Kanker Nasofaring

    Kanker Nasofaring

    Nasofaring adalah ruang pada bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang hidung. Organ ini berfungsi sebagai jalur pernapasan dari hidung ke tenggorokan yang kemudian diteruskan menuju paru-paru. Bila nasofaring terkena kanker, maka akan timbul berbagai gangguan yang menyerang hidung dan bagian-bagian lain di sekitar wajah.

    Definisi kanker nasofaring

    Kanker nasofaring adalah jenis penyakit kanker yang berkembang di bagian kepala dan leher, tepatnya di bagian nasofaring. Nasofaring merupakan bagian atas tenggorokan (faring) yang terhubung dengan bagian belakang hidung.

    Kanker ini merupakan jenis kanker paling umum menyerang dan awalnya berasal sel epitel (yang melapisi permukaan nasofaring). Karsinoma nasofaring terbagi menjadi beberapa jenis seperti undifferentiated carcinoma, keratinizing squamous cell carcinoma, dan non-keratinizing squamous cell carcinoma.

    Apakah kanker nasofaring menular?

    Penyakit kanker nasofaring adalah penyakit yang tidak menular, sebagaimana jenis kanker lainnya.

    Jadi, penyakit kanker ini tidak akan ditularkan dari pengidap ke orang sehat di sekitarnya melalui berhubungan intim, ciuman, sentuhan, berbagi makanan, atau menghirup udara yang sama.

    Seberapa umumkah penyakit ini?

    Menurut data dari Globocan 2020, penyakit kanker nasofaring adalah salah satu jenis yang paling umum menyerang di Indonesia. Bahkan, jumlah kasus barunya menempati posisi kelima sebagai yang terbanyak.

    Pada tahun tersebut, tercatat kasus baru sebanyak 19.943 jiwa dengan angka kematian mencapai 13.399 jiwa. Penyakit ini lebih banyak menyerang pria ketimbang wanita.

    Tanda dan gejala kanker nasofaring

    Pada stadium awal, kanker nasofaring kerap tidak menimbulkan ciri atau gejala. Biasanya, gejala akan muncul ketika kanker telah menyebar, Ini menandakan bahwa kanker telah memasuki stadium lanjut.

    Jika sudah menyebar, sel kanker bisa menyerang kelenjar getah bening terdekat. Kondisi tersebut umumnya akan menimbulkan gejala berupa pembengkakan (benjolan) di kedua sisi leher. Bila Anda menyentuhnya, benjolan terasa keras dan tidak nyeri.

    Selain pembengkakan, ciri-ciri kanker nasofaring yang mungkin dirasakan orang dewasa adalah:

    • Berkali-kali mengalami infeksi telinga
    • Hidung sering tersumbat dan mimisan
    • Satu sisi telinga terasa penuh, kadang nyeri dan berdenging, atau telinga kehilangan pendengaran
    • Terus-terusan merasa sakit kepala
    • Wajah mati rasa sehingga sulit untuk membuka mulut dan terasa nyeri
    • Sulit berbicara, sulit bernapas, dan penglihatan kabur

    Kapan harus periksa ke dokter?

    Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas, segera periksa ke dokter. Terlebih jika gejala tersebut tidak kunjung membaik dalam beberapa hari.

    Setiap orang dapat mengalami gejala kanker yang berbeda, mungkin juga tidak disebutkan pada ulasan di atas. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter.

    Penyebab kanker nasofaring

    Penyebab kanker ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, ilmuwan menemukan adanya kaitan virus Epstein-Barr (EBV) dengan penyakit kanker ini.

    Orang yang terinfeksi virus ini umumnya dapat sembuh tanpa menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang. Ini karena sistem imun mampu mengenali dan menghancurkan virus tersebut. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, potongan DNA dari EBV dapat bercampur dengan DNA sel di nasofaring.

    DNA dalam tubuh Anda menyimpan serangkaian perintah bagi sel untuk bekerja secara teratur. Ketika DNA virus bercampur dengan DNA tubuh, DNA virus akan mengambil alih perintah sehingga membuat sel-sel di nasofaring membelah tanpa kendali dan tidak mati. Kondisi inilah yang dapat memicu terjadinya kanker.

    Walaupun begitu, ilmuwan masih melakukan penelitian lebih dalam mengenai EBV sebagai penyebab kanker nasofaring.

    Apa yang meningkatkan risiko terhadap penyakit ini?

    Kanker nasofaring adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini.

    Memiliki salah satu atau semua faktor risiko bukan berarti Anda dipastikan akan terkena penyakit ini. Ada pula kemungkinan Anda tetap mengalami kanker meski tidak memiliki satupun faktor risiko.

    Berikut adalah beberapa faktor risiko yang memicu Anda terkena penyakit kanker nasofaring.

    Berjenis kelamin pria

    Kanker jenis ini lebih sering ditemukan pada pria, bahkan menduduki peringkat keempat di Indonesia.

    Riwayat genetik atau keturunan

    Jika Anda memiliki anggota keluarga yang menderita kanker jenis ini, risiko Anda untuk terserang pun lebih tinggi.

    Konsumsi garam berlebihan

    Konsumsi makanan yang tinggi garam atau makanan yang diawetkan dengan garam, seperti ikan asin dapat meningkatkan risiko kanker ini.

    Kebiasaan tidak sehat

    Kebiasaan merokok dan minum alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai macam jenis kanker, termasuk kanker yang menyerang sistem pernapasan ini.

    Diagnosis kanker nasofaring

    Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

    Untuk mendiagnosis penyakit kanker nasofaring, dokter biasanya akan mulai dengan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Dokter juga akan menanyakan beberapa pertanyaan, seperti kapan gejala muncul dan riwayat penyakit Anda.

    Selain itu, dokter akan memeriksa apakah ada pembengkakan atau benjolan di leher Anda. Untuk mendapatkan hasil diagnosis yang lebih akurat, beberapa tes tambahan akan direkomendasikan.

    1. Tes endoskopi

    Jika dokter menduga Anda menderita kanker, dokter akan menyarankan Anda untuk menjalani tes endoskopi.

    Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan tabung kecil dengan kamera melalui hidung Anda. Dengan tabung ini, dokter dapat melihat bagian dalam hidung dan tenggorokan Anda untuk mengetahui adanya kelainan.

    2. Biopsi

    Dokter juga mungkin akan mengambil sedikit sampel jaringan nasofaring Anda untuk diteliti di laboratorium. Biopsi umumnya dilakukan dengan endoskopi.

    3. Tes pengambilan gambar

    Setelah Anda terdiagnosis dengan kanker nasofaring, dokter akan melakukan tes pengambilan gambar untuk menentukan stadium kanker yang Anda derita. Tes pengambilan gambar meliputi:

    • Computerized tomography (CT scan),
    • Magnetic resonance imaging (MRI scan),
    • Positron Emission Tomography (PET Scan), dan
    • X-ray.

    Pengobatan kanker nasofaring

    Penyakit kanker nasofaring yang terdeteksi di awal umumnya dapat sembuh dengan pengobatan dokter.

    Namun, peluang bisa sembuh dari kanker nasofaring stadium lanjut sangat kecil atau kemungkinan besar tidak bisa disembuhkan. Meskipun begitu, pengobatan tetap harus dilakukan dengan tujuan untuk membantu meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

    Pengobatan kanker nasofaring bisa dilakukan dengan berbagai cara berikut.

    Operasi

    Operasi merupakan pengobatan untuk mengangkat dan menghilangkan sel tumor pada nasofaring agar tidak semakin menyebar luas. Prosedur medis ini mencakup juga pengangkatan kelenjar getah bening yang terkena kanker.

    Radioterapi

    Selain operasi, kanker nasofaring juga bisa diobati dengan radioterapi, yakni pengobatan berbasis energi radiasi untuk mengecilkan tumor dan menghancurkan sel kanker.

    Pengobatan ini terbilang cukup ampuh. Akan tetapi, radioterapi untuk kanker nasofaring dapat menimbulkan efek samping berupa luka pada kulit dan mulut, mual dan muntah, serta kehilangan kemampuan untuk mengecap rasa.

    Kemoterapi

    Pengobatan kanker selanjutnya adalah kemoterapi. Pengobatan ini dapat dilakukan bersamaan dengan radioterapi, baik sebelum atau setelah prosedur dilakukan.

    Kemoterapi mengobati kanker dengan menggunakan berbagai macam obat yang disuntikan langsung ke pembuluh darah atau diminum dalam bentuk pil/kapsul.

    Apa saja perawatan rumahan yang dapat membantu pengobatan kanker nasofaring?

    Di samping mengikuti pengobatan dokter, Anda juga perlu menerapkan gaya hidup sehat yang sesuai untuk pasien kanker. Tujuannya, untuk mendukung efektivitas pengobatan sekaligus menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

    Anda akan direkomendasikan menjalani diet kanker. Nantinya dokter mungkin akan memberikan pantangan makanan untuk pasien kanker, seperti makanan tinggi gula, garam, lemak, dan berpengawet. Jenis makanan ini sangat harus dibatasi.

    Sebaliknya, perbanyak konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian yang kaya antioksidan untuk membantu mengobati kanker nasofaring.

    Selain itu, lengkapi juga dengan olahraga rutin untuk mengontrol berat badan tetap ideal, tidur cukup, dan penyesuaian aktivitas.

    Sangat penting menjaga kebersihan mulut dan gigi karena pengobatan kanker rentan menimbulkan masalah di area tersebut. Jadi, perbanyak minum air putih dan rajin untuk menggosok gigi setiap hari sebanyak 2 kali sehari, yakni pagi sesudah makan dan malam sebelum tidur.

    Mencegah kanker nasofaring

    Mencegah kanker bisa dilakukan dengan menurunkan berbagai risikonya. Namun, tidak semuanya dapat dihindari, contohnya jika risiko kanker berkaitan dengan faktor yang diturunkan oleh keluarga.

    Anda bisa menghindari risiko kanker dengan menerapkan pola hidup sehat, termasuk menghentikan kebiasaan merokok dan membatasi konsumsi minuman beralkohol.

    Di samping itu, Anda juga perlu memperhatikan asupan garam dalam makanan per harinya serta meningkatkan konsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Nasopharyngeal cancer treatment (Adult). (2021). National Cancer Institute. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancer.gov/types/head-and-neck/patient/adult/nasopharyngeal-treatment-pdq

    What is Nasopharyngeal cancer?  (2018). American Cancer Society. Retrieved 5 November 2021, fromhttps://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/about/what-is-nasopharyngeal-cancer.html

    Is cancer contagious? (2021). American Cancer Society. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancer.org/cancer/cancer-basics/is-cancer-contagious.html 

    Cancer in Indonesia. (2020). Global Cancer Observatory by WHO. Retrieved 5 November 2021, from https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/360-indonesia-fact-sheets.pdf 

    Pediatric Nasopharyngeal carcinoma – Conditions and treatments. (n.d.). Children’s National Hospital. Retrieved 5 November 2021, from https://childrensnational.org/visit/conditions-and-treatments/cancer/nasopharyngeal-carcinoma 

    Signs and symptoms of Nasopharyngeal cancer. (2018). American Cancer Society. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/detection-diagnosis-staging/signs-and-symptoms.html 

    What causes Nasopharyngeal cancer? (2018). American Cancer Society. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/causes-risks-prevention/what-causes.html 

    Can Nasopharyngeal cancer be prevented? (2018). American Cancer Society. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/causes-risks-prevention/prevention.html 

    Diet for Nasopharyngeal Cancer. (2021). Cancer Research UK. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/nasopharyngeal-cancer/living-with/diet 

    Surgery for Nasopharyngeal cancer. (2018). American Cancer Society. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/treating/surgery.html 

    Chemotherapy for Nasopharyngeal cancer. (2018). American Cancer Society. Retrieved 5 November 2021, from https://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/treating/chemotherapy.html 

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Oct 27
    Ditinjau secara medis oleh dr. Bob Andinata Sp.B (K) Onk