Sering Timbulkan Kebingungan, Ini Bedanya Demensia dan Penyakit Alzheimer

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Contoh penyakit otak yang kerap kali diperbincangkan adalah demensia atau penyakit Alzheimer. Banyak yang menganggap bahwa keduanya merupakan penyakit yang sama, padahal sebenarnya berbeda. Mari kenali lebih dalam perbedaan demensia dan penyakit Alzheimer pada ulasan berikut ini.

Apa perbedaan demensia dan penyakit Alzheimer?

Supaya Anda dapat mengenali kedua penyakit yang menyerang di usia tua ini lebih baik, simak perbedaannya baik-baik.

Berdasarkan definisi penyakit

Guna mengetahui bedanya, Anda perlu memahami definisi dari masing-masing penyakit. Demensia adalah sekelompok gejala yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, dan bersosialisasi. Dalam kasus yang parah, penyakit ini bisa melumpuhkan aktivitas sehari-hari.

Sementara penyakit Alzheimer adalah penyakit progresif yang menyebabkan seseorang bermasalah dengan ingatan, perilaku, dan kemampuan berpikir. 

Penjelasan kedua definisinya memang hampir mirip. Akan tetapi, jika diperhatikan lagi, Anda dapat menyimpulkan perbedaan dari demensia dan penyakit Alzheimer.

Menurut Mayo Clinic, demensia sebenarnya bukan penyakit, tapi kumpulan dari berbagai gejala gangguan pada otak. Oleh karena itulah, demensia digambarkan sebagai payung yang melingkupi beberapa penyakit, salah satunya adalah penyakit Alzheimer.

Jadi, penyakit Alzheimer itu bisa juga Anda sebut sebagai salah satu jenis dari demensia. Bahkan, sangat umum terjadi ketimbang jenis demensia lain. Itulah sebabnya, istilah demensia dan penyakit Alzheimer cukup populer.

Di samping penyakit Alzheimer, jenis lain dari penyakit yang berada di bawah lingkup demensia adalah:

  • Demensia vaskular (gangguan fungsi otak yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah pada otak).
  • Lewy body dementia adalah (gangguan pada otak akibat penumpukan protein Lewy body)
  • Demensia frontotemporal (kelainan otak yang memengaruhi lobus frontal dan temporal otak, yakni bagian depan dan samping otak).

Berdasarkan penyebab penyakit

perbedaan demensia dengan delirium dan depresi

Perbedaan demensia dan penyakit Alzheimer juga dapat diamati dari penyebab yang mendasarinya. Penyebab demensia sangat bervariasi, bergantung dengan jenis-jenisnya.

Demensia vaskular misalnya, terjadi akibat kurangnya aliran darah di otak. Padahal sel-sel otak membutuhkan oksigen dan nutrisi dari darah untuk tetap berfungsi normal. Ketika suplai darah ke otak tidak mencukupi, sel-sel otak akan rusak dan akhirnya mati.

Kondisi ini mungkin terjadi pada orang yang memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke, diabetes, atau punya kebiasaan merokok.

Selanjutnya demensia lewy body disebabkan oleh gumpalan kecil protein yang disebut alpha-synuclein yang dapat berkembang di dalam sel otak. Gumpalan ini merusak cara sel bekerja dan berkomunikasi satu sama lain sehingga sel akhirnya mati. Jenis demensia ini berkaitan erat dengan penyakit Parkinson.

Kemudian, demensia frontotemporal disebabkan oleh penggumpalan protein tau di bagian depan dan samping otak. Penggumpalan ini dapat menyebabkan area otak yang terkena menyusut.

Jenis demensia ini lebih mungkin terjadi  dalam keluarga dan diketahui di usia yang lebih mudah, yakni usia 45-65 tahun karena difaktori oleh penurunan gen tertentu.

Nah, kesemua penyebab tersebut bisa menjadi perbedaan antara demensia dan penyakit Alzheimer. Pasalnya, penyebab penyakit Alzheimer adalah endapan yang disebut plak amiloid di otak yang bisa menyebabkan kerusakan dan penggumpalan protein tau yang menyebabkan kekusutan di otak.

Biasanya, area otak yang umumnya terpengaruh penyakit ini adalah bagian hipokampus, yakni yang bertugas untuk mengatur memori.

Berdasarkan gejala yang ditimbulkan

Selain penyebab, perbedaan demensia dan penyakit Alzheimer juga bisa dilihat dari gejala yang dialami pengidapnya. Pada orang yang terkena demensia vaskular, gejala yang ditimbulkan meliputi:

  • Kesulitan untuk konsentrasi dan kebingungan untuk memutuskan tindakan selanjutnya ketika melakukan sesuatu.
  • Sulit membuat perencanaan dan mengomunikasikan rencana tersebut pada orang lain.
  • Mudah gelisah dan sensitif.
  • Acuh dan mengalami depresi.
  • Mudah lupa serta tidak mampu mengontrol keinginan buang air kecil.

Lain halnya dengan orang yang terkena demensia lewy body, mereka umumnya akan mengalami gejala berikut ini:

  • Gerakan tubuh melambat, otot kaku, mengalami tremor, dan sering terjatuh.
  • Rentan mengalami kepala pusing dan gangguan pencernaan, seperti sembelit.
  • Sulit konsentrasi, hilang ingatan, dan berbicara tidak teratur.
  • Mendengar, mencium, dan merasakan sentuhan yang sebenarnya tidak ada (halusinasi).
  • Mengalami kesulitan untuk tidur di malam hari, tapi dapat tidur sangat lama di siang hari.
  • Depresi dan kehilangan motivasi.

Kemudian, gejala demensia frontotemporal yang mungkin muncul antara lain:

  • Merasakan kekakuan atau kejang otot, kesulitan menelan, dan tremor serta keseimbangan tubuh yang buruk.
  • Sulit memahami bahasa seseorang dan tulisan serta kesulitan untuk menyusun kalimat ketika berbicara.
  • Kurang perhatian dan sulit menilai sesuatu.
  • Melakukan gerakan berulang yang tidak normal, seperti menepuk-nepuk pipi.
  • Sering memasukkan sesuatu yang bukan makanan ke mulut.

Sementara itu, gejala penyakit Alzheimer sedikit berbeda dengan jenis-jenis demensia yang telah disebutkan di antaranya:

  • Mengalami hilang ingatan atau lupa dengan nama orang yang dikenali atau benda di sekitar. Mereka juga sering kali tersesat di tempat yang sudah dikenali, atau menaruh benda yang baru saja digunakan di tempat yang tidak seharusnya.
  • Sering berbicara berulang kali atau mengulang pertanyaan yang diajukan.
  • Depresi, suasana hati mudah berubah, dan menarik diri dari kegiatan sosial.
  • Buruk dalam mengambil keputusan, kesulitan dalam berpikir, dan kesusahan dalam melakukan aktivitas sehari-sehari seperti mandi.

Berdasarkan pengobatan yang dijalani pasien

Perbedaan demensia dan penyakit Alzheimer juga bisa Anda amati dari pengobatan yang direkomendasikan dokter. Obat penyakit Alzheimer yang sering diresepkan adalah obat penghambat cholinesterase, seperti donepezil (Aricept), galantamine (Razadyne) dan rivastigmine (Exelon) serta obat memantine.

Orang dengan penyakit demensia lewy body juga menggunakan obat penghambat cholinesterase, tapi dilengkapi juga dengan beberapa obat untuk mengobati penyakit Parkinson.

Ini berbeda dengan orang yang mengalami demensia vaskular yang biasanya diresepkan obat menurunkan tekanan darah dan kolesterol serta mencegah pembekuan darah. Sementara pada pasien demensia frontotemporal, mereka akan diresepkan obat antidepresan dan antipsikotik.

Meski obat yang diresepkan berbeda, baik pasien demensia dan penyakit Alzheimer biasanya perlu menjalani terapi untuk membantu mengurangi gejala.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Rambut Kering, Bagaimana Cara Ampuh Mengatasinya?

Rambut kering memang bikin penampilan terlihat kusam. Mari simak cara mengatasi rambut kering menggunakan 5 bahan alami pada penjelasan di sini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 24 November 2020 . Waktu baca 8 menit

Sudah Benarkah Cara Anda Keramas Selama Ini? Cek di Sini!

Walaupun Anda rajin keramas, belum tentu rambut Anda bersih. Berikut ulasan mengenai langkah mencuci rambut dengan benar.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 23 November 2020 . Waktu baca 9 menit

Kadar Hb Terlalu Tinggi, Apakah Berbahaya dan Perlu Diturunkan?

Mudah merasa lelah dan pusing? Bisa jadi gejala kadar hemoglobin atau Hb tinggi. Apa risikonya bagi tubuh? Cari tahu info lengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Anemia, Penyakit Kelainan Darah 22 November 2020 . Waktu baca 7 menit

10 Cara Ampuh Mencegah Penyakit Jantung dan Kekambuhannya

Kabar baik, berbagai masalah jantung dapat Anda cegah. Cara mencegah penyakit jantung pun beragam. Apa saja tindakan pencegahan penyakit jantung?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung 21 November 2020 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Penyebab Serangan Jantung Pada Anak Muda

Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 5 menit
gingsul, salah satu jenis maloklusi

Fakta Seputar Gigi Gingsul yang Harus Anda Tahu

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 6 menit
manfaat bengkoang

Tak Hanya Memutihkan Kulit, Ini 6 Manfaat Bengkoang Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit
detak jantung tidak beraturan penyebab lebih cepat

Detak Jantung Tidak Teratur, Ini yang Harus Anda Ketahui

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 6 menit