LIPI Kembangkan Masker Kain Disinfektor untuk Cegah COVID-19 dan Virus Lainnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang mengembangkan masker kain disinfektor dengan lapisan tembaga. Tim peneliti mengatakan masker anti-virus ini mampu membunuh virus SARS-CoV-2 saat berkontak dengan permukaan masker.

Bagaimana cara kerja masker ini dan sejauh apa perkembangan penelitiannya? Simak penjelasan berikut.

Masker kain disinfektor mampu membunuh virus penyebab COVID-19

masker covid-19
Sumber Gambar: dok. Hello Sehat

Tim peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI mengembangkan masker kain disinfektor atau anti-virus sebagai upaya membantu penanganan COVID-19. Masker ini adalah masker kain berlapis tembaga yang memiliki dua keuntungan sekaligus. 

Pertama, masker ini mampu memperkecil pori-pori masker. Pori-pori kain yang diperkecil bisa meningkatkan kemampuan masker dalam menyaring partikel virus, baik itu partikel yang terhirup ataupun yang dikeluarkan oleh pengguna saat bersin, batuk, atau bicara.

Kedua, tembaga pada lapisan masker dipercaya mampu membunuh dan menghancurkan lapisan luar virus, termasuk virus penyebab COVID-19.

Kepala peneliti dalam proyek ini Dr. Deni Shidqi Khaerudini S.Si.,M.Eng mengatakan bahwa tembaga telah dikenal sebagai antimicrobial agent. Yakni zat yang mampu membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti virus dan bakteri.

Berbagai studi ilmiah terpercaya juga memberikan bukti kemampuan tembaga untuk membunuh mikroorganisme semacam virus dan bakteri yang berkontak dengan permukaannya.

“Tembaga memiliki zat aktif atau ion Cu (unsur tembaga), ion Cu ini mampu menonaktifkan dan merusak dinding virus, ini yang kami sebut contact killer,” jelas Dr. Deni kepada Hello Sehat, Senin (8/6).

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Kemampuan tembaga untuk membunuh virus juga diteliti oleh Bill Keevil, seorang peneliti mikrobiologi di University of Southampton, Inggris. Keevil meneliti beberapa jenis virus yaitu virus penyebab flu babi (H1N1) dan virus corona penyebab MERS. Hasilnya, virus dapat mati dalam beberapa menit.

Pada SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, penelitian terbaru dari University of California menunjukkan bahwa virus corona hanya bertahan paling lama 4 jam pada permukaan tembagaIni jauh lebih cepat ketimbang pada permukaan kardus dengan 24 jam, stainless steel dengan 42 jam, dan plastik dengan 72 jam.

Bagaimana desain tembaga pada lapisan masker?

Para peneliti dari LIPI ini melakukan uji fisik untuk mengetahui kekuatan tembaga menempel pada material kain masker disinfektor. Tembaga yang digunakan adalah tembaga murni yang dicampur dengan perekat.

Butuh waktu sekitar satu bulan untuk akhirnya menemukan formula yang tepat agar tembaga bisa menempel dengan baik pada material kain.

Peneliti mencoba menempelkan adonan tembaga yang telah mereka formulasikan pada tiga jenis material kain, yakni kain spellbound, kaos, dan katun. Hasilnya, tembaga bisa menempel dengan baik dan tahan terhadap ketiga jenis kain ini.

“Potongan kain dicuci (dikucek) dan dipanaskan dan hasilnya pH (kadar keasaman) air tidak berubah yang berarti tembaganya tidak rontok,” ujar Dr. Deni.

Setelah mencoba mengenakannya, masker tersebut relatif nyaman untuk bernapas. Tekstur tembaga pada kain terasa kasar mirip seperti amplas. Tidak perlu khawatir karena lapisan tembaga menghadap ke depan sehingga tidak menempel dengan kulit pengguna.

jenis masker

Masker kain disinfektor untuk mencegah penularan COVID-19 ini disiapkan dalam dua desain. Pertama, masker yang lapisan dengan tembaganya langsung tertempel pada sisi depan masker. Kedua, masker yang lapisan dengan tembaganya terpisah dengan masker.

Masker ini didesain memiliki kantong untuk menyisipkan lapisan tembaga, sehingga bisa dibongkar-pasang dengan hanya menukar lapisan tembaganya.

Saat ini, masker kain disinfektor masih harus melalui beberapa uji coba lanjutan. Peneliti berharap masker kain disinfektor bisa diproduksi secara luas dan segera bisa digunakan oleh masyarakat. Material pembuatan masker ini pun mudah ditemukan dengan harga terjangkau.

“Jika lolos semua uji coba dan bisa diproduksi, maka kemungkinan harganya akan terjangkau dan bisa diproduksi oleh industri skala kecil,” kata Dr. Deni.

Penelitian serupa juga dilakukan di Jepang

Pada waktu yang sama, inovasi penggunaan tembaga sebagai bahan pelapis masker juga sedang dikembangkan di Jepang. Dilansir dari akun Facebook resmi pemerintah Jepang pada Sabtu (30/5), pengembangan ini dilakukan oleh Gunma University yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan manufaktur.

Yang membedakan dengan Indonesia, penelitian di Jepang tersebut langsung mendesain jaring-jaring tembaga menjadi bentuk masker. Nantinya, lapisan tersebut bisa dikenakan di depan masker kain.

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Masker menjadi setelan penting untuk dikenakan saat beraktivitas di luar rumah selama masa pandemi COVID-19 ini. Banyak peneliti dari banyak lembaga di banyak negara mencari formula masker yang efektif untuk mencegah penularan COVID-19.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit