baik. Pasalnya, saat tubuh aktif bergerak secara rutin, jumlah pembuluh darah yang membawa darah kaya oksigen ke area otak menjadi bertambah.

Selain itu, melakukan olahraga untuk lansia juga dapat meningkatkan perkembangan sel saraf yang baru dan meningkatkan hubungan antar sel-sel otak. Hal ini membantu otak bekerja dengan lebih efisien dan mudah beradaptasi. Dengan begitu, fungsi kognitif otak menjadi lebih baik pada lansia.

Tak hanya itu, berolahraga juga dapat membantu menurunkan tekanan darah serta kadar kolesterol, membantu mengontrol kadar gula darah, dan mengurangi stres. Faktor-faktor tersebut tak hanya menjaga kesehatan jantung lansia, tetapi juga kesehatan otaknya. Hal ini mungkin berpengaruh terhadap kemampuan imajinasi pada lansia.

2. Menjaga pola makan sehat

Menjaga pola makan sehat untuk lansia dapat membantu menjaga kesehatan otak. Pada otak yang sehat memiliki fungsi kognitif yang baik, sehingga berpotensi meningkatkan imajinasi pada lansia.

Pola makan sehat dapat mengurangi risiko lansia mengalami berbagai masalah kognitif dan demensia. Lansia dapat meningkatkan asupan buah, sayur, ikan, kacang-kacangan, dan sayuran yang mengandung protein lainnya dalam menu makanan sehari-hari.

Selain itu, pastikan lansia untuk selalu mengonsumsi air secukupnya serta makan dalam porsi yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi.

3. Menggunakan otak untuk berpikir secara aktif

Meski usia telah bertambah, bukan berarti lansia tidak perlu aktif menggunakan otaknya. Justru, pertambahan usia seharusnya mendorong untuk terus menggunakan otak secara aktif, serta terlibat dalam berbagai aktivitas fisik untuk lansia yang memicu untuk terus berpikir.

Sebagai contoh, aktif mengikuti kegiatan sukarelawan atau aktivitas yang berkaitan dengan hobi ternyata tak hanya membuat lansia lebih sehat dan bahagia. Hal ini juga dapat mendorong lansia untuk mempelajari banyak hal dan kemampuan baru, sehingga meningkatkan kemampuannya dalam berpikir. Salah satu pilihannya, lansia dapat mencoba mengisi TTS agar otak dapat berpikir secara aktif.

Sebuah penelitian tahun 2014 membuktikan bahwa lansia yang belajar merajut dan fotografi digital memiliki peningkatan dalam memori, jika dibandingkan lansia dengan kegiatan yang tidak terlalu membutuhkan kemampuan berpikir.

Bahkan, lansia yang melakukan aktivitas berkaitan dengan musik, teater, tari, dan penulisan kreatif juga memiliki kualitas hidup lansia yang lebih baik dan juga kesehatan mental lebih terjaga. Para lansia ini memiliki ingatan dan kemampuan bersosialisasi yang lebih baik.

4. Menghindari stres

Stres bisa memberikan dampak yang kurang baik terhadap kesehatan otak lansia. Jika tidak mengatasinya, stres bisa memengaruhi kemampuan lansia untuk memiliki imajinasi yang baik. Oleh sebab itu, meski stres wajar terjadi, bukan berarti lansia boleh mengabaikan keberadaannya.

Stres dalam jangka pendek mungkin mungkin dapat membantu lansia untuk lebih fokus, bahkan memotivasi untuk mengambil tindakan. Namun, stres yang sudah tergolong kronis dan berlangsung lama dapat mengubah fungsi otak, memberikan dampak yang buruk pada ingatan, hingga meningkatkan risiko mengalami penyakit Alzheimer dan demensia.

Oleh sebab itu, penting bagi lansia untuk mengelola, bahkan jika perlu, menghindari stres. Hal ini bisa lansia lakukan dengan menulis jurnal, melakukan teknik relaksasi, berolahraga, dan masih banyak lagi.

Selain itu, beberapa hal lain yang mungkin harus diperhatikan demi menjaga kesehatan otak lansia adalah mengurangi kebiasaan tak sehat, seperti merokok, menjaga pola tidur, dan menjaga tekanan darah tetap normal.

Kemampuan imajinasi mungkin akan berkurang seiring dengan pertambahan usia yang tak lagi muda. Namun, menjaga kesehatan otak juga penting dilakukan sejak awal agar lansia tidak berisiko mengalami gangguan kognitif seiring dengan pertambahan usianya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

12 ways to keep your brain young. (2020). Harvard Health Publishing. Retrieved 3 March 2021, from https://www.health.harvard.edu/mind-and-mood/12-ways-to-keep-your-brain-young

Addis, D., Wong, A., & Schacter, D. (2008). Age-Related Changes in the Episodic Simulation of Future Events [PDF File]. Psychological Science. Retrieved from https://scholar.harvard.edu/files/schacterlab/files/addiswongschacter2008.pdf 

Cognitive Health and Older Adults. (2017). National Institute on Aging. Retrieved 3 March 2021, from https://www.nia.nih.gov/health/cognitive-health-and-older-adults 

Park, D. C., Lodi-Smith, J., Drew, L., Haber, S., Hebrank, A., Bischof, G. N., & Aamodt, W. (2014). The impact of sustained engagement on cognitive function in older adults: the Synapse Project. Psychological science25(1), 103–112. https://doi.org/10.1177/0956797613499592

Schacter, D. L., Gaesser, B., & Addis, D. R. (2013). Remembering the past and imagining the future in the elderly. Gerontology59(2), 143–151. https://doi.org/10.1159/000342198

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal diperbarui 31/05/2020
x