5 Fakta Seputar Antibiotik yang Perlu Anda Tahu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Antibiotik, yang juga dikenal sebagai obat antimikroba, adalah obat untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, baik pada manusia maupun pada hewan. Antibiotik bekerja dengan membunuh bakteri atau membuat bakteri sulit untuk tumbuh dan berkembang biak. Meskipun antibiotik dapat digunakan pada bakteri, namun antibiotik tidak dapat digunakan pada virus. Untuk mengetahui lebih lanjut, mari kita simak beberapa fakta seputar antibiotik berikut ini.

1. Penyakit akibat virus tak bisa diobati oleh antibiotik

Karena antibiotik adalah anti-bakteri, infeksi virus tidak dapat diobati oleh antibiotik. Beberapa infeksi umum yang disebabkan oleh virus antara lain:

2. Efek samping terlalu banyak antibiotik: resistensi antibiotik

Resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri untuk melawan efek dari antibiotik. Resistensi ini terjadi karena bakteri beradaptasi terhadap obat, sehingga mengurangi efektivitas obat, bahan kimia, atau agen lainnya yang dirancang untuk menyembuhkan atau mencegah infeksi. Bakteri akhirnya dapat bertahan dan terus bertambah banyak, sehingga membawa kerugian yang luar biasa pada tubuh.

Penggunaan antibiotik berlebihan dapat memicu kekebalan bakteri terhadap antibiotik. Mengapa? Karena setiap kali seseorang mengonsumsi antibiotik, bakteri sensitif dapat terbunuh, sedangkan kuman yang tahan antibiotik malah dibiarkan tumbuh dan berkembang biak. Penggunaan antibiotik yang berulang dan tidak tepat adalah penyebab utama peningkatan kekebalan bakteri terhadap obat.

Meskipun antibiotik harus digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, namun obat ini tidak efektif untuk melawan infeksi virus. Penggunaan antibiotik yang cukup sering memicu penyebaran resistensi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang cerdas adalah kunci utama untuk mengendalikan penyebaran resistensi.

3. Bagaimana bakteri bisa kebal terhadap antibiotik?

Bakteri dapat kebal terhadap antibiotik melalui beberapa cara. Ada bakteri yang dapat menetralkan antibiotik dengan membuatnya tidak berbahaya, ada juga yang dapat memompa antibiotik kembali ke luar sebelum membahayakan bakteri. Beberapa bakteri juga ada yang dapat mengubah struktur bagian luar, sehingga antibiotik tidak memiliki cara untuk menyentuh bakteri.

Setelah terkena antibiotik, terkadang salah satu bakteri dapat bertahan hidup karena menemukan cara untuk melawan antibiotik. Jika salah satu bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik, maka bakteri dapat berkembang biak dan mengganti semua bakteri yang terbunuh. Maka, dengan adanya paparan antibiotik selektif, bakteri dapat bertahan dan kebal terhadap obat antibiotik akibat mutasi materi genetik.

4. Kapan Anda tidak perlu minum antibiotik?

Antibiotik tidak diperlukan untuk menghadapi infeksi virus, seperti pilek, flu, atau mononucleosis. Jika Anda minum antibiotik ketika Anda tidak membutuhkannnya, maka Anda dapat meningkatkan risiko untuk mendapatkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang kebal.

5. Cara minum antibiotik yang benar dan aman

Ini penting untuk memahami bahwa, meskipun antibiotik adalah obat yang sangat berguna, namun obat ini dirancang hanya untuk infeksi bakteri. Hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk mencegah kekebalan bakteri adalah:

  • Berbicara dengan dokter mengenai resistensi antibiotik.
  • Bertanya apakah antibiotik bermanfaat untuk penyakit Anda.
  • Bertanya apa saja yang bisa Anda lakukan untuk menyembuhkan penyakit lebih cepat.
  • Tidak menggunakan antibiotik untuk penyakit akibat infeksi virus, seperti pilek atau flu.
  • Jangan menyisakan beberapa antibiotik yang diresepkan untuk penyakit yang akan datang berikutnya.
  • Mengonsumsi antibiotik persis seperti saran dokter.
  • Tidak melewatkan dosis. Bahkan ketika kondisi sudah membaik, karena jika antibiotik dihentikan, maka beberapa bakteri dapat bertahan hidup dan kembali menginfeksi.
  • Jangan minum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain, karena obat mungkin tidak cocok untuk penyakit Anda. Mengonsumsi obat yang salah dapat memberikan kesempatan bakteri berkembang biak.
  • Jika dokter menyatakan bahwa penyakit Anda bukan karena infeksi bakteri, maka jangan paksa dokter untuk meresepkan antibiotik.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

    Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

    Hati-Hati Minum Obat, Barangkali Anda Memiliki Alergi Terhadap Antibiotik

    Selain makanan dan debu, ada pemicu reaksi alergi lain yaitu golongan obat antibiotik. Cari tahu penjelasan lengkapnya di sini.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 22 September 2020 . Waktu baca 7 menit

    Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

    Kulit mendadak memerah, hidung meler, dan bersin-bersin di ruangan ber-AC? Ini mungkin pertanda gejala alergi dingin. Simak ciri-ciri alergi dingin lainnya.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

    Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

    Aroma menyengat spidol mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Padahal, kebiasaan mencium spidol menyimpan segudang bahaya untuk tubuh.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    kepribadian introvert ekstrovert kesehatan

    Apakah Kepribadian Anda Introvert atau Ekstrovert? Ini Pengaruhnya untuk Kesehatan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    teh tanpa kafein

    3 Jenis Teh yang Tidak Mengandung Kafein

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    Waktu Efektif Minum Kopi

    Waktu Paling Sehat untuk Minum Kopi Ternyata Bukan Pagi Hari

    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    Psoriasis kulit kepala

    Psoriasis pada Kulit Kepala

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit