Jenis-jenis Obat Darah Tinggi yang Perlu Anda Ketahui

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19/05/2020
Bagikan sekarang

Tekanan darah tinggi atau hipertensi umumnya tidak menimbulkan gejala darah tinggi. Namun, kondisi ini dapat mengancam jiwa karena dapat menyebabkan komplikasi hipertensi, seperti serangan jantung atau stroke, bila dibiarkan. Oleh karena itu, penderita darah tinggi perlu mengontrol tekanan darahnya melalui perubahan gaya hidup sehat. Bila perubahan gaya hidup dirasa tidak cukup, Anda mungkin perlu mengonsumsi obat darah tinggi yang diresepkan dokter.

Lantas, apa saja jenis obat hipertensi yang biasa diresepkan dokter dan bagaimana aturan minum obatnya yang tepat? Adakah obat-obatan tertentu yang perlu dihindari dan diwaspadari penderita darah tinggi?

Jenis-jenis obat darah tinggi

Terdapat banyak jenis obat yang tersedia untuk menangani penyakit ini. Obat-obatan tersebut biasa disebut dengan obat antihipertensi. Obat antihipertensi dibagi menjadi berbagai macam kategori, dengan cara kerja dan efek samping obat hipertensi yang beragam pula.

Tiap obat menimbulkan reaksi yang berbeda pada setiap penderita hipertensi. Oleh karena itu, dokter akan meresepkan obat-obatan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi darah tinggi yang Anda alami. Obat-obatan ini bisa diberikan secara tunggal atau dengan kombinasi obat hipertensi lainnya. Berikut adalah jenis-jenis obat antihipertensi atau darah tinggi yang umum diberikan dokter:

Diuretik

1. Diuretik

Diuretik adalah salah satu jenis obat hipertensi yang paling sering digunakan. Obat ini bekerja dengan cara menghilangkan air dan natrium (garam) berlebih di dalam ginjal. Apabila kelebihan air dan garam dikurangi, kadar darah yang melewati pembuluh darah Anda akan berkurang, sehingga tekanan darah Anda pun menurun.

Dilansir dari Mayo Clinic, terdapat 3 jenis utama dari obat darah tinggi diuretik, yaitu thiazide, potassium-sparing, dan diuretik loop. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing jenis diuretik.

  • Thiazide

Obat hipertensi diuretik jenis thiazide bekerja dengan mengurangi jumlah natrium dan air dalam tubuh. Thiazide merupakan satu-satunya jenis diuretik yang dapat memperlebar pembuluh darah sehingga membantu menurunkan tekanan darah.

Contoh obat thiazide: chlorthalidone (Hygroton), chlorothiazide (Diuril), hydrochlorothiazide (Hydrodiuril, Microzide), indapamide (Lozol), metolazone (Zaroxolyn).

  • Potassium-sparing

Obat untuk tekanan darah tinggi diuretik jenis potassium-sparing membantu mengurangi jumlah air dalam tubuh dengan mempercepat proses diuresis (buang air kecil). Namun, berbeda dengan jenis diuretik lainnya, obat ini bekerja tanpa membuang kalium dari dalam tubuh.

Contoh obat potassium-sparing: amiloride (Midamor), spironolactone (Aldactone), triamterene (Dyrenium).

  • Diuretik loop

Obat ini merupakan jenis diuretik yang paling kuat apabila dibandingkan dengan jenis lainnya. Diuretik loop bekerja dengan cara membuang garam, klorida, dan kalium sehingga semua zat tersebut akan terbuang melalui urin. Adapun hal tersebut dapat membantu menurunkan tekanan darah.

Contoh obat diuretik loop: bumetanide (Bumex), furosemide (Lasix), torsemide (Demadex)

Jika diuretik tidak cukup untuk menurukan tekanan darah Anda, dokter biasanya akan menambahkan obat tekanan darah lainnya.

2. Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor

Obat hipertensi lainnya, yaitu angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor. Obat ini dapat membantu melemaskan pembuluh arteri dan vena Anda, sehingga tekanan darah dapat turun.

ACE inhibitor juga mencegah produksi angiotensin II dari enzim tubuh, yang dapat mempersempit pembuluh darah. Adapun penyempitan pembuluh darah dapat meningkatkan tekanan darah dan memaksa jantung Anda bekerja lebih keras. Selain itu, angiotensin II juga melepas hormon yang dapat mengakibatkan tekanan darah Anda naik.

Biasanya, obat yang termasuk ke dalam golongan ini adalah obat yang pertama kali diresepkan (lini pertama) untuk penderita hipertensi dan bisa diberikan bersamaan dengan obat lainnya, seperti diuretik atau calcium channel blocker.

Contoh obat ACE inhibitor: captopril, enalapril, lisinopril, benazepril hydrochloride, perindopril, ramipril, quinapril hydrochloride, dan trandolapril.

3. Angiotensin II receptor blocker (ARB)

Serupa dengan ACE inhibitor, obat angiotensin II receptor blocker (ARB) juga dapat membantu merilekskan pembuluh vena dan arteri agar tekanan darah dapat menurun. Namun, yang membedakan dengan ACE inhibitor adalah ARB tidak menghambat produksi angiotensin II, tetapi mencegah aksinya sehingga pembuluh darah tidak menyempit dan tekanan darah dapat turun.

Contoh obat ARB: azilsartan (Edarbi), candesartan (Atacand), irbesartan, losartan potassium, eprosartan mesylate, olmesartan (Benicar), telmisartan (Micardis), dan valsartan (Diovan). 

4. Calcium channel blocker (CCB)

Obat calcium channel blocker (CCB) juga merupakan obat lini pertama dalam pengobatan hipertensi. Obat ini dapat menurunkan tekanan darah dengan mencegah kalsium memasuki sel-sel jantung dan arteri.

Adapun kalsium dapat menyebabkan jantung dan pembuluh darah berkontraksi lebih kuat. Dengan mencegah kalsium tersebut, sel-sel jantung dan pembuluh darah menjadi lebih rileks dan mengendur.

Contoh obat CCB: amlodipine, clevidipine, diltiazem, felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipine, nimodipine, dan nisoldipine.

5. Beta blocker

Obat hipertensi ini bekerja dengan cara menghalangi efek dari hormon epinefrin (hormon adrenalin). Hal ini membuat jantung bekerja lebih lambat serta detak jantung dan kekuatan pompa jantung menjadi menurun. Dengan demikian, volume darah yang mengalir di pembuluh darah menurun dan tekanan darah pun menurun.

Sama seperti ACE inhibitor dan Calcium channel blocker, obat ini juga merupakan obat lini pertama dalam pengobatan hipertensi.

Contoh obat beta blocker: atenolol (Tenormin), propranolol, metoprolol, nadolol (Corgard), betaxolol (Kerlone), metoprolol tartrate (Lopressor) acebutolol (Sectral), bisoprolol fumarate (Zebeta), nebivolol, dan solotol (Betapace).

6. Alpha blocker

Obat jenis alpha blocker digunakan untuk mengatasi darah tinggi dengan memengaruhi kerja hormon norepinephrine. Adapun norepinephrine adalah hormon yang mengencangkan otot-otot pembuluh darah. Dengan konsumsi obat ini, otot-otot pembuluh darah dapat mengendur dan melebar, sehingga tekanan darah pun menurun.

Alpha blocker biasanya tidak diberikan sebagai pilihan pertama pengobatan hipertensi. Umumnya, penggunaan obat hipertensi ini dikombinasikan dengan obat-obatan darah tinggi lainnya, misalnya diuretik.

Contoh obat alpha blocker: doxazosin (Carduar), terazosin hydrochloride, dan prazosin hydrochloride (Minipress).

7. Alpha-beta blocker

Alpha-beta blocker memiliki cara kerja yang sama dengan obat beta blocker. Obat ini biasanya diresepkan untuk pasien hipertensi yang berisiko tinggi terkena gagal jantung. Efek dari pengobatan ini adalah menurunnya laju detak jantung, tensi darah, dan juga ketegangan jantung. Tak hanya itu, obat ini juga membantu mencegah stroke dan gangguan ginjal.

Contoh obat alpha-beta blocker: carvedilol dan labetalol.

8. Vasodilator

Obat vasodilatior bekerja dengan cara membuka atau melebarkan otot-otot pembuluh darah. Apabila otot pembuluh arteri dan vena lebih rileks, darah akan mengalir dengan lebih mudah.

Jantung Anda pun tidak perlu bekerja dengan keras, sehingga obat ini dapat membuat tekanan darah Anda yang tinggi menjadi menurun.

Contoh obat vasodilator: hydralazine dan minoxidil.

9. Central-acting agents

Central-acting agents atau central agonist merupakan obat darah tinggi yang bekerja di sistem saraf pusat, bukan langsung di sistem kardiovaskular.

Obat ini bekerja dengan cara mencegah otak mengirim sinyal ke sistem saraf untuk mempercepat detak jantung dan mempersempit pembuluh darah. Dengan demikian, jantung tidak memompa darah dengan kuat dan darah mengalir lebih mudah di pembuluh darah.

Contoh obat central-acting agent: clonidine (Catapres, Kapvay), guanfacine (Intuniv), dan methyldopa.

10. Direct renin inhibitor (DRI)

Obat direct renin inhibitor (DRI) bekerja dengan cara mencegah enzim renin yang memicu tekanan darah tinggi. Dengan menghambat kerja renin, pembuluh darah menjadi rileks dan melebar, sehingga tekanan darahnya yang tinggi dapat menurun.

Ibu hamil dan menyusui tidak diperbolehkan untuk minum obat darah tinggi jenis ini. Bila Anda sedang hamil atau menyusui, konsultasikan dengan dokter mengenai obat yang tepat.

Contoh obat direct renin inhibitor: aliskiren (Tekturna).

11. Aldosterone receptor antagonist

Obat aldosterone receptor antagonist lebih umum digunakan untuk mengobati penyakit gagal jantung. Namun, obat ini juga dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi.

Menyerupai diuretik, obat ini membantu membuang cairan berlebih tanpa mengurangi kadar kalium di dalam tubuh. Dengan demikian, pembengkakan akibat penumpukan cairan dapat berkurang, pernapasan lebih lancar, dan tekanan darah menurun.

Dalam kasus tertentu, obat ini dapat dikombinasikan dengan diuretik, ACE inhibitor, atau beta blockerContoh obat aldosterone receptor antagonisteplerenone, spironolactone.

Bagaimana aturan minum obat darah tinggi?

obat sakit jantung pengobatan penyakit jantung

Saat tekanan darah Anda naik, dokter tidak selalu meminta Anda untuk  minum obat antihipertensi. Bila jenis hipertensi yang Anda miliki tergolong prehipertensi, Anda hanya diminta melakukan perubahan gaya hidup.

Saat Anda sudah tergolong hipertensi, dokter pun umumnya tidak langsung meresepkan obat, tetapi meminta Anda untuk mengubah gaya hidup terlebih dahulu. Bila dirasa belum cukup untuk menurunkan tekanan darah, dokter baru akan meresepkan obat tekanan darah tinggi untuk Anda konsumsi.

Terkecuali, jika Anda tergolong hipertensi dan memiliki masalah medis lainnya yang menjadi penyebab hipertensi, dokter umumnya akan langsung meresepkan obat tekanan darah tinggi untuk Anda.

Minum obat hipertensi harus sesuai aturan

American Heart Association menyebut, obat hipertensi perlu diminum secara rutin dan teratur, sesuai dengan dosis dan waktu yang ditentukan oleh dokter agar bekerja secara maksimal.

Bila tidak diminum sesuai ketentuan, misal melewatkan minum obat sehari atau mengurangi/menambah dosis, tekanan darah Anda tidak akan terkendali dengan baik. Tekanan darah yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya, serangan jantung, gagal jantung, atau gagal ginjal.

Anda pun perlu ingat untuk tidak pernah berhenti atau mengganti obat hipertensi tanpa sepengetahuan dokter, meski Anda sudah merasa lebih baik. Hal ini justru akan membahayakan diri Anda.

Waktu yang tepat untuk minum obat

Tekanan darah cenderung bervariasi sepanjang hari. Umumnya, tekanan darah menjadi lebih tinggi pada pagi hingga siang hari, sedangkan pada malam hari dan ketika tidur, tekanan darah menjadi lebih rendah. Namun, pada lansia atau yang berusia lebih dari 55 tahun, umumnya tekanan darah tetap tinggi meski sudah memasuki malam hari.

Sebagian besar obat hipertensi hanya diminum satu kali sehari, yaitu pada pagi atau malam hari. Obat antihipertensi yang biasanya diminum pada pagi hari, yaitu diuretik. Sementara obat darah tinggi yang umumnya diminum pada malam hari, yaitu angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dan angiotensin II receptor blocker (ARB).

Meski demikian, tidak selamanya obat-obatan itu dikonsumsi pada waktu tersebut. Dokter akan menentukan jenis obat dan waktu konsumsi obat hipertensi yang tepat sesuai dengan kondisi Anda.

Selain mengonsumsi obat dari dokter, Anda pun perlu mengimbanginya dengan menerapkan gaya hidup sehat, termasuk diet hipertensi dengan mengurangi asupan garam, olahraga, tidak merokok, membatasi alkohol, dan mengurangi stres. Mineral dan vitamin penurun darah tinggi pun bisa menjadi pilihan untuk mengontrol tekanan darah Anda. Dengan menerapkan pola hidup sehat, tekanan darah Anda menjadi terkendal dan Anda pun bisa mencegah hipertensi lebih parah pada masa depan. 

Kondisi yang menyebabkan obat hipertensi tidak ampuh bekerja

Pada beberapa kasus, obat hipertensi dari dokter menjadi tidak ampuh dan tidak mempan bekerja. Bukannya terkontrol, tekanan darahnya malah tetap terus naik saat dilakukan cek tekanan darah berikutnya.

Mengapa hal ini terjadi? Berikut adalah kemungkinan kondisi yang menyebabkan obat hipertensi yang Anda minum tidak mempan pada diri Anda:

  • Sindrom jas putih, yaitu kondisi di mana seseorang mengalami tekanan darah tinggi saat berada di sekitar dokter, petugas laboratorium, atau petugas medis siapa pun yang menggunakan jas putih yang khas. Meski minum obat, seseorang dengan kondisi ini akan tetap mengalami kenaikan tekanan darah saat melakukan pengecekan di sekitar dokter.
  • Tidak minum obat sesuai anjuran dokter.
  • Melakukan kesalahan saat pengecekan tekanan darah.
  • Menerapkan pola makan yang tidak sehat.
  • Kurang bergerak atau perokok aktif.
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu yang mengganggu kerja obat hipertensi atau disebut interaksi obat.
  • Kondisi medis lain yang dimiliki yang memengaruhi tekanan darah.

Jenis obat lain yang harus diwaspadai penderita darah tinggi

Berbagai jenis obat batuk berdarah

Mengonsumsi obat memang tidak boleh sembarangan, termasuk bagi penderita hipertensi. Pasalnya, ada beberapa obat yang justru berbahaya bagi kondisi kesehatannya. Obat-obatan ini disebut dapat menaikkan tekanan darah serta memiliki interaksi dengan obat hipertensi yang sedang Anda konsumsi.

Untuk itu, bila Anda memiliki masalah kesehatan tertentu dan membutuhkan obat, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat yang tepat, yang tidak memperparah hipertensi Anda. Berikut beberapa obat yang harus diwaspadai:

1. Obat pereda nyeri atau NSAID

Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) atau disebut juga dengan obat pereda nyeri bekerja dengan menahan cairan di dalam tubuh sehingga menurunkan fungsi ginjal. Adapun kondisi ini dapat meningkatkan darah Anda. NSAID yang paling umum digunakan adalah aspirinibuprofen, dan naproxen.

2. Obat batuk dan demam (dekongestan)

Obat batuk dan demam umumnya mengandung dekongestan. Dekongestan dapat mempersempit pembuluh darah Anda sehingga meningkatkan tekanan darah. Dekongestan juga dapat membuat beberapa obat tekanan darah menjadi kurang efektif.

3. Obat migrain

Beberapa obat sakit kepala sebelah alias migrain bekerja dengan mempersempit pembuluh darah di kepala Anda. Adapun pembuluh darah yang sempit dapat meningkatkan tekanan darah.

4. Obat penurun berat badan

Selain dapat memperparah penyakit jantung, obat-obatan penurun berat badan juga dapat meningkatkan tekanan darah.

5. Obat antidepresan

Obat antidepresan bekerja dengan mengubah respons tubuh terhadap senyawa kimia di otak, seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamin, yang dapat memengaruhi suasana hati Anda. Hal ini juga dapat menyebabkan tekanan darah Anda meningkat. Beberapa obat antidepresan yang dapat meningkatkan tekanan darah, yaitu venlafaxine (Effexor XR), monoamine oxidase inhibitors, antidepresan trisiklik, dan fluoxetine (Prozac, Sarafem, lainnya). 

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Bisa Memicu Hipertensi?

Menurut penelitian di tahun 2018, keadaan post-traumatic stress disorder yang dimiliki seseorang bisa memicu naiknya risiko hipertensi.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Vasodilator, Obat untuk Memperlebar Pembuluh Darah

Vasodilator merupakan salah satu pengobatan untuk menangani kondisi hipertensi atau penyakit jantung. Simak penjelasannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Tidur Siang Baik untuk Menurunkan Tekanan Darah Tinggi

Sebuah studi menyatakan bahwa tidur siang dapat menjadi salah satu cara untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Simak selengkapnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

4 Tips Mudah Mengurangi Makan Garam Agar Tak Kena Hipertensi

Katanya, makanan tanpa garam tak sedap. Namun, jika makan garam terlalu banyak bikin tekanan darah naik. Lalu, bagaimana cara mengurangi makan garam?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M

Direkomendasikan untuk Anda

senam hipertensi

Manfaat dan Jenis-jenis Senam untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
pantangan darah tinggi

11 Pantangan Darah Tinggi yang Harus Anda Hindari

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020
tekanan darah tinggi saat puasa

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 04/05/2020
mengukur tekanan darah anak

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 22/04/2020