Seputar Melahirkan di Dalam Air (Water Birth): Syarat, Risiko, Persiapan, dan Prosesnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 01/04/2020 . 12 menit baca
Bagikan sekarang

Pernahkah terlintas di pikiran Anda ingin melakukan melahirkan di dalam air (water birth)? Sesuai dengan namanya, water birth merupakan salah satu metode melahirkan yang dilakukan di kolam persalinan berisi air.

Meski tampaknya menawarkan kenyamanan yang lebih pada saat proses dan cara melahirkan berlangsung, tapi water birth tidak boleh sembarangan dilakukan oleh semua wanita. Sebenarnya, seperti apa proses melahirkan di dalam air ini?

Apa itu melahirkan di dalam air (water birth)?

Sumber: American Pregnancy

Secara harfiah, water birth adalah proses melahirkan yang dilakukan di dalam air. Selama proses melahirkan di air atau water birth berlangsung, Anda akan berada di dalam sebuah bak atau kolam kecil berisi air hangat.

Penggunaan air selama melahirkan ini bertujuan untuk mempermudah prosesnya, sekaligus meredakan rasa sakit dan tidak nyaman yang mungkin Anda alami. Agak berbeda dengan persalinan yang berlangsung di rumah sakit, proses melahirkan di dalam air atau water birth bisanya dilakukan secara alami.

Artinya, Anda tidak akan diberikan obat-obatan, bius (anestesi), maupun operasi caesar. Daya apung dari air yang akan memberikan Anda bantuan selama proses water birth berlangsung.

Meski begitu, bukan berarti melahirkan di air ini bebas dari rasa sakit. Faktanya, David Ghozland, MD, selaku dokter spesialis obstetri dan ginekologi di California, menuturkan bahwa rasa sakit saat melahirkan water birth akan tetap ada.

Hanya saja, proses melahirkan di dalam air atau water birth biasanya menawarkan lingkungan dan pengalaman baru yang lebih santai serta nyaman.

Berbagai fakta seputar melahirkan di dalam air (water birth)?

Sumber: Closer Magazine

Melahirkan dengan metode yang tidak biasa, alias di dalam air (water birth) membutuhkan persiapan yang lebih banyak. Terlebih lagi, rumah sakit yang menawarkan proses melahirkan dengan metode di dalam air di Indonesia masih terbilang jarang.

Berikut ini berapa hal tentang melahirkan di air atau water birth yang perlu Anda pahami:

1. Water birth memiliki beberapa manfaat bagi ibu dan bayi

Secara keseluruhan, water birth dapat membantu mempersingkat durasi waktu persalinan. Biasanya, penggunaan obat bius atau anestesi epidural di tulang belakang juga tidak terlalu dibutuhkan.

Bukan itu saja, air membantu menurunkan tekanan darah ibu, sehingga memengaruhi kecemasan ibu saat melahirkan yang semakin berkurang. Selain itu, air juga dapat menurunkan kadar hormon yang berhubungan dengan stres.

Dengan begitu, tubuh ibu akan memproduksi hormon endorfin yang dapat membantu mengurangi rasa sakit. Melahirkan di dalam air juga dapat mengurangi risiko robeknya vagina ibu. Ini karena air bertindak untuk membuat lapisan perineum pada vagina menjadi lebih elastis.

Sementara untuk bayi sendiri, persalinan di dalam air menciptakan lingkungan yang mirip dengan cairan ketuban. Alhasil, bayi pun akan merasa lebih nyaman saat lahir melalui metode water birth.

2. Water birth memudahkan tahap pertama persalinan

Menggunakan metode water birth selama tahap melahirkan normal pertama dapat membantu dalam mengurangi rasa sakit.

Fase pertama tersebut biasanya mulai berlangsung ketika terjadi pembukaan leher rahim (serviks), dan sesekali muncul kontraksi meski tidak terlalu sering.

Sebelum memulai proses water birth, Anda juga tidak memerlukan anestesi seperti persalinan pada umumnya. Air yang hangat dalam kolam dapat membantu tubuh Anda agar lebih rileks dan tenang, sehingga bisa membantu menciptakan kenyamanan.

Pada akhirnya, hal ini bisa membantu Anda menyimpan energi yang banyak diperlukan saat proses water birth berlangsung.

Di samping itu, karena berada di air biasanya Anda juga jadi lebih mudah dalam bergerak dan berpindah posisi, ketimbang berada di tempat tidur.

3. Water birth belum tentu aman bagi bayi pada tahap kedua persalinan

Tahap kedua water birth adalah di mana leher rahim (serviks) sudah benar-benar dalam posisi terbuka dan melebar. Di tahap inilah bayi sudah siap untuk keluar melalui vagina.

Sayangnya, belum bisa diketahui secara pasti bagaimana cara yang paling aman untuk mengeluarkan bayi dari vagina selama water birth. Aaron Caughey, dari American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), menjelaskan mengenai hal ini.

Menurutnya, melahirkan dengan posisi tidak berada di dalam air akan lebih memudahkan Anda, jika nantinya ada masalah atau komplikasi selama proses persalinan berlangsung. Penanganan dapat lebih cepat diberikan apabila posisi Anda tidak di dalam air alias tidak menjalani water birth.

Sedangkan jika tiba-tiba dibutuhkan operasi caesar segera sementara tubuh Anda ada di dalam air, biasanya butuh sekitar 4-5 menit untuk mengeluarkanya. Jadi, water birth dapat memakan waktu lebih lama untuk memberikan pertolongan segera bagi ibu dan bayinya.

Di sisi lain, American College of Obstetricians and Gynecologists juga mengatakan bahwa persalinan di dalam air belum terbukti secara ilmiah dapat memberikan manfaat bagi ibu dan bayi.

Siapa saja yang tidak bisa melahirkan di dalam air (water birth)?

Tidak semua ibu hamil boleh melahirkan di air (water birth). Hal ini dikarenakan water birth bisa menimbulkan risiko yang fatal bagi Anda dan bayi jika tidak dilakukan dengan prosedur yang benar.

Melahirkan di dalam air mempunyai risiko tersendiri bagi ibu dan janin, seperti yang juga dijelaskan oleh American Pregnancy Association. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko dari water birth, ibu hamil diharuskan dalam kondisi yang sehat dan prima.

Metode melahirkan di air atau water birth tidak dianjurkan dilakukan bagi Anda dengan kondisi sebagai berikut:

  • Umur di bawah 17 tahun atau lebih dari 35 tahun.
  • Memiliki komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia, diabetes gestasional, dan hipertensi gestasional
  • Sedang hamil bayi kembar dua, tiga, atau lebih.
  • Melahirkan sebelum waktunya atau lahir prematur, karena bayi perlu perawatan khusus jika lahir prematur
  • Ukuran bayi terlalu besar.
  • Pernah memiliki riwayat operasi caesar atau kesulitan saat melahirkan sebelumnya.
  • Bayi dalam posisi sungsang sehingga perlu dilakukan operasi caesar.
  • Ibu punya penyakit infeksi.
  • Ibu demam lebih dari 39 derajat Celcius.
  • Perdarahan vagina berlebihan.
  • Kesulitan melacak detak jantung bayi.
  • Pernah mengalami distosia atau persalinan macet. Ini dikarenakan posisi kepala bayi sudah di luar vagina, tapi salah satu bahu masih ada di dalam) pada persalinan sebelumnya.

Pada dasarnya, water birth hanya direkomendasikan untuk usia kehamilan antara 37-41 minggu, dan posisi kepala bayi di bawah. Sebaliknya, metode persalinan ini tidak disarankan untuk beberapa kondisi tertentu.

Sebagai contoh, jika persalinan ini prematur atau lebih cepat dari seharusnya dan pernah menjalani dua atau lebih persalinan caesar sebelumnya.

Apa risiko melahiran di dalam air (water birth)?

Melahirkan di dalam air memiliki beberapa risiko unthuk bayi. Bayi yang mengalami stres saat proses melahirkan di air atau water birth berlangsung, bisa membuatnya bernapas di dalam air.

Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya komplikasi serius pada pernapasan bayi, seperti aspirasi mekonium.

Aspirasi mekonium terjadi ketika bayi menghirup mekonium (tinja pertama bayi), yang ada pada cairan ketuban saat proses persalinan. Berikut risiko dari melahirkan di dalam air atau water birth:

  • Tali pusat bayi rusak saat diangkat ke permukaan air.
  • Bayi mengalami kejang.
  • Bayi susah bernapas.
  • Suhu tubuh bayi menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Meski terbilang jarang, bayi yang lahir di dalam air berisiko mengalami infeksi maupun penyakit tertentu. Contohnya penyakit Legionnaires, karena menghirup tetesan air yang mengandung bakteri Legionella.

Kondisi ini bisa berkembang menjadi parah atau bahkan fatal, yang menyebabkan demam, batu, radang paru-paru, dan lain sebagainya.

Untuk mencegah risiko masalah pernapasan pada bayi saat proses water birth, ibu dianjurkan untuk menahan tubuh dan kepala bayi tetap di dalam air. Hal ini bertujuan agar reflek pernapasan bayi tidak dimulai terlalu cepat jika langsung dikeluarkan dari dalam air.

Usahakan untuk tetap rileks saat melakukan water birth sampai muncul kontraksi selanjutnya yang mendorong bayi keluar.

Biasanya, bayi tidak akan bernapas sampai ia terkena udara karena masih mendapatkan oksigen dari tali pusar yang melekat di plasenta ibu.

Persiapan sebelum melahirkan di dalam air (water birth)

Sebelum menjalani water birth, ada beberapa hal yang mungkin harus Anda lakukan demi kelancaran prosesnya, yakni:

Konsultasi dengan dokter terlebih dahulu

Pastikan kondisi Anda dan janin benar-benar bisa menjalankan water birth. Jika bisa, kemudian carilah dokter atau bidan yang bisa membantu Anda melahirkan dalam air. Pasalnya, tidak semua dokter atau bidan mungkin bersedia karena belum memiliki pengalaman sebelumnya.

Tentukan di mana water birth akan dilakukan

Jika di rumah sakit, Anda harus mencari rumah sakit yang bisa menyediakan fasilitas untuk water birth (misalnya, bak air untuk melahirkan).

Jika ingin melakukan water birth di rumah didampingi oleh dokter kandungan, bidan, maupun tim medis handal, Anda tentu harus menyediakan berbagai hal.

Hal yang harus Anda persiapkan jika ingin melakukan water birth di rumah:

Bak atau kolam air untuk melahirkan

Pilih bak air yang cukup besar untuk Anda duduk dengan nyaman dan cukup dalam agar air mencapai ketiak Anda saat duduk di bak.

Pastikan bak air sudah dibersihkan sebelum Anda pakai untuk melahirkan. Anda dapat menggunakan kolam renang plastik anak-anak yang biasanya berukuran cukup besar.

Sumber air untuk diisi ke dalam bak

Air yang dipakai untuk proses melahirkan harus benar-benar bersih dari kuman dan mempunyai suhu 35-38 derajat Celcius. Air yang digunakan harus hangat sesuai keinginan Anda agar Anda merasa nyaman saat di dalam bak.

Anda bisa memeroleh air hangat ini langsung dari keran rumah Anda, disambungkan ke bak melalui selang. Cara lainnya, Anda juga bisa merebus air terlebih dahulu sampai mencapai kehangatan yang diinginkan lalu diisikan ke dalam bak.

Anda mungkin perlu menambahkan secangkir garam ke dalam bak air untuk mencegah kulit menjadi keriput saat berlama-lama dalam air.

Tentukan ruangan yang akan digunakan

Pilih ruangan yang cukup besar sehingga bak air bisa masuk ke dalam. Pilih juga ruangan dengan suhu sejuk, tidak terlalu panas maupun terlalu dingin sehingga Anda nyaman. Pastikan lantai di ruangan tersebut cukup kuat untuk menahan beban dari bak air yang terisi penuh.

Lakukan simulasi sebelum dimulai

Coba lakukan simulasi mulai dari menyiapkan bak, sampai mengisi bak dengan air hangat. Cara ini bertujuan agar Anda bisa menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkannya.

Bagaimana proses water birth berlangsung?

Berikut tahapan proses melahirkan di dalam air (water birth):

Persiapan persalinan

Menjelang hari kelahiran, sebaiknya semua persiapan sudah rampung dilakukan. Jadi, ketika tanda-tanda melahirkan sudah datang, Anda tidak perlu menunggu lama lagi untuk mempersiapkannya.

Jika tanda-tanda melahirkan sudah terlihat (seperti kontraksi terus-menerus dan leher rahim mulai melebar), sebaiknya hubungi dokter atau bidan Anda. Kemudian, isi bak dengan air hangat dan tunggu sampai dokter atau bidan datang sebelum Anda masuk ke dalam bak.

Siapkan juga air minum dan lap bersih untuk mencegah dehidrasi saat melahirkan. Lap bersih bisa dicelupkan ke dalam air dingin dan taruh di leher atau punggung Anda sehingga Anda tidak merasa kepanasan dan lebih nyaman.

Melahirkan bayi di air

Tunggu sampai Anda merasakan kontraksi kuat untuk melahirkan. Beberapa ahli merekomendasikan agar Anda menunggu sampai leher rahim melebar setidaknya 5 cm.

Jika persalinan melambat saat Anda berada di luar kolam air, cobalah masuk ke dalam air karena ini bisa merangsang persalinan. Saat berada di dalam air, temukanlah posisi yang nyaman, misalnya jongkok, bersandar, berlutut, dan lainnya.

Pasangan Anda bisa masuk menemani Anda dalam kolam untuk membantu menenangkan dan memberi kekuatan pada Anda.

Ikuti instruksi dokter atau bidan Anda kapan waktu yang tepat untuk mengejan karena ini merupakan bagian yang paling penting saat melahirkan.

Saat ada dorongan yang tepat, ibu akan mulai mengejan hingga bayi bisa keluar dari mulut rahim. Mendorong bayi keluar saat ini mungkin lebih mudah karena dorongan dari air turut membantu.

Setelah bayi keluar, bayi akan dibawa oleh dokter atau bidan ke permukaan air secara perlahan, sehingga tali pusat bayi tidak terlepas atau rusak. Saat pertama kali hidung bayi bersentuhan dengan udara, inilah pertama kali bayi bernapas.

Setelah bersalin di air

Setelah bayi lahir, tugas Anda belum selesai karena Anda harus melahirkan plasenta. Anda bisa mengeluarkan plasenta di dalam maupun di luar air.

Beberapa ibu mungkin memilih tetap berada dalam air untuk melahirkan plasenta. Namun, jika plasenta terlalu lama untuk dilahirkan, sebaiknya keluar dari bak dan lahirkan plasenta di luar air.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

Tak hanya wanita yang harus memerhatikan perubahan pada dirinya. Sebagai suami Anda juga harus peka melihat tanda istri hamil dan segera mempersiapkan diri.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesuburan, Kehamilan, Hidup Sehat 13/06/2020 . 6 menit baca

Penyebab dan Cara Mengatasi ASI yang Tidak Keluar Setelah Melahirkan

Banyak ibu yang khawatir karena setelah sang buah hati lahir ke dunia, ASI tidak kunjung keluar dari payudara. Sebenarnya, apa penyebab kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Parenting, Menyusui 05/06/2020 . 10 menit baca

Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

Bukanlah hal yang mustahil jika Anda ingin segera kembali hamil setelah mengalami keguguran, tapi ketahui dulu beberapa hal berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesuburan, Kehamilan 18/05/2020 . 5 menit baca

Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

Puasa bukan menjadi alasan untuk membatasi ibu memberikan gizi yang tepat untuk janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

mengantar istri melahirkan ke rumah sakit

Ayah, Ini Tips Mengantar Ibu Hamil ke Rumah Sakit untuk Kelahiran

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 27/06/2020 . 4 menit baca
cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 9 menit baca
kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca
depresi pasca melahirkan ayah

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/06/2020 . 5 menit baca