Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

LIPI Kembangkan Masker Kain Disinfektor untuk Cegah COVID-19 dan Virus Lainnya

LIPI Kembangkan Masker Kain Disinfektor untuk Cegah COVID-19 dan Virus Lainnya

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang mengembangkan masker kain disinfektor dengan lapisan tembaga. Tim peneliti mengatakan masker anti-virus ini mampu membunuh virus SARS-CoV-2 saat berkontak dengan permukaan masker.

Bagaimana cara kerja masker ini dan sejauh apa perkembangan penelitiannya? Simak penjelasan berikut.

Masker kain disinfektor mampu membunuh virus penyebab COVID-19

masker covid-19
Sumber Gambar: dok. Hello Sehat

Tim peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI mengembangkan masker kain disinfektor atau anti-virus sebagai upaya membantu penanganan COVID-19. Masker ini adalah masker kain berlapis tembaga yang memiliki dua keuntungan sekaligus.

Pertama, masker ini mampu memperkecil pori-pori masker. Pori-pori kain yang diperkecil bisa meningkatkan kemampuan masker dalam menyaring partikel virus, baik itu partikel yang terhirup ataupun yang dikeluarkan oleh pengguna saat bersin, batuk, atau bicara.

Kedua, tembaga pada lapisan masker dipercaya mampu membunuh dan menghancurkan lapisan luar virus, termasuk virus penyebab COVID-19.

Kepala peneliti dalam proyek ini Dr. Deni Shidqi Khaerudini S.Si.,M.Eng mengatakan bahwa tembaga telah dikenal sebagai antimicrobial agent. Yakni zat yang mampu membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti virus dan bakteri.

Berbagai studi ilmiah terpercaya juga memberikan bukti kemampuan tembaga untuk membunuh mikroorganisme semacam virus dan bakteri yang berkontak dengan permukaannya.

“Tembaga memiliki zat aktif atau ion Cu (unsur tembaga), ion Cu ini mampu menonaktifkan dan merusak dinding virus, ini yang kami sebut contact killer,” jelas Dr. Deni kepada Hello Sehat, Senin (8/6).

Kemampuan tembaga untuk membunuh virus juga diteliti oleh Bill Keevil, seorang peneliti mikrobiologi di University of Southampton, Inggris. Keevil meneliti beberapa jenis virus yaitu virus penyebab flu babi (H1N1) dan virus corona penyebab MERS. Hasilnya, virus dapat mati dalam beberapa menit.

Pada SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, penelitian terbaru dari University of California menunjukkan bahwa virus corona hanya bertahan paling lama 4 jam pada permukaan tembaga. Ini jauh lebih cepat ketimbang pada permukaan kardus dengan 24 jam, stainless steel dengan 42 jam, dan plastik dengan 72 jam.

Bagaimana desain tembaga pada lapisan masker?

Para peneliti dari LIPI ini melakukan uji fisik untuk mengetahui kekuatan tembaga menempel pada material kain masker disinfektor. Tembaga yang digunakan adalah tembaga murni yang dicampur dengan perekat.

Butuh waktu sekitar satu bulan untuk akhirnya menemukan formula yang tepat agar tembaga bisa menempel dengan baik pada material kain.

Peneliti mencoba menempelkan adonan tembaga yang telah mereka formulasikan pada tiga jenis material kain, yakni kain spellbound, kaos, dan katun. Hasilnya, tembaga bisa menempel dengan baik dan tahan terhadap ketiga jenis kain ini.

“Potongan kain dicuci (dikucek) dan dipanaskan dan hasilnya pH (kadar keasaman) air tidak berubah yang berarti tembaganya tidak rontok,” ujar Dr. Deni.

Setelah mencoba mengenakannya, masker tersebut relatif nyaman untuk bernapas. Tekstur tembaga pada kain terasa kasar mirip seperti amplas. Tidak perlu khawatir karena lapisan tembaga menghadap ke depan sehingga tidak menempel dengan kulit pengguna.

jenis masker

Masker kain disinfektor untuk mencegah penularan COVID-19 ini disiapkan dalam dua desain. Pertama, masker yang lapisan dengan tembaganya langsung tertempel pada sisi depan masker. Kedua, masker yang lapisan dengan tembaganya terpisah dengan masker.

Masker ini didesain memiliki kantong untuk menyisipkan lapisan tembaga, sehingga bisa dibongkar-pasang dengan hanya menukar lapisan tembaganya.

Saat ini, masker kain disinfektor masih harus melalui beberapa uji coba lanjutan. Peneliti berharap masker kain disinfektor bisa diproduksi secara luas dan segera bisa digunakan oleh masyarakat. Material pembuatan masker ini pun mudah ditemukan dengan harga terjangkau.

“Jika lolos semua uji coba dan bisa diproduksi, maka kemungkinan harganya akan terjangkau dan bisa diproduksi oleh industri skala kecil,” kata Dr. Deni.

Penelitian serupa juga dilakukan di Jepang

Pada waktu yang sama, inovasi penggunaan tembaga sebagai bahan pelapis masker juga sedang dikembangkan di Jepang. Dilansir dari akun Facebook resmi pemerintah Jepang pada Sabtu (30/5), pengembangan ini dilakukan oleh Gunma University yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan manufaktur.

Yang membedakan dengan Indonesia, penelitian di Jepang tersebut langsung mendesain jaring-jaring tembaga menjadi bentuk masker. Nantinya, lapisan tersebut bisa dikenakan di depan masker kain.

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Masker menjadi setelan penting untuk dikenakan saat beraktivitas di luar rumah selama masa pandemi COVID-19 ini. Banyak peneliti dari banyak lembaga di banyak negara mencari formula masker yang efektif untuk mencegah penularan COVID-19.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Wawancara peneliti pusat kimia LIPI. Dr. Deni Shidqi Khaerudini S.Si.,M.Eng. 8 Juni 2020.
  • Grass, G., Rensing, C., & Solioz, M. (2010). Metallic Copper as an Antimicrobial Surface. Applied And Environmental Microbiology, 77(5), 1541-1547. doi: 10.1128/aem.02766-10
  • Ladomersky, E., & Petris, M. (2015). Copper tolerance and virulence in bacteria. Metallomics, 7(6), 957-964. doi: 10.1039/c4mt00327f
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x