Bagi sebagian wanita, hot flashes identik dengan masa menopause, yaitu ketika siklus menstruasi sudah berhenti. Kondisi ini biasanya dirasakan sebagai suatu sensasi hangat atau panas secara tiba-tiba. Lantas, seperti apa sebenarnya hot flashes itu?
Bagi sebagian wanita, hot flashes identik dengan masa menopause, yaitu ketika siklus menstruasi sudah berhenti. Kondisi ini biasanya dirasakan sebagai suatu sensasi hangat atau panas secara tiba-tiba. Lantas, seperti apa sebenarnya hot flashes itu?

Hot flashes adalah munculnya rasa hangat secara tiba-tiba yang biasanya paling terasa di wajah, leher, dan dada. Kulit wajah pun umumnya akan memerah seperti merona.
Hangatnya tubuh sering kali menyebabkan Anda berkeringat. Bahkan, Anda pun mungkin merasa menggigil setelahnya.
Lama terjadinya gejala hot flashes bisa berbeda pada setiap orang. Namun umumnya, gejala ini sering berlangsung dalam beberapa menit atau lebih lama.
Terkadang, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas yang mengalaminya. Bila terjadi pada malam hari, hangatnya tubuh secara tiba-tiba kerap mengganggu waktu tidur Anda.
Gejala ini dapat terjadi karena kondisi medis tertentu. Meski begitu, kondisi ini paling sering disebabkan oleh perimenopause dan menopause yang mulai terjadi pada wanita usia 40-an.
Faktanya, hot flashes memang merupakan gejala menopause yang paling umum. Bahkan, beberapa wanita mengalami gejala ini selama beberapa bulan atau tahun lamanya.

Rasa hangat tubuh umumnya muncul secara tiba-tiba dan dalam waktu yang bervariasi.
Setiap kali terjadi, rasa hangat ini bisa berlangsung selama 1—5 menit atau lebih lama. Gejala ini bisa muncul pada siang atau malam hari.
Rasa hangatnya pun bisa terasa ringan atau sangat intens hingga mengganggu aktivitas sehari-hari maupun waktu tidur Anda.
Hot flashes pada malam hari pun sering kali membangunkan tidur Anda dan menyebabkan gangguan tidur jangka panjang.
Selain rasa hangat yang tiba-tiba dan menyebar ke dada, leher, dan wajah, kondisi ini juga sering menimbulkan berbagai gejala yang khas, seperti:
Gejala hot flashes pada menopause sering hilang-timbul dalam beberapa tahun. Beberapa wanita melaporkan bahwa dirinya mengalami gejala ini setiap hari selama lebih dari 7 tahun.
Bahkan, John Hopkins Medicine menyebut, rata-rata wanita hidup dengan gejala ini selama 10—15 tahun hingga sering membuatnya frustrasi.
Penyebab hot flashes masih belum diketahui pasti. Namun, kondisi ini diduga terkait dengan pengaturan suhu tubuh oleh bagian otak bernama hipotalamus yang dipengaruhi oleh hormon.
Hot flashes saat menopause diduga terjadi akibat perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron sebelum, selama, dan setelah menopause.
Kondisi ini menyebabkan hipotalamus menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suhu tubuh. Ketika hipotalamus menganggap suhu tubuh terlalu hangat, ia berupaya mendinginkannya.
Cara yang dilakukan hipotalamus termasuk dengan menghasilkan keringat serta meningkatkan aliran darah ke permukaan kulit.
Hal inilah yang kemudian membuat kulit wajah Anda tampak merah dan merona.
Selain menopause, gejala ini juga kadang terjadi karena penyebab lainnya, seperti di bawah ini.

Tidak semua wanita akan mengalami kondisi ini saat menopause. Belum dapat dijelaskan pula mengapa hanya sebagian wanita yang mengalami gejala ini.
Meski begitu, beberapa faktor berikut disebut dapat meningkatkan risiko seorang wanita untuk mengalaminya serta dapat memperburuk gejala.
Dokter biasanya dapat mendiagnosis kondisi ini berdasarkan deskripsi dari gejala-gejala Anda.
Untuk memastikan apa yang menjadi penyebab dari gejala ini, dokter mungkin akan menyarankan tes darah untuk mengetahui apakah Anda sedang dalam transisi menopause.
Meski begitu, seperti penjelasan sebelumnya, tidak semua tubuh yang menghangat disebabkan oleh menopause.
Pastikan Anda berkonsultasi kepada dokter jika mengalami gejala yang tak biasa.

Ada beberapa cara untuk mengatasi hot flashes saat menopause. Namun, cara yang diberikan tidak dapat menyembuhkan gejala ini, tetapi hanya membantu meredakannya.
Bahkan, pada beberapa kasus, pengobatan apa pun tak dibutuhkan, terutama jika gejala tak mengganggu. Apalagi, gejala ini dapat menghilang dengan sendirinya.
Jika memang dibutuhkan pengobatan, berikut adalah beberapa perawatan medis serta perubahan gaya hidup yang dapat membantu mengatasi kondisi ini.
Konsultasikan kepada dokter untuk jenis pengobatan yang tepat sesuai kondisi Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Shen, W. (2021). Did I just have a hot flash? I’m 44! Retrieved 6 May 2024, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/did-i-just-have-a-hot-flash-im-44
Hot flashes. (n.d.). Retrieved 6 May 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hot-flashes/symptoms-causes/syc-20352790
Hot Flashes: What Can I Do? (N.d.). Retrieved 6 May 2024, from https://www.nia.nih.gov/health/menopause/hot-flashes-what-can-i-do
Hot flushes in men. (2023). Retrieved 6 May 2024, from https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/prostate-cancer/practical-emotional-support/hormone-symptoms/sex-hormones-hot-flushes
(N.d.). Retrieved 6 May 2024, from https://www.menopause.org/for-women/menopause-faqs-hot-flashes
Smith, R. L., Gallicchio, L., Miller, S. R., Zacur, H. A., & Flaws, J. A. (2016). PLOS ONE, 11(5). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0155079
Versi Terbaru
05/06/2024
Ditulis oleh Ihda Fadila
Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto
Diperbarui oleh: Edria
Ditinjau secara medis oleh
dr. Carla Pramudita Susanto
General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita