Berapa Lama Cuti Melahirkan yang Ideal Bagi Ibu dan Bayi?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20/03/2020
Bagikan sekarang

Lama waktu cuti melahirkan yang diatur oleh Undang-undang adalah tiga bulan. Satu setengah bulan cuti sebelum melahirkan dan satu setengah bulan lagi setelah Anda bersalin. Namun, apakah tiga bulan sudah cukup ideal bagi kesehatan serta kesejahteraan ibu dan bayinya? Ini dia pendapat para ahli dari berbagai penelitian.

Mayoritas karyawan mengambil cuti cuma sebentar

Meskipun di Indonesia sudah ada aturan yang jelas untuk mengambil cuti melahirkan, pada kenyataannya banyak karyawan serta pihak perusahaan yang tidak mengikuti aturan tersebut. Anda mungkin baru mengambil cuti satu sampai dua minggu sebelum tanggal kelahiran. Kemudian Anda akan kembali bekerja ke kantor hanya dalam waktu sebulan setelah bersalin.

Fenomena ini sudah sangat marak, terutama di perusahaan-perusahaan yang tidak memberikan tunjangan bagi karyawan yang mengambil cuti bersalin. Hal ini juga kerap ditemui di berbagai perusahaan yang mengesampingkan kesetaraan gender. Akibatnya, keluarga dan bayi baru lahir akan kehilangan banyak waktu yang berharga.

Lama cuti melahirkan yang ideal

Bila cuti melahirkan selama satu sampai dua bulan ternyata tidak ideal bagi ibu dan bayi, jadi harusnya berapa lama waktu yang dibutuhkan? Para ahli punya pendapat yang berbeda-beda soal lamanya cuti bersalin yang ideal.

Menurut seorang pakar kebijakan publik asal University of Virginia, Christopher J. Ruhm, ibu dan bayi akan semakin sehat dan terhindar dari komplikasi bila mengambil cuti selama 40 minggu atau kira-kira sepuluh bulan. Hal ini dibuktikan dalam penelitiannya yang dimuat pada jurnal National Bureau of Economic Research (NBER) Working Papers.

Sedangkan penelitian lain oleh para ahli dari Columbia University dalam Economic Journal mencatat bahwa cuti selama tiga bulan setelah melahirkan (bila digabung dengan cuti sebelum bersalin berarti total empat bulan) sudah cukup untuk menjamin kesehatan ibu dan bayi bahkan hingga jangka panjang.

Hasil serupa juga dibuktikan oleh studi dalam Journal of Health, Politics, Policy, and Laws tahun 2013 lalu. Cuti bersalin selama tiga bulan setelah melahirkan mampu mengurangi risiko depresi pasca melahirkan dan dampak kesehatan lainnya pada ibu dan bayi.   

Dirangkum dari penelitian lainnya di seluruh dunia, lama cuti melahirkan yang ideal yaitu minimal empat bulan. Maksudnya satu bulan sebelum melahirkan dan tiga bulan sesudahnya. Namun, orangtua dan bayi akan memetik lebih banyak manfaat bila cutinya diperpanjang. Apalagi kalau Anda memang rentan mengalami komplikasi atau depresi pasca melahirkan.  

setelah punya bayi

Dampak cuti yang terlalu singkat bagi ibu dan bayi

Bila ibu bersalin hanya mengambil cuti selama dua bulan atau bahkan kurang dari itu, inilah berbagai dampak negatif yang mungkin terjadi.

1. Depresi pascamelahirkan

Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa ibu yang langsung kembali bekerja setelah melahirkan lebih rentan mengalami depresi pascamelahirkan (postpartum). Depresi yang menyerang ibu baru ini tak hanya berdampak pada kondisi mental ibu saja. Bayi Anda juga akan mengalami dampaknya. Misalnya bayi tidak diasuh secara maksimal. Ibu dan bayi juga akan kesulitan membangun ikatan batin yang cukup kuat.

2. Asupan ASI berkurang

Cuti melahirkan yang terlalu singkat akan berdampak pada asupan air susu ibu (ASI) bagi bayi. Entah karena bayi tidak bisa mendapatkan ASI ketika dibutuhkan atau karena produksi ASI terhambat karena ibu mengalami depresi. Hal ini bisa diatasi misalnya dengan pompa ASI atau mencari donor ASI.

3. Tidak sempat memulihkan diri

Menurut para ahli, setelah bersalin ibu membutuhkan waktu paling cepat enam minggu untuk benar-benar memulihkan diri dari proses persalinan. Namun, setelah itu tubuh Anda masih harus beristirahat.

Jika setelah melahirkan Anda langsung kembali bekerja, keluhan-keluhan pascapersalinan seperti kelelahan, nyeri punggung, nyeri payudara, sakit kepala, sembelit, dan jahitan vagina yang robek bisa terus terasa bahkan setelah setahun lamanya. Inilah mengapa lamanya cuti melahirkan yang ideal sangat penting bagi kesehatan ibu dan bayi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Jenis Gangguan Makan yang Umum Dialami Ibu Hamil

Gangguan makan yang dialami oleh ibu hamil tentu akan memberikan dampak yang berbahaya bagi keselamatan dan perkembangan janin.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Kulit Wajah Terlihat Kusam Saat Hamil, Apa Penyebabnya?

Alih-alih mendapatkan pregnancy glow, sebagian orang malah merasa kulit wajah jadi lebih kusam saat hamil. Apa penyebabnya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Kapan Waktu Terbaik untuk Kontrol Kandungan Selama Pandemi COVID-19?

Pemeriksaan kehamilan amatlah penting. Di sisi lain, pemeriksaan kehamilan selama pandemi COVID-19 membuat ibu rentan tertular. Apa yang harus ibu lakukan?

Ditulis oleh: Diah Ayu
Coronavirus, COVID-19 29/04/2020

Begini Frekuensi Normal BAB Bayi yang Baru Saja Lahir

BAB bayi yang baru lahir memang dapat menjadi indikator dari kondisi kesehatan mereka, terutama frekuensi dan warnanya. Bagaimana frekuensi normal BAB bayi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Direkomendasikan untuk Anda

hamil setelah keguguran

Hal yang Harus Diketahui Jika Ingin Cepat Hamil Setelah Keguguran

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 18/05/2020
menu puasa untuk ibu hamil

Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
puasa bagi ibu hamil

4 Kondisi yang Mengharuskan Ibu Hamil Membatalkan Puasanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020
makanan sahur untuk ibu hamil

6 Makanan Kaya Gizi yang Harus Ibu Hamil Penuhi Saat Sahur

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020