backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Penyebab Jamur pada Vagina dan Faktor Risikonya

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 08/05/2023

Penyebab Jamur pada Vagina dan Faktor Risikonya

Faktanya, wanita dapat mengalami infeksi jamur vagina setidaknya 1—2 kali dalam hidupnya. Hal ini ditandai dengan vagina gatal, panas, keputihan secara berlebihan, sampai merasakan sakit saat buang air kecil. Sebelum mulai mencari pengobatan, sebaiknya cari tahu dulu penyebab infeksi jamur vagina di sini.

Apa penyebab infeksi jamur vagina?

keputihan saat hamil muda

Penyebab infeksi jamur vagina yang paling umum adalah pertumbuhan jamur Candida albicans yang kelewat batas.

Vagina yang sehat sebetulnya memiliki sedikit koloni jamur dan bakteri baik. Keseimbangan jamur dan vagina tersebut di miss v dijaga oleh sistem imun tubuh yang sehat.

Namun, ketika populasinya terus bertambah karena dipicu oleh faktor risiko tertentu, jamur yang menghuni vagina dapat menimbulkan infeksi.

Ya, jumlah jamur yang terlalu banyak pada miss v bisa menimbulkan tanda dan gejala infeksi.

Meski begitu, jenis jamur Candida lainnya juga bisa menyebabkan infeksi.

Ada jenis jamur yang umumnya lebih sulit diatasi, tetapi ada juga infeksi jamur yang menimbulkan gejala lebih ringan, salah satunya Candida glabrata.

Infeksi jamur vagina terjadi ketika jamur yang terus tumbuh pada akhirnya masuk menembus lapisan mukosa vagina dan menimbulkan respons berupa peradangan.

Seberapa umum infeksi jamur vagina?

Infeksi jamur vagina dialami sekitar 75% wanita setidaknya 1 kali seumur hidup, dengan setengah dari jumlah tersebut mengalami 2 kali atau lebih. Dilansir dari StatPearls, Candida albicans diketahui menjadi penyebab vagina berjamur yang paling umum, yaitu sekitar satu per tiga dari seluruh kasus infeksi jamur vagina.

Apa saja faktor risiko infeksi jamur vagina?

celana dalam penyebab selulit

Selain memang karena pertumbuhan jamur yang terlalu banyak, infeksi jamur di vagina juga dapat terjadi karena berbagai faktor risiko, seperti berikut.

1. Pakai celana dalam ketat

Kebiasaan menggunakan celana dalam atau jeans ketat bisa menjadi salah satu faktor penyebab infeksi jamur vagina.

Celana dalam yang terlalu ketat diketahui dapat membuat area vagina menjadi lembap sehingga memicu pertumbuhan jamur secara berlebihan.

Selain ketat, celana dalam dari bahan tertentu, seperti sutra dan nilon, juga bisa memicu pertumbuhan jamur.

Bahan celana dalam yang salah bisa menahan hawa panas dan meningkatkan kelembapan di area selangkangan serta kelamin.

Ini akan semakin parah jika celana basah akibat terkena air atau keringat, misalnya setelah berenang atau berolahraga.

2. Perubahan hormon

Perubahan hormon yang terjadi setelah memasuki masa pubertas bisa meningkatkan risiko infeksi jamur vagina.

Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron saat hamil, menyusui, atau menggunakan pil KB dapat memicu infeksi jamur vagina.

Kadar estrogen yang tinggi membuat vagina menghasilkan lebih banyak glikogen (simpanan glukosa dalam otot) sehingga membuat jamur tumbuh subur di vagina.

3. Minum antibiotik

Antibiotik, contohnya tetracyline atau amoxicillin, memang dapat membantu melawan infeksi bakteri yang menyerang tubuh.

Akan tetapi, jenis obat ini juga menjadi penyebab infeksi jamur vagina, lho.

Kandungan antibiotik dapat ikut membunuh bakteri sehat dan mengganggu keseimbangan pH di dalam tubuh, termasuk pada vagina.

Akibatnya, pertumbuhan jamur jadi tidak terkendali dan memicu infeksi pada vagina.

4. Punya diabetes yang tidak terkontrol

Gula adalah makanan favorit jamur untuk tumbuh dan berkembang biak.

Jika kadar gula darah dalam tubuh cukup tinggi dan tidak terkontrol pada penderita diabetes melitus, maka jaringan lunak dan cairan vagina Anda akan mengandung banyak glukosa.

Akibatnya, pertumbuhan jamur pada vagina meningkat dan memicu infeksi.

5. Sistem imun lemah

Saat daya tahan tubuh akibat sistem imun tidak dapat berfungsi dengan baik, tubuh akan lebih rentan mengalami infeksi, termasuk infeksi vagina akibat jamur.

Sistem imun yang lemah membuat tubuh tidak mampu melawan infeksi yang masuk ke dalam tubuh.

Bakteri dan virus dalam tubuh akan menang dan dapat menginfeksi tubuh dengan lebih mudah.

Kondisi ini rentan terjadi pada wanita yang harus menjalani pengobatan untuk menekan kerja sistem imun, seperti pada kondisi:

  • HIV/AIDS,
  • kanker yang perlu ditangani dengan kemoterapi atau radiasi, dan
  • transplantasi organ.

6. Melakukan vaginal douche

Vaginal douche merupakan kegiatan membilas bagian dalam vagina dengan air dan cairan pembersih antiseptik khusus untuk vagina.

Cairan tersebut berfungsi untuk membantu membersihkan vagina dari bakteri penyebab bau dan iritasi.

Namun ternyata, kegiatan ini tidak disarankan oleh dokter karena bisa memengaruhi keseimangan bakteri dan pH di vagina.

Douching ternyata juga bisa meningkatkan pertumbuhan jamur tetentu di dalam vagina dan memicu terjadinya infeksi atau iritasi.

Bukan hanya itu, jika Anda melakukan douching saat sedang mengalami infeksi vagina, Anda juga berisiko mendorong penyebab infeksi masuk lebih dalam hingga ke rahim, tuba falopi, dan ovarium.

Hal ini bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih serius, yaitu penyakit radang panggul.

7. Menggunakan parfum di vagina

Selain douching, menggunakan produk yang mengandung parfum juga bisa mengganggu keseimbangan mikroba di dalam vagina. Ini termasuk sabun, parfum, bedak, dan semprotan pembersih vagina.

Bagi sebagian besar perempuan akan sangat sulit untuk mencegah infeksi jamur pada vagina atau miss v, mengingat jamur penyebab infeksi hidup secara alami di vagina.

Upaya terbaik yang bisa Anda lakukan adalah dengan menghindari faktor-faktor di atas yang bisa meningkatkan risikonya.

Kesehatan vagina pun juga akan lebih terjaga dan terhindar dari gangguan kelamin lainnya.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 08/05/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan