Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10 Agustus 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Bagi umat Islam, puasa merupakan ibadah wajib yang datang hanya sebulan dalam setahun, yaitu saat bulan Ramadan. Tentunya ini merupakan ibadah yang ditunggu-tunggu dan kesempatan yang tidak ingin dilewatkan kaum Muslim untuk berlomba-lomba melaksanakan ibadah. Lalu, bagaimana dengan ibu hamil yang menjalankan puasa saat hamil?

Menjalankan ibadah puasa atau tidak merupakan pilihan bagi ibu hamil. Kemampuan menjalankan puasa saat hamil tergantung dengan kondisi ibu hamil dan janinnya apakah dalam keadaan sehat atau tidak. Namun, jikalau ibu hamil tetap memilih menjalankan ibadah puasa, tentunya menu-menu yang dimakan saat berbuka puasa dan sahur harus lebih diperhatikan. Ingat bahwa janin memerlukan gizi yang baik dan tepat untuk perkembangan dan pertumbuhan dalam rahim ibu. Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk membatasi zat gizi yang ibu berikan untuk janin. Jika asupan gizi ibu kurang selama puasa, hal ini akan berdampak pada tumbuh kembang janin. Misalnya, bayi akan lahir dengan berat badan rendah, terutama jika usia kehamilan saat puasa masih pada trimester pertama.

Walaupun puasa selama hamil dapat menyebabkan kondisi yang disebut “accelerated starvation” (kondisi di mana hormon yang mengatur glukosa darah terganggu dan kadar glukosa darah dapat menurun drastis), namun kondisi ini dapat dihindari dengan cara mengatur pola makan selama puasa.

Apa saja jenis makanan yang harus dikonsumsi oleh ibu hamil saat puasa?

  1. Menu makanan saat buka puasa dan sahur harus tetap memperhatikan menu gizi seimbang. Ini termasuk menu makanan yang mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, vitamin, dan mineral. Contohnya adalah nasi, sayuran hijau, ikan, tahu-tempe, buah, dan susu. Menu yang mengandung zat gizi lengkap ini membantu janin memenuhi gizi yang dibutuhkannya.
  2. Pilih karbohidrat kompleks. Contohnya: nasi merah, roti gandum, pasta gandum, oatmeal, dan kacang-kacangan, dan juga yang mengandung serat, misalnya sayur dan buah, kacang-kacangan, gandum dan biji-bijian. Makanan ini membutuhkan waktu lama untuk dicerna sehingga rasa lapar akan datang lebih lama. Serat juga berfungsi untuk mencegah konstipasi.
  3. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung banyak protein. Contohnya: daging, ikan, telur, dan kacang-kacangan. Protein dalam jumlah besar sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.
  4. Batasi makanan manis. Makanan manis membantu meningkatkan kadar gula darah yang turun saat berpuasa, namun setelah itu dapat menyebabkan menurunnya kadar gula darah dengan cepat. Hal ini mengakibatkan ibu hamil menjadi lemas dan lemah serta dapat membuat cepat merasa lapar. Kebiasaan menyantap makanan manis ketika mengawali buka puasa sebaiknya diganti dengan menyantap buah-buahan yang manis karena dapat membantu menyediakan energi saat awal berbuka puasa. Buah-buahan tertentu juga mengandung serat yang dapat membantu perut kenyang lebih lama.
  5. Batasi juga makanan yang mengandung lemak tinggi. Ini termasuk gorengan, cake, donat, pizza, burger, daging berlemak, kulit ayam, dan lainnya. Ganti dengan makanan yang mengandung lemak baik, seperti alpukat, kacang, minyak ikan, ikan, keju, dan lainnya.
  6. Perbanyak makanan yang mengandung kalsium. Contohnya susu, keju, yoghurt, sayuran hijau, ikan dengan tulangnya, dan lain-lain. Makanan ini membantu menyediakan cukup kalsium untuk janin.
  7. Banyak minum air putih. Sebaiknya minum sekitar 1,5-2 liter sehari untuk mencegah dehidrasi. Hindari pula minuman yang berkafein seperti kopi dan teh karena bersifat diuretik. Hal ini menyebabkan seringnya buang air kecil dan akan mengakibatkan kehilangan lebih banyak air.

Sekali lagi, ini adalah pilihan bagi ibu hamil untuk menjalani puasa atau tidak. Ibu hamil harus yakin dengan kondisi tubuhnya saat ia memutuskan untuk menjalani ibadah puasa. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda sebelum memutuskan.

Jika memilih untuk melakukan puasa, dukungan dari suami, orangtua, dan orang sekitar bagi ibu hamil untuk menjalani puasa sangat diperlukan. Orang sekitar dapat membantu mengingatkan ibu hamil untuk tetap menjaga asupan yang dimakannya saat puasa. Penelitian Joosoph, Abu, dan Yu (2004)  menunjukkan bahwa 74% dari 182 wanita hamil yang menjadi responden berhasil melakukan puasa selama kurang lebih 20 hari pada bulan Ramadhan. Keberhasilan ini dicapai berkat dukungan suami dan keluarga, serta keyakinan untuk menjalani ibadah.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Awas! Ini Bahayanya Jika Ibu Kekurangan Yodium Saat Hamil

Tidak sedikit wanita hamil yang belum mengetahui pentingnya yodium. Padahal, kekurangan yodium saat hamil memiliki dampak yang buruk bagi janin.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 7 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

Apa Penyebab Anak dan Tantrum dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Tantrum pada anak bisa terjadi kapan pun di manapun, termasuk di tempat umum. Berikut cara untuk mengatasi dan mencegahnya di kemudian hari,

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 2 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Berbagai Penyebab Bayi Lahir Prematur

Jika bayi belum cukup umur untuk keluar dari rahim, mengapa bisa keluar sebelum waktunya? Berikut berbagai penyebab bayi lahir prematur.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Bayi, Bayi Prematur, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat metode kangguru untuk bayi prematur dan berat lahir rendah

Metode Kangguru untuk Bayi Prematur atau Berat Lahir Rendah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
potret pasangan diskusi tentang persalinan normal dan caesar

Pahami Faktor Penentu Persalinan Caesar sebagai Persiapan Sambut si Kecil

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
darah tinggi setelah melahirkan

Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit