6 Mitos Seputar Olahraga Lari yang Tak Perlu Anda Percaya Lagi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Lari adalah salah satu jenis olahraga yang baik untuk kesehatan, di antaranya mengurangi tekanan darah tinggi, menjaga kadar kolesterol tubuh, dan menjaga kesehatan jantung. Bagi Anda yang gampang badmood, olahraga lari bisa menjadi pilihan yang cocok untuk membantu meningkatkan suasana hati Anda.

Anda mungkin sering mendengar hal-hal seputar olahraga lari yang membuat Anda bingung, apakah sekadar mitos atau memang sebuah fakta. Tenang, artikel berikut ini akan mengupas tuntas mitos tentang olahraga lari yang tak perlu Anda percaya lagi.

Beragam mitos tentang olahraga lari yang ternyata salah besar

Mitos 1: Harus pemanasan dulu sebelum lari

gerakan peregangan

Banyak orang yang meyakini bahwa pemanasan harus dilakukan sebelum memulai olahraga, termasuk lari. Pada dasarnya, olahraga lari memang membutuhkan pemanasan untuk meregangkan otot-otot tubuh. Namun, Tamra Llewellyn, asisten profesor kesehatan di University of Nebraska, mengungkap kepada Livestrong bahwa tidak semua lari membutuhan pemanasan.

Misalnya saja, kalau Anda hanya ingin jogging atau lari dengan intensitas yang lebih lambat, tidak masalah untuk melewatkan peregangan. Namun, jika Anda ingin lari dengan intensitas yang lebih cepat, jogging selama beberapa saat sudah cukup menjadi pemanasan sebelum mulai lari.

Mitos 2: Lari tanpa alas kaki dapat mengurangi risiko cedera

olahraga lari

Anda mungkin pernah mendengar kalau berlari tanpa alas kaki lebih sehat daripada pakai sepatu olahraga. Katanya, sih, lari dengan kaki telanjang dapat memberikan sensasi refleksi secara alami saat menyentuh tanah secara langsung.

Namun nyatanya, lari tanpa alas kaki justru dapat meningkatkan risiko cedera. Pasalnya, Anda mungkin tidak menyadari apa saja yang sudah Anda injak selama berlari. Mungkin saja ada pecahan kaca atau benda tajam lainnya yang bisa melukai kaki Anda.

Selain itu, lari tanpa menggunakan sepatu justru memberikan tekanan berlebih pada otot dan sendi kaki. Maka itu, sebaiknya gunakan sepatu lari  yang memberikan kenyamanan dan perlindungan untuk kaki Anda.

Mitos 3: Lari harus dilakukan setiap hari agar hasilnya maksimal

pantangan setelah lari

Bagi Anda yang sedang mengejar target membakar kalori, Anda mungkin terobsesi untuk lari setiap hari untuk mendapatkan hasil yang cepat dan maksimal. Namun nyatanya, hal ini hanyalah sekadar mitos belaka.

Olahraga apa pun yang Anda lakukan, Anda tetap membutuhkan waktu istirahat untuk menormalkan kembali otot-otot tubuh yang bekerja. Pelari pemula hingga menengah justru akan mendapatkan hasil yang lebih optimal jika lari dilakukan sebanyak dua sampai tiga kali seminggu selama 20 menit sehari.

Ingat, seberapa lama Anda harus lari dan istirahat tergantung seberapa besar kemampuan tubuh Anda masing-masing.

Mitos 4: Olahraga lari tidak baik untuk kesehatan lutut

olahraga kardio untuk sakit lutut

Salah satu mitos tentang olahraga lari yang tidak terbukti adalah menyebabkan masalah pada lutut. Ini karena banyak orang beranggapan kalau olahraga lari memberikan tekanan berlebih pada kaki sehingga bisa menyebabkan cedera lutut.

Faktanya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa tulang dan ligamen tubuh justru semakin kuat dan lebih padat dengan rutin lari. Selama Anda memiliki kondisi lutut yang normal dan berat badan yang sehat, maka berlari tidak akan memberikan dampak buruk pada lutut Anda.

Lain halnya jika Anda mengalami masalah osteoarthritis dan berat badan berlebih, Anda tidak dianjurkan untuk berlari secara terus-menerus. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai olahraga lari.

Mitos 5: Kaki kram disebabkan oleh dehidrasi dan kekurangan elektrolit

mengatasi kram kaki

Ketika Anda sedang berlari, Anda mungkin sering merasakan kram kaki. Kalau Anda berpikir hal ini disebabkan karena dehidrasi dan kekurangan elektrolit dalam tubuh, maka Anda salah besar.

Natrium dan kalium adalah dua jenis elektrolit yang penting untuk menjaga kesehatan fisik selama lari. Namun, munculnya kram kaki bukan disebabkan karena dehidrasi atau kekurangan dua elektrolit tersebut.

Pada sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine tahun 2011, peneliti membandingkan tingkat elektrolit dan hidrasi pada dua kelompok triathlon, yaitu peserta yang mengalami kram kaki dan tidak. Hasilnya, para ahli tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian kram dengan dehidrasi atau kehilangan elektrolit pada pelari.

Mitos 6: Olahraga lari hanya untuk anak muda yang sehat saja

manfaat lari untuk mengatasi stres

Banyak orang yang bilang kalau olahraga lari hanya cocok untuk anak muda saja. Ya, ini karena anak muda memiliki stamina yang lebih prima sehingga lebih mudah untuk melakukan olahraga lari.

Padahal, lari adalah olahraga yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Memang, fungsi organ tubuh, otot, dan tulang akan mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia. Namun, usia seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk berusaha tetap sehat dengan olahraga lari.

Bahkan, orang dewasa yang rutin olahraga lari akan merasa berjiwa muda dan lebih bugar. Alhasil, wajah justru terlihat lebih segar dan awet muda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Cepat lelah dan kehabisan napas bisa jadi tanda kebugaran jantung dan paru-paru Anda kurang baik. Tapi bagaimana cara mengukurnya? Simak di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Kebugaran, Hidup Sehat 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Mendorong Anak Menjadi Atlet?

Olahraga sangat bermanfaat dalam mendukung tumbuh kembang anak. Namun, memotivasi dan mendorong anak menjadi atlet adalah lain hal. Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rina Nurjanah
Kebugaran, Hidup Sehat 9 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Menjadi Atlet di Mata Atlet Muda Indonesia

Menjadi atlet sejak usia belia sebaiknya berdasarkan keinginan si anak sendiri. Inilah kisah-kisah para atlet muda Indonesia atas pilihannya.  

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kebugaran, Hidup Sehat 9 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Memaksa Anak Jago Olahraga

Banyak orangtua yang memaksa anak untuk berprestasi dalam olahraga. Ambisi orang tua yang lebih besar membuat olahraga bagi anak kehilangan manfaat aslinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kebugaran, Hidup Sehat 9 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kejang otot

Kenali Kejang Otot, Mulai dari Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
kram otot

Kenali Penyebab yang Mungkin Membuat Anda Mengalami Kram Otot

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
persiapan naik gunung

7 Hal yang Harus Anda Persiapkan Sebelum Naik Gunung

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
gerakan senam otak

3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Tingkatkan Fokus dan Kreativitas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit