Seputar Melahirkan di Dalam Air (Water Birth): Syarat, Risiko, Persiapan, dan Prosesnya

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 01/04/2020
Bagikan sekarang

Pernahkah terlintas di pikiran Anda ingin melakukan melahirkan di dalam air (water birth)? Sesuai dengan namanya, water birth merupakan salah satu metode melahirkan yang dilakukan di kolam persalinan berisi air.

Meski tampaknya menawarkan kenyamanan yang lebih pada saat proses dan cara melahirkan berlangsung, tapi water birth tidak boleh sembarangan dilakukan oleh semua wanita. Sebenarnya, seperti apa proses melahirkan di dalam air ini?

Apa itu melahirkan di dalam air (water birth)?

Sumber: American Pregnancy

Secara harfiah, water birth adalah proses melahirkan yang dilakukan di dalam air. Selama proses melahirkan di air atau water birth berlangsung, Anda akan berada di dalam sebuah bak atau kolam kecil berisi air hangat.

Penggunaan air selama melahirkan ini bertujuan untuk mempermudah prosesnya, sekaligus meredakan rasa sakit dan tidak nyaman yang mungkin Anda alami. Agak berbeda dengan persalinan yang berlangsung di rumah sakit, proses melahirkan di dalam air atau water birth bisanya dilakukan secara alami.

Artinya, Anda tidak akan diberikan obat-obatan, bius (anestesi), maupun operasi caesar. Daya apung dari air yang akan memberikan Anda bantuan selama proses water birth berlangsung.

Meski begitu, bukan berarti melahirkan di air ini bebas dari rasa sakit. Faktanya, David Ghozland, MD, selaku dokter spesialis obstetri dan ginekologi di California, menuturkan bahwa rasa sakit saat melahirkan water birth akan tetap ada.

Hanya saja, proses melahirkan di dalam air atau water birth biasanya menawarkan lingkungan dan pengalaman baru yang lebih santai serta nyaman.

Berbagai fakta seputar melahirkan di dalam air (water birth)?

Sumber: Closer Magazine

Melahirkan dengan metode yang tidak biasa, alias di dalam air (water birth) membutuhkan persiapan yang lebih banyak. Terlebih lagi, rumah sakit yang menawarkan proses melahirkan dengan metode di dalam air di Indonesia masih terbilang jarang.

Berikut ini berapa hal tentang melahirkan di air atau water birth yang perlu Anda pahami:

1. Water birth memiliki beberapa manfaat bagi ibu dan bayi

Secara keseluruhan, water birth dapat membantu mempersingkat durasi waktu persalinan. Biasanya, penggunaan obat bius atau anestesi epidural di tulang belakang juga tidak terlalu dibutuhkan.

Bukan itu saja, air membantu menurunkan tekanan darah ibu, sehingga memengaruhi kecemasan ibu saat melahirkan yang semakin berkurang. Selain itu, air juga dapat menurunkan kadar hormon yang berhubungan dengan stres.

Dengan begitu, tubuh ibu akan memproduksi hormon endorfin yang dapat membantu mengurangi rasa sakit. Melahirkan di dalam air juga dapat mengurangi risiko robeknya vagina ibu. Ini karena air bertindak untuk membuat lapisan perineum pada vagina menjadi lebih elastis.

Sementara untuk bayi sendiri, persalinan di dalam air menciptakan lingkungan yang mirip dengan cairan ketuban. Alhasil, bayi pun akan merasa lebih nyaman saat lahir melalui metode water birth.

2. Water birth memudahkan tahap pertama persalinan

Menggunakan metode water birth selama tahap melahirkan normal pertama dapat membantu dalam mengurangi rasa sakit.

Fase pertama tersebut biasanya mulai berlangsung ketika terjadi pembukaan leher rahim (serviks), dan sesekali muncul kontraksi meski tidak terlalu sering.

Sebelum memulai proses water birth, Anda juga tidak memerlukan anestesi seperti persalinan pada umumnya. Air yang hangat dalam kolam dapat membantu tubuh Anda agar lebih rileks dan tenang, sehingga bisa membantu menciptakan kenyamanan.

Pada akhirnya, hal ini bisa membantu Anda menyimpan energi yang banyak diperlukan saat proses water birth berlangsung.

Di samping itu, karena berada di air biasanya Anda juga jadi lebih mudah dalam bergerak dan berpindah posisi, ketimbang berada di tempat tidur.

3. Water birth belum tentu aman bagi bayi pada tahap kedua persalinan

Tahap kedua water birth adalah di mana leher rahim (serviks) sudah benar-benar dalam posisi terbuka dan melebar. Di tahap inilah bayi sudah siap untuk keluar melalui vagina.

Sayangnya, belum bisa diketahui secara pasti bagaimana cara yang paling aman untuk mengeluarkan bayi dari vagina selama water birth. Aaron Caughey, dari American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), menjelaskan mengenai hal ini.

Menurutnya, melahirkan dengan posisi tidak berada di dalam air akan lebih memudahkan Anda, jika nantinya ada masalah atau komplikasi selama proses persalinan berlangsung. Penanganan dapat lebih cepat diberikan apabila posisi Anda tidak di dalam air alias tidak menjalani water birth.

Sedangkan jika tiba-tiba dibutuhkan operasi caesar segera sementara tubuh Anda ada di dalam air, biasanya butuh sekitar 4-5 menit untuk mengeluarkanya. Jadi, water birth dapat memakan waktu lebih lama untuk memberikan pertolongan segera bagi ibu dan bayinya.

Di sisi lain, American College of Obstetricians and Gynecologists juga mengatakan bahwa persalinan di dalam air belum terbukti secara ilmiah dapat memberikan manfaat bagi ibu dan bayi.

Siapa saja yang tidak bisa melahirkan di dalam air (water birth)?

Tidak semua ibu hamil boleh melahirkan di air (water birth). Hal ini dikarenakan water birth bisa menimbulkan risiko yang fatal bagi Anda dan bayi jika tidak dilakukan dengan prosedur yang benar.

Melahirkan di dalam air mempunyai risiko tersendiri bagi ibu dan janin, seperti yang juga dijelaskan oleh American Pregnancy Association. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko dari water birth, ibu hamil diharuskan dalam kondisi yang sehat dan prima.

Metode melahirkan di air atau water birth tidak dianjurkan dilakukan bagi Anda dengan kondisi sebagai berikut:

  • Umur di bawah 17 tahun atau lebih dari 35 tahun.
  • Memiliki komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia, diabetes gestasional, dan hipertensi gestasional
  • Sedang hamil bayi kembar dua, tiga, atau lebih.
  • Melahirkan sebelum waktunya atau lahir prematur, karena bayi perlu perawatan khusus jika lahir prematur
  • Ukuran bayi terlalu besar.
  • Pernah memiliki riwayat operasi caesar atau kesulitan saat melahirkan sebelumnya.
  • Bayi dalam posisi sungsang sehingga perlu dilakukan operasi caesar.
  • Ibu punya penyakit infeksi.
  • Ibu demam lebih dari 39 derajat Celcius.
  • Perdarahan vagina berlebihan.
  • Kesulitan melacak detak jantung bayi.
  • Pernah mengalami distosia atau persalinan macet. Ini dikarenakan posisi kepala bayi sudah di luar vagina, tapi salah satu bahu masih ada di dalam) pada persalinan sebelumnya.

Pada dasarnya, water birth hanya direkomendasikan untuk usia kehamilan antara 37-41 minggu, dan posisi kepala bayi di bawah. Sebaliknya, metode persalinan ini tidak disarankan untuk beberapa kondisi tertentu.

Sebagai contoh, jika persalinan ini prematur atau lebih cepat dari seharusnya dan pernah menjalani dua atau lebih persalinan caesar sebelumnya.

Apa risiko melahiran di dalam air (water birth)?

Melahirkan di dalam air memiliki beberapa risiko unthuk bayi. Bayi yang mengalami stres saat proses melahirkan di air atau water birth berlangsung, bisa membuatnya bernapas di dalam air.

Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya komplikasi serius pada pernapasan bayi, seperti aspirasi mekonium.

Aspirasi mekonium terjadi ketika bayi menghirup mekonium (tinja pertama bayi), yang ada pada cairan ketuban saat proses persalinan. Berikut risiko dari melahirkan di dalam air atau water birth:

  • Tali pusat bayi rusak saat diangkat ke permukaan air.
  • Bayi mengalami kejang.
  • Bayi susah bernapas.
  • Suhu tubuh bayi menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Meski terbilang jarang, bayi yang lahir di dalam air berisiko mengalami infeksi maupun penyakit tertentu. Contohnya penyakit Legionnaires, karena menghirup tetesan air yang mengandung bakteri Legionella.

Kondisi ini bisa berkembang menjadi parah atau bahkan fatal, yang menyebabkan demam, batu, radang paru-paru, dan lain sebagainya.

Untuk mencegah risiko masalah pernapasan pada bayi saat proses water birth, ibu dianjurkan untuk menahan tubuh dan kepala bayi tetap di dalam air. Hal ini bertujuan agar reflek pernapasan bayi tidak dimulai terlalu cepat jika langsung dikeluarkan dari dalam air.

Usahakan untuk tetap rileks saat melakukan water birth sampai muncul kontraksi selanjutnya yang mendorong bayi keluar.

Biasanya, bayi tidak akan bernapas sampai ia terkena udara karena masih mendapatkan oksigen dari tali pusar yang melekat di plasenta ibu.

Persiapan sebelum melahirkan di dalam air (water birth)

Sebelum menjalani water birth, ada beberapa hal yang mungkin harus Anda lakukan demi kelancaran prosesnya, yakni:

Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu

Pastikan kondisi Anda dan janin benar-benar bisa menjalankan water birth. Jika bisa, kemudian carilah dokter atau bidan yang bisa membantu Anda melahirkan dalam air. Pasalnya, tidak semua dokter atau bidan mungkin bersedia karena belum memiliki pengalaman sebelumnya.

Tentukan di mana water birth akan dilakukan

Jika di rumah sakit, Anda harus mencari rumah sakit yang bisa menyediakan fasilitas untuk water birth (misalnya, bak air untuk melahirkan).

Jika ingin melakukan water birth di rumah didampingi oleh dokter kandungan, bidan, maupun tim medis handal, Anda tentu harus menyediakan berbagai hal.

Hal yang harus Anda persiapkan jika ingin melakukan water birth di rumah:

Bak atau kolam air untuk melahirkan

Pilih bak air yang cukup besar untuk Anda duduk dengan nyaman dan cukup dalam agar air mencapai ketiak Anda saat duduk di bak.

Pastikan bak air sudah dibersihkan sebelum Anda pakai untuk melahirkan. Anda dapat menggunakan kolam renang plastik anak-anak yang biasanya berukuran cukup besar.

Sumber air untuk diisi ke dalam bak

Air yang dipakai untuk proses melahirkan harus benar-benar bersih dari kuman dan mempunyai suhu 35-38 derajat Celcius. Air yang digunakan harus hangat sesuai keinginan Anda agar Anda merasa nyaman saat di dalam bak.

Anda bisa memeroleh air hangat ini langsung dari keran rumah Anda, disambungkan ke bak melalui selang. Cara lainnya, Anda juga bisa merebus air terlebih dahulu sampai mencapai kehangatan yang diinginkan lalu diisikan ke dalam bak.

Anda mungkin perlu menambahkan secangkir garam ke dalam bak air untuk mencegah kulit menjadi keriput saat berlama-lama dalam air.

Tentukan ruangan yang akan digunakan

Pilih ruangan yang cukup besar sehingga bak air bisa masuk ke dalam. Pilih juga ruangan dengan suhu sejuk, tidak terlalu panas maupun terlalu dingin sehingga Anda nyaman. Pastikan lantai di ruangan tersebut cukup kuat untuk menahan beban dari bak air yang terisi penuh.

Lakukan simulasi sebelum dimulai

Coba lakukan simulasi mulai dari menyiapkan bak, sampai mengisi bak dengan air hangat. Cara ini bertujuan agar Anda bisa menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkannya.

Bagaimana proses water birth berlangsung?

Berikut tahapan proses melahirkan di dalam air (water birth):

Persiapan persalinan

Menjelang hari kelahiran, sebaiknya semua persiapan sudah rampung dilakukan. Jadi, ketika tanda-tanda melahirkan sudah datang, Anda tidak perlu menunggu lama lagi untuk mempersiapkannya.

Jika tanda-tanda melahirkan sudah terlihat (seperti kontraksi terus-menerus dan leher rahim mulai melebar), sebaiknya hubungi dokter atau bidan Anda. Kemudian, isi bak dengan air hangat dan tunggu sampai dokter atau bidan datang sebelum Anda masuk ke dalam bak.

Siapkan juga air minum dan lap bersih untuk mencegah dehidrasi saat melahirkan. Lap bersih bisa dicelupkan ke dalam air dingin dan taruh di leher atau punggung Anda sehingga Anda tidak merasa kepanasan dan lebih nyaman.

Melahirkan bayi di air

Tunggu sampai Anda merasakan kontraksi kuat untuk melahirkan. Beberapa ahli merekomendasikan agar Anda menunggu sampai leher rahim melebar setidaknya 5 cm.

Jika persalinan melambat saat Anda berada di luar kolam air, cobalah masuk ke dalam air karena ini bisa merangsang persalinan. Saat berada di dalam air, temukanlah posisi yang nyaman, misalnya jongkok, bersandar, berlutut, dan lainnya.

Pasangan Anda bisa masuk menemani Anda dalam kolam untuk membantu menenangkan dan memberi kekuatan pada Anda.

Ikuti instruksi dokter atau bidan Anda kapan waktu yang tepat untuk mengejan karena ini merupakan bagian yang paling penting saat melahirkan.

Saat ada dorongan yang tepat, ibu akan mulai mengejan hingga bayi bisa keluar dari mulut rahim. Mendorong bayi keluar saat ini mungkin lebih mudah karena dorongan dari air turut membantu.

Setelah bayi keluar, bayi akan dibawa oleh dokter atau bidan ke permukaan air secara perlahan, sehingga tali pusat bayi tidak terlepas atau rusak. Saat pertama kali hidung bayi bersentuhan dengan udara, inilah pertama kali bayi bernapas.

Setelah bersalin di air

Setelah bayi lahir, tugas Anda belum selesai karena Anda harus melahirkan plasenta. Anda bisa mengeluarkan plasenta di dalam maupun di luar air.

Beberapa ibu mungkin memilih tetap berada dalam air untuk melahirkan plasenta. Namun, jika plasenta terlalu lama untuk dilahirkan, sebaiknya keluar dari bak dan lahirkan plasenta di luar air.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Jenis Gangguan Makan yang Umum Dialami Ibu Hamil

Gangguan makan yang dialami oleh ibu hamil tentu akan memberikan dampak yang berbahaya bagi keselamatan dan perkembangan janin.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Kulit Wajah Terlihat Kusam Saat Hamil, Apa Penyebabnya?

Alih-alih mendapatkan pregnancy glow, sebagian orang malah merasa kulit wajah jadi lebih kusam saat hamil. Apa penyebabnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Kapan Waktu Terbaik untuk Kontrol Kandungan Selama Pandemi COVID-19?

Pemeriksaan kehamilan amatlah penting. Di sisi lain, pemeriksaan kehamilan selama pandemi COVID-19 membuat ibu rentan tertular. Apa yang harus ibu lakukan?

Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 29/04/2020

6 Makanan Bergizi untuk Memperkuat Kandungan

Selain sehat untuk ibu, berbagai makanan ini juga dapat memperkuat janin dalam kandungan agar masa kehamilan tetap lancar.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Direkomendasikan untuk Anda

hamil setelah keguguran

Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 18/05/2020
menu puasa untuk ibu hamil

Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
bayi terinfeksi COVID-19

Melahirkan di Rumah Sakit Saat Pandemi COVID-19, Apa Saja yang Harus Disiapkan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020
puasa bagi ibu hamil

4 Kondisi yang Mengharuskan Ibu Hamil Membatalkan Puasanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020