6 Penyebab Kanker Tenggorokan yang Sering Diabaikan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Anda mungkin sudah sangat akrab mendengar kanker payudara dan kanker serviks. Bagaimana dengan kanker tenggorokan? Meski termasuk cukup jarang terjadi, kanker tenggorokan tak bisa dianggap remeh. Cari tahu apa saja kemungkinan penyebab kanker tenggorokan agar Anda dapat menghindari atau menurunkan risiko terkena penyakit ini di masa depan.

Penyebab kanker tenggorokan

Kanker tenggorokan terjadi ketika sel-sel di area kotak suara, pita suara, dan bagian tenggorokan lain yang tadinya normal mengalami mutasi genetik.

Perubahan (mutasi) DNA membuat sel-sel sehat tersebut berkembang ganas dan memicu pertumbuhan jaringan tumor. Jaringan tumor ini berpotensi menjadi kanker dan menyebar ke bagian tubuh lainnya bila tidak cepat diobati.

Faktor penyebab kanker tenggorokan

Belum diketahui pasti apa penyebab mutasi genetik yang memicu pertumbuhan sel kanker di tenggorokan. Namun, para ahli percaya bahwa ada banyak faktor pemicu kanker tenggorokan, dari riwayat turunan keluarga hingga gaya hidup yang tidak sehat.

Berikut adalah beberapa faktor penyebab kanker tenggorokan yang perlu Anda waspadai.

1. Merokok

sakit kepala setelah merokok

Selain kanker paru, para peneliti dari American Cancer Society telah mencatat rokok setidaknya dapat menyebabkan 12 jenis kanker yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah kanker paru, kanker hati, kanker perut, kanker serviks, dan kanker pankreas.

Merokok juga merupakan faktor penyebab utama kanker tenggorokan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa merokok bukan hanya menyebabkan kerusakan gigi, tapi juga memicu pertumbuhan sel kanker di tenggorokan.

Kandungan bahan kimia dalam rokok yang bersifat karsinogen diduga kuat sebagai penyebabnya. Ketika asap rokok terhirup, bahan kimia tersebut dapat menyebabkan sel di tenggorokan mengalami perubahan dan bermutasi.

Pada prinsipnya semakin lama dan sering Anda merokok, maka risiko terkena kanker tenggorokan pun semakin tinggi.

2. Kebanyakan minum alkohol

minum minuman beralkohol

Apakah Anda terlalu sering minum minuman beralkohol? Hati-hati. Kebanyakan minum alkohol bisa jadi faktor penyebab kanker tenggorokan, lho!

Hal ini pun diamini oleh Susan Gapstur, wakil presiden departemen epidemiologi di American Cancer Society. Dalam laman New York Times, Susan mengatakan minuman beralkohol sudah tergolong sebagai karsinogen sejak tahun 1987.

Etanol yang terkandung dalam alkohol akan dipecah oleh tubuh menadi senyawa beracun yang bersifat karsinogen. Senyawa itu dapat merusak struktur DNA dan protein dalam sel-sel tubuh.

Alkohol juga dapat menghambat kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi pencegah kanker, seperti vitamin A, vitamin B kompleks seperti folat, vitamin C, vitamin D, vitamin E, dan karotenoid.

Risiko terkena kanker tenggorokan akan semakin meningkat bila Anda hobi mengonsumsi minuman beralkohol sambil merokok.

3. Menyirih

manfaat dan bahaya menyirih

Sebagai orang Indonesia, Anda tentu sudah tak asing lagi dengan menyirih. Kebiasaan satu ini masih cukup umum dilakukan masyarakat di pedesaan. Menyirih biasanya dlakukan dengan menggulung biji pinang, kapur, dan tembakau dalam daun sirih untuk kemudian dikunyah.

Namun meski dipercaya bermanfaat, faktanya kebiasaan menyirih justru berpotensi bahaya untuk kesehatan. Penelitian menemukan bahwa menyirih berisiko tinggi menjadi penyebab kanker, terutama di daerah mulut dan tenggorokan. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan International Agency for Research on Cancer di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Usut punya usut, pinang dan tembakau ternyata mengandung bahan karsinogenik. Bila dikonsumsi terlalu sering dalam jangka waktu yang panjang, Anda berisiko tinggi terkena kanker mulut, kanker esofagus, kanker tenggorokan, dan kanker pipi.

4. Infeksi HPV

hubungan seks dalam seminggu

Virus HPV ternyata tidak hanya menyebabkan kanker serviks, tapi juga bisa menyebabkan kanker mulut dan tenggorokan. Dalam dunia medis kondisi ini sering disebut HPV oral.

HPV sendiri adalah kepanjangan dari human papilloma virus, yang menjadi penyebab berbagai penyakit kelamin. Seseorang bisa terinfeksi virus ini akibat melakukan seks yang tidak aman, misalnya tidak pakai kondom dan sering berganti-ganti pasangan seks.

Penelitian mengungkapkan bahwa pria berpotensi tinggi mengalami HPV oral ketika melakukan seks oral dengan pasangan yang terinfeksi HPV. Hal ini pun didukung oleh penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine.

Penelitian tersebut menemukan bahwa ada sekitar 11 juta pria dan 3,2 juta wanita yang berumur 28-69 tahun mengalami infeksi HPV oral. Ini artinya, pria yang terkena HPV oral tiga kali lebih banyak ketimbang wanita.

5. Riwayat GERD

penyebab kelelahan

GERD adalah gangguan pencernaan kronis yang ditandai dengan asam lambung naik. GERD adalah salah satu masalah pencernaan yang paling umum, tapi sayang banyak orang yang menyepelekan kondisi ini.

Padahal, asam lambung yang dibiarkan terus tinggi dapat merusak jaringan tenggorokan dan menyebabkan luka meradang. Nah, luka inilah yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena kanker tenggorokan.

Kadang, kerusakan jaringan akibat asam lambung yang tinggi dapat menyebabkan kondisi yang disebut Barrett’s esophagus. Orang yang memiliki GERD dan Barrett’s esophagus diketahui berisiko lebih tinggi terkena kanker tenggorokan daripada mereka yang hanya menderita GERD saja.

6. Faktor penyebab lainnya

riwayat kesehatan keluarga

Faktor genetik yang diturunkan dari keluarga juga bisa jadi penyebab kanker tenggorokan. Ini artinya, bila keluarga dekat seperti ortu, kakek, nenek, dan saudara kandung ada yang terkena kanker tenggorokan, maka Anda berisiko untuk mengalaminya juga.

Semakin banyak anggota keluarga yang menderita kanker tenggorokan, semakin besar pula risiko Anda. Risiko umumnya juga akan semakin meningkat bila sejak muda Anda menerapkan gaya hidup tidak sehat seperti yang dijelaskan di atas.

Mengutip dari berbagai sumber, kanker tenggorokan juga dipengaruhi oleh jenis kelamin. Pria diketahui berisiko lebih tinggi terkena kanker jenis ini dibanding wanita. Sayangnya, tidak ketahui pasti kenapa hal ini bisa terjadi.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca