Seputar Sindrom Tourette, Kelainan yang Bikin Seseorang Tak Bisa Mengendalikan Gerak-geriknya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Tak banyak yang diketahui masyarakat awam seputar sindrom Tourette, sampai beberapa waktu lalu dikejutkan berita bahwa selebriti kenamaan Tanah Air, Tora Sudiro, kedapatan mengonsumsi obat dumolid untuk mengatasi gejala tourette yang ia hadapi. Sindrom Tourette adalah kelainan saraf langka yang membuat seseorang tak bisa mengendalikan gerak-gerik tubuh serta apa yang terlontar dari mulutnya. Berikut semua fakta yang perlu Anda ketahui seputar sindrom Tourette.

Sindrom Tourette adalah kelainan saraf langka

Sindrom Tourette adalah kondisi yang menyerang sistem saraf otak yang ditandai dengan pola gerakan yang terjadi tiba-tiba tanpa disengaja, berulang, dan tidak bisa dikendalikan — disebut tics. Gejala ini dapat muncul pada bagian tubuh manapun (wajah, tangan, atau kaki). Nama kelainan ini berasal dari “penemu”nya, Dr. Georges Gilles de la Tourette, ahli saraf Prancis, yang pertama kali menggambarkan kondisi tersebut pada seorang bangsawan berusia 86 tahun asal Prancis.

Pada kasus lainnya, seseorang yang memiliki sindrom Tourette juga dapat tiba-tiba mengeluarkan suara abnormal, mengulang perkataan, atau bahkan melontarkan kutukan atau mengumpat kepada orang lain. Ketika tics kambuh, mereka tidak dapat mengendalikan apa yang mereka katakan.

Apa tanda dan gejala sindrom Tourette?

Gejala awal sindrom Tourette adalah gerakan spontan atau kejang dalam waktu pendek, menyentak tiba-tiba, hidung yang berkedut, atau bahkan mulut yang bergerak-gerak. Gejala tics antar satu orang dengan orang lainnya bisa berbeda. Ada pula yang sampai harus membungkuk atau memutarkan badannya berkali-kali sebagai “karakter” tics mereka. Gejala awal ini biasanya terlihat pertama kali di masa kanak-kanak, dengan rata-rata kemunculan pertamanya di antara usia 3 dan 9 tahun.

Pada beberapa orang, selain tics motorik, gejala sindrom Tourette mereka bisa termasuk tics vokal, yaitu ketidakmampuan mengendalikan apa yang mereka katakan. Orang dengan sindrom Tourette yang mengalami tics vokal biasanya mengumpat/memaki/melontarkan kata-kata cabul secara spontan dan berulang, meski sebenarnya tidak disengaja.

Dalam sebuah survei oleh psikolog University of San Diego, mungkin ada 10-15 persen orang yang punya sindrom Tourette dengan tics vokal, yang disertai suara macam orang mengumpat. Kondisi ini bisa disebut juga sebagai copropraxia.

Pola gerakan/perkataan spontan dan berulang yang dialami orang dengan Tourette umumnya sulit dihindari. Mereka sulit untuk mengontrol ataupun mencegahnya. Orang-orang dengan sindrom Tourette seringnya melaporkan bahwa usaha untuk meredam, mengontrol, atau mencegah tics dapat memicu stres berat sampai pada titik di mana mereka merasa bahwa tic harus dilepaskan (meski bertentangan dengan keinginan mereka). Meski demikian, setelah terjadi gejala (baik itu gerakan atau perkataan) biasanya dapat dikendalikan oleh si empunya tubuh dengan berbagai cara tersendiri.

Tics itu sendiri, baik gerakan motorik maupun ucapan, bisa kambuh karena terpicu dengan situasi lingkungan sekitar orang tersebut— bisa tampak bersifat sukarela atau tidak.

Apa penyebab sindrom Tourette?

Penyebab sindrom Tourette tidaklah diketahui pasti. Namun sejauh ini penelitian menunjukkan adanya kelainan pada daerah otak tertentu (termasuk ganglia basal, lobus frontal, dan korteks), rangkaian yang menghubungkan daerah ini, dan neurotransmiter (dopamin, serotonin, dan norepinephrine) yang bertanggung jawab untuk komunikasi antar sel saraf di otak.

Siapa saja yang berisiko tinggi terkena penyakit ini?

Sindrom Tourette bisa terjadi pada orang-orang dari semua kelompok etnis. Namun, sindrom Tourette lebih banyak dimiliki oleh laki-laki, sekitar tiga sampai empat kali lebih sering daripada wanita.

Pada umumnya, sindrom Tourette adalah kondisi kronis dengan gejala yang bertahan seumur hidup. Kebanyakan orang yang punya kondisi ini melaporkan gejalanya yang paling parah muncul selama remaja awal. Namun kebanyakan dari mereka ada yang berangsur membaik, sementara yang lainnya harus hidup dengan sindrom Tourette yang berlanjut sampai dewasa.

Apakah sindrom Tourette bisa disembuhkan?

Sindrom Tourette adalah kondisi kronis yang hingga saat ini belum ditemukan pengobatannya untuk dapat menyembuhkan secara total. Namun, dokter biasanya akan memberikan resep guna mengurangi gejalanya sehingga memudahkan pasien beraktivitas lebih leluasa, seperti obat benzodiazepine.

Selain melalui obat, gejala tourette juga bisa dikurangi dengan melakukan terapi CBT (Cognitive Behavioural Therapy), yaitu latihan mengubah kebiasaan, dan terapi lainnya untuk manajemen pengurangan gejala tics dari sindrom tourette.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: September 25, 2017 | Terakhir Diedit: Maret 23, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca