Apakah Anda Sedang Stres? Lihat Gejalanya dari Kuku Jari

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Kadang, stres bisa menyerang siapa saja tanpa Anda sadari. Stres karena pekerjaan, misalnya. Atasan Anda di kantor mungkin baru saja memercayakan tanggung jawab baru yang membuat Anda kewalahan. Tanpa disadari, lama-lama beban yang Anda pikul membuat Anda stres. Anda jadi sulit tidur, makan lebih banyak, dan mudah tersinggung. Namun, memang susah untuk mengenali gejala stres begitu saja.

Tahukah Anda bahwa selain adanya perubahan gaya hidup, gejala stres juga bisa dilihat dari kuku jari? Ya, para peneliti berhasil menemukan kaitan antara kondisi psikologis seseorang dengan kuku jarinya. Ingin tahu seperti apa rupa kuku jari Anda ketika dilanda stres berat? Ini dia ulasan lengkapnya.

Gejala stres dilihat dari kuku jari

Perhatikan kuku-kuku jari tangan Anda. Apakah permukaan kuku Anda tampak mulus dan sehat? Kalau kuku Anda terlihat sehat, maka kemungkinan besar Anda sedang berada dalam kondisi psikologis yang stabil.

Namun, bila pada permukaan kuku Anda tampak garis-garis vertikal (tegak lurus ke bawah) berwarna putih, Anda perlu waspada. Munculnya garis vertikal berwarna putih pada permukaan kuku bisa menandakan stres. Selain itu, kuku yang rapuh dan mudah patah juga bisa disebabkan oleh stres yang terselubung.

Apa hubungannya kuku dengan stres?

Kuku mungkin jadi bagian tubuh terakhir yang Anda perhatikan ketika sedang dilanda stres. Memang banyak orang menganggap remeh masalah pada kuku. Padahal, kuku bisa menggambarkan kondisi kesehatan tubuh dan pikiran Anda saat ini.

Saat Anda stres, tubuh akan bereaksi secara alamiah untuk melindungi diri dari ancaman. Menurut sebuah riset dalam Journal of the American Medical Association, salah satu caranya adalah dengan mengurangi kadar air di permukaan kulit, yaitu di bawah kuku. Ini terjadi supaya dalam situasi darurat, tubuh tetap punya cadangan air yang cukup. Akibatnya, kuku Anda pun akan jadi sangat kering dan mudah mengelupas. Kuku yang terlalu kering juga akan membuat permukaan kuku kasar dan muncul garis-garis vertikal berwarna putih.

Selain karena reaksi kimia di dalam tubuh, beberapa orang juga memiliki respon yang unik terhadap stres. Ketika sedang gugup atau tertekan, tanpa sadar Anda mungkin menggigiti kuku atau menggosok-gosokkan kuku ke ruas jari atau permukaan lainnya. Hal ini membuat kuku jadi rusak dan rapuh. Kulit di sekitar kuku Anda juga mungkin ikut mengelupas karena kebiasaan tersebut.

Mencegah kerusakan kuku karena gejala stres

Munculnya garis-garis vertikal pada kuku atau kuku rapuh memang sebenarnya tidak membahayakan kesehatan. Namun, kalau Anda tidak berhati-hati, kuku bisa patah dan menyebabkan luka. Jadi, kalau Anda merasakan berbagai gejala stres, sebaiknya segera potong kuku Anda. Jangan dibiarkan tumbuh terlalu panjang karena jadi lebih rentan cedera.

Selain itu, usahakan untuk menambah asupan zat besi, vitamin B12, vitamin C, dan kalsium yang bisa membuat kuku jadi lebih kuat. Pastikan juga Anda cukup minum air putih agar kuku tidak kekurangan cairan.

Namun, cara terbaik untuk mencegah kerusakan pada kuku adalah dengan mengatasi akar masalahnya, yaitu stres. Cobalah untuk mengenali penyebab stres dan cari solusi terbaiknya. Bila jalan keluarnya memang belum ada, usahakan untuk melepas stres dengan cara yang sehat. Misalnya dengan berolahraga, bercerita pada orang terdekat, atau mencari waktu berkualitas bagi diri sendiri.  

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Cuaca Dingin Bikin Rematik Kumat dan Bagaimana Mengatasinya?

Istilah 'dingin sampai menusuk tulang' bisa terjadi pada penderita rematik Nyeri sendi akibat rematik kambuh bisa disebabkan oleh cuaca, bagaimana bisa?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 24 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Benarkah Terlalu Sering Minum Paracetamol Sebabkan Gangguan Pendengaran?

Hati-hati jika Anda sering minum obat penghilang nyeri, seperti paracetamol. Efek samping paracetamol berlebihan dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Alergi Paracetamol

Paracetamol sering diresepkan untuk merdakan demam dan nyeri. Tapi tahukah Anda bahwa ada orang yang alergi obat paracetamol?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ensefalopati uremikum

Ensefalopati Uremikum, Komplikasi Gangguan Ginjal yang Menyerang Otak

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit
hubungan suami istri terasa hambar

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
melihat bullying

5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
kencing berdiri

Apakah Posisi Kencing Berdiri Berbahaya untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit