Hipertensi Emergensi

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update April 28, 2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu hipertensi emergensi?

Hipertensi emergensi adalah kondisi di mana tekanan darah Anda meningkat sangat tinggi dari batas normal dan disertai dengan tanda-tanda kerusakan organ.

Kondisi ini serupa dengan hipertensi urgensi, jenis lain dari krisis hipertensi. Namun, hipertensi emergensi diikuti dengan gejala-gejala hypertension-mediated organ damage (HMOD), di mana organ tubuh yang rusak tidak dapat kembali berfungsi seperti semula.

Umumnya, organ tubuh dapat mengalami kerusakan akibat melonjaknya tekanan darah meliputi otak, sistem jantung dan pembuluh darah, serta ginjal. Pada kasus yang sudah parah, Anda berisiko mengalami berbagai komplikasi, seperti edema paru, eklampsia pada ibu hamil, gagal ginjal, hingga diseksi aorta akut.

Kondisi ini harus segera mendapatkan penanganan medis darurat, dan biasanya pasien akan diberikan obat penurun tekanan darah melalui infus. Dengan penanganan yang tepat, pasien memiliki peluang besar untuk pulih dan tekanan darah kembali normal.

Seberapa umumkah hipertensi emergensi terjadi?

Hipertensi jenis ini merupakan kondisi yang cukup jarang terjadi. Diperkirakan sekitar 1-2 persen pasien dengan hipertensi biasa akan mengalami hipertensi jenis ini. Dibanding dengan hipertensi urgensi yang terjadi pada ¾ kasus krisis hipertensi, hipertensi emergensi hanya terjadi pada ¼ dari kejadian krisis hipertensi.

Menurut National Health and Nutrition Examination Survey, angka kejadian hipertensi adalah sebesar 30,5% pada pria dan 28,5% pada wanita. Namun, sekitar 74% penderita tidak menyadari bahwa mereka mengidap hipertensi.

Hipertensi emergensi dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Tanda-tanda dan gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari hipertensi emergensi?

Umumnya, hipertensi biasa tidak selalu menunjukkan tanda-tanda dan gejala tertentu. Namun, berbeda dengan kasus hipertensi emergensi di mana tekanan darah sudah terlalu tinggi dan organ tubuh pun terpengaruh.

Anda mungkin akan merasakan beberapa tanda dan gejala, seperti:

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala-gejala tertentu segera periksakan diri ke dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit jika Anda mengalami gejala-gejala berikut:

  • Nyeri dada yang parah
  • Sakit kepala parah
  • Kemampuan melihat semakin menurun
  • Susah fokus
  • Mual dan muntah
  • Kecemasan parah
  • Sesak napas
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran

Gejala-gejala tersebut berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa. Anda mungkin memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Agar Anda mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, periksakan apapun gejala yang muncul ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab hipertensi emergensi?

Dilansir dari Critical Care Self-Assessment Program (CCSAP), ketika tekanan darah melonjak tinggi, proses aliran darah pun terganggu. Hal ini dapat memengaruhi kerja sel-sel endotel di dalam pembuluh darah.

Endotel berperan dalam mengatur bagaimana pembuluh darah melebar atau menyempit. Ketika aliran darah terganggu, fungsi endotel pun turut terpengaruh. Struktur dinding pembuluh darah akan mengalami kerusakan, sehingga terjadi kebocoran plasma darah.

Kondisi ini mengakibatkan terjadinya hipoperfusi, di mana organ-organ tubuh kekurangan asupan nutrisi dari suplai darah. Fungsi organ tubuh pun terganggu dan mengalami kerusakan.

Seseorang dapat menderita hipertensi emergensi apabila sebelumnya ia telah menderita hipertensi kronis, yang tiba-tiba berhenti minum obat atau tidak teratur minum obat.

Beberapa kondisi kesehatan lain yang juga dapat menyebabkan terjadinya hipertensi emergensi, seperti:

  • Stroke
  • Serangan jantung
  • Gagal jantung
  • Gagal ginjal
  • Trauma kepala
  • Penggunaan obat-obatan tertentu (amphetamine, kokain)
  • Spinal cord syndrome
  • Kerusakan aorta
  • Kejang selama kehamilan (eklampsia)

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi emergensi?

Hipertensi emergensi adalah kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada hampir setiap orang, terlepas dari berapa usia dan apa kelompok rasnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau mengalami kondisi kesehatan tertentu. Faktor risiko hanya merupakan kondisi yang dapat memperbesar peluang tersebut.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya hipertensi emergensi:

  • Berjenis kelamin pria.
  • Mengidap penyakit ginjal.
  • Menderita hipertensi, namun tidak minum obat sesuai anjuran dokter.
  • Penggunaan obat-obatan bebas tertentu atau obat terlarang.inf

Diagnosis dan pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana dokter mendiagnosis hipertensi emergensi?

Tekanan darah dapat dikatakan tinggi apabila berada di angka sistolik dan diastolik tertentu. Angka sistolik merupakan angka yang menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah, sedangkan angka diastolik menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat dan tidak memompa darah.

Penghitungan tekanan darah biasanya dikategorikan sebagai berikut:

  • Tekanan darah naik (prehipertensi): Angka sistolik berada di kisaran 120-129 mmHg, dan angka diastolik di bawah 80 mmHg. Kondisi ini belum tergolong dalam hipertensi.
  • Hipertensi tahap 1: Jika angka sistolik berada di kisaran 130-139 mmHg atau diastolik berada di angka 80-89 mmHg, kemungkinan Anda menderita hipertensi tahap 1.
  • Hipertensi tahap 2: Jika angka sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, dan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, Anda mungkin menderita hipertensi tahap 2.

Pada hipertensi emergensi, angka tekanan sistolik dapat mencapai lebih dari 180 mmHg, atau angka diastolik melebihi 120 mmHg. Ditambah lagi, terdapat tanda-tanda kerusakan organ tubuh yang bersifat akut atau mendadak, seperti pusing, sesak napas, mual, detak jantung semakin cepat, dan lain sebagainya.

Proses diagnosis kondisi ini dapat dilakukan dengan mengukur tekanan darah, ekokardiogram, urinalisis, dan mengukur kadar kreatinin di dalam tubuh.

Bagaimana hipertensi emergensi diobati?

Penanganan medis pada penderita hipertensi emergensi harus dilakukan sesegera mungkin. Apabila Anda mengalaminya, biasanya Anda akan segera dibawa ke unit gawat darurat (UGD) dan menerima pengobatan antihipertensi melalui infus.

Tujuan dari pengobatan adalah menurunkan tekanan darah secara aman, melindungi fungsi organ yang rusak, meredakan gejala-gejala, mengurangi risiko komplikasi, serta memperbesar peluang pasien untuk sembuh total.

Berikut adalah jenis obat-obatan yang biasanya diberikan oleh tim medis untuk menangani pasien, tergantung pada organ tubuh apa yang mengalami kerusakan serta masalah kesehatan yang dialami akibat hipertensi emergensi:

1. Diseksi aorta akut

Apabila kondisi ini menyebabkan terjadinya diseksi aorta akut, pasien akan diberikan obat esmolol melalui infus.

Obat ini akan menurunkan tekanan darah secara cepat. Rata-rata pasien dengan diseksi aorta akut harus segera diturunkan tekanan darahnya dalam jangka waktu 5-10 menit.

Jika tekanan darah masih tinggi setelah pemberian esmolol, dokter akan menambahkan obat vasodilator jenis nitroglycerin atau nitroprusside.

2. Edema paru akut

Pasien dengan edema paru akut akan ditangani dengan nitroglycerin, clevidipine, atau nitroprusside. Dengan pemberian obat-obatan tersebut, tekanan darah pasien diperkirakan akan kembali normal dalam jangka waktu 24-48 jam.

3. Infark miokard atau angina pektoris

Jika tekanan darah tinggi emergensi mengakibatkan terjadinya infark miokard atau angina pektoris, pasien akan diberikan esmolol. Dalam beberapa kasus, esmolol juga akan dikombinasikan dengan nitroglycerin.

