backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

Pada Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Sikat Gigi?

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 22/11/2022

Pada Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Sikat Gigi?

Membiasakan anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut perlu dilakukan sedini mungkin. Salah satu caranya yaitu dengan mengajarkan si kecil menyikat gigi. Lalu, kapan waktu yang tepat untuk anak mulai sikat gigi?

Kapan sebaiknya anak mulai sikat gigi?

mengajarkan anak sikat gigi

Perawatan gigi anak sebaiknya dimulai sejak gigi pertamanya tumbuh pada usia 5–7 bulan. Namun, perawatan gigi bayi tentu berbeda dengan perawatan gigi anak-anak yang lebih tua.

Anda bisa menggunakan cara berikut untuk merawat gigi bayi.

  1. Cuci tangan hingga bersih, lalu lilit jari telunjuk dengan kain kasa atau lap bersih yang sudah dibasahi dengan air hangat.
  2. Bersihkan atau seka secara perlahan bagian gusi bayi secara lembut dengan kain kasa atau lap basah. 
  3. Lakukan teknik membersihkan mulut bayi ini secara rutin atau setelah selesai menyusui.

Sampai saat ini, masih ada perbedaan pendapat mengenai waktu yang tepat untuk memulai perawatan gigi pada anak.

Beberapa ahli berpendapat sikat gigi harus dilakukan setelah pertumbuhan gigi anak mencapai usia sekitar tujuh bulan atau saat ada empat gigi pertama.

Sebagian yang lain menyarankan si kecil mulai sikat gigi saat berusia 2–3 tahun.

Orang tua disarankan untuk terus mendampingi proses menyikat gigi sampai anak bisa berkumur dan meludah tanpa bantuan. 

Proses pendampingan ini biasanya dilakukan hingga anak-anak berusia sekitar enam tahun. Setelah usia tersebut, anak sudah bisa dibiarkan menyikat gigi secara mandiri.

Biasakan anak untuk menyikat gigi secara rutin sebanyak dua kali sehari, yakni pada pagi setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. 

Cukup luangkan waktu Anda dan anak sekitar dua menit untuk menyikat gigi bersama. Bila anak sudah dibiasakan sejak dini, semakin mudah juga untuk mengajaknya menyikat gigi secara rutin.

Tips saat mendampingi anak sikat gigi

Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat mendampingi si kecil sikat gigi.

1. Pemilihan sikat dan pasta gigi

Pilihlah sikat gigi anak dengan bulu sikat yang lembut, kepala yang kecil, dan pegangan yang besar.

Saat memilih pasta gigi, carilah pasta gigi yang aman dengan standar food grade. Pastikan pasta gigi anak tidak mengandung sodium lauryl sulfate (SLS) supaya aman jika tidak sengaja tertelan.

Alih-alih memilih pasta gigi dengan mint yang pedas, Anda bisa memilih pasta gigi untuk anak yang mengandung xylitol.

Sebagai pemanis alami, bahan ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri kariogenik penyebab gigi keropos.

Penting juga untuk memilih pasta gigi yang rasanya disukai anak untuk membuatnya rajin sikat gigi.

2. Aturan pemakaian pasta gigi

Anak-anak di bawah dua tahun sebaiknya tidak diberikan pasta gigi dengan kandungan fluoride. Anda dapat memberikan pasta gigi dengan aturan berikut.

  • Anak-anak usia 0–18 bulan: cukup sikat gigi dengan air, tanpa pasta gigi.
  • Anak usia di bawah tiga tahun (balita): oleskan pasta gigi kurang-lebih sebesar biji beras.
  • Anak usia 3–6 tahun: gunakan pasta gigi kurang-lebih sebesar biji jagung pada permukaan sikat gigi.

Pada dasarnya, pasta gigi dengan kandungan fluoride tidak boleh ditelan. Maka dari itu, Anda perlu terus mendampingi saat anak mulai menyikat gigi.

3. Tips mengatasi pasta gigi fluoride tertelan

pasta gigi anak

Dikutip dari penelitian dalam Journal of The American Dental Association (2014), batas aman takaran fluoride yang boleh masuk ke dalam tubuh manusia yakni 0,05 mg per kg berat badan per hari.

Jika anak tidak sengaja menelan pasta gigi lebih dari batas yang diperbolehkan, sistem pencernaannya mungkin akan terganggu. 

Sebagai pertolongan pertama, berikan minuman atau makanan tinggi kalsium, seperti susu atau yoghurt. Hal ini karena kalsium dapat mengikat fluoride dalam saluran pencernaan.

Beberapa orang tua mungkin khawatir akan risiko fluorosis, yakni timbulnya noda putih pada permukaan gigi akibat tubuh terlalu banyak menyerap fluoride.

Solusinya, Anda bisa menggunakan pasta gigi khusus anak dengan label non-fluoride. Namun, perlu diingat bahwa fluoride akan memberi perlindungan maksimal pada gigi si kecil.

4. Ajak anak sikat gigi bersama

Anak-anak memiliki kecenderungan meniru apa yang dia lihat. Jadi, alih-alih hanya menemaninya, Anda bisa mengajak anak sikat gigi bersama.

Selain itu, Anda juga bisa membangun suasana yang lebih menyenangkan dengan memutar lagu kesukaannya saat menyikat gigi.

Bagaimana jika anak terlambat mulai sikat gigi?

Jika anak-anak terlambat menyikat gigi, plak dan karang gigi akan tumbuh memenuhi gigi mereka.

Risiko kerusakan akibat kurangnya kebersihan gigi dan mulut pada anak-anak sama halnya seperti orang dewasa.

Studi dalam Journal of Health and Dental Sciences (2022) menyebutkan bahwa kerusakan gigi, khususnya karies pada anak, juga bisa membuat anak kekurangan gizi.

Selain itu, tidak sedikit anak-anak yang kehilangan rasa percaya diri karena kerusakan gigi yang dialaminya.

Jangan lupa bawa anak ke dokter gigi

Selain mengajarkan anak untuk mulai menyikat gigi, Anda juga perlu membawa anak ke dokter gigi.

Ini merupakan salah satu upaya untuk melindungi kesehatan gigi anak sekaligus menjadi langkah perkenalan agar anak tidak takut ke dokter gigi.

Tidak perlu menunggu gigi anak berlubang atau rusak untuk ke dokter gigi. Jika gigi anak tidak bermasalah, ia harus tetap pergi ke dokter gigi.

Biasanya, kunjungan anak ke dokter gigi dimulai pertama kali pada usia satu tahun atau setelah gigi pertamanya muncul.

Setelah kunjungan pertama dilakukan, jadwalkan kunjungan lagi setiap enam bulan sekali.

Serba-serbi anak yang baru mulai sikat gigi

  • Perawatan gigi anak sebaiknya dilakukan sejak kemunculan gigi pertama.
  • Gunakan pasta gigi sebesar biji beras untuk anak di bawah tiga tahun.
  • Kerusakan gigi anak dapat berpengaruh pada kemampuannya menyerap zat gizi.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 22/11/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan