home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Ternyata Tak Semua Luka Boleh Diobati dengan Obat Merah! Kenali Cara Amannya

Ternyata Tak Semua Luka Boleh Diobati dengan Obat Merah! Kenali Cara Amannya

Hilang fokus barang satu dua detik saja saat mengiris bawang, berisiko membuat jari Anda ikut teriris. Jatuh tersandung kerikil saat menyeberang jalan, lutut Anda pun bisa berdarah. Nah, untuk mengatasi luka terbuka akibat kecelakaan kecil seperti ini, biasanya obat merah menjadi penyelamat.

Meski begitu, kenapa obat merah terasa menyengat dan perih saat dioleskan? Ketahui apakah penggunaan obat merah aman untuk perawatan luka dalam ulasan berikut ini.

Kenapa obat merah rasanya perih saat dioleskan?

Istilah obat merah umum digunakan oleh orang Indonesia saat menyebut cairan antiseptik untuk membersihkan luka.

Tak selalu seperti namanya, obat merah bisa berwarna bening, kuning, atau cokelat.

Obat merah atau cairan antiseptik ini berfungsi untuk melemahkan atau menghentikan pertumbuhan bakteri maupun kuman lainnya.

Dengan begitu, Anda bisa mencegah terjadinya infeksi pada luka dengan bantuan obat merah. Dalam sebuah produk cairan antiseptik biasanya terkandung alkohol dan hidrogen peroksida.

Nah, kedua zat kimia inilah yang dapat memicu sensasi perih ketika mengoleskan obat merah pada luka.

Alkohol bisa mengaktifkan reseptor vanilloid (VR1) yang menghantarkan sinyal ke otak untuk menciptakan sensasi terbakar ketika jaringan kulit bereaksi dengan zat kimia tertentu.

Sementara itu, hidrogen peroksida bisa mengaktifkan kempok reseptor pengantar rasa sakit lain yang dikenal sebagai reseptor transient potential ankyrin 1 (TRPA1).

Selain menimbulkan rasa nyeri, studi rilisan JAAD menyebutkan kedua zat kimia ini berisiko mengiritasi jaringan kulit yang rusak karena luka.

Reaksinya juga menghambat produksi sel darah merah baru sehingga memperlambat penyembuhan luka.

Risiko iritasi dari penggunaan antiseptik umumnya terjadi ketika luka langsung ditutup menggunakan plester tanpa membiarkan cairan antiseptik ini kering terlebih dulu.

Karena dampak yang berbahaya ini, penggunaan obat merah yang mengandung alkohol dan hidrogen peroksida tidak diutamakan dalam perawatan luka, terutama jika di luar pengawasan dokter.

Tidak semua luka bisa diobati dengan obat merah

mencuci tangan cara mencegah cacar air

Saat mengobati luka terbuka yang ringan, seperti luka gores, sayatan, atau lecet, sebenarnya tidak perlu menggunakan obat merah dengan hidrogen peroksida atau alkohol.

Para ahli medis menyarankan untuk mengutamakan pemakaian salep antibiotik, misalnya bacitracin atau neosporin, untuk perawatan luka secara sederhana di rumah.

Selain efektif mencegah infeksi, salep antibiotik dapat mendukung proses penyembuhan luka.

Penggunaan obat merah hanya diperlukan ketika memang salep antibiotik tidak tersedia, tetapi bukan untuk pemakaian berulang kali.

Bahkan, cara membersihkan luka yang paling aman sebenarnya cukup dengan air mengalir dan sabun.

Dibandingkan mengoleskan antiseptik, segera ikuti langkah pertolongan pertama berikut ini saat mengalami luka lecet atau gores.

  1. Hentikan perdarahan dengan menekan luka.
  2. Cuci luka terbuka menggunakan air mengalir sampai bersih. Pastikan tidak ada kotoran yang menempel di luka.
  3. Gunakan sabun untuk membersihkan kulit di sekitar luka. Usahakan agar sabun tidak mengenai luka.
  4. Keringkan luka dengan kain lembut. Hindari memakai kain berserat atau berbulu sehingga tidak ada helai bahan yang tersangkut di luka.
  5. Oleskan salep antibiotik, tunggu sejenak hingga kering.
  6. Jika muncul bengkak, letakkan kompres dingin pada luka.
  7. Apabila luka cukup lebar dan dalam, lindungi dengan plester atau perban steril dari kain kasa.

Menggunakan obat merah untuk luka dengan aman

membersihkan luka diabetes dengan sabun

Dalam situasi genting ketika tak tersedia salep antibiotik untuk merawat luka, barulah obat merah boleh dipakai secukupnya saja.

Berikut cara aman pakai obat merah untuk mengobati luka.

  1. Ingatlah untuk selalu mencuci lukanya dulu dengan air mengalir sampai bersih dan keringkan dengan baik sebelum diteteskan obat merah.
  2. Setelahnya, tunggu obat merah mengering dulu di kulit.
  3. Terakhir, tutup luka dengan plester atau perban.

Jangan sembarangan menggunakan antiseptik untuk merawat luka berat dengan perdarahan yang besar.

Sebagai contohnya, luka sobekan karena kecelakaan, luka tusukan pisau, sayatan mesin tajam lainnya, gigitan hewan, atau luka bakar.

Meski efektif membasmi kuman penyebab infeksi, penggunaan obat merah dalam perawatan luka memiliki risiko tersendiri.

Agar lebih aman, utamakan untuk membersihkan luka dengan air mengalir dan gunakan salep antibiotik untuk perawatan luka.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

American College of Surgeons Division of Education. (N.d.). Wound Home Skills Kit. American College of Surgeons. Retrieved fromhttps://www.facs.org/~/media/files/education/patient%20ed/wound_lacerations.ashx

Murphy, E., & Friedman, A. (2019). Hydrogen peroxide and cutaneous biology: Translational applications, benefits, and risks. Journal Of The American Academy Of Dermatology, 81(6), 1379-1386. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2019.05.030

Bigliardi, P., Alsagoff, S., El-Kafrawi, H., Pyon, J., Wa, C., & Villa, M. (2017). Povidone iodine in wound healing: A review of current concepts and practices. International Journal Of Surgery, 44, 260-268. https://doi.org/10.1016/j.ijsu.2017.06.073

Kramer, A., Dissemond, J., Kim, S., Willy, C., Mayer, D., & Papke, R. et al. (2017). Consensus on Wound Antisepsis: Update 2018. Skin Pharmacology And Physiology, 31(1), 28-58. https://doi.org/10.1159/000481545

Zhu, G., Wang, Q., Lu, S., & Niu, Y. (2017). Hydrogen Peroxide: A Potential Wound Therapeutic Target?. Medical principles and practice : international journal of the Kuwait University, Health Science Centre26(4), 301–308. https://doi.org/10.1159/000475501

Leise, B. (2018). Topical Wound Medications. Veterinary Clinics Of North America: Equine Practice, 34(3), 485-498.https://doi.org/10.1016/j.cveq.2018.07.006

Foto Penulis
Ditulis oleh Ajeng Quamila Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x