Target tekanan darah setelah diberikan obat ini adalah di bawah 140/90 mmHg, dan pasien dapat dipulangkan apabila tekanan darah berada di bawah 130/80 mmHg.

4. Gagal ginjal akut

Hipertensi yang disertai dengan gagal ginjal akut dapat ditangani dengan clevidipine, fenoldopam, dan nicardipine. Menurut studi dari Annals of Translational Medicine, dari 104 pasien yang ditangani dengan nicardipine, sekitar 92% mengalami penurunan tekanan darah yang signifikan dalam 30 menit.

5. Preeklampsia dan eklampsia

Untuk ibu hamil yang mengalami preeklampsia dan eklampsia, dokter akan memberikan hydralazine, labetalol, dan nicardipine. Obat-obatan antihipertensi lainnya, seperti angiotensin-converting enzyme inhibitors, angiotensin receptor blockers, direct renin inhibitors, dan sodium nitroprusside sebaiknya dihindari.

6. Hipertensi pascaoperasi

Jika hipertensi emergensi terjadi setelah pasien menjalani prosedur operasi, dokter akan memberikan infus clevidipine, esmolol, nitroglycerin, atau nicardipine.

7. Tumor pada kelenjar adrenal atau penggunaan obat-obatan terlarang

Apabila hipertensi berkaitan dengan adanya tumor pada kelenjar adrenal (pheochromocytoma), atau akibat konsumsi obat-obatan terlarang seperti kokain dan amphetamine, dokter akan memberikan infus clevidipine, nicardipine, atau phentolamine.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hipertensi emergensi?

Di samping pengobatan medis, Anda juga harus melakukan perubahan gaya hidup dan pola makan. Hal ini penting untuk mencegah hipertensi emergensi kembali terjadi di lain waktu.

Beberapa perubahan gaya hidup positif yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengatasi hipertensi adalah:

  • Diet seimbang dan rendah garam.
  • Olahraga teratur.
  • Tidak merokok dan tidak minum alkohol.
  • Berusaha menurunkan berat badan, jika Anda mengalami obesitas.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tips Mengajak Orang Tua Pindah ke Tempat yang Baru

Orang tua sering kali enggan diajak untuk pindah karena tak mau meninggalkan segala kenangan di rumah lama. Bagaimana cara membujuknya?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha

Kapan Anda Perlu Periksa ke Dokter Spesialis THT?

Bagaimana kita bisa mengetahui kapan harus periksa ke dokter spesialis THT? Apakah ada tanda khususnya? Simak ulasan berikut.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu

Agar Tetap Bugar Selama Liburan, Sontek 4 Tips Olahraga Mudah Ini

Lakukan olahraga saat liburan bersama keluarga agar tetap bugar. Simak pilihan kegiatan hingga tips berolahraga sederhana di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Fajarina Nurin
Kebugaran, Hidup Sehat Mei 25, 2020

4 Cara Jitu Mengubah Hati Sedih Kembali Jadi Senang

Anda tidak boleh sedih terus-menerus karena ini dapat berdampak buruk pada kesehatan. Lantas, caranya mengubah hati sedih jadi senang? Baca di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Hidup Sehat, Psikologi Mei 24, 2020

Direkomendasikan untuk Anda

Liburan Cuma di Rumah? Usir Rasa Bosan dengan 5 Kegiatan Seru Ini

Liburan Cuma di Rumah? Usir Rasa Bosan dengan 5 Kegiatan Seru Ini

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Mei 25, 2020
6 Cara Mengatasi Nyeri Karena Growing Pain pada Anak

6 Cara Mengatasi Nyeri Karena Growing Pain pada Anak

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Tanggal tayang Mei 25, 2020
Makan Makanan Sehat Dapat Membantu Menjaga Fungsi Pendengaran, Lho!

Makan Makanan Sehat Dapat Membantu Menjaga Fungsi Pendengaran, Lho!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 25, 2020
Joy of Missing Out (JOMO), Saat Anda Tidak Takut Melewatkan Tren

Joy of Missing Out (JOMO), Saat Anda Tidak Takut Melewatkan Tren

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Tanggal tayang Mei 25, 2020