Trauma Kekerasan Masa Kecil Sebabkan Endometriosis, Kok Bisa?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Sebuah penelitian menunjukkan lebih dari 60.000 wanita yang terkena endometriosis memiliki riwayat pelecehan pada masa kecilnya. Sebenarnya, apa benar kekerasan pada anak berisiko meningkatkan endometriosis di masa depan? Yuk, simak ulasannya di bawah ini.

Hubungan kekerasan pada anak dengan endometriosis

sakit saat berhubungan seks

Endometriosis adalah sebuah gangguan ketika jaringan yang biasanya melapisi dinding rahim, justru tumbuh di luar.

Kondisi ini bisa menyebabkan nyeri panggul hingga infertilitas. Nah, gangguan pada rahim ini sebenarnya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Menstruasi retrograde
  • Perubahan sel embrio
  • Gangguan sistem imun
  • Bekas luka bedah
  • Pengedaran sel endometrium

Ternyata, sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 60.000 wanita pada masa pre-menopause menambahkan daftar penyebabnya.

Menurut penelitian tersebut, kekerasan pada masa anak-anak juga menjadi salah satu penyebab endometriosis.

Studi tersebut menemukan bahwa di antara wanita yang mengikuti survei, 31% di antaranya pernah mengalami trauma kekerasan pada masa kecilnya, di mana 12% di antaranya berupa pelecehan seksual.

Seperti yang dilansir oleh Heatlhline, Holly Harris, ScD, seorang peneliti kanker rahim dan endometriosis mengungkapkan, “Kekerasan dapat dikaitkan dengan nyeri panggul kronis. Oleh karena itu, potensi stres terhadap trauma di masa lalu bisa membuat Anda lebih sensitif terhadap nyeri,”

Contohnya, tingkat stres yang berasal dari riwayat pelecehan ternyata mempengaruhi proses inflamasi dan sistem saraf pusat. Nah, kondisi ini bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis, seperti endometriosis tadi.

Penelitian seputar endometriosis dan pelecehan di masa kecil

kekerasan seksual pada anak

Para peneliti mengungkapkan bahwa di antara wanita yang mengalami kekerasan cukup parah pada masa anak-anak, memiliki peningkatan risiko endometriosis sebesar 79%.

Peluang tersebut telah dihitung dengan membedakan dua kategori, yaitu wanita yang mengalami pelecehan (baik fisik dan seksual) dengan yang tidak sama sekali.

Menurut Harris, banyak faktor yang memengaruhi risiko ini. Tidak semua wanita berisiko 79% untuk menderita endometriosis. Sebaliknya, tidak semua orang yang memiliki endometriosis pernah mengalami trauma di masa kecilnya.

Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendalami hubungan antara endometriosis dengan pelecehan dialami semasa anak-anak.

Seberapa lazimkah endometriosis?

meredakan nyeri haid

Meskipun gangguan ini cukup umum, hubungan kekerasan di masa anak-anak dengan endometriosis masih perlu dibuktikan. Apakah stres dan trauma secara tidak langsung memengaruhi sistem kekebalan tubuh, jawabannya masih belum jelas. 

Hingga saat ini, belum ada yang dapat menyimpulkan dengan pasti apa penyebab endometriosis. Ada yang bilang bahwa penyebab utamanya adalah menstruasi retrograde. Sebuah kondisi ketika darah menstruasi mengalir kembali ke saluran tuba dan rongga panggul, bukannya meninggalkan vagina.

Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala-gejala endometriosis, seperti nyeri pada perut bagian bawah, segera konsultasikan kepada dokter.

Kesimpulannya, dari beberapa penelitian, kekerasan yang pernah dialami pada masa anak-anak memang bisa dikaitkan dengan risiko endometriosis. Namun, penelitian ini tidak serta-merta bisa dijadikan patokan satu-satunya yang bersifat mutlak.

Masih diperlukan berbagai penelitian yang lebih mendalam untuk mengetahui kaitan antara keduanya.

Segera periksakan diri Anda jika kerap mengalami gejala endometriosis, sekalipun tidak pernah mengalami trauma kekerasan di masa lalu. Ingat, endometriosis yang diabaikan mungkin saja mengakibatkan infertilitas.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca