Peritonitis

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Definisi

Apa itu peritonitis?

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, lapisan dalam perut yang bertindak sebagai penyaring alami. Dalam dialisis peritoneum, produk limbah dikeluarkan melalui peritoneum dengan pembersih yang disebut dialisat, dicuci masuk dan keluar dari rongga perut Anda dalam sebuah siklus. 

Peritoneum memiliki cairan dan menutupi organ-organ di dalam perut Anda untuk melindungi dan mendukungnya. Biasanya, peradangan terjadi karena infeksi bakteri atau jamur. 

Kondisi tersebut dapat berakibat dari adanya lubang (perforasi) di dalam perut, atau sebagai komplikasi kondisi medis lainnya, misalnya cedera perut.

Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebar ke dalam darah (sepsis) dan ke organ tubuh lainnya, menghasilkan kegagalan organ dan kematian. Jika Anda mengalami gejala kondisi ini, segera hubungi dokter. 

Gejala

Apa saja tanda peritonitis?

Gejala tergantung pada penyebab infeksi dan/atau radang. Salah satu gejala yang sangat umum yang dapat muncul dalam sekejap adalah kehilangan selera makan dan mual. Tanda lainnya meliputi:

  • Perut nyeri dan sakit
  • Perasaan kenyang (distensi) di dalam perut
  • Demam, menggigil
  • Diare
  • Lebih sedikit buang air kecil
  • Rasa haus yang ekstrem
  • Ketidakmampuan atau kesulitan dalam buang air besar atau buang angin
  • Kelelahan

Dikutip dari National Kidney Foundation, peritonitis adalah penyakit mengancam jiwa dan mungkin bisa menyebabkan komplikasi serius, tergantung penyebab dan tingkat keparahannya. Kondisi ini juga bisa mengarah ke sepsis, kondisi mengancam jiwa yang disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap infeksi. 

Jika Anda melakukan dialisis peritoneal, gejala yang timbul dapat meliputi:

  • Cairan dialisis berawan
  • Terdapat flek putih, helai, atau fibrin dalam cairan dialisis. 

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasa cemas tentang gejala tersebut, segera konsultasi ke dokter Anda.

Kapan harus pergi ke dokter?

Cobalah menghubungi dokter secepat mungkin untuk mendapatkan bantuan ketika Anda mengalami rasa tidak nyaman/sakit yang luar biasa di dalam perut atau merasa kenyang yang berhubungan dengan:

  • Suhu tubuh meningkat tanpa sebab
  • Mual dan muntah
  • Haus
  • Kadar urin atau jumlah kotoran rendah atau tidak bisa buang angin di sepanjang saluran usus.

Jika Anda mengalami tanda membahayakan dari kondisi ini, segera hubungi dokter. Tanda membahayakan dari peritonitis adalah:

  • Sakit perut secara tiba-tiba yang semakin buruk jika disentuh atau Anda bergerak 
  • Suhu tubuh Anda sangat tinggi (Anda merasa panas dan gemetar)
  • Jantung berdebar (jantung Anda berdetak lebih cepat dari biasanya)
  • Tidak bisa buang air kecil atau buang air kecil lebih sedikit dari biasanya)
  • Kehilangan selera makan dan merasa sakit
  • Perut bengkak.

Penyebab

Apa penyebab peritonitis?

Kondisi ini biasanya terjadi karena infeksi bakteri atau jamur. Infeksi pada peritoneum dapat terjadi karena berbagai alasan. Dalam kebanyakan kasus, penyebabnya adalah pecah (perforasi) di dalam dinding perut. 

Meskipun jarang, kondisi ini dapat berkembang tanpa abdominal ruptur. Jenis kondisi ini disebut peritonitis spontan.

Terdapat dua kategori utama penyebab peritonitis. Kategori pertama adalah peritonitis bakteri spontan (SBP) yang terkait dengan sobekan atau infeksi pada cairan rongga peritoneal, dan peritonitis sekunder karena infeksi yang telah menyebar dari saluran pencernaan. 

Penyebab umum dari ruptur yang menyebabkan kondisi peritonitis adalah:

Prosedur medis, seperti dialisis peritoneal

Dialisis peritoneal menggunakan kateter untuk menyingkirkan limbah dari darah Anda ketika ginjal tidak lagi dapat melakukannya. Infeksi mungkin muncul saat dialisis peritoneal berlangsung karena lingkungan yang kotor, kebersihan yang buruk, atau peralatan yang terkontaminasi. 

Peritonitis mungkin juga bisa berkembang sebagai komplikasi dari operasi pencernaan, penggunaan tabung makanan atau prosedur untuk menarik cairan dari perut (paracentesis) dan jarang sebagai komplikasi kolonoskopi atau endoskopi. 

Apendiks yang pecah, tukak lambung atau usus berlubang

Salah satu dari kondisi dapat memungkinkan bakteri masuk ke peritoneum melalui lubang di saluran pencernaan Anda. 

Pankreatitis

Peradangan pankreas (pankreatitis) yang rumit oleh infeksi dapat menyebabkan peritonitis jika bakteri menyebar ke luar pankreas. 

Divertikulitis

Infeksi kantong kecil yang menonjol di saluran pencernaan Anda (divertikulitis) dapat menyebabkan kondisi tersebut jika salah satu kantong pecah dan menumpahkan limbah usus ke dalam rongga perut Anda. 

Trauma

Cedera atau trauma dapat menyebabkan kondisi tersebut dengan membiarkan bakteri atau bahan kimia dari bagian lain tubuh Anda memasuki peritoneum. 

Kondisi yang berkembang tanpa abdominal ruptur (peritonitis spontan) biasanya merupakan komplikasi penyakit hati, seperti sirosis. Sirosis lanjut menyebabkan jumlah besar dari cairan di rongga perut Anda (asites). Penumpukan cairan itu rentan terhadap infeksi bakteri. 

Apa yang meningkatkan risiko kondisi ini?

Faktor risiko kondisi peritonitis adalah:

  • Dialisis peritoneal

Kondisi ini umumnya terjadi pada orang yang melalui dialisis peritoneal. 

  • Kondisi medis lainnya

Kondisi medis lain yang meningkatkan risiko peritonis adalah sirosis, usus buntu, penyakit Crohn, tukak perut, diverticulitis, dan pankreatitis.

  • Riwayat peritonitis

Sekali Anda menderita peritonitis, risiko terkena penyakit akan lebih tinggi daripada orang yang belum pernah mengalami. 

Komplikasi apa yang bisa saya alami jika terkena kondisi tersebut?

Jika tidak ditangani, komplikasi yang mungkin terjadi jika Anda mengalami peritonitis adalah:

  • Infeksi aliran darah
  • Infeksi pada tubuh Anda (sepsis)

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis peritonitis?

Dokter akan bertanya tentang riwayat pengobatan dan melakukan pemeriksaan fisik lengkap. Beberapa tes mungkin dibutuhkan untuk membantu mendiagnosis peritonitis:

  • Tes darah

Tes itu disebut penghitungan darah lengkap (CBC), dapat membantu mengukur jumlah sel darah putih. Jumlah sel darah putih yang tinggi biasanya menandakan radang atau infeksi. Kultur darah mampu membantu mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi atau radang.

  • Analisis cairan peritoneal 

Jika cairan menumpuk di dalam perut, dokter dapat menggunakan jarum untuk mengambil beberapa dan mengirimkan sampel ke laboratorium untuk analisis cairan. Kultur cairan juga bisa membantu mengidentifikasi bakteri.

  • Tes gambaran, seperti CT scan dan X-ray

Pemeriksaan ini bisa menunjukkan perforasi atau lubang di dalam peritoneum.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati peritonitis?

Jika Anda didiagnosis dengan kondisi tersebut, Anda akan membutuhkan perawatan di rumah sakit untuk mengusir infeksi. Ini mungkin membutuhkan waktu 10 hingga 14 hari. 

Pengobatan untuk mengatasi peritonitis adalah:

Obat ini diresepkan untuk melawan infeksi dan mencegah penyebarannya. Jenis dan durasi serangkaian antibiotik tergantung pada keparahan kondisi dan jenis peritonitis yang Anda alami.

  • Operasi

Seandainya peritonitis disebabkan oleh usus buntu, perut atau usus besar yang sobek, perawatan operasi sering kali penting untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi, mengobati penyebab infeksi, dan mencegah penyebaran infeksi.

  • Alat bantu makan

Anda akan sulit untuk mencerna makanan jika Anda menderita kondisi ini. Selang makanan mungkin akan dimasukkan ke perut Anda melalui hidung atau ditempatkan di dalam perut Anda menggunakan operasi lubang kunci. 

Jika selang makanan tidak dapat digunakan, nutrisi cair dapat diberikan langsung ke salah satu pembuluh darah Anda. 

  • Pengobatan lain

Tergantung pada tanda dan gejala, pengobatan di rumah sakit mungkin termasuk obat nyeri, cairan intravena (IV), tambahan oksigen dan, dalam beberapa kasus, transfusi darah.

Jika Anda sedang menjalani dialisis peritoneum, dokter mungkin menyarankan Anda menerima dialisis dengan cara lain selama beberapa hari, sementara tubuh Anda pulih dari infeksi.

Jika kondisi tersebut berlanjut atau berulang, Anda mungkin harus berhenti menjalani dialisis tersebut sepenuhnya dan sepenuhnya beralih ke dialisis yang lain. 

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat mengatasi peritonitis?

Pasien yang menerima dialisis peritoneal tetap sangat berisiko menderita peritonitis. Tips di bawah ini mungkin membantu mencegah peritonitis:

  • Menjaga kebersihan tangan, termasuk di bawah kuku jari dan di antara jari-jari.
  • Membersihkan kulit di sekitar kateter dengan antiseptik setiap hari.
  • Menyimpan persediaan di area yang bersih.
  • Mengenakan masker selama pertukaran cairan dialisis.

Jika Anda pernah mengalami peritonitis spontan sebelumnya atau jika Anda mengalami penumpukan cairan peritoneum karena kondisi medis, seperti sirosis, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik untuk mencegah kondisi tersebut. 

Jika Anda menggunakan inhibitor pompa proton, dokter mungkin meminta Anda untuk berhenti memakainya.  

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikan ke dokter Anda untuk dapat lebih mengerti solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat kesehatan, diagnosis atau pengobatan.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca