Genophobia, Kondisi yang Membuat Seseorang Takut Berhubungan Seks

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Bercinta harusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan. Namun pada kenyataannya, ada sebagian wanita yang takut berhubungan intim dengan pasangan. Wanita yang mengalami phobia terhadap seks biasanya takut untuk melakukan hubungan seksual. Apa yang menjadi penyebabnya? Simak artikel berikut.

Mengenal genophobia

Apakah Anda pernah mendengar istilah genophobia? Istilah ini yang akan menjelaskan kondisi ketakutan pada wanita untuk melakukan hubungan intim. Genophobia atau juga dikenal dengan coitophobia adalah ketakutan untuk melakukan hubungan seks. Wanita yang mengalami ketakutan ini, biasanya akan takut terhadap tindakan-tindakan yang mengarah ke seks dan takut untuk melakukan penetrasi.

Istilah genophobia ini juga sering tertukar dengan erotophobia. Meskipun dua hal ini sama-sama menjelaskan tentang ketakutan terhadap seks, namun kondisi keduanya berbeda. Erothophobia adalah ketakutan dengan semua hal yang berhubungan dengan seks.

Genophobia sama seperti phobia yang lain. Ketakutan ini muncul karena adanya trauma parah pada genophobia. Pemerkosaan dan penganiayaan adalah pemicu paling sering yang ditemukan pada orang-orang yang mengalami genophobia. Budaya dan agama juga kemungkinan besar ikut mempengaruhi berkembangnya genophobia pada seseorang.

Genophobia atau takut berhubungan intim ini sering juga dikaitkan dengan kekhawatiran pada bentuk tubuh atau rasa tidak percaya diri saat akan melakukan seks. Kondisi medis tertentu juga ikut berperan kenapa seseorang takut berhubungan intim.

Penyebab takut berhubungan intim

1. Sindrom trauma pemerkosaan

Pemerkosaan adalah tindakan kriminal seksual yang terjadi ketika seseorang memaksa untuk melakukan hubungan seksual dalam bentuk penetrasi vagina atau anus dengan penis. Setelah tindakan ini, korban akan mengalami reaksi psikologi. Korban pemerkosaan akan mengalami guncangan mental dan trauma yang mendalam.

Sindrom ini merupakan respon dari bentuk ketakutan mendalam terhadap kematian yang kebanyakan dialami oleh para korban pemerkosaan. Fase dari sindrom ini meliputi reaksi langsung dari dampak yang dialami (baik diungkapkan oleh si korban maupun tidak), reaksi fisik, dan reaksi emosional terhadap situasi yang mengancam jiwa mereka. Sedangkan, proses jangka panjangnya meliputi perubahan gaya hidup, mimpi buruk berkepanjangan dan genophobia. Hal ini yang menyebabkan kenapa takut berhubungan intim.

2. Khawatir berlebihan

Kekhawatiran ini terjadi biasanya karena kurangnya atau bahkan tidak adanya pengalaman atau pendidikan seks yang cukup. Mereka takut tidak bisa memuaskan atau meyenangkan pasangannya ketika bercinta. Meskipun terdengar sepele, jika dibiarkan hal ini bisa menyebabkan genophobia.

3. Penyakit tertentu

Ketakutan akan penyakit yang menular melalui seks dapat menyebabkan seseorang takut berhubungan intim. Orang yang mengalami genophoba karena ini biasanya memiliki pengalaman di sekitar mereka yang mengidap penyakit menular seks dan menyebabkan kematian. Sehingga menyebabkan ketakutan terhadap seks. Mereka beranggapan bahwa seks sangat berbahaya dan dapat menyebabkan mereka merasakan sakit.

4. Kondisi medis

Seseorang dengan kondisi medis tertentu sangat besar kemungkinannya takut berhubungan intim dengan berbagai alasan. Disfungsi ereksi dan penyakit jantung paling besar risikonya meningkatkan genophobia pada seseorang. Meskipun telah mendapatkan nasihat dokter bahwa aman melakukan hubungan seks. Mereka cenderung enggan bahkan tidak mau untuk melakukan seks. Hal ini biasanya sudah berlangsung cukup lama.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Psoriasis pada Kulit Kepala

Selain menyebabkan kepala terasa sangat gatal, psoriasis kulit kepala juga bisa bikin rambut Anda jadi cepat rontok dari biasanya. Kenapa begitu, ya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Psoriasis 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit

3 Hal yang Membuat Seks Tidak Lagi Terasa Memuaskan, dan Cara Mengatasinya

Lama-lama, seks bisa jadi membosankan. Apakah artinya sudah tak saling cinta lagi? Bisakah hubungan suami istri terasa nikmat seperti dulu lagi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Memiliki Alergi Terhadap Sperma, Mitos atau Fakta?

Alergi sperma bukan sekadar mitos. Menurut penelitian ada 12% wanita di dunia ini yang mengalami kondisi ini. Apakah bisa disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Seks dengan Lampu Menyala

6 Alasan Seks Lebih Menyenangkan dengan Lampu Menyala

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
teh tanpa kafein

3 Jenis Teh yang Tidak Mengandung Kafein

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Waktu Efektif Minum Kopi

Waktu Paling Sehat untuk Minum Kopi Ternyata Bukan Pagi Hari

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
pasangan malu berhubungan intim

6 Tips Membantu Pasangan yang Malu Berhubungan Intim

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit