Setelah Berhenti Merokok, Apakah Saya Masih Berisiko Kena Kanker Paru?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019
Bagikan sekarang

Rokok adalah faktor risiko utama dari kanker paru. Perokok aktif lebih berisiko tinggi terkena penyakit mematikan yang satu ini daripada perokok pasif. Sekarang yang jadi pertanyaannya, apakah Anda masih dihantui oleh risiko kanker paru bahkan setelah berhenti merokok?

Risiko kanker paru menurun drastis setelah berhenti merokok

akibat merokok

Setelah berhenti merokok, ada banyak perubahan positif yang akan terjadi pada tubuh. Salah satunya ialah peningkatan fungsi paru-paru. Anda tidak akan lagi merasa sakit saat bernapas dalam-dalam. Selain itu, saat berhenti merokok risiko serangan jantung dan stroke juga menurun terutama setelah dua hingga tiga tahun. Lantas, bagaimana dengan kanker paru?

Dikutip dari OncoLink, setelah berhenti merokok maka risiko Anda untuk terserang kanker paru dan penyakit lain akibat rokok akan menurun dan terus berkurang. Dibutuhkan sekitar 10 tahun tanpa rokok untuk menurunkan risiko kanker paru-paru sebesar 50 persen.

Terlebih setelah 15 tahun berhenti merokok maka risiko Anda untuk terserang kanker paru-paru hampir serendah orang yang tidak pernah merokok dan tidak menghirup asapnya.

Namun, bukan berarti Anda terbebas sepenuhnya

Namun perlu diingat, risiko kaner parunya tidak hilang sama sekali meski Anda sudah berhenti merokok sejak lama. Pasalnya, tubuh sudah telanjur terpapar rokok dalam waktu lama sehingga efek efek racun rokok tetap berkembang di dalam tubuh Anda.

Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan pada 600 orang yang dirujuk untuk operasi kanker paru. Dari semua pasien, 77 persennya adalah mantan perokok dan hanya 11 persen saja yang masih merokok. Hasil penelitian tersebut berkesimpulan bahwa pasien yang didiagnosis kanker paru rata-rata telah berhenti merokok selama 18 tahun.

Dengan begitu, berhenti merokok hanya menurunkan risiko saja tetapi tidak serta merta membuat Anda terbebas kemungkinan menderita kanker paru.

Apa yang harus dilakukan untuk menurunkan risiko kanker paru?

kanker pada pria

Perokok memang tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang kanker paru. Akan tetapi, Anda bisa menurunkan risikonya dengan melakukan skrining. Dikutip dari Verywell Health, skrining kanker paru dapat membantu menurunkan tingkat kematian sebesar 20 persen di Amerika Serikat.

Anda perlu melakukan skrining kanker paru, jika:

  • Sudah menjadi perokok aktif dengan menghabiskan dua bungkus per hari selama 15 tahun.
  • Berada di usia 55 hingga 80 tahun.
  • Masih merokok atau telah berhenti dalam 10 tahun terakhir.
  • Cukup sehat untuk menjalani operasi jika ditemukan kelainan.

Namun, bagaimana jika seseorang tidak memenuhi kriteria seperti yang telah disebutkan? Anda tetap perlu memeriksakan diri ke dokter dan melakukan skrining kanker paru meski tidak memenuhi kriteria seperti yang telah disebutkan. Apalagi pada Anda yang berisiko tinggi terkena kanker paru-paru seperti memiliki riwayat keluarga yang pernah memiliki kanker.

Dengan melakukan skrining, dokter bisa mendeteksi gejala awal kanker paru dan segera melakukan tindakan sebelum sel kanker menyebar. Adapun berbagai gejala kanker paru yang perlu Anda waspadai yaitu:

  • Batuk yang tidak kunjung sembuh.
  • Batuk darah.
  • Merasa sesak napas bahkan ketika sedang istirahat.
  • Merasakan nyeri di dada.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
  • Suara serak.
  • Badan lemas dan lemah.
  • Suara napas mengi (bunyi seperti “ngik-ngik”).

Apapun gejala yang Anda rasakan, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya. Jangan pernah menyepelekan tanda-tanda negatif yang diberikan tubuh jika tidak ingin menyesal di kemudian hari.

Selain itu, ubah gaya hidup Anda menjadi lebih sehat dengan makan makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, dan tidur cukup setiap harinya.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Data Prevalensi Kanker Paru di Indonesia, Perokok Kelompok Paling Berisiko

Prevalensi kanker paru di Indonesia semakin meningkat selama 15 tahun terakhir dengan rokok sebagai faktor risiko utamanya. Mengapa demikian?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala

Cara Kerja Pengobatan Imunoterapi pada Pasien Kanker Paru

Imunoterapi dinilai menjadi metode pengobatan masa depan pada pasien kanker paru. Seperti apa kriteria pasien dan cara kerjanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

Mengenal Terapi Imuno Onkologi, Cara Baru untuk Mengobati Kanker Paru

Terapi imuno onkologi dinilai memiliki manfaat yang sama dengan kemoterapi bagi pasien kanker paru, tapi dengan risiko lebih kecil. Seperti apa terapi ini?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu

4 Jenis Obat di Apotek untuk Membantu Anda Berhenti Merokok

Berhenti merokok ternyata bisa terwujud dengan minum obat tertentu yang dibeli di apotik. Berikut obat yang biasa diresepkan untuk berhenti merokok.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Direkomendasikan untuk Anda

social smoker

Menjadi Social Smoker Ternyata Sama Bahayanya dengan Perokok Aktif

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 13/04/2020
hidup dengan sebelah paru

Manusia Hidup dengan Sebelah Paru, Kok Bisa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25/03/2020
Angka harapan hidup pasien kanker paru

Berapa Lama Harapan Hidup Pasien Kanker Paru?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 13/02/2020
Rokok sebagai risiko kanker paru

Mengurangi Risiko Kanker Paru, Mulai dengan Berhenti Merokok!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 13/02/2020