Baik Alzheimer dan demensia merupakan gangguan otak yang gejala utamanya adalah kesulitan untuk mengingat berbagai hal. Di Indonesia, keduanya sering disebut dengan satu istilah yang sama, yaitu pikun. Padahal, dua kondisi ini sejatinya berbeda. 

Pemicu seseorang untuk mengalami Alzheimer dan demensia biasanya adalah pertambahan usia. Namun yang perlu diingat, baik Alzheimer maupun demensia bukanlah hal yang lumrah untuk terjadi pada lansia karena ini merupakan gangguan kesehatan, alias penyakit. Walaupun terdapat banyak kesamaan, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar sehingga tidak dapat disamakan.

Apa bedanya demensia dengan Alzheimer?

Demensia dapat diartikan sebagai sekumpulan gejala yang mengganggu fungsi kognitif otak untuk berkomunikasi serta melakukan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Istilah demensia biasanya menggambarkan kesulitan untuk berpikir yang dialami seseorang, artinya terdapat lebih dari satu gangguan kognitif yang dapat menyebabkan seseorang mengalami demensia. Sedangkan alzheimer adalah suatu penyakit dan merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami gejala dementia.

Alzheimer adalah penyebab dari 60 hingga 70 persen kasus demensia. Alzheimer juga dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk penyakit spesifik dari demensia.  Berbeda dengan beberapa penyakit atau gangguan fungsi tubuh akibat infeksi dan penggunaan obat yang menyebabkan demensia, penyakit Alzheimer disebabkan kerusakan atau kematian sel otak dan belum dapat disembuhkan hingga saat ini.

Alzheimer merupakan penyakit yang bersifat bertahap dan berlangsung dalam waktu yang lama. Biasanya seseorang mulai terdiagnosis pada umur 60 tahun. Namun, orang muda pun sudah bisa mengalami penyakit Alzheimer.

Gejala Alzheimer dan demensia

Alzheimer dan demensia memiliki berbagai gejala yang sama. Keduanya ditandai dengan gangguan kinerja otak untuk berpikir dan mengingat, merasa bingung terus menerus, kesulitan untuk berkomunikasi baik dengan lisan maupun tulisan, serta mengalami perubahan kepribadian.

Gejala awal demensia adalah kesulitan berpikir dan mengambil keputusan. Sedangkan orang dengan Alzheimer biasanya ditandai dengan kesulitan mengingat berbagai hal dan akan mengalami gejala demensia seiring dengan berjalannya waktu.

Berbagai jenis demensia lainnya

Jenis demensia tergantung pada penyebabnya yang merupakan gangguan organ tubuh akibat penyakit degeneratif. Di samping kerusakan otak yang menyebabkan penyakit Alzheimer, beberapa jenis demensia lain adalah:

1. Demensia vaskuler

Merupakan gangguan kognitif yang terjadi pada penderita stroke dan sering tidak disadari oleh seseorang. Penderita stroke yang sudah sembuh dari stroke, belum mengalami kelumpuhan, atau bahkan belum terdiagnosis stroke dapat mengalami demensia.

Penyebab utamanya adalah penyumbatan pembuluh darah otak dan perdarahan pada otak. Gejala demensia pada penyakit stroke bergantung pada bagian otak yang terkena stroke.

Gejala demensia yang muncul bisa berupa:

  • Gangguan ingatan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari
  • Kesulitan berbicara dan mengerti perkataan
  • Kesulitan mengenali bentuk dan suara
  • Kebingungan
  • Perubahan mood dan kepribadian
  • Kesulitan berjalan sehingga sering terjatuh saat sedang berjalan

2. Lewy bodies demensia (LDB)

Lewy bodies merupakan istilah untuk penumpukan penumpukan protein alpa-synuclein pada bagian korteks otak. Kondisi ini akan menyebabkan perubahan pada otak dan menyebabkan seseorang mengalami demensia. Beberapa gejala yang mungkin terjadi:

  • Susah tidur (gejala awal yang umumnya disebabkan kondisi Lewy bodies)
  • Kesulitan berpikir jernih, membuat keputusan, dan berkonsentrasi
  • Kesulitan mengingat
  • Sering berhalusinasi
  • Melamun dengan tatapan kosong (blank out)
  • Kesulitan untuk bergerak, tubuh bergetar, dan cenderung lambat dalam bergerak

3. Demensia pada penyakit Parkinson

Penyebabnya adalah kerusakan sel otak seperti pada LDB, tapi penumpukan protein alpha-synuclein terjadi pada area dalam otak yang disebut substantia nigra sehingga menyebabkan kerusakan saraf otak yang berfungsi untuk menghasilkan dopamin. Gejala demensia jenis ini sama dengan gejala LDB dan biasanya muncul setelah 10 tahun mengalami Parkinson.

4. Demensia campuran

Kondisi ini disebabkan oleh beberapa penyakit yang menimbulkan gejala demensia. Demensia campuran biasanya disebabkan oleh penumpukan protein pada otak seperti pada kasus LBD dan penyumbatan aliran darah otak seperti pada demensia vaskuler. Gejala yang ditimbulkan sesuai dengan gangguan yang menyebabkan demensia.

5. Demensia frontotemporal

Penyebab utama dari demensia jenis ini adalah kerusakan sel pada bagian depan otak dikarenakan penumpukan protein dan berbagai penyakit otak yang disebabkan protein TDP43. Gejala utama dari demensia frontotemporal adalah gangguan perilaku disertai gejala yang mirip dengan LDB.

6. Penyakit Huntington

Penyakit Huntington yang merupakan kelainan genetik juga menyebabkan seseorang mengalami gejala demensia yang muncul pada usia 30 – 50 tahun, di antaranya:

  • Gangguan berpikir dan mengingat
  • Gangguan dalam membuat perencanaan dan mengorganisir sesuatu
  • Gangguan berkonsentrasi

7. Demensia Creutzfeldt-Jakob

Merupakan demensia akibat gangguan otak yang disebabkan oleh suatu protein prion yang mengakibatkan otak seseorang berubah menjadi bentuk yang abnormal. Kondisi inilah yang menyebabkan gejala demensia. Paparan protein prion pada otak akan menyebabkan gejala demensia memburuk dengan sangat cepat. Gejala yang ditimbulkan di antaranya:

  • Gangguan berpikir
  • Kebingungan
  • Mood swing
  • Depresi

  • Otot bergerak abnormal

  • Gangguan tidur

  • Kesulitan untuk berjalan

8. Hydrocephalus tekanan normal

Demensia jenis ini disebabkan oleh penumpukan cairan pada otak. Gejala yang ditimbulkan antara lain:

  • Kesulitan berjalan
  • Kesulitan berpikir dan berkonsentrasi
  • Perubahan kepribadian dan perilaku
  • Gejala demensia akan menurun keparahannya dengan mengeluarkan cairan berlebih di dalam otak.

9. Sindrom Wernicke-Korsakoff

Gangguan ini biasanya dialami oleh seseorang yang telah mengkonsumsi alkohol dalam waktu yang lama sehingga otak mengalami kekurangan vitamin B1. Gejala yang ditimbulkan hanya berkaitan gangguan ingatan, sedangkan kemampuan kognitif lainnya tetap dapat berjalan normal.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca