11 Penyebab yang Membuat Vagina Anda Terasa Gatal

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Pasti malu rasanya jika harus menggaruk gatal di bawah sana ketika sedang di keramaian. Apalagi jika serangan gatal datang tiba-tiba, dan Anda juga tidak tahu apa penyebabnya. Tunggu. Ada banyak penyebab vagina gatal yang cukup remeh, seperti keringat berlebih atau gesekan dengan kain celana dalam. Namun, gatal pada kemaluan mungkin juga jadi pertanda dari masalah yang lebih serius. Infeksi vagina, misalnya.

Anda bisa cari tahu apa saja kemungkinan penyebab gatal pada vagina di artikel ini. Meski begitu, Anda tetap perlu berkonsultasi ke dokter untuk mendapat diagnosis dan perawatan yang tepat. Sebab jika sembrono menebak penyebabnya dan mencoba sembarang obat, Anda malah berisiko terkena masalah kesehatan lain yang lebih serius.

Apa saja penyebab vagina gatal?

vagina gatal

Berikut beragam hal yang jadi penyebab vagina terasa gatal, dari yang umum sampai paling bahaya:

1. ‘Kecelakaan’ saat bercukur

Kulit vagina akan langsung terasa halus dan bersih setelah selesai bercukur. Namun saat nantinya rambut kemaluan tumbuh kembali, Anda akan sangat mungkin merasa gatal.

Hati-hati juga saat memilih alat cukurnya. Kulit area vagina dan selangkangan sangatlah sensitif. Ketika alat cukur Anda tidak bersih atau cara mencukur Anda salah, ini bisa menyebabkan kulit vagina memerah dan gatal. Mungkin juga terasa panas seperti terbakar.

Cara mengatasinya: jangan mencukur rambut kemaluan sampai habis. Pangkas sedikit ujung-ujung rambutnya saja dan sisakan beberapa sentimeter. Pilihlah alat cukur yang sesuai dengan kualitas terbaik. Alternatifnya, Anda bisa coba metode bikini wax agar tidak gatal-gatal setelahnya.

Setelah bercukur atau waxing, oleskan krim atau losion hypoallergenic untuk melindungi kulit vagina. Mintalah rekomendasi dari teman atau petugas toko untuk memilihkan produk yang tepat.

2. Bacterial vaginosis

Bacterial vaginosis (BV) adalah penyebab paling umum dari gatal pada vagina. BV disebabkan oleh peradangan dari infeksi bakteri yang mengubah kondisi pH dalam vagina. Seks tanpa kondom dan rutin membersihkan vagina dengan douching dapat meningkatkan risiko Anda kena BV.

Kondisi ini bisa dialami wanita di segala usia, tapi paling sering menyerang wanita usia subur.

Selain rasa gatal pada vagina, infeksi ini juga ditandai dengan berbagai gejala seperti:

  • Keputihan dengan tekstur yang lebih cair dan berwarna keabuan, putih, atau hijau
  • Vagina berbau amis atau busuk
  • Rasa gatal pada vagina
  • Rasa terbakar saat buang air kecil

Cara mengatasinya: dokter biasanya meresepkan antibiotik dalam bentuk pil, krim, atau kapsul (disebut ovula) yang dimasukkan ke dalam vagina. Jika Anda sedang hamil, dokter akan meresepkan antibiotik pil.

BV biasanya akan mereda dalam 2-3 hari setelah diobati antibiotik. Namun, lama pengobatan dapat berlangsung selama 7 hari.

Jangan hentikan penggunaan obat sebelum jangka waktu resep habis. Bahkan jika Anda sudah merasa baikan. Pastikan untuk menaati aturan pakai dan jangka waktu penggunaan dosis.

2. Infeksi jamur

Tiga dari 4 wanita di dunia pernah mengalami infeksi jamur vagina minimal sekali dalam hidupnya.

Infeksi jamur terjadi saat ragi Candida albicans yang hidup alami di vagina malah berkembang liar. Ada pun faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda kena infeksi jamur vagina adalah perubahan hormon saat hamil, hubungan seks, konsumsi antibiotik, dan menurunnya daya tahan tubuh.

Selain gatal pada vagina, infeksi Candidiasis juga menjadi penyebab munculnya keputihan abnormal berupa lendir kental berwarna putih susu keruh.

Cara mengatasinya: Infeksi jamur taraf ringan masih bisa diobati dengan krim antijamur nonresep. Namun, ada baiknya untuk tetap konsultasi dulu ke dokter sebelum terburu-buru membeli obat di apotek.

Untuk menghindari infeksi berulang, dokter dapat merekomendasikan obat mengandung probiotik acidophillus dalam dosis tinggi untuk mengerem pertumbuhan jamur.

3. Dermatitis kontak

Dermatitis kontak adalah jenis iritasi kulit yang disebabkan oleh alergi terhadap bahan kimia dalam produk tertentu.

Maka jika kulit Anda sangat sensitif terhadap kandungan atau bahan pembuat kondom, lubrikan seks, sampo dan sabun, pelembut pakaian, tisu basah berpewangi, douche, hingga deterjen pakaian, vagina akan rentan gatal karenanya.

Selain gatal, dermatitis kontak juga jadi penyebab kulit vagina bengkak memerah dan akhirnya menebal keras.

Cara mengatasinya: kemunculan gejala dermatitis kontak bisa dicegah dan diatasi dengan menghindari pemicunya. Jika Anda tahu kulit Anda sensitif dan rentan iritasi, gunakan produk perawatan tubuh hypoallergenic.

Selain itu, hindari bercukur dan menggunakan vaginal douche. Cukup bilas atau basuh vagina dari depan ke belakang dengan air bersih setiap kali akan membersihkannya. Kemudian, keringkan dengan baik.

Meski gatalnya tak tertahankan, jangan pernah digaruk. Menggaruk vagina malah akan membuatnya terasa semakin gatal dan akhirnya terluka.

4. Eksim

Eksim adalah penyakit kulit yang juga bisa jadi penyebab vagina gatal dan memerah.

Maka jika Anda punya eksim dan mengalami gatal di vagina, baiknya periksakan diri ke dokter. Bisa jadi eksim Anda sudah menyebar ke area sekitar kelamin.

Selain gatal pada vagina, eksim dapat ditandai dengan:

  • Kulit kering
  • Rasa gatal yang tak tertahankan terutama di malam hari
  • Benjolan kecil yang kerap berair saat tergores
  • Bercak merah keabuan atau kecokelatan terutama pada tangan, kaki, pergelangan kaki, pergelangan tangan
  • Kulit yang menebal dan bersisik
  • Kulit menjadi sensitif dan bengkak karena garukan

Eksim di area sekitar vagina membutuhkan obat khusus. Oleh karena itu, konsultasikanlah ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

5. Psoriasis

Dilansir dari laman National Psoriasis Foundation, gejala psoriasis dapat menyerang kulit vulva. Khususnya dalam bentuk plak atau inverse (terbalik). Maksudnya, gejala psoriasis bisa berkembang di jaringan dalam vagina. Inilah penyebab gatal pada vagina yang muncul dari dalam.

Psoriasis jenis ini biasanya dapat dikenali dengan mengenali gejala berikut:

  • Kulit merah yang halus tidak bersisik tetapi terlihat seperti mengencang
  • Bercak kulit yang tebal degan sel sel kulit mati yang bersisik berwarna keperakan atau putih
  • Rasa gatal yang cukup parah di area kulit yang terkena
  • Rasa sakit di area kulit yang terkena

Cara mengatasinya: dibanding jenis yang menyerang kulit badan, psoriasis di alat kelamin lebih sulit diobati. Ini karena area kulit kelamin lebih sensitif sehingga butuh obat yang tepat dengan berbagai pertimbangan khusus. Obat oles biasanya paling sering digunakan untuk mengatasi penyebab vagina gatal yang satu ini.

6. Penyakit kelamin

Dari sekian banyak jenisnya, klamidia, herpes genital, trikomoniasis, dan gonore merupakan beberapa penyakit kelamin yang jadi penyebab gatal pada vagina.

Penyakit kelamin umum menular lewat hubungan seks (vaginal, oral, anal) tanpa kondom. Selain itu, kebiasaan gonta-ganti pasangan seks dan sudah aktif berhubungan seks mulai di bawah usia 25 tahun dapat meningkatkan risiko Anda.

Pada wanita, gejala penyakit kelamin yang paling khas adalah rasa gatal, nyeri, dan panas terbakar pada vagina. Sayangnya karena masalah vagina ini sangat umum, gejala penyakit kelamin pada wanita sering dikelirukan dengan masalah umum lain.

Waspadalah jika Anda mengalami vagina gatal yang diikuti oleh gejala klasik lain dari penyakit kelamin, seperti nyeri saat buang air kecil, keputihan berbau busuk, dan sakit saat berhubungan seks. Segera hubungi dokter.

Sebelum memastikan Anda positif kena, dokter dapat menyarankan Anda melakukan tes penyakit kelamin. Terutama jika Anda memang golongan yang berisiko tinggi.

Cara mengatasinya: Jika terbukti positif kena penyakit kelamin, dokter dapat meresepkan Anda obat antibiotik atau antivirus (minum atau suntik) tergantung penyebabnya.

7. Menopause

Kapan saja hormon estrogen Anda naik-turun, besar kemungkinan salah satu efek yang Anda rasakan adalah gatal pada vagina. Menstruasi, kehamilan, menggunakan pil KB, atau menopause bisa jadi penyebab vagina gatal sewaktu-waktu.

Khususnya selama menopause, kadar estrogen akan menurun drastis yang kemudian menyebabkan dinding vagina mengering dan menipis. Kombinasi kondisi ini menjadi salah satu penyebab vagina terasa gatal sehingga Anda terus ingin menggaruknya.

Cara mengatasinya: dokter biasanya akan meresepkan krim hormon yang dapat Anda oleskan lansung di area yang bermasalah. Namun, Anda juga dapat meminta untuk beralih ke versi pil jika gatal tidak kunjung menghilang.

8. Lichen sclerosus

Lichen sclerosus adalah kondisi langka dan serius yang menyebabkan timbulnya bercak putih di kulit, khususnya di sekitar vulva. Kondisi ini paling mungkin ditemukan pada wanita setelah menopause. Ketika seseorang terkena penyakit ini, area kulit di sekitar vagina akan terasa sangat gatal.

Bercak putih bisa muncul tiba-tiba di kulit, tapi para pakar berpendapat bahwa hormon atau sistem imun yang overakif mungkin memicunya.

Bercak putih akibat lichen sclerosus dapat menjadi luka permanen di sekitar vagina. Lichen sclerosis perlu didiagnosis oleh dokter kandungan dan bisa diobati dengan obat resep.

9. Kutu kemaluan

Faktanya, kutu tak hanya bisa muncul di rambut kepala saja tapi juga di kemaluan. Sama seperti kutu di kepala, kutu kemaluan juga membuat area sekitar vagina terasa gatal yang tak tertahankan.

Rasa gatal muncul akibat gigitan kutu ke kulit kelamin dan keberadaan telur kutu di kulit hingga membuat iritasi.

Jalur penyebaran kutu kelamin yang paling utama adalah hubungan seks. Namun, berbagi atau saling pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk dan celana dalam juga bisa menyebarkan kutu. Begitu pula jika tidur bersama di sprei yang kotor dan berkutu.

Cara mengatasinya: untuk menghilangkan penyebab vagina gatal ini dokter akan memberikan krim permethrin untuk bantu membunuh kutu.

Namun, tentu saja mencegah lebih baik daripada mengobati. Agar terhindar dari kutu kemaluan, ada baiknya untuk tidak menginap di hotel yang tidak terjaga kebersihannya dan tukar pakai celana dalam meski sesama keluarga.

10. Stres

Stres termasuk salah satu penyebab vagina gatal yang tak banyak disadari. Pasalnya, stres disebut-sebut bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang.

Ketika sistem kekebalan tubuh melemah, otomatis tubuh tidak bisa berfungsi secara maksimal. Padahal, sistem kekebalan tubuh atau imun berperan penting mencegah infeksi. Termasuk salah satunya infeksi bakteri pada vagina.

11. Kanker vulva

Meski sangat jarang, kanker vulva termasuk penyakit yang bisa menjadi penyebab utama vagina mengalami gatal. Kanker ini juga turut ditandai dengan perdarahan di luar siklus haid dan rasa sakit di sekitar vulva.

Kondisi ini bisa diobati asalkan didiagnosis secara dini dan diberikan perawatan sejak awal.

Cara mengatasinya: penyebab gatal vagina ini hanya bisa diberantas lewat operasi, radioterapi, dan kemoterapi atau kombinasinya. Jadi, ketika penyakitnya diobati dengan tepat, gejala yang muncul menyertainya pun perlahan akan hilang.

Kapan harus ke dokter?

Jika dilihat dari penyebab, vagina yang gatal tidak selalu menandakan masalah serius. Meski begitu, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter saat rasa gatalnya tak lagi wajar. Anda juga perlu tetap berhati-hati dan peka terhadap perubahan yang terjadi. Pasalnya, rasa gatal ini biasanya muncul hanya sebagai gejala penyakit utama.

Dokter dapat menentukan apa penyebab gatal yang Anda alami melalui pemeriksaan dan tes tertentu. Setelah itu, barulah dokter akan merekomendasikan perawatan yang tepat sesuai kondisi.

Berikut berbagai tanda dan gejala yang membuat Anda perlu segera pergi ke dokter, yaitu:

  • Rasa gatal tak kunjung hilang padahal sudah lebih dari satu minggu
  • Rasa sakit di area cagina
  • Kemerahan atau pembengkakan di area kelamin
  • Sulit buang air kecil
  • Keputihan yang tidak normal
  • Rasa sakit saat berhubungan seks
  • Munculnya bisul atau lecet pada vulva

Gejala dan penyebab vagina gatal biasanya berbeda pada tiap wanita. Oleh karena itu, Anda perlu berkonsultasi ke dokter jika mengalami berbagai gejala lain yang tidak disebutkan.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan panggul dan mengambil sampel cairan vagina untuk mencari tahu sumber masalahnya. Tes lain juga akan dilakukan jika diperlukan untuk menentukan penyebab utamanya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: September 5, 2017 | Terakhir Diedit: Juni 19, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca