Walaupun kemunculannya tidak selalu berbahaya, kista gigi yang tidak segera ditangani dapat bertambah besar dan menimbulkan infeksi pada rongga mulut. Ketahui gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya melalui pembahasan di bawah ini.
Walaupun kemunculannya tidak selalu berbahaya, kista gigi yang tidak segera ditangani dapat bertambah besar dan menimbulkan infeksi pada rongga mulut. Ketahui gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya melalui pembahasan di bawah ini.

Kista gigi atau dental cyst adalah kondisi terbentuknya kantong abnormal yang dapat berisi cairan, udara, atau material tertentu di dalam rongga mulut.
Jenis kista ini dapat terbentuk di gusi dekat mahkota gigi, ujung akar gigi, gigi geraham bungsu, dan gigi yang tidak sehat.
Selain itu, kista juga bisa berkembang pada jaringan lunak di sekitar rongga mulut, seperti gusi dan bibir.
Sifatnya yang kurang simptomatik (kurang bergejala) membuat dental cyst biasanya baru terdeteksi bila sudah terinfeksi.
Kista di dalam rongga mulut cenderung memiliki pertumbuhan yang lambat dan tidak akan tumbuh menjadi kanker.
Namun, tidak menutup kemungkinan sebagian kasus kista gigi bisa berkembang menjadi tumor yang ganas alias kanker pada rongga mulut.
Berdasarkan lokasi kemunculannya, berikut adalah beberapa jenis kista gigi yang umum terjadi.

Pertumbuhan dental cyst kerap kali tidak menimbulkan tanda dan gejala yang jelas. Kista bisa tumbuh lambat sehingga Anda baru menyadarinya saat ukurannya sudah besar atau terkena infeksi.
Meski begitu, ada beberapa gejala umum kista gigi yang patut Anda waspadai, seperti:
Gejala-gejala di atas mungkin mirip dengan abses gigi, tetapi keduanya adalah kondisi yang berbeda.
Abses gigi akan menimbulkan rasa sakit yang intens. Gejala ini akan diikuti dengan peradangan dan pembengkakan gusi, demam, kelelahan, rasa anyir, dan bau mulut tidak sedap.
Nyeri akibat abses gigi juga bisa terjadi secara tiba-tiba, kemudian dapat meningkat lebih intens selama berjam-jam atau berhari-hari.
Rasa sakit ini dapat menjalar ke leher, rahang, dan telinga bila tidak ditangani, misalnya dengan perawatan saluran akar gigi (root canal treatment) atau cabut gigi yang terinfeksi.
Kondisi ini berbeda dengan dental cyst yang tidak selalu memicu infeksi dan tidak bergejala sama sekali. Kista bisa tumbuh dalam hitungan bulan atau tahun sebelum akhirnya Anda sadari.
Kantong berisi cairan di sekitar gigi atau akar gigi bisa terbentuk karena iritasi atau infeksi. Ini bisa memicu pembengkakan hingga kerusakan jaringan bila tidak ditangani.
Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa kista berkembang di dalam rongga mulut Anda.
Saat Anda melakukan pemeriksaan gigi, ada kemungkinan dokter gigi tidak dapat menemukan kista gigi hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik.
Umumnya, hanya kista berukuran besar dan terinfeksi yang mungkin bisa dilihat dan dirasakan.
Meski kista yang berukuran besar bisa langsung terdeteksi, diperlukan diagnosis lengkap agar dokter dapat mengetahui penyebab timbulnya kista di dalam rongga mulut.
Dokter gigi Anda mungkin dapat merekomendasikan rontgen gigi dengan tes pencitraan, seperti rontgen, CT scan, atau MRI.
Dokter juga dapat melakukan pengambilan sampel jaringan kista. Sampel ini akan dianalisis di laboratorium sehingga dokter dapat mengetahui apakah terdapat risiko tumor atau kanker mulut.
Setelah jenis dan penyebabnya diketahui, dokter Anda baru akan menentukan prosedur medis yang tepat dan efisien untuk mengobati kista gigi.

Terdapat dua metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kista gigi, yakni dengan obat-obatan atau melalui prosedur operasi. Berikut ini adalah penjelasannya.
Kista yang berukuran sangat kecil dapat hilang dengan sendirinya. Dalam kondisi ini, dokter akan meresepkan obat-obatan, seperti obat anti-inflamasi dan antibiotik.
Obat antiinflamasi berguna untuk mengatasi peradangan akibat kista, sedangkan obat antibiotik akan melawan bakteri penyebab infeksi pada rongga mulut.
Walaupun tidak membutuhkan perawatan medis serius, Anda tetap dianjurkan untuk melakukan konsultasi dan perawatan rutin untuk memastikan kista tidak bertambah besar.
Namun, bila ukuran kista makin besar sehingga berisiko mengganggu kesehatan Anda, barulah operasi akan direkomendasikan oleh dokter.
Jika ukuran kista sudah cukup besar dan tidak bisa ditangani dengan obat-obatan, dokter akan melakukan operasi pengangkatan kista.
Prosedur ini aman dan tidak menimbulkan rasa sakit karena dokter akan memberikan anestesi lokal untuk mencegah rasa sakit selama operasi berlangsung.
Menurut sebuah artikel yang diterbitkan dalam Makassar Dental Journal (2021), berikut adalah dua metode operasi yang dapat digunakan untuk perawatan kista gigi.
Untuk menentukan mana prosedur operasi yang sebaiknya dilakukan, bicarakan terlebih dahulu dengan dokter Anda.
Meski umumnya tidak menimbulkan gejala serius, Anda dapat mencegah pembentukan kista di dalam rongga mulut dengan melakukan beberapa hal berikut ini.
Apabila Anda punya pertanyaan lebih lanjut mengenai kondisi ini, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Tumor vs. cyst: What’s the difference? (2023). Mayo Clinic. Retrieved October 29, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cancer/expert-answers/tumor/faq-20057829
Jaw tumors and cysts. (2022). Mayo Clinic. Retrieved October 29, 2024, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/jaw-tumors-cysts/symptoms-causes/syc-20350973
Dental abscess. (2017). NHS UK. Retrieved October 29, 2024, from https://www.nhs.uk/conditions/dental-abscess/
Dunlap, C. (n.d.). Cysts of the jaw. University of Missouri-Kansas City School of Dentistry. Retrieved October 29, 2024, from https://dentistry.umkc.edu/wp-content/uploads/2017/09/Jcysts.pdf
Wang, L.L., & Olmo, H. (2022). Odontogenic Cysts. StatPearls Publishing. Retrieved October 29, 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK574529/
Mappangara, S., Tajrin, A., & Fatmawati. (2021). Kista radikuler dan kista dentigerous. Makassar Dental Journal, 3(6). https://doi.org/10.35856/mdj.v3i6.200
Mello, F. W., Melo, G., Kammer, P. V., Speight, P. M., & Rivero, E. R. (2019). Prevalence of odontogenic cysts and tumors associated with impacted third molars: A systematic review and meta-analysis. Journal of Cranio-Maxillofacial Surgery, 47(6), 996-1002. https://doi.org/10.1016/j.jcms.2019.03.026
Açikgöz, A., Uzun-Bulut, E., Özden, B., & Gündüz, K. (2012). Prevalence and distribution of odontogenic and nonodontogenic cysts in a Turkish population. Medicina oral, patologia oral y cirugia bucal, 17(1), e108–e115. https://doi.org/10.4317/medoral.17088
Versi Terbaru
05/11/2024
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh drg. Maurany Annisa Haque
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari