Atresia Bilier

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13/05/2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu atresia bilier?

Atresia bilier adalah penyakit hati dan saluran empedu langka pada bayi baru lahir. Saluran empedu pada hati, disebut juga dengan duktus hepatikus, memiliki banyak fungsi.

Saluran empedu bisa berfungsi untuk menghancurkan lemak, menyerap vitamin larut lemak, serta membawa racun dan produk sisa keluar tubuh.

Namun, pada bayi yang mengalami kelainan atau cacat lahir berupa atresia bilier, saluran empedu yang ada di luar dan di dalam hati tidak berkembang dengan normal.

Atresia bilier adalah kelainan yang membuat saluran empedu menjadi bengkak dan mengalami sumbatan saat bayi baru lahir.

Akibatnya, cairan empedu meningkat di hati dan menyebabkan kerusakan hati. Hal ini membuat hati sulit membuang racun dalam tubuh.

Bahkan bukan tidak mungkin, organ hati bayi berisiko rusak dan mengalami sirosis hati yang dapat berakibat fatal bila tidak ditangani.

Apa saja jenis atresia bilier?

Mengutip dari University of Rochester Medical Center, penyakit ini terbagi menjadi dua jenis, yakni perinatal dan fetal.

Jenis penyakit atresia bilier adalah sebagai berikut:

Atresia bilier perinatal (perinatal biliary atresia)

Atresia bilier perinatal adalah jenis yang paling umum. Sesuai dengan namanya, jenis yang satu ini umumnya tampak setelah bayi baru lahir.

Biasanya, gejalanya mulai muncul saat usia bayi sekitar usia 2 minggu sampai usia 4 minggu.

Atresia bilier fetal (fetal biliary atresia)

Kebalikan dari jenis sebelumnya, atresia bilier fetal adalah jenis yang kurang umum atau tidak sering terjadi.

Kelainan ini mulai terbentuk saat janin masih berada di dalam kandungan. Itulah mengapa saat bayi lahir, tipe atresia bilier fetal langsung terlihat.

Beberapa bayi, khususnya yang lahir dengan jenis kelainan ini, juga memiliki kecacatan pada jantung, limpa dan usus.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Atresia bilier adalah kelainan atau cacat lahir pada bayi yang tergolong jarang terjadi. Sebenarnya tidak diketahui angka pasti dari kelainan atau cacat lahir ini.

Namun, berdasarkan laman Cincinnati Children’s, kondisi ini bisa terjadi pada sekitar 1 dari 15.000-20.000 bayi.

Atresia bilier adalah penyakit yang umumnya lebih banyak dialami oleh anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki.

Kondisi ini juga bisa dialami oleh hanya salah satu dari sepasang anak kembar atau salah satu dari beberapa saudara kandung.

Atresia bilier juga adalah penyakit yang lebih sering dialami oleh orang Asia dan Afrika-Amerika ketimbang orang Kaukasia, seperti Amerika dan Eropa.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala atresia bilier?

Gejala awal dari penyakit atresia bilier adalah mata dan kulit yang terlihat berwarna kuning atau disebut sebagai penyakit kuning (jaundice).

Perubahan warna pada kulit dan mata yang menjadi kuning ini disebabkan oleh penumpukan cairan empedu di dalam tubuh akibat orgah hati dan saluran empedu yang rusak.

Umumnya, bayi yang lahir dengan sakit kuning ringan mengalami kondisi ini selama usia 1 minggu sampai usia 2 minggu pertama.

Kemudian sakit kuning tersebut normalnya akan hilang di usia 2 minggu sampai usia 3 minggu. Sayangnya, pada anak dengan kondisi ini, sakit kuning yang mereka alami dapat bertambah parah.

Gejala atresia bilier seringnya mulai muncul di antara usia 2 minggu sampai usia 8 minggu atau 2 bulan pertama kehidupan bayi.

Berbagai gejala atresia bilier adalah sebagai berikut:

  • Kulit dan mata berwarna kuning (jaundice)
  • Warna urine gelap seperti teh
  • BAB berwarna terang seperti abu-abu atau agak putih
  • Perut membengkak
  • Penurunan berat badan bayi
  • Pertumbuhan lambat

Pembengkakan perut bayi bisa terjadi karena ukuran organ hati yang semakin membesar. Sementara perubahan warna pada feses bayi disebabkan oleh tidak adanya cairan empedu atau tidak adanya bilirubin di usus.

Bilirubin adalah cairan yang dihasilkan dari proses pemecahan hemoglobin atau sel darah merah.

Begitu pula dengan perubahan warna urine yang menjadi gelap dikarenakan penempukan cairan bilirubin di dalam darah.

Selanjutnya, bilirubin disaring oleh ginjal dan dikeluarkan melalui urine sehingga memengaruhi warna urine itu sendiri.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran mengenai gejala tertentu yang dialami bayi, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Kapan harus periksa ke dokter?

Atresia bilier adalah penyakit yang tidak boleh disepelekan dan harus segera ditangani. Sebaiknya jangan tunda untuk membawa bayi ke dokter bila di usia 2-3 minggu setelah lahir, ia masih mengalami sakit kuning dan warna feses tidak normal saat BAB.

Jika Anda melihat bayi memiliki gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya segera konsultasikan dengan dokter.

Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda, termasuk bayi. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan buah hati Anda.

Penyebab

Apa penyebab atresia bilier?

Atresia bilier adalah penyakit bawaan lahir yang sampai saat ini belum dapat diketahui penyebab pastinya.

Meski begitu, para ahli menyakini bahwa atresia bilier bukan penyakit genetik, artinya penyakit ini tidak diturunkan dari orangtua ke anak.

Selain itu, orangtua yang mengidap kondisi tidak berisiko menurunkan gen penyebab penyakit kepada anaknya.

Pada beberapa anak, kondisi ini disebabkan oleh pembentukan saluran empedu yang kurang sempurna selama masa kehamilan.

Sementara pada anak-anak lainnya, penyebab atresia bilier adalah karena kerusakan saluran empedu oleh sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi virus saat bayi baru lahir.

Beberapa pemicu yang mungkin dapat berkontribusi menjadi penyebab atresia bilier adalah sebagai berikut:

  • Infeksi virus atau bakteri setelah lahir.
  • Masalah pada sistem imun atau sistem kekebalan tubuh.
  • Mutasi atau perubahan genetik, yang membuat perubahan permanen pada struktur genetik.
  • Masalah saat masa perkembangan organ hati dan saluran empedu selama janin masih berada di dalam rahim.
  • Paparan racun atau zat kimia saat ibu sedang hamil.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk atresia bilier?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami penyakit atresia bilier adalah sebagai berikut:

  • Terkena infeksi virus atau bakteri setelah lahir
  • Memiliki kelainan autoimun yang menyerang hati atau saluran empedu
  • Mengalami mutasi atau perubahan genetik pada tubuh
  • Perkembangan organ hati dan saluran empedu bermasalah

Namun selain itu, risiko bayi untuk mengalami kelainan atau cacat lahir ini juga dapat semakin meningkat bila berjenis kelamin perempuan.

Sementara untuk bayi berjenis kelamin laki-laki, risiko untuk mengalami kondisi ini cenderung lebih rendah.

Bukan itu saja, bayi dengan ras Asia dan Afrika-Amerika memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kondisi ini ketimbang ras kaukasia (Amerika dan Eropa).

Bayi prematur juga memiliki kemungkinan yang lebih besar terkait atresia bilier.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Diagnosis atresia bilier dapat dilakukan dokter dengan menanyakan seputar riwayat medis kesehatan bayi dan kesehatan anggota keluarga lainnya.

Pemeriksaan fisik dan melaksanakan tes lainnya adalah serangkaian cara untuk mendiagnosis atresia bilier.

Beberapa tes yang paling umum dilakukan dokter untuk memastikan diagnosis atresia bilier adalah sebagai berikut:

  • Tes darah. Tujuannya untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan pada fungsi organ hati bayi.
  • Pemeriksaan rontgen atau x-ray. Tujuannya untuk melihat apakah terjadi pembesaran pada organ hati dan limpa bayi.
  • Pemeriksaan ultrasonografi (USG). Tujuannya untuk mengetahui kemungkinan adanya kantung empedu kecil.

Pemeriksaan lain yang juga bisa dilakukan untuk mendiagnosis kondisi kelainan ini yakni biopsi hati.

Biopsi hati dilakukan dengan cara mengambil sedikit sampel hati menggunakan jarum kemudian dilakukan pengamatan lebih lanjut di bawan mikroskop.

Dokter juga dapat melakukan operasi untuk memastikan kebenaran bayi mengalami kondisi ini atau disebut sebagai diagnostic surgery confirms.

Operasi ini bisa membantu dokter untuk melihat secara langsung apakah ada bagian saluran empedu yang bermasalah.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bayi kemungkinan mengalami kondisi ini, langkah selanjutnya adalah dilakukan pengobatan.

Apa saja pilihan pengobatan untuk atresia bilier?

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, kondisi kelainan ini dapat diatasi dengan metode operasi Kasai dan transplantasi hati.

Pengobatan untuk atresia bilier adalah sebagai berikut:

Prosedur Kasai

Prosedur Kasai biasanya merupakan terapi awal untuk menangani kondisi kelainan ini. Saat prosedur Kasai berlangsung, dokter bedah akan mengangkat saluran empedu yang tersumbat pada bayi dan mengambil usus untuk menggantinya.

Selanjutnya cairan empedu akan mengalir langsung ke usus kecil. Jika operasi ini berhasil, kesehatan anak dapat membaik dan tidak mengalami masalah terkait organ hati.

Sementara jika operasi Kasai gagal, anak biasanya membutuhkan transplantasi hati dalam 1-2 tahun.

Meskipun setelah terapi berhasil, kebanyakan anak berisiko mengalami penyakit sirosis bilier obstruktif saat dewasa.

Jadi, kesehatan anak perlu dikontrol secara teratur untuk mengetahui kondisi dan perkembangan organ hati serta saluran empedu.

Transplantasi Hati

Transplantasi hati merupakan prosedur yang dilakukan dengan cara mengambil hati yang rusak dan menggantinya dengan hati baru dari pendonor.

Setelah transplantasi hati dilakukan, fungsi hati yang baru dapat mulai bekerja sebagaimana mestinya sehingga kesehatan anak juga semakin membaik.

Namun, anak disarankan untuk rutin minum obat guna mencegah sistem kekebalan tubuhnya menyerang atau menolak organ hati yang baru.

Tak perlu khawatir karena penolakan ini sebenarnya merupakan cara normal dari sistem kekebalan tubuh dalam melawan infeksi virus dan zat asing lainnya.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini?

Beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi atresia bilier pada anak adalah:

Bayi dengan kondisi ini biasanya mengalami kekurangan zat gizi sehingga membutuhkan aturan khusus untuk memenuhi kebutuhan gizinya khusus.

Jadi, anak butuh kalori lebih dalam diet hariannya. Anak dengan kondisi ini juga dapat mengalami kesulitan dalam mencerna lemak yang selanjutnya mengakibatkan kekurangan vitamin dan protein.

Jika diperlukan, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan ahli gizi anak untuk mendapatkan rekomendasi yang tepat mengenai kebutuhan gizi si kecil setiap harinya.

Setelah transplantasi hati, kebanyakan anak dapat makan dengan normal.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ada yang bilang kita sudah tak boleh minum air yang disimpan dalam botol plastik hangat. Misalnya karena ditinggal di mobil seharian. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

sering buang air kecil

8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
bayi demam naik turun

Penyebab Demam Naik Turun Pada Bayi (dan Cara Mengatasinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 3 menit
mengatasi anak step kejang demam saat anak kejang

Yang Harus Anda Lakukan Saat Anak Anda Kejang

Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit