backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

10

Tanya Dokter
Simpan

11 Hal yang Sering Jadi Penyebab Gusi Bengkak

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Tanggal diperbarui 25/04/2023

11 Hal yang Sering Jadi Penyebab Gusi Bengkak

Gusi bengkak merupakan salah satu masalah mulut dan gigi yang paling sering dialami orang. Penyebab gusi bengkak sangat beragam, bisa dari kesalahan dalam perawatan gigi hingga efek penyakit tertentu.

Kenapa gusi Anda bengkak dan sakit?

Penyebab pembengkakan yang paling umum yaitu infeksi pada gusi. Kondisi ini biasanya juga disertai gejala lain, seperti nyeri, bau mulut, hingga munculnya benjolan berisi nanah (abses gigi).

Dilansir dari MedlinePlus, Berikut beberapa hal yang dapat menjadi penyebab gusi bengkak.

1. Menyikat gigi terlalu keras

Banyak orang mengira, menyikat gigi dengan keras lebih efektif untuk mengangkat kotoran dari gigi. Padahal, kebiasaan ini malah memicu rasa sakit, bengkak, dan perdarahan pada gusi.

Rusaknya jaringan gusi dapat menyebabkan garis gusi melonggar dan membuat akar gigi jadi terbuka. Kondisi tersebut pada akhirnya menimbulkan kemunculan gejala gigi sensitif.

Tidak perlu terlalu keras, hal terpenting saat menggosok gigi yaitu menyikatnya dengan metode yang benar. Gunakan sikat gigi berbulu halus dengan lebar kepala sikat yang sesuai dengan mulut Anda.

2. Gingivitis (radang gusi)

obat sakit gigi berlubang

Gingivitis merupakan penyakit yang paling sering menjadi penyebab gusi bengkak dan sakit. Ini terjadi akibat kebersihan mulut dan gigi yang buruk.

Ketika kebersihan mulut tidak terjaga dengan baik, sisa makanan di sela gigi akan berkembang menjadi plak gigi. Plak lalu mengeras menjadi karang gigi dan menjadi penyebab gingivitis.

Cara mencegah dan mengatasi radang gusi tentu saja dengan menjaga kebersihan mulut. Selain sikat gigi, lakukan juga pembersihan lebih lanjut dengan flossing dan obat kumur.

3. Periodontitis

Periodontitis merupakan infeksi gusi serius yang merusak jaringan lunak dan tulang penyokong gigi.

Perlu diketahui, penyakit ini merupakan bentuk lanjutan dari gingivitis yang sudah parah. Tidak hanya gusi bengkak, dampak lainnya yakni gusi berdarah, abses gigi, dan bau mulut tak sedap.

4. Abses gigi

Abses gigi merupakan kondisi ketika muncul benjolan berisi nanah di sekitar gigi, termasuk gusi. Benjolan nanah ini membuat gusi terlihat bengkak.

Abses gigi disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini perlu segera ditangani karena tidak bisa sembuh sendiri dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius, seperti berpindahnya bakteri ke otak.

5. Efek pemasangan kawat gigi

Banyak orang yang mengeluhkan gusi bengkak setelah pakai behel. Kondisi ini juga sering terjadi pada pengguna behel yang baru mengencangkan kawat gigi.

Biasanya, pembengkakan terjadi akibat gesekan antara kawat gigi atau bracket dengan gusi. Selain bengkak, tindakan tersebut juga sering memicu rasa nyeri pada minggu awal pemakaian.

Untuk mengatasi penyebab gusi bengkak dan sakit yang satu ini, Anda bisa mengompres pipi dengan es batu. Suhu dingin es dapat mematikan saraf dalam mulut sehingga mengurangi nyeri.

6. Sariawan

Sariawan pada dasar gusi dapat mengakibatkan pembengkakan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh gangguan sistem imun maupun infeksi dari bakteri atau virus seperti herpes oral.

Untuk mengobati sariawan, Anda dapat berkumur dengan air garam selama 20 hingga 30 detik. Setelahnya, jangan lupa untuk membilas mulut dengan air putih.

7. Kurang vitamin

pasta gigi sensitif

Kekurangan vitamin B dan C dapat menjadi penyebab gusi bengkak. Vitamin C berguna untuk memproduksi kolagen yang membentuk jaringan gusi.

Sementara itu, vitamin B membantu pertumbuhan sel dan sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk gusi. Kekurangan dua vitamin ini dapat menjadi penyebab sariawan dan gusi bengkak.

8. Efek pengobatan

Penggunaan obat, khususnya dalam kemoterapi, dapat menjadi penyebab gusi bengkak dan sakit. Tak hanya itu, kemoterapi juga memicu efek samping seperti rambut rontok dan perubahan warna kulit.

Selain obat kemoterapi, beberapa jenis obat lain juga bisa menimbulkan pembengkakan pada gusi antara lain:

  • kortikosteroid, 
  • anti-epilepsi, dan 
  • calcium channel blocker (obat penurun tekanan darah).

9. Kebiasaan merokok

Merokok meningkatkan risiko infeksi pada gigi dan gusi. Kebiasaan ini juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus atau bakteri penyebab penyakit gusi.

Jika Anda tidak berhenti merokok, infeksi akan makin parah. Tak hanya bengkak, infeksi yang terjadi juga dapat menyebabkan komplikasi lebih serius.

10. Perubahan hormon

Selama masa puber dan menstruasi, kadar hormon progesteron dalam tubuh akan meningkat. Kondisi tersebut turut meningkatkan aliran darah ke gusi.

Peningkatan aliran darah membuat gusi menjadi kemerahan, bengkak, dan sangat sensitif. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisi ini juga menjadi penyebab gusi berdarah.

Untuk mencegah pembengkakan, selalu jaga kebersihan gigi dan mulut Anda secara teratur. Apabila tidak kunjung membaik, konsultasikan ke dokter.

11. Kehamilan

Ketidakseimbangan hormon selama kehamilan membuat tubuh memproduksi darah lebih banyak dari biasanya. Akibatnya, gusi jadi lebih rentan mengalami iritasi hingga berujung bengkak.

Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) melaporkan bahwa gingivitis menjadi salah satu penyebab gusi bengkak yang paling umum pada trimester awal kehamilan.

Cara mencegah masalah mulut saat hamil yaitu dengan rutin sikat gigi dua kali sehari sejak sebelum hamil.

Selain itu, pergi ke dokter gigi secara rutin juga penting untuk memeriksa kondisi gigi dan mulut Anda.

Ragam penyebab gusi bengkak dan sakit

  • Menyikat gigi terlalu keras.
  • Penyakit seperti sariawan, gingivitis, periodontitis, dan abses gigi.
  • Efek pemasangan kawat gigi.
  • Kekurangan vitamin B dan C.
  • Efek pengobatan seperti kemoterapi, kortikosteroid, hingga anti-epilepsi.
  • Kebiasaan merokok.
  • Perubahan hormon saat puber, menstruasi, dan kehamilan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Bayu Galih Permana · Tanggal diperbarui 25/04/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan