Perlukah Melakukan Suntik Vitamin C?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Vitamin C merupakan jenis vitamin yang larut dalam air. Vitamin C dikenal karena fungsinya bagi kecantikan dan kesehatan, mulai dari membantu penyembuhan luka, pembentukan kolagen, membantu penyerapan zat besi, hingga menjaga kesehatan gigi dan tulang Anda. Kebutuhan vitamin C bagi orang dewasa kurang lebih antara 75 mg – 90 mg per harinya. Anda dapat memenuhi kebutuhan vitamin C tersebut dari makanan, sayur dan buah terutama merupakan sumber vitamin C yang baik.

Namun ada situasi tertentu di mana Anda mungkin membutuhkan tambahan suplemen vitamin C seperti misalnya ketika Anda sedang sakit, mengalami sariawan, atau sedang dalam masa pemulihan. Tambahan suplemen vitamin C ini dapat diperoleh melalui oral maupun suntik. Batas maksimum vitamin C yang diperbolehkan adalah 2000 mg. Dengan metode suntik, jumlah vitamin yang dapat masuk ke dalam tubuh bisa lebih banyak jika dibandingkan dengan metode oral, biasanya akan diberikan 500 mg hingga 1000 mg vitamin C. Di Indonesia, suntik vitamin C lebih dikenal untuk perawatan kulit dan menjaga daya tahan tubuh.

Apa kelebihan suntik vitamin C?

Penyuntikan vitamin ke dalam tubuh (vitamin infusion therapy) merupakan metode memasukkan vitamin langsung ke pembuluh darah. Metode ini dinilai lebih efektif karena vitamin tidak melalui sistem pencernaan terlebih dahulu tetapi langsung menuju sel-sel di dalam tubuh. Suntik vitamin C sendiri pertama kali diperkenalkan oleh dr. Linus Pauling sekitar tahun 1970. Penelitiannya menyatakan bahwa suntik vitamin C dalam dosis tinggi dapat membantu terapi penyembuhan penyakit kanker. Hal ini dikarenakan kanker merupakan jenis penyakit yang diakibatkan oleh perubahan sel tubuh yang abnormal dikarenakan kurangnya konsumsi vitamin C.

Selain untuk terapi penyakit, suntik vitamin C juga terkenal untuk mencerahkan kulit. Hal ini didasari oleh fakta bahwa vitamin C merupakan sumber antioksidan yang baik dan dapat menangkal efek buruk radikal bebas, di antaranya adalah penggelapan warna kulit. Ketika kulit terkena sinar ultraviolet, akan terbentuk molekul radikal bebas yang dapat mengakibatkan masalah pada kulit yaitu merusak jaringan kolagen serta struktur lapisan kulit lainnya. Kerusakan-kerusakan tersebut akan menyebabkan terjadinya penuaan dini pada kulit. Terpapar sinar ultraviolet juga dapat memicu terjadinya melanogenesis yang dapat mengakibatkan penggelapan warna kulit dan perubahan pigmen sehingga menyebabkan warna kulit yang tidak merata. Kulit juga menjadi kering serta kusam.

Efek suntik vitamin C pada kulit

Sebuah penelitian terkait suntik vitamin C yang diikuti oleh 200 wanita berusia 33 tahun menunjukkan adanya manfaat dari suntik vitamin C. Sebelumnya, mayoritas dari mereka mengeluhkan kulit kering serta kusam. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan 7 kali penyuntikan dengan jeda 7-10 hari dari masing-masing penyuntikan. Perubahan pada kulit baru dirasakan setelah penyuntikan kedua. Perbedaan terutama mereka rasakan pada kulit wajah. Dilaporkan terjadinya peningkatan kelembapan kulit diikuti dengan warna kulit yang lebih cerah serta tidak kusam.

Namun jika Anda menjalani suntik vitamin C, hasilnya tentu akan berbeda tergantung pada individu masing – masing. Faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada hasil suntik vitamin C dapat berasal dari eksternal maupun internal. Faktor eksternal antara lain seberapa lama Anda terpapar sinar ultraviolet sehari-hari, dan perlindungan apa yang Anda gunakan untuk mencegah efek buruk dari sinar ultraviolet.

Misalnya, mereka yang menggunakan sunscreen ketika beraktivitas di luar ruangan akan memiliki risiko lebih kecil mengalami melanogenesis jika dibandingkan dengan yang tidak menggunakan sunscreen. Sementara faktor internal terdiri dari tingkat stress, pola tidur Anda, keadaan hormon, hingga diet apa yang sedang Anda jalani.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Dermatitis Atopik (Eksim)

Eksim (dermatitis atopik) adalah penyakit kronis yang membuat kulit meradang, bengkak, gatal, dan pecah-pecah. Cari tahu gejala dan cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Kulit, Dermatitis 9 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Mengenal Fototerapi, Terapi Cahaya untuk Penyakit Kulit dengan Sinar UV

Pengobatan penyakit kulit dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan fototerapi atau terapi cahaya. Apa itu?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Kesehatan Kulit 9 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Ragam Penyebab Eksim Beserta Faktor Pemicu Kekambuhannya

Eksim membuat kulit memerah, kasar, pecah-pecah, terasa amat gatal, dan sangat kering. Apa sebenarnya penyebab eksim alias dermatitis atopik?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Kesehatan Kulit, Dermatitis 8 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Ciri Kulit Sensitif dan 8 Cara Jitu Mengatasinya

Ciri kulit sensitif termasuk ruam kemerahan dan gatal-gatal setelah memakai produk perawatan kulit atau produk wewangian. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Hidup Sehat, Kecantikan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat ampas teh bagi kecantikan

7 Cara Memanfaatkan Ampas Teh untuk Kecantikan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
efek samping imunisasi

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit
komplikasi dermatitis

Berbagai Komplikasi yang Mungkin Muncul Akibat Penyakit Dermatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
dermatitis numularis

Dermatitis Numularis (Eksim Diskoid)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit