Sering Olahraga Tapi Gaya Hidup Tidak Sehat? Ini Bahayanya

Oleh

Olahraga sangat penting bagi kesehatan Anda secara keseluruhan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menganjurkan setiap orang untuk beraktivitas fisik paling tidak 30 menit sehari. Akan tetapi, olahraga juga harus diimbangi dengan gaya hidup sehat, misalnya menjaga pola makan dan pola tidur. Pasalnya, olahraga terlalu keras yang tidak diikuti dengan gaya hidup sehat justru berakibat buruk bagi tubuh.

Bila Anda berolahraga secara berlebihan tetapi kebutuhan gizi tidak terpenuhi, Anda berisiko mengalami sindrom relative energy deficiency (RED). Sindrom ini sering menyerang atlet, binaragawan, dan orang-orang yang gemar berolahraga keras. Jika tidak segera ditangani, sindrom RED bisa menyebabkan berbagai komplikasi berbahaya.

Apa itu sindrom RED?

Sindrom RED adalah serangkaian gejala yang muncul ketika energi dan tenaga yang Anda keluarkan sehari-hari jauh lebih besar daripada asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh. Tubuh manusia membutuhkan sumber energi yang berasal dari makanan bernutrisi supaya bisa beraktivitas. Semakin besar tenaga yang dikeluarkan, semakin besar pula kebutuhan gizi Anda.

Jika tenaga yang keluar tidak seimbang dengan nutrisi yang masuk, Anda berisiko mengalami sindrom RED. Sindrom RED menyebabkan gangguan fungsi tubuh. Berikut adalah berbagai jenis gangguan yang mungkin terjadi akibat sindrom ini.

Olahraga terlalu keras menyebabkan RED

Fenomena atlet dan binaragawan yang mengalami sindrom RED menjadi suatu kecemasan sendiri. Pasalnya, saat ini sudah banyak remaja yang aktif berolahraga atau jadi anggota klub olahraga di sekolah mengalami sindrom RED. Ini karena sepanjang hari tubuh dipaksa untuk bergerak dan bekerja habis-habisan. Entah karena tuntutan latihan dari klub memang tinggi, obsesi terhadap olahraga, atau sedang latihan intensif dalam rangka menghadapi kejuaraan.

Sebenarnya olahraga yang intensif itu tidak berbahaya jika Anda tetap memenuhi kebutuhan protein dan karbohidrat. Kedua nutrisi ini adalah kunci bagi tubuh untuk menghasilkan energi. Namun, banyak orang terjebak dengan pola pikir bahwa mengurangi porsi makan adalah cara terbaik untuk menjaga bentuk tubuh. Akibatnya, Anda malah menjalani diet yang rendah karbohidrat dan protein. Padahal, vitamin dan mineral saja tidak cukup untuk mendukung aktivitas olahraga yang intens.

Siapa saja yang rentan mengalami RED?

Remaja dan wanita lebih rentan mengalami sindrom RED. Ini karena kebanyakan remaja dan wanita memiliki keinginan besar untuk menjaga kelangsingan tubuh. Karena itu, di samping kegiatan dan olahraga yang berat, mereka juga menjalani diet ketat atau program detoks hanya dengan minum jus.

Mencegah sindrom RED

Tenang, olahraga terlalu keras tidak selalu menyebabkan sindrom RED. Anda bisa melakukan langkah pencegahan dengan mengonsumsi makanan yang tinggi protein rendah lemak (lean protein) serta karbohidrat kompleks. Protein rendah lemak bisa Anda dapatkan dari telur, daging sapi, ikan, kacang-kacangan, yogurt, dan daging ayam. Sementara itu, karbohidrat kompleks bisa ditemukan dalam sayuran hijau, gandum utuh, bubur gandum, kentang, ubi, jagung, labu, kacang polong, kacang merah, dan nasi merah.

Anda juga bisa berkonsultasi langsung dengan ahli gizi atau dokter apabila Anda sering melakukan olahraga berlebihan atau sedang menyiapkan diri untuk kejuaraan. Hindari mengikuti diet-diet kilat yang mengumbar banyak janji. Ingat, menjaga berat badan yang stabil dan ideal jauh lebih penting daripada menguruskan badan.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca