home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Idealnya Lansia Tidur Berapa Jam per Hari? Ini Jawabannya!

Idealnya Lansia Tidur Berapa Jam per Hari? Ini Jawabannya!

Usia yang lebih tua membuat seseorang mengalami perubahan kebiasaan tidur. Mereka jadi lebih sedikit waktu tidurnya. Anda sebagai keluarga atau lansia itu sendiri, pasti menyadari perubahan ini. Namun, idealnya jam tidur lansia butuhkan berapa lama setiap hari? Lantas, kenapa jam tidur malam mereka semakin berkurang? Yuk, cari tahu jawabannya berikut ini.

Berapa lama waktu tidur lansia yang ideal?

Organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi seiring bertambahnya usia. Hal ini memengaruhi kadar hormon dalam tubuh, salah satunya melatonin. Hormon ini berperan dalam mengatur siklus bangun dan tidur seseorang.

Jika produksi hormon ini berkurang atau terganggu, maka siklus tidur dan bangun akan berubah. Nah, perubahan inilah yang membuat orang lanjut usia memiliki durasi tidur yang lebih singkat ketimbang orang dewasa dan anak-anak.

Sebenarnya durasi tidur orang dewasa dengan orangtua akan terus berkurang adalah anggapan yang sepenuhnya tidak benar.

Bayi memang memiliki durasi tidur yang lebih lama, yakni 14-12 jam per hari, dan seiring bertambahnya usia, durasi tidur tersebut akan semakin berkurang. Namun, pengurangan durasi tidur hingga 7 jam per hari ini hanya sampai pada usia 60 tahun saja.

Pada orang yang berusia 61-64 tahun, durasi tidur malam akan menjadi 7-9 jam per hari. Kemudian, pada orang yang berusia 65 tahun ke atas, durasi tidur mereka berubah menjadi 7-8 jam per hari, seperti dilansir dari laman CDC.

Gangguan tidur yang sering terjadi pada lansia

gangguan tidur lansia

Selain perubahan bormon terkait penuaan usia, jam tidur pada orang usia lanjut juga bisa berkurang karena gangguan tidur, seperti:

1. Gangguan saat tidur

Gangguan saat tidur yang sering dialami oleh orang lanjut usia adalah sering buang air di malam hari. Biasanya kondisi ini terjadi pada lansia dengan penyakit diabetes atau gangguan pada kandung kemih. Di samping itu, gangguan tidur juga bisa berupa rasa nyeri dan sakit pada tubuh.

2. Insomnia

Insomnia (susah tidur) adalah gangguan tidur yang paling umum terjadi, termasuk pada lansia. Tercatat, hampir 50 persen lansia mengeluhkan insomnia.

Kesulitan untuk tidur ini biasanya terjadi karena stres atau penyakit mental pada lansia, seperti depresi atau gangguan kecemasan. Kondisi ini bisa juga terjadi akibat obat-obatan yang lansia minum.

3. Sleep apnea

Sering terbangun di malam hari bisa menjadi penyebab lansia susah tidur, salah satunya karena sleep apnea. Sleep apnea bisa membuat napas seseorang terhenti sejenak saat tidur. Akibatnya, lansia akan terbangun dalam kondisi kaget atau terengah-engah dan kesulitan untuk melanjutkan tidur.

4. Restless leg syndrome (RLS)

Restless leg syndrome (RLS) membuat seseorang menggerakkan kakinya saat tidur. Tidak hanya mengganggu pasangan yang tidur bersama, kondisi ini juga mengganggu penderitanya. Lansia dengan kondisi ini sering kali kesulitan untuk tidur dengan nyaman.

Dampak jangka panjang gangguan tidur pada lansia

penyebab susah tidur

Tidur merupakan waktu istirahat bagi tubuh. Menjaga kualitas tidur tetap baik termasuk bagian dari pola hidup yang sehat lansia.

Pertama, tidur memberi manfaat dalam menjaga kekebalan tubuh orangtua yang mulai melemah. Kedua, tidur yang cukup membantu metabolisme tubuh berjalan dengan baik. Ketiga, tidur juga membantu menjaga dan mencegah penurunan fungsi otak lansia.

Orangtua, kakek, atau nenek Anda yang tidak cukup tidur, akan mengantuk di siang hari. Mereka akan jadi lebih sering tidur di siang hari, dan efeknya membuat mereka sulit tidur di malam hari.

Tanpa perawatan yang tepat, gangguan tidur dapat menyebabkan kualitas hidup lansia semakin menurun. Berbagai penyakit jadi lebih mudah menyerang, seperti penyakit jantung maupun hipertensi.

Gejala tubuh yang kelelahan dan mengantuk di siang hari dapat meningkatkan risiko cedera pada lansia. Misalnya hilang keseimbangan saat berjalan menyebabkan lansia terjatuh. Akibatnya, bagian tubuh tentu akan terkilir atau terluka dan proses penyembuhannya memakan waktu lebih lama.

Guna menghindari dampak negatif dari kurang tidur ini, penting mengatasi gangguan tidur pada lansia. Mereka bisa mencoba dengan teknik relaksasi untuk membuat pikiran lebih tenang, mengurangi durasi tidur siang, atau membuat suasana kamar jadi lebih nyaman. Jika cara ini tidak berhasil, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Familydoctor.org editorial staff. (1999, May 1). Changes in sleep patterns in older adults. familydoctor.org. https://familydoctor.org/sleep-changes-in-older-adults/ [Accessed on March 10th, 2021]

Aging and sleep. (2020, October 23). Sleep Foundation. https://www.sleepfoundation.org/aging-and-sleep [Accessed on March 10th, 2021]

How much sleep do I need? (2019, March 5). Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/sleep/about_sleep/how_much_sleep.html [Accessed on March 10th, 2021]

Benefits of sleep. https://healthysleep.med.harvard.edu/healthy/matters/benefits-of-sleep [Accessed on March 10th, 2021]

Neikrug, A. B., & Ancoli-Israel, S. (2010). Sleep disorders in the older adult – a mini-reviewGerontology56(2), 181–189. https://doi.org/10.1159/000236900 [Accessed on March 10th, 2021]

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 15/11/2018
x