Apakah Orang Dewasa Masih Perlu Minum Obat Cacing?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Cacingan akrab dialami anak-anak. Kurangnya menjaga kebersihan bisa menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong penyebaran infeksi akibat cacing. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa bisa mengalami cacingan.

Untuk kasus cacingan anak, dokter biasanya menganjurkan minum obat cacing 6 bulan sekali sebagai upaya pencegahan sekaligus pengobatan. Sama halnya ketika orang dewasa terkena cacingan. Orang dewasa yang cacingan haruslah mengonsumsi obat cacing untuk mengobati akar permasalahannya. Jika tidak ditangani dengan benar, cacingan dapat menyebabkan komplikasi lanjutan, seperti penyumbatan usus dan malabsorpsi nutrisi.

Namun, rekomendasi minum obat cacing sebagai upaya pencegahan diutamakan hanya untuk orang-orang dewasa yang berisiko tinggi mengalami cacingan, ungkap dr. Tania Savitri, dokter umum di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, Bojonegoro, saat diwawancarai oleh tim Hello Sehat.

Lalu, siapa yang sebaiknya minum obat cacing?

Rekomendasi minum obat cacing per enam bulan sekali sebagai perlindungan dari cacingan hanya dianjurkan pada orang-orang dewasa yang berisiko mengalami cacingan, antara lain:

1. Orang yang bekerja di tempat-tempat rawan cacing

Orang yang menghabiskan sebagian besar waktu berada di tempat-tempat rawan populasi cacing (seperti tanah liat, tanah gembur, dan pasir) yang aktivitas utamanya memungkinkan kulit mereka memiliki kontak langsung dengan tanah terkontaminasi, rentan mengalami cacingan. Misalnya, buruh bangunan, penggali tanah, atau peternak dan petani yang bekerja dengan atau terpapar hewan.

Orang di daerah ini berisiko cacingan jika tidak cuci tangan setelah beraktivitas, atau area tempat mereka beraktivitas miskin fasilitas sanitasi yang memadai, sehingga tanah yang terkontaminasi cacing dan feses binatang dan/atau manusia dapat dengan mudah memasuki mulut mereka.

2. Orang yang makan makanan tidak bersih

Mengonsumsi sayuran atau buah yang tidak dicuci bersih, terkupas benar, atau dimasak hingga benar-benar matang, akan membuat seseorang berisiko terkena cacingan. Rutin mengonsumsi daging babi dan daging sapi yang tidak dimasak matang juga meningkatkan risiko Anda terhadap penyakit cacingan.

3. Orang yang tinggal di lingkungan kumuh

Infeksi terjadi di tempat-tempat beriklim hangat dan lembab, misalnya di tengah masyarakat yang tinggal di daerah di mana fasilitas sanitasi dan kebersihan diri tidak memadai — seperti di bantaran kali, pinggiran kota, atau pedesaan. Infeksi juga bisa terjadi dengan cara-cara lain yang memungkinkan kulit mereka untuk memiliki kontak langsung dengan tanah yang terkontaminasi. Tanah di area ini bisa terkontaminasi oleh feses dari orang yang terinfeksi cacingan saat ia BAB di “toilet alam” atau ketika kotoran manusia juga digunakan sebagai pupuk.

Orang di daerah ini berisiko jika tanah yang terkontaminasi dengan kotoran manusia memasuki mulut mereka, atau jika mereka makan sayur, daging, atau buah yang tidak dicuci bersih, dikupas dengan baik, atau dimasak hingga matang.

Cacing hidup juga biasa dijadikan sebagai umpan saat memancing. Hobi ini bisa membuat orang dewasa rentan mengalami cacingan jika tidak cuci tangan setelah memegang cacing. Jarang mencuci tangan berarti merisikokan diri Anda memindahkan bibit telur cacing dari tangan langsung ke dalam mulut.

Berdasarkan penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dilansir dari Detik Health, hasil pemeriksaan feses dalam sampel masyarakat di lingkungan kumuh menunjukkan bahwa masih banyak orang dewasa yang membawa telur cacing dalam tubuhnya. Angka kejadian cacingan di tengah masyarakat kumuh Jakarta diketahui mencapai 40-45 persen. Ini yang menjadikan alasan mengapa golongan masyarakat daerah pinggiran atau pedesaan juga dianjurkan untuk minum obat cacing demi mencegah penularan cacingan.

4. Orang-orang yang tinggal di daerah endemik cacingan

Warga yang bermukim di lokasi endemik penyakit cacingan harus tetap mewaspadai penularan penyakit schistosomiasis dengan meminum obat cacing. Schistosomiasis, atau demam keong, adalah infeksi parasit akut dan kronis yang disebabkan oleh cacing Schistosoma japonicum. Di Indonesia, cacing ini ditemukan endemik sejak tahun 2008 di dua daerah di Sulawesi Tengah: Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu, dan hingga kini masih terus mengancam kesehatan masyarakatnya. Bahkan, schistosomiasis telah menyebar di beberapa wilayah kecamatan sekitar.

Schistosomiasis umum terjadi di di daerah tropis dan subtropis, khususnya di masyarakat daerah pinggiran dan/atau pedalaman tanpa akses ke air minum bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai. Penularan terjadi ketika orang menderita schistosomiasis mencemari sumber air tawar dengan feses mereka yang mengandung telur parasit yang kemudian menetas di dalam air.

Untuk info lebih lanjut mengenai daerah endemis cacingan di wilayah Anda, tanyakan petugas kesehatan setempat.

Selain itu, kapan orang dewasa harus minum obat cacing?

Jika gaya hidup Anda sudah dirasa higienis — mencuci buah dan sayur hingga bersih, mempersiapkan bahan-bahan makan dengan baik dan benar, masak daging hingga matang, rajin cuci tangan — anjuran minum obat cacing untuk orang dewasa pada umumnya diubah menjadi satu tahun sekali.

Sebagai upaya pencegahan, tak apa bila Anda ingin minum obat cacing 6 bulan sekali. Dosis obat cacing termasuk dosis tunggal, sehingga tidak akan memunculkan efek samping berat setelah minum obat meski tubuh Anda tidak memiliki cacing.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Warna Dahak Merah, Hijau, Atau Hitam? Cari Tahu Artinya di Sini

    Warna dahak yang normal adalah bening. Jika Anda mengeluarkan dahak yang berwarna, maka hal itu adalah tanda dari kondisi medis. Apa arti dari warna dahak?

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Batuk, Kesehatan Pernapasan 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

    Katanya, sengatan lebah bisa bikin seseorang meriang dan panas dingin. Lalu bagaimana cara pertolongan pertama dalam mengobati sengatan lebah?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

    Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

    Leptospirosis adalah salah satu penyakit yang sering bermunculan saat musim hujan. Saat gejala leptospirosis mulai terasa, segera atasi dengan cara ini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

    Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Konten Bersponsor
    keluarga sehat karena melakukan perilaku hidup bersih dan sehat

    4 Tips Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Lindungi Diri dan Keluarga di Era New Normal

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    memanaskan makanan

    Bolehkah Memanaskan Makanan Dalam Wadah Plastik di Microwave?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
    Penyebab sakit pinggang

    Cari Tahu Gejala, Penyebab dan Pengobatan untuk Sakit Pinggang

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 27 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
    kebiasaan mencuci tangan covid-19

    Seperti Apa Kebiasaan Mencuci Tangan di Masa Pandemi COVID-19?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 26 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit