Vaginitis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/02/2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu vaginitis (radang vagina)?

Vaginitis adalah radang vagina yang menyebabkan pembengkakan, gatal, perih, atau infeksi pada vagina. Radang vagina dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, parasit, atau virus. 

Penyebab paling umum dari radang vagina adalah bacterial vaginosis, infeksi jamur, trichomoniasis, dan vaginitis non infeksius. Anda perlu mengonsultasikan dengan dokter untuk menemukan penyebab pasti dari vaginitis dan memilih perawatan yang tepat.

Seberapa umum radang vagina?

Radang vagina sangat umum terjadi. Kebanyakan wanita pernah mengalami vaginitis setidaknya sekali dalam hidup. Radang vagina dapat terjadi pada wanita dengan usia berapapun. 

Radang vagina paling sering terjadi pada wanita muda yang aktif secara seksual. Vaginitis dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi soal vaginitis lebih lanjut.

Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala vaginitis (radang vagina)?

Gejala-gejala umum dari radang vagina dapat meliputi:

Tergantung jenis radang vagina, ciri-ciri cairan vagina dapat bervariasi:

  • Bacterial vaginosis: Anda dapat mengeluarkan cairan yang berwarna putih keabuan dan berbau busuk. Saat mengalami vaginitis, vagina Anda mungkin berbau amis dan lebih jelas setelah hubungan seksual.
  • Infeksi jamur: gejala utama vaginitis jenis ini adalah gatal-gatal, namun Anda dapat memiliki cairan putih dan kental.
  • Trikomoniasis: jenis vaginitis (radang vagina) ini dapat menyebabkan cairan berwarna kuning kehijauan, kadang berbusa.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala vaginitis yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala vaginitis berikut ini:

  • Cairan vagina Anda bertambah banyak, memiliki warna yang tidak normal, dan berbau berbeda dari biasanya.
  • Anda merasa gatal, perih, bengkak, atau nyeri pada sekitar atau di luar vagina.
  • Anda merasa sakit saat buang air kecil.
  • Anda merasa tidak nyaman atau sakit setelah berhubungan seksual.

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya seputar vaginitis, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab vaginitis (radang vagina)?

Tergantung dari jenisnya, penyebab vaginitis adalah:

1. Bacterial vaginosis 

Kondisi ini terjadi apabila keseimbangan vagina terganggu, di mana bakteri jahat lebih banyak dibanding dengan bakteri baik. Namun, jika bakteri anaerobik terlalu banyak dan mengganggu keseimbangan, ini akan menyebabkan bacterial vaginosis. 

Jenis radang vagina ini sepertinya terkait dengan hubungan seksual, terutama jika Anda memiliki beberapa pasangan seksual. Namun, kondisi ini juga dapat terjadi pada wanita yang tidak aktif secara seksual.

2. Infeksi jamur

Ini terjadi apabila organisme jamur (terutama Candida albicans) tumbuh pada vagina. Bukan hanya menyebabkan infeksi jamur pada vagina, C. albicans juga adalah penyebab utama dari infeksi pada bagian tubuh lainnya yang lembap, seperti mulut (thrush), lipatan kulit, dan bantalan kuku. Jamur ini dapat menyebabkan ruam popok pada bayi.

3. Trikomoniasis

Infeksi menular seksual yang umum ini disebabkan oleh parasit mikroskopis satu sel yang disebut Trichomonas vaginalis. Bakteri ini menular melalui hubungan seksual dengan seseorang yang terinfeksi. 

Pada pria, kuman ini menginfeksi saluran kencing,tapi sering kali tidak menunjukkan gejala. Maka dari itu, ketika hubungan seksual, pria yang terinfeksi menularkan kuman tersebut pada pasangannya. 

4. Vaginitis yang tidak menular

Gatal-gatal, perih, dan cairan kadang dapat terjadi tanpa infeksi. Sering kali, hal tersebut merupakan reaksi alergi atau iritasi dari produk seperti deterjen, pembersih vagina, sabun dengan pewangi, spray vagina, dan spermisida.

Hal ini juga dapat terjadi akibat rendahnya kadar hormon akibat menopause atau pengangkatan indung telur yang menyebabkan gejala vaginitis, seperti gatal dan perih pada vagina.

5. Sindrom Genitourinaria pada menopause

Berkurangnya kadar estrogen setelah menopause atau operasi pengangkatan indung telur dapat menyebabkan lapisan vagina menipis. Kadang-kadang, kondisi ini menyebabkan gejala vaginitis, seperti iritasi, sensasi terbakar, dan kering pada vagina.  

Faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk radang vagina?

Ada banyak faktor risiko untuk vaginitis, yaitu:

  • Perubahan hormon akibat kehamilan, pil KB, atau menopause
  • Infeksi akibat aktivitas seksual yang tidak terproteksi
  • Penggunaan obat-obatan, seperti antibiotik dan steroid
  • Diabetes yang tidak terkendali
  • Penggunaan produk kebersihan seperti sabun busa, semprotan vagina, atau deodoran vagina
  • Kebersihan yang buruk
  • Mengenakan pakaian yang lembap atau terlalu ketat
  • Penggunaan intrauterine device (IUD) untuk kontrasepsi.

Diagnosis

Bagaimana vaginitis (radang vagina) didiagnosis?

Menurut Mayo Clinic, dokter mungkin akan melakukan tindakan di bawah ini untuk melakukan diagnosis terhadap vaginitis (radang vagina):

  • Melihat riwayat kesehatan Anda

Ini termasuk riwayat infeksi vagina atau penyakit menular seksual yang pernah Anda alami. 

  • Melakukan pemeriksaan panggul

Dalam pemeriksaan panggul, dokter Anda mungkin menggunakan alat (spekulum) untuk melihat apakah vagina Anda mengalami radang atau perubahan yang tidak normal. 

  • Mengumpulkan sampel untuk diperiksa di laboratorium

Dokter mungkin akan mengumpulkan sampel dari keputihan untuk memastikan jenis vaginitis yang Anda alami. 

  • Melakukan pemeriksaan pH

Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan pH pada vagina dengan memasang tongkat atau kertas pH di dinding vagina Anda. Peningkatan pH dapat mengindikasikan bakteri vaginosis atau trikomoniasis. 

Namun, pengujian pH saja bukan tes diagnostik yang dapat diandalkan.

Pengobatan

Bagaimana mengobati vaginitis (radang vagina)?

Kunci untuk pengobatan radang vagina adalah mencari penyebab yang tepat. Tergantung pada jenis infeksi vaginitis, dokter akan menyarankan solusi radang vagina yang paling efektif.

  • Bacterial vaginosis

Dokter akan memberikan tablet oral metronidazole (Flagyl) dan troical metronidazole gel (MetroGel) atau clindamycin cream (Cleocin) yang dioleskan pada vagina. Pengobatan vaginitis ini biasanya diberikan 1-2 kali sehari selama 5-7 hari.

  • Infeksi jamur

Krim antijamur atau supositoria, seperti miconazole (Monistat), clotrimazole (Gyne-Lotrimin) atau tioconazole (Vagistat) biasanya diberikan untuk vaginitis akibat infeksi jamur. Selain itu, dokter akan memberikan pengobatan minum antijamur, seperti fluconazole diflucan. 

Keuntungan dari pengobatan bebas adalah kemudahan, biaya, dan tidak perlu menunggu bertemu dengan dokter. Menggunakan pengobatan yang salah dapat memperlambat diagnosis yang akurat serta perawatan yang tepat. Selain itu, tanyakan dokter sebelum mengonsumsi obat.

  • Trichomoniasis

Tablet metronidazole (Flagyl) atau tinidazole (Tindamax) dapat digunakan untuk infeksi ini.

  • Mencari penyebab vaginitis dan mencegahnya

Untuk mengatasi jenis vaginitis tidak menular, kunci utamanya adalah mencari sumber dan mencegahnya. Kemungkinan sumber dapat meliputi sabun, deterjen, pembalut, atau tampon. Dokter dapat memberikan estrogen topikal, seperti krim untuk meringankan gejala vaginitis.

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi radang vagina?

Pada setiap jenis, infeksi jamur adalah radang vagina yang paling mudah diatasi jika Anda dapat mendiagnosis dengan tepat. Anda dapat melakukan perawatan sendiri untuk mengatasi vaginitis, dengan cara:

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    4 Alasan Kenapa Anda Harus Menjalani Tes Penyakit Kelamin

    Alasan menjalani tes penyakit kelamin memang untuk mendeteksi adanya penularan. Namun, tidak hanya itu saja alasannya. Cari tahu lebih lanjut berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Hidup Sehat, Seks & Asmara 07/02/2020 . Waktu baca 4 menit

    Mungkinkah Kena Penyakit Kelamin Lewat Dudukan Toilet Umum?

    Banyak yang khawatir kalau dudukan toilet umum bisa membuat orang tertular penyakit kelamin, sebab dudukan ini telah dipakai banyak orang. Benarkah begitu?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 19/11/2019 . Waktu baca 4 menit

    Normalnya, Seberapa Lama dan Sering Keputihan Seharusnya Berlangsung?

    Keputihan yang normal bisa dilihat berdasarkan warna, bau, dan seberapa banyak cairan tersebut keluar. Bila terjadi terlalu sering, perlukah Anda khawatir?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Perawatan Kewanitaan, Hidup Sehat 08/08/2019 . Waktu baca 4 menit

    5 Cara Mudah dan Efektif untuk Mengusir Bau Vagina yang Mengganggu

    Bau vagina alami yang normal mirip cuka tapi tidak terlalu asam. Lantas, bagaimana cara menghilangkan bau vagina yang amis atau malah tengik?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Perawatan Kewanitaan, Hidup Sehat 19/07/2019 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    penyakit menular seksual

    7 Penyakit Kelamin yang Sering Menular Lewat Seks Tanpa Kondom (Plus Gejalanya untuk Diwaspadai)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 29/07/2020 . Waktu baca 13 menit
    tidur pakai bra

    Tidur Sebaiknya Pakai Bra atau Tidak?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 28/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    ciuman bibir

    8 Jenis Penyakit yang Bisa Ditularkan Lewat Ciuman Bibir

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 15/07/2020 . Waktu baca 4 menit

    Tidak Semua Perawatan Vagina Baik untuk Kesehatan, Ini 4 yang Bahaya

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020 . Waktu baca 6 menit