Ternyata, Tak Semua Obat Pereda Nyeri Mempan Atasi Rasa Sakit

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Anda mungkin sudah akrab dengan beberapa jenis obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas seperti paracetamol atau ibuprofen. Namun, tahukah Anda jika kedua jenis obat ini ternyata tidak dapat mengatasi semua jenis nyeri? Untuk mengatasi nyeri yang lebih parah, Anda akan membutuhkan obat pereda nyeri yang berbeda. Begitu pun bila Anda ingin mengatasi nyeri yang bersifat kronis.

Memilih obat penghilang rasa sakit sesuai kebutuhan

Supaya rasa nyeri cepat hilang, Anda perlu mencocokkan jenis nyeri dengan obat penghilang rasa sakit yang sesuai. Pasalnya, tak semua rasa nyeri sama, obat pereda nyeri akan tergantung dengan intensitas nyeri yang dirasakan. Nah, rasa nyeri itu tersendiri dibagi dalam beberapa kelompok.

1. Nyeri nosiseptif

Nyeri nosiseptif adalah nyeri yang disebabkan oleh kerusakan atau cedera pada jaringan tubuh, misalnya saat Anda mengalami sakit kepala atau keseleo. Biasanya jenis nyeri ini merupakan nyeri ringan dan dapat diatasi dengan obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas seperti paracetamol dan ibuprofen.

Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat pengiriman sinyal nyeri menuju otak serta meredakan peradangan dan demam pada tubuh. Namun, bila rasa nyeri disebabkan oleh cedera parah seperti patah tulang, Anda akan memerlukan obat pereda nyeri yang lebih kuat seperti morfin.

2. Nyeri neuropatik

Nyeri neuropatik disebabkan oleh kerusakan pada saraf. Karenanya, obat penghilang rasa sakit yang dikhususkan untuk peradangan dan nyeri nosiseptif tidak efektif untuk mengatasi jenis nyeri ini.

Jenis obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri neuropatik biasanya berasal dari golongan antidepresan, seperti amitriptyline dan gabapentine. Obat-obatan ini bekerja dengan meningkatkan kemampuan tubuh dalam mengatasi rasa sakit. Salah satunya dengan menghambat sinyal nyeri dari reseptor menuju sistem saraf pada tulang belakang.

3. Nyeri migrain

Nyeri migrain adalah jenis nyeri yang terjadi pada salah satu sisi kepala dan dapat berlangsung selama beberapa jam hingga berhari-hari. Sebagian besar penderita migrain seringkali juga mengalami mual, muntah, serta meningkatnya sensitivitas terhadap cahaya dan suara.

Paracetamol, ibuprofen, aspirin, dan ergotamin adalah contoh obat penghilang rasa sakit yang digunakan untuk mengatasi nyeri migrain. Obat-obatan ini bekerja dengan mempersempit pembuluh darah dan mencegahnya melebar kembali. Namun, Anda perlu berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter karena beberapa jenis obat-obatan migrain tidak boleh dikonsumsi setiap hari.

4. Nyeri peradangan kronis

Nyeri peradangan kronis umumnya diakibatkan oleh penyakit radang sendi, termasuk osteoartritis. Paracetamol biasanya diberikan sebagai penanganan tahap pertama terhadap nyeri radang sendi. Bila rasa nyeri bertambah parah, dokter dapat memberikan obat lain seperti naproxen.

Naproxen dapat meredakan peradangan dan pembengkakan secara efektif dengan cara mengurangi produksi hormon prostaglandin. Hormon prostaglandin adalah hormon yang berperan dalam proses peradangan, sehingga menekan jumlahnya akan mencegah radang berlanjut.

Meski begitu, penggunaan jenis obat ini dalam jangka panjang tidak disarankan karena dapat menyebabkan ulkus (luka) pada lambung.

5. Nyeri akibat kanker

Penderita kanker dapat mengalami nyeri akibat tekanan tumor pada organ, tulang, ataupun jaringan saraf. Oleh karena jenis nyeri ini bersifat kronis dan parah, penderita kanker biasanya perlu mengonsumsi kombinasi obat penghilang rasa sakit yang terdiri dari paracetamol dan morfin.

Morfin berikatan dengan reseptor sakit pada saraf dan mengubah penerimaan sinyal nyeri di otak sehingga rasa nyeri dapat berkurang. Perlu diperhatikan bahwa obat ini termasuk dalam golongan narkotik dan merupakan salah satu jenis obat penghilang rasa sakit terkuat. Maka dari itu, penggunaannya harus dengan resep dokter dan hanya dikhususkan untuk mengatasi rasa sakit yang parah.

Sekalipun Anda mengonsumsi obat penghilang rasa sakit yang tergolong ringan dan dijual bebas, tetap cermati dosis dan lama penggunaannya. Pasalnya, konsumsi obat-obatan pereda nyeri dalam jangka panjang juga dapat menimbulkan berbagai efek samping yang merugikan tubuh.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca