Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal RSV (Respiratory Syncytial Virus), Infeksi yang Menyerang Pernapasan

Mengenal RSV (Respiratory Syncytial Virus), Infeksi yang Menyerang Pernapasan

Pernahkah Anda mendengar respiratory syncytial virus atau yang biasa disingkat RSV? Penyakit ini termasuk infeksi yang menular melalui udara. Seperti apa gejala dan seberapa parah komplikasi yang mungkin timbul? Semua pertanyaan Anda akan dijawab melalui ulasan berikut. Simak, yuk!

Apa itu RSV?

RSV (respiratory syncytial virus) adalah virus yang bisa menyebabkan infeksi di saluran napas dan paru-paru.

Virus ini umumnya menginfeksi anak-anak yang berusia dua tahun ke atas, tetapi juga bisa menyerang orang dewasa.

Gejala infeksi RSV mirip dengan gejala pilek atau flu dan biasanya cenderung ringan. Perawatan di rumah cukup untuk meringankan gejala dan memulihkan tubuh yang sakit.

Akan tetapi, infeksi virus RSV bisa menimbulkan gejala yang lebih serius pada bayi berusia 1 tahun atau lebih muda, lansia, pasien penyakit jantung, atau orang dengan sistem imun yang lemah.

Apa saja gejala infeksi RSV?

Anak sakit

Gejala infeksi RSV biasanya muncul setelah 4-6 hari terpapar virus.

Pada anak-anak berusia 2 tahun atau lebih dan orang dewasa, gejalanya menyerupai pilek atau flu yang meliputi:

  • hidung berair,
  • batuk,
  • bersin,
  • demam,
  • napas mengi (napas berbunyi ngik ngik),
  • sesak napas,
  • tubuh lemas,
  • nafsu makan berkurang, dan
  • kulit terlihat membiru karena kekurangan oksigen.

Gangguan di atas biasanya tidak dialami secara bersamaan, tetapi muncul secara bertahap.

Infeksi virus akan hilang sepenuhnya setelah 2 minggu gejala awal muncul. Namun, napas mengi atau berbunyi bisa dialami sewaktu-waktu setelah pulih.

Kapan munculnya gejala menandakan perlu ke dokter?

Namun, gejala RSV yang parah bisa mengharuskan orang yang terinfeksi untuk dirawat secara intensif di rumah sakit.

Gejala infeksi respiratory syncytial virus yang lebih serius yaitu:

  • napas pendek dan cepat,
  • kesulitan untuk bernapas dengan lancar,
  • batuk,
  • tubuh lemas,
  • demam tinggi, dan
  • tubuh menggigil.

Jika mengalami gejala yang serius atau gejala tidak kunjung membaik setelah beberapa hari melakukan perawatan di rumah, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Gejala RSV identik dengan gejala penyakit infeksi pernapasan lain, termasuk gejala COVID-19 yang menyerang anak-anak.

Meski gejalanya cenderung ringan infeksi, RSV bisa meningkatkan risiko untuk terinfeksi COVID-19.

Jika Anda mengalami gangguan pernapasan, dokter mungkin akan menyarankankan untuk melakukan pemeriksaan COVID-19.

Apa penyebab RSV?

Infeksi virus RSV

Respiratory syncytial virus (RSV) bisa masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, atau mulut.

Virus ini menular dengan mudah melalui udara dari percikan air liur (droplet) yang terinfeksi RSV.

Seseorang bisa tertular ketika melakukan kontak dekat atau langsung dengan orang yang terinfeksi, begitu pun saat menghirup droplet yang dikeluarkan saat orang yang terinfeksi batuk dan bersin.

RSV bisa bertahan di atas permukan benda, seperti meja, gagang pintu, dan mainan dalam waktu lama.

Penularan RSV bisa terjadi ketika Anda atau anak menyentuh mulut, hidung, atau mata setelah menyentuh permukaan yang terkontaminasi.

Berdasarkan penjelasan CDC, virus bisa lebih menular di awal masa infeksi. Artinya, seseorang yang terinfeksi bisa lebih cepat menularkan pada orang lain seminggu setelah infeksi terjadi.

Namun, bagi pasien yang mengalami gejala parah bisa tetap menularkan virus bahkan setelah gejala mereda, setidaknya sampai 4 minggu.

Apa faktor risiko respiratory syncytial virus?

Virus bisa lebih mudah menyebar terutama di masa penularan infeksi sedang tinggi, yaitu di musim hujan saat temperatur menurun.

Selain faktor cuaca atau musim, beberapa faktor lain bisa meningkatkan risiko seseorang terinfeksi respiratory syncytial virus dan mengalami gejala yang serius.

  • Anak-anak yang memiliki penyakit jantung kronis atau kelainan jantung sejak lahir.
  • Bayi berumur 6 bulan atau lebih muda.
  • Anak-anak atau orang dewasa dengan kondisi sistem imun yang lemah akibat penyakit atau pengobatan tertentu.
  • Orang dewasa dengan gangguan atau penyakit jantung.
  • Anak-anak yang mengalami gangguan saraf dan otot seperti muscular dystrophy.
  • Orang yang berusia di atas 65 tahun atau lebih.

Adakah komplikasi dari infeksi RSV?

Pada kasus yang parah, RSV bisa menyebabkan pasien mengalami infeksi pernapasan yang lebih serius.

Berikut adalah beberapa penyakit pernapasan yang menjadi komplikasi RSV.

1. Bronkiolitis

Menurut NHS, RSV merupakan infeksi virus penyebab utama bronkiolitis. Infeksi RSV menyerang ke saluran pernapasan bawah, tepatnya di percabangan bronkus yaitu bronkiolus.

Infeksi selanjutnya menyebabkan peradangan di bronkiolus sehingga meningkatkan produksi lendir di paru-paru.

Penumpukan lendir bisa menghalangi pernapasan sehingga menyebabkan sesak napas.

Pada anak-anak atau bayi, gejala bisa lebih serius karena memiliki saluran pernapasan yang berukuran lebih kecil.

2. Asma

Kasus infeksi RSV yang parah pada anak-anak bisa menyebabkan timbulnya asma di kemudian hari. Biasanya, asma terjadi setelah anak sembuh dari infeksi RSV.

3. Infeksi telinga tengah

Jika virus RSV masuk ke dalam telinga, tepatnya di belakang gendang telinga, virus ini bisa menginfeksi bagian telinga tengah. Komplikasi ini lebih sering dialami oleh bayi dan anak-anak

Di samping itu, anak-anak yang berusia 2 tahun atau lebih bisa terinfeksi virus RSV lebih dari sekali. Namun, gejalanya memang cenderung lebih ringan dibandingkan dengan infeksi awal.

Meski begitu, tak menutup kemungkinan gejala yang parah bisa kembali dialami kelompok anak yang berisiko.

Bagaimana cara mengobati infeksi virus RSV?

Sakit rsv demam pilek

Untuk kasus yang ringan, perawatan di rumah dapat membantu mempercepat pemulihan penyakit. Pada umumnya, infeksi virus RSV akan hilang dengan sendirinya setelah 1-2 minggu.

Selama beristirahat di rumah, Anda bisa mengonsumsi obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan nyeri dan demam. Perbanyak juga konsumsi cairan untuk mencegah dehidrasi.

Jika gejala batuk muncul, hindari memberikan obat batuk sirup pada anak. Obat batuk alami, seperti berkumur dengan air garam atau minum teh jahe dan kunyit, bisa menjadi pilihan.

Sementara itu, RSV yang menyebabkan gejala parah bisa diatasi dengan obat antiviral atau perawatan intensif di rumah sakit.

Dokter mungkin akan mempertimbangkan pemberian suntikan vaksin palivizumab untuk mencegah terjadinya komplikasi RSV pada anak-anak berusia 2 tahun atau lebih muda.

Suntikan ini bahkan berfungsi sebagai proteksi untuk mencegah infeksi RSV di awal atau berulangnya infeksi.

RSV adalah salah satu penyakit infeksi yang menular melalui udara dan bisa menyebabkan gangguan pernapasan.

Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak dan menimbulkan gejala ringan. Namun, kelompok yang berisiko bisa mengalami komplikasi dan membutuhkan penanganan medis.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Thornhill, E. M., Salpor, J., & Verhoeven, D. (2020). Respiratory syntycial virus: Current treatment strategies and vaccine approaches. Antiviral Chemistry and Chemotherapy28, 2040206620947303. https://doi.org/10.1177%2F2040206620947303

Rose, E., Wheatley, A., Langley, G., Gerber, S., & Haynes, A. (2018). Respiratory Syncytial Virus Seasonality — United States, 2014–2017. MMWR. Morbidity And Mortality Weekly Report, 67(2), 71-76. https://doi.org/10.15585/mmwr.mm6702a4

CDC. (2020). Learn about Respiratory Syncytial Virus Infection (RSV). Retrieved 23 June 2021, from https://www.cdc.gov/rsv/index.html

CDC. (2020). Symptoms and Care for RSV. Retrieved 23 June 2021, from https://www.cdc.gov/rsv/about/symptoms.html

Mayo Clinic. (2021). Respiratory syncytial virus (RSV) – Symptoms and causes. Retrieved 23 June 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/respiratory-syncytial-virus/symptoms-causes/syc-20353098

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 29/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.