Begini Cara Memperkenalkan Makanan Padat pada Bayi

Oleh

Bayi dianjurkan untuk mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan sebelum akhirnya diberi makanan padat, karena bayi di bawah 6 bulan memiliki refleks ekstrusi. Reflek ini membuat bayi mendorong lidahnya ketika sendok atau makanan dimasukkan ke dalam mulutnya. Reflek ini akan berangsur hilang ketika bayi berusia sekitar 4-5 bulan. Setelah reflek ini hilang, Anda dapat mulai mencoba memberinya makanan padat. Pada pemeriksaan bulan ke-4, konsultasikan dengan dokter kapan waktu yang tepat untuk mulai memberinya makanan padat pendamping ASI.

Bagaimana memulainya?

Sama halnya dengan menyusui, Anda dapat mulai memberi makanan padat kapanpun ketika bayi siap. Semakin bertambahnya usia, biasanya anak ingin makan bersama anggota keluarga lainnya. Agar tidak tersedak, pastikan bayi duduk tegak ketika makan. Apabila bayi malah menangis ketika diberi makanan padat, jangan paksa anak untuk menyelesaikan makanannya. Yang terpenting adalah ibu dan anak sama-sama menikmati momen ini tanpa adanya paksaan. Anda bisa kembali memberinya ASI atau susu botol selama 1-2 minggu sebelum mencobanya kembali.

Salah satu cara untuk memudahkan proses transisi adalah dengan memberinya sedikit ASI terlebih dahulu, kemudian beri ½  sendok kecil makanan padat, dan diakhiri proses makan dengan minum ASI kembali. Metode ini akan mencegah bayi terlalu frustrasi ketika dia merasa sangat lapar.

Tidak peduli seberapa terampil orangtua menyuapi anak, sebagian besar makanan bayi akan belepotan di celemek makan, mulut, bahkan wajah bayi. Oleh karena itu, tambah porsi makanan secara bertahap (mulai dengan 2 sendok teh) hingga bayi mulai mengerti caranya menelan makanan padat.

Ketika bayi mulai diberi makanan padat, sajikan satu jenis makanan yang sama dalam 2-3 hari. Hal ini akan memudahkan Anda mengetahui jenis makanan yang tidak cocok untuk bayi (misalnya makanan pemicu sembelit, diare, muntah, ruam atau alergi). Apabila ini terjadi, hindari makanan yang diduga tidak cocok untuk perut bayi hingga Anda berkonsultasi dengan dokter anak. Selama 2-3 bulan, libatkan ASI, sereal, sayuran, daging, telur, dan buah-buahan dalam menu makanan bayi untuk 3 kali makan dalam sehari. Ingat! Makanan kaleng untuk dewasa umumnya mengandung garam dan pengawet, sehingga tidak baik untuk dikonsumsi bayi.

Alat apa yang harus digunakan untuk menyuapi bayi?

Selalu gunakan sendok ketika memberi makan makanan padat pada bayi, kecuali pada bayi penderita gastroesophageal reflux, itu pun harus berdasarkan anjuran dokter. Beberapa orangtua mencoba memasukkan makanan padat ke dalam botol dengan puting di ujungnya. Namun, memberi makan  bayi  dengan metode seperti ini dapat meningkatkan jumlah asupan makanan dan menyebabkan kenaikan berat badan yang berlebih. Biasakan bayi untuk makan sambil duduk, makan menggunakan sendok, mengunyah, dan berhenti ketika merasa kenyang. Pembelajaran ini akan membentuk kebiasaan makan yang baik sepanjang hidupnya.

Pilih sendok yang sesuai dengan ukuran mulut sang bayi. Lebih baik, gunakan sendok bayi yang berlapis karet untuk menghindari cedera saat makan. Mulailah dengan setengah sendok atau kurang, dan ajak bayi berinteraksi selama proses ini berlangsung (“Mmm, makanan ini sehat, loh!”). Awalnya, bayi mungkin akan bingung, mengerutkan hidung, atau bahkan menolak makanan tersebut. Hal ini wajar karena proses transisi pasti membutuhkan waktu.

Hindari memberi makan si kecil langsung dari botol makanannya. Sebaiknya, pindahkan makanan bayi secukupnya dari botol ke atas piring bayi. Hal ini dapat mencegah makanan dalam botol terkontaminasi bakteri dari mulut bayi. Makanan yang tersisa di piring juga harus dibuang, tidak boleh disimpan.

Seiring bertambahnya usia, anak akan menemui beragam pilihan menu dan mulai terbiasa makan sendiri secara teratur. Diskusikan dengan dokter tentang kebutuhan gizi pribadi anak.

Yang juga perlu Anda baca