Mempersiapkan Mental Menjelang Masa Pensiun

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . 7 menit baca
Bagikan sekarang

Masa pensiun dianggap sebagai waktu yang tepat untuk (akhirnya) melakukan semua hal yang selalu didambakan tapi tak pernah punya waktu untuk merealisasikannya. Banyak yang memiliki mimpi-mimpi besar, mulai dari memilih tinggal di daerah pedesaan cantik yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, buka usaha sendiri, hingga keliling dunia dengan uang pensiun.

Sebenarnya, keputusan pensiun lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis daripada finansial. Penekanan pada perencanaan keuangan lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak presentasi masa pensiun disediakan oleh lembaga keuangan, sementara finansial hanyalah salah satu elemen penting. Anda mungkin akan terkejut saat mengetahui bahwa banyak dari orang-orang golongan pensiun diliputi oleh keraguan bahwa mereka tidak benar-benar siap secara mental dan emosional untuk meninggalkan dunia profesional.

Hati-hati, masa pensiun memiliki efek negatif pada kesehatan mental

Dampak psikologis negatif pada kesehatan mental yang terkait dengan transisi (misalnya, identitas diri) bisa menjadi akhir yang lebih diharapkan, mengingat konsistensinya dengan puluhan bukti ilmiah tentang dampak dari kehilangan stabilitas pekerjaan di kalangan profesional paruh baya, bahkan dewasa muda. Dan transisi ke masa pensiun tentu saja merupakan batu loncatan krisis perubahan gaya hidup, mengingat peran utama dari pekerjaan dan karir yang memiliki andil sangat besar dalam kehidupan kebanyakan orang.

Dilansir dari The Conversation, sejumlah studi membandingkan kesehatan mental golongan pensiunan dengan profesional paruh baya yang masih menunjukkan bahwa pensiunan (terutama laki-laki) cenderung memiliki tingkat keparahan depresi dan kecemasan yang lebih besar dari rekan-rekan kerja mereka. Pensiunan bisa kewalahan dengan begitu banyak penyesuaian dan pilihan asing yang harus dibuat ketika mereka mulai pensiun. Tergantung pada seberapa tangguhnya kepribadian seseorang, dan fakta bahwa penuaan dapat menjadi pengaruh signifikan terhadap kepercayaan diri, beberapa pensiunan mungkin tidak lagi mempercayai kemampuan mereka untuk membuat keputusan yang tepat karena ada begitu banyak yang dipertaruhkan. Lainnya mungkin merasa mereka tidak lagi memiliki energi yang diperlukan untuk menindaklanjuti keputusannya segera dan terjerumus ke dalam penundaan dan kelumpuhan keputusan.

BACA JUGA: Benarkah Depresi Meningkatkan Risiko Serangan Jantung?

Bagi banyak pensiunan, transisi ke masa pensiun juga termasuk menjadi orang tua. Ada keyakinan luas bahwa golongan usia lanjut tidak diharapkan untuk kembali bekerja. “Pekerjaan” mereka adalah untuk leyeh-leyeh menikmati pensiun dan tidak bekerja. Jika seorang pensiunan terlihat cukup tua, mereka mungkin dilabeli stereotip “orang tua” yang diasumsikan memiliki fisik lemah, sulit mendengar, dengan penglihatan kabur dan pemahaman lambat. Bahkan ketika stereotip ini menjadi dasar untuk uluran tangan berniat murni, tetap saja dapat melukai perasaan seseorang. Obyek dari stereotip ini bisa merasa bahwa mereka sengaja didorong ke arah usia lanjut lebih cepat.

Alasan untuk pensiun, apapun itu, dan usia di mana mereka meninggalkan pekerjaan, semuanya telah terbukti mampu memengaruhi kesehatan mental di kalangan pensiunan. Di sisi lain, banyak pakar yang menduga bahwa kesehatan mental yang buruk yang diamati di antara banyak golongan pensiunan mungkin telah muncul lebih dulu daripada keputusan pensiunnya, yang justru semakin mendorong mereka angkat kaki dari dunia profesional.

Yang harus dipersiapkan untuk menyambut masa pensiun

Tidak semua golongan pensiun akan pukul rata mengalami perubahan hidup besar-besaran dengan cara yang sama.

Dilansir dari USA Today, untuk lebih mantap mempersiapkan diri secara mental menuju masa pensiun, Nancy Schlossberg, seorang pensiunan profesor psikologi konseling di University of Maryland  sekaligus penulis buku Revitalizing Retirement: Reshaping Your Identity, Relationships, and Purpose dan Retire Smart, Retire Happy, merekomendasikan Anda untuk merenungkan kembali tiga bidang utama di kehidupan Anda:

1. Identitas diri Anda sebenarnya

Kadang, jabatan atau jenis pekerjaan lebih melekat pada identitas seseorang. Pekerjaan mereka adalah bagian dari diri mereka. Saat Anda meninggalkan dunia pekerjaan, Anda juga menyerahkan satu aspek identitas diri Anda tersebut. Misalnya, Anda yang biasanya memperkenalkan diri dengan “Saya Direktur di Bank ABC,” setelah pensiun Anda akan perlu meramu sebuah identitas baru: “Saya adalah…”

Beberapa orang mungkin OK dengan mengatakan “Saya pensiunan.” Seiring waktu, mereka mungkin mulai menikmati memiliki lebih banyak waktu bebas dan menemukan pensiun sebagai perubahan yang menyenangkan dari stres sehari-hari yang mereka alami dalam pekerjaan. Tetapi yang lain akan lebih bahagia jika mereka berusaha untuk mendefinisikan identitas diri pasca-pensiun yang akan memberikan fondasi bagi keseharian mereka dan makna bagi kehidupan mereka.

2. Hubungan Anda dengan orang lain

Ketika Anda meninggalkan kehidupan kerja Anda, Anda sering kehilangan hubungan dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari rutinitas Anda, sehingga Anda perlu mengembangkan hubungan baru. Mulai membuat kenalan di luar pekerjaan dan terlibat dalam kegiatan yang Anda inginkan setelah pensiun. Anda mungkin melakukannya dengan travelling, terlibat dalam kegiatan sukarela, atau nge-gym, kata Schlossberg.

BACA JUGA: Seberapa Sering Orang Lanjut Usia Harus Berolahraga?

Hubungan Anda dengan pasangan atau keluarga Anda juga dapat berubah, karena Anda mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Kadang, terlalu banyak kebersamaan menyebabkan orang untuk lebih cepat bosan dan/atau tersinggung untuk hal-hal kecil satu sama lain. Jika kedua suami dan istri pensiun di saat yang sama, misalnya, masalah mungkin timbul dari siapa yang akan menggunakan telepon, komputer, atau TV duluan. Atau pensiunan dan anak-anak dewasa mereka mungkin memiliki prinsip yang berbeda mengenai waktu keluarga atau mengurus cucu. Jangan tunggu sampai timbul konflik untuk berbicara tentang harapan dengan pasangan, anak, cucu, orangtua, dan teman-teman. Mulailah berembuk untuk menegosiasikan beberapa aturan dasar baru.

3. Tujuan hidup Anda

Hal ini terkait dengan identitas Anda. Tujuan hiduplah yang membuat Anda bangun di pagi hari, gairah Anda. Menemukan tujuan hidup baru dapat memakan beberapa waktu, dan Anda mungkin memiliki beberapa misi yang berbeda atau tujuan selama tahun emas Anda, kata Schlossberg.

Anda dapat bertanya pada diri sendiri apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup Anda. Lihatlah pensiun sebagai kesempatan untuk memulai bab baru dalam hidup Anda. Ini mungkin berarti melanjutkan apa yang telah Anda lakukan pada skala yang berbeda, atau melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagi orang-orang yang berada di posisi otoritas sebelum pensiun atau bagi mereka yang sering melakukan perjalanan jauh, penyesuaian ini mungkin terasa lebih menantang. Dalam hal ini, cobalah mengambil kegiatan lain yang bisa menggunakan keterampilan kepemimpinan atau perjalanan Anda.

BACA JUGA: Pengapuran: Penyakit yang Menghantui Para Lansia

Perencanaan masa pensiun dapat menjadi pengalaman menakutkan, penuh frustasi bagi banyak orang, yang mengapa beberapa orang memilih untuk menundanya. Namun dengan penundaan akan datang hilangnya kesempatan bagi pemahaman yang lebih baik, untuk memanfaatkan dana pensiun seoptimal mungkin, dan untuk menangkal konflik. Mereka yang berhasil menaklukan teror masa pensiun memperoleh lebih dari keuntungan finansial.

Sudah siapkah Anda menyambut masa pensiun?

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . 5 menit baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit katup jantung

Penyakit Katup Jantung

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 1 menit baca
akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 8 menit baca
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 menit baca
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca