Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Mencoba Program Inseminasi hingga Bayi Tabung demi Memiliki Buah Hati

    Mencoba Program Inseminasi hingga Bayi Tabung demi Memiliki Buah Hati

    Sejak sebelum menikah, suami saya dengan jujur mengatakan bahwa dirinya mengidap terato asthenozoospermia. Oleh karena itu, dari awal kami tahu bahwa kami akan menghadapi perjuangan untuk menjalani program hamil. Inilah pengalaman kami menjalani program inseminasi hingga bayi tabung untuk memiliki buah hati.

    Bersabar menjalani program hamil

    Mencoba Program Inseminasi Hingga Bayi Tabung Demi Memiliki Buah Hati

    Kami menikah pada Januari 2017. Meski tidak ada niatan untuk menunda kehamilan, kami juga tak ingin diburu-buru untuk segera punya momongan.

    Saat ini kami juga tengah memiliki banyak kesibukan, saya kerja dan suami saya sedang berusaha menyelesaikan pendidikan dokter spesialis. Padatnya kesibukan membuat kami belum siap memulai program kehamilan.

    Kami berdua, terutama suami, tahu betul bahwa kemungkinan untuk hamil spontan tanpa diprogram sangatlah kecil. Sebab suami saya telah mengetahui bahwa dirinya memiliki masalah fertilitas.

    Jauh sebelum melamar saya untuk menjadi istrinya, ia sudah pernah memeriksakan kondisi kesehatan reproduksinya. Ia dengan jujur berkata bahwa dirinya mengalami terato asthenozoospermia.

    Kondisi ini merupakan gabungan dari dua kelainan sperma, yakni teratozoospermia (presentase morfologi atau bentuk sperma normal < 4%) dan asthenozoospermia (kurang dari 32% sperma yang bergerak aktif).

    Kondisi abnormal baik dari bentuk maupun kemampuan pergerakan sperma ini katanya bisa terjadi akibat berbagai hal.

    Penyebab tersebut seperti kelelahan, kegemukan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, faktor psikologi seperti stres berkepanjangan, pengaruh lingkungan seperti radiasi atau polutan di kawasan industri, hingga kelainan kromosom.

    Meski bukan kondisi permanen, terato asthenozoospermia juga bukanlah hal yang mudah diatasi.

    Oleh karena itu, sejak awal kami mengetahui risiko sulitnya hamil spontan yang akan kami hadapi.

    Di tahun-tahun pertama pernikahan, sulit bagi kami untuk memulai program hamil. Alhasil, kami sepakat menundanya suami menyelesaikan program studi spesialisnya.

    Meski menunda program kehamilan, tak serta merta membuat kami menggunakan kontrasepsi. Kami masih berharap timbul keajaiban bahwa saya bisa hamil secara alami.

    Selama 3 tahun menunggu, saya tak terlalu cemas. Apalagi kami percaya bahwa kemampuan ahli dan teknologi di bidang fertilitas di Indonesia sudah cukup canggih dan bisa diandalkan, sisanya kami serahkan pada rencana tuhan.

    Memulai program hamil inseminasi hingga bayi tabung

    Mencoba Program Inseminasi Hingga Bayi Tabung Demi Memiliki Buah Hati

    Hari yang dinantikan akhirnya datang juga. Suami saya lancar menyelesaikan pendidikan spesialisnya, kami pun berniat untuk segera memulai program hamil.

    Meski di tengah situasi pandemi, kami sepakat untuk tetap memulai program hamil karena mempertimbangkan faktor usia.

    Semakin bertambah usia, khususnya perempuan di atas 35 tahun, maka sel telur semakin berkurang. Jika kami menundanya kembali, kami khawatir akan semakin bertambah masalah dan semakin berat program hamil dijalani.

    Kami berdua memutuskan datang bersama ke dokter obgyn. Suami saya kemudian menjalani pemeriksaan sperma, sementara saya melakukan cek USG transvaginal dan pemeriksaan HSG (histerosalpingografi) untuk melihat struktur rahim.

    Masalah yang ditemukan masih sama dan sesuai dengan perkiraan kami, suami saya mengalami terato asthenozoospermia.

    Karena organ reproduksi saya dalam kondisi sehat, dokter menyarankan agar kami melakukan program hamil inseminasi buatan.

    Intrauterine insemination (IUI) atau inseminasi buatan ini dilakukan dengan cara menempatkan sperma yang telah dikumpulkan dan diproses di laboratorium ke dalam rongga rahim.

    Sebelum ditempatkan ke dalam rahim, sperma dibersihkan dari cairan mani dan kemudian dikonsentrasikan. Proses inseminasi ini menempatkan sperma terbaik lebih dekat ke rongga rahim, memotong jalur rahin, dan membuat jalan ke saluran tuba falopi lebih pendek.

    Tujuannya agar meningkatkan jumlah sperma yang berhasil sampai di saluran tuba sehingga meningkatkan kesempatan untuk membuahi sel telur.

    Setelah berkonsultasi selama 1 bulan, akhirnya kami sepakat untuk mencoba program inseminasi. Namun, program ini ternyata tak membuahkan hasil.

    Setelah penantian selama 3 tahun, saya merasa amat sedih dan kecewa karena kegagalan yang dialami. Semula kami sangat berharap bisa berhasil di percobaan pertama.

    Tak ingin bersedih terlalu lama, kami kembali membulatkan tekad mencoba program kehamilan berikutnya. Saya sadar bahwa untuk mengatasi masalah kesuburan ini butuh energi dan kesabaran yang besar.

    Meski telah berniat kembali memulai, saya masih sedikit galau memutuskan program kehamilan yang diambil setelah gagal menjalani program inseminasi.

    Saya bimbang apakah kembali mengulang program inseminasi atau program lainnya seperti bayi tabung.

    Di tengah kebimbangan itu, seorang teman merekomendasikan agar kami konsultasi ke Klinik Fertilitas Bocah Indonesia. Saya dan suami langsung mencobanya.

    Di sana, kami konsultasi via zoom dengan spesialis andrologi bernama dr. Tiara Kirana, Sp.And dan obgyn dr. Cynthia Agnes Susanto, SpOG.

    Dua dokter ini menyarankan agar kami menjalani pemeriksaan ulang baik kondisi suami maupun kondisi saya.

    Setelah itu, suami mendapat perawatan khusus untuk terato asthenozoospermia-nya selama 3 bulan. Ia mesti mengonsumsi obat-obatan oral untuk memperbaiki kualitas spermanya terlebih dulu.

    Setelah kondisi sperma suami membaik, akhirnya kami memilih menjalani program IVF atau bayi tabung. Menurut dokter, untuk masalah male factor infertility (masalah kesuburan pada laki-laki) kesempatan untuk hamil akan lebih tinggi jika melalui program IVF.

    Singkat cerita, stimulasi sel telur menghasilkan 13 sel ovum yang kemudian dibuahi dengan sperma suami. Hasilnya didapatkan 13 blastocyst, tetapi yang bertahan sampai hari ke-5 hanya 5 embryo saja.

    Percobaan pertama melakukan fresh embryo transfer tidak membuahkan hasil. Rasanya ingin segera lanjut melakukan transfer embrio kedua, tetapi dokter menyarankan untuk istirahat lebih dulu selama satu siklus.

    Dua bulan kemudian, pada November 2020 kami mencoba frozen embryo transfers dan memutuskan untuk langsung mentransfer 2 embrio. Harapannya, ada salah satu embrio yang berhasil menempel di rahim saya.

    Puji tuhan, ternyata keduanya menempel dengan baik sehingga saat ini kami sedang menunggu kelahiran si kembar.

    Bagi para pejuang garis dua, tetap semangat menjalani promil. Kegagalan memang terasa sedih dan menyesakkan, tapi jangan menyerah untuk mencoba kembali. Jika tidak mencoba tidak akan ada keberhasilan kan?

    Selalu yakin dan terus berdoa. Jika sudah jalan Tuhan, pasti akan tiba waktunya kita dikaruniai malaikat kecil.

    Stella Margaretha bercerita untuk Hello Sehat.


    Punya pertanyaan atau cerita kehamilan?

    Yuk, gabung komunitas Ibu Hamil Hello Sehat dan dapatkan info menarik seputar kehamilan.


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber
    • Wawancara  Stella Margaretha (16/6/2021).
    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui Jul 27, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
    Next article: