Air Kencing Berwarna Kuning Tua, Apa Artinya?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/03/2020
Bagikan sekarang

Apakah Anda sering memperhatikan warna dan bau urin Anda? Jika tidak, sebaiknya mulai sekarang membiasakan diri untuk melihat apa warna urin Anda, karena hal tersebut bisa menjadi diagnosis awal sebuah penyakit.

Urin alias air kencing adalah produk buangan yang terdiri dari berbagai zat yang tidak diperlukan, bahkan racun bagi tubuh, yang berasal dari makanan maupun minuman yang kita konsumsi. Urin memiliki warna yang berbeda-beda tergantung dengan seberapa banyak air mineral yang dikonsumsi. Semakin banyak air mineral yang dikonsumsi, maka akan semakin jernih warna urin yang dikeluarkan tubuh. Perubahan warna urin terjadi ketika terdapat gangguan atau masalah dalam tubuh. Oleh karena itu, urin dapat menjadi indikator medis yang dapat menunjukkan status kesehatan seseorang.

1. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan gejala di mana tubuh kekurangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi dapat menimbulkan berbagai dampak seperti pusing, kehilangan fokus, kelelahan, dan urin berubah warna. Penyebab paling sering yang ditemukan pada perubahan warna pada urin menjadi warna kuning tua adalah dehidrasi. Ketika tubuh kekurangan cairan, hal ini akan meningkatkan konsentrasi pewarna urin dalam tubuh yaitu urobilini. Urobilin merupakan bilirubin yang terdapat di sistem kandung kemih dan merupakan hasil zat sisa yang dihasilkan dari pemecahan sel darah merah oleh hati.

2. Makanan

Tentu saja apa yang kita konsumsi akan berpengaruh pada warna, konsentrasi, serta bau dari urin yang dikeluarkan. Ini termasuk ketika Anda mengonsumsi makanan yang memiliki warna yang pekat seperti buah bit, vitamin B, beta-karoten yang dapat menimbulkan warna oranye, dan beberapa perwarna makanan. Kadar pigmen yang pekat pada makanan tidak berubah ketika melalui proses pencernaan, hal ini yang dapat menyebabkan warna pada urin berubah. Makanan seperti wortel, jus wortel, dan vitamin C dapat juga menyebabkan urin menjadi oranye.

3. Obat-obatan

Jika Anda sedang dalam pengobatan atau mengonsumsi obat dari dokter, maka jangan kaget jika urin yang dikeluarkan berwarna kuning tua. Beberapa obat seperti antibiotik, laksatif, dan anti-inflamasi dapat menyebabkan urin berwarna kuning tua, contohnya, obat yang dikonsumsi orang yang terkena penyakit infeksi saluran kemih. Selain itu, jenis obat rifampin, warfarin, dan phenazopyridine juga dapat menyebabkan warna urin menjadi kuning tua.

4. Hematuria

Hematuria adalah keadaan di mana di dalam urin terdapat darah. Jumlah darah yang sedikit saja dapat menyebabkan perubahan warna urin. Hematuria dapat muncul disebabkan oleh adanya kanker pada ginjal atau kandung kemih dan peradangan pada kandung kemih, saluran kandung kemih, atau pun ginjal. Kejadian ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang tua, anak-anak, maupun remaja, dan faktor risiko yang dapat menyebabkan hematuaria adalah keluarga pernah mengalami sakit pada ginjal, batu empedu, dan infeksi yang diakibatkan oleh bakteri atau virus.

5. Penyakit seksual

Orang yang menderita penyakit seksual ternyata menimbulkan gejala urin berwarna kuning. Penyakit seksual yang disebabkan oleh infeksi chlamydia merupakan infeksi yang paling sering menimbulkan perubahan warna pada urin.

6. Gangguan pada organ hati

Perubahan warna urin menjadi lebih gelap dapat disebabkan oleh gangguan pada hati, seperti hepatitis, sirosis, dan kanker hati.  Masalah pada hati  biasanya diawali dengan peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti virus dan bakteri. Kemudian, peradangan terjadi terus-menerus dan berakibat pada kerusakan dan kematian jaringan hati. Hal ini yang menyebabkan sirosis dan merupakan faktor risiko dari kanker hati. Kerusakan jaringan hati membuat hati tidak berfungsi dengan baik untuk memproduksi dan menyalurkan bilirubin. Bilirubin masuk ke dalam darah dan menyebabkan tubuh menjadi kuning. Bilirubin yang masuk pada sistem kandung kemih disebut urobilin dan jika kadarnya terlalu banyak dapat mengubah warna urin menjadi sangat pekat.

BACA JUGA

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

    Bakwan―gorengan khas Indonesia ini memang enak dan gurih. Walaupun digoreng, Anda bisa membuat bakwan lebih sehat. Simak resep membuat bakwan sehat berikut.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

    Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

    Tak heran jika kale kini naik daun di kalangan para pecinta kesehatan. Sayuran hijau ini mengandung segudang manfaat, termasuk untuk kanker payudara.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Nutrisi, Hidup Sehat 28/05/2020

    Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

    Mau punya berat badan ideal? Diet sehat jawabannya. Namun, agar diet yang Anda lakukan tidak sia-sia, simak dulu panduan lengkap berikut ini.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

    Direkomendasikan untuk Anda

    minyak esensial untuk meredakan stres

    Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
    warna rambut

    Warna Rambut Sesuai Karakteristik Diri, yang Manakah Anda?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
    gerimis bikin sakit

    Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020

    Mengapa Perlu Matikan Lampu Saat Tidur?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 29/05/2020