home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Amankah Konsumsi Kurma untuk Pasien Diabetes?

Amankah Konsumsi Kurma untuk Pasien Diabetes?

Pasien diabetes biasanya menghindari konsumsi makanan manis untuk menjaga kadar gula darahnya. Sebagai buah dengan rasa yang manis, kurma sering kali dikelompokkan dalam daftar makanan pantangan untuk diabetes. Namun, apakah benar konsumsi kurma bisa dengan mudah menaikkan gula darah secara drastis?

Efek mengonsumsi kurma untuk pasien diabetes

Akibat diabetes hiperglikemia

Mengatur asupan nutrisi merupakan langkah penting dalam menjalani gaya hidup sehat bagi pasien diabetes.

Pasalnya, setiap makanan yang dikonsumsi bisa memengaruhi kadar gula darah, apalagi makanan manis.

Sekalipun dikenal sebagai buah yang berkhasiat, kurma memiliki rasa yang sangat manis sehingga dikhawatirkan dapat meningkatkan gula darah pasien diabetes.

Rasa manis pada kurma berasal dari kandungan gula alaminya yaitu fruktosa. Nah, kurma yang biasanya dikonsumsi adalah buah kurma yang telah dikeringkan.

Proses pengeringan buah bisa membuat rasa buah semakin manis karena meningkatkan kandungan kalori dan karbohidrat dalam bentuk gula pada kurma.

Satu buah kurma kering (24 gram) mengandung setidaknya 67 kalori dan 18 gram karbohidrat. Kandungan karbohidrat ini yang nantinya akan memengaruhi kenaikan kadar gula darah.

Jika pasien diabetes mengonsumsi kurma dalam jumlah besar, kadar gula darah tentunya bisa melonjak naik.

Akan tetapi, kurma termasuk buah yang memiliki nilai indeks glikemik (GI) yang rendah. Indeks glikemik menunjukkan kemampuan suatu makanan untuk meningkatkan gula darah.

Makanan dengan GI yang tinggi bisa lebih cepat menaikkan gula darah. Sebaliknya, nilai GI yang rendah menunjukkan makanan tersebut lebih lambat memengaruhi gula darah.

Studi dari Nutrition Journal menyebutkan nilai indeks glikemik kurma berkisar di antara 44-45. Nilai GI yang berada di bawah angka 55 ini termasuk rendah.

Artinya, mengonsumsi kurma dalam batas yang wajar dan disesuaikan dengan kebutuhan karbohidrat harian pasien diabetes tetap diperbolehkan.

Manfaat kurma untuk diabetes

manfaat kurma untuk diabetes

Konsumsi kurma dalam porsi yang tepat ternyata juga bisa mendatangkan manfaat untuk pasien diabetes.

Kandungan serat pada kurma dapat memperlambat proses pemecahan karbohidrat menjadi glukosa sehingga tidak cepat meningkatkan kadar gula darah setelah makan.

Selain itu, kurma adalah salah satu buah yang kaya akan kandungan mikronutrien seperti mineral, vitamin, dan antioksidan.

Kurma dapat memberikan tambahan magnesium dan natrium ke dalam tubuh. Mineral-mineral ini berperan dalam regulasi gula darah sekaligus tekanan darah.

Untuk itu, manfaat kurma ini bisa mengurangi risiko komplikasi diabetes yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi.

Mengatur konsumsi kurma bila punya diabetes

Diet Pasien Diabetes untuk Menjaga Pola Makan dan Berat Badan Seimbang

Kandungan gula yang tinggi pada kurma memang perlu Anda waspadai. Namun, yang terpenting sebenarnya adalah mengatur konsumsi kurma untuk pasien diabetes.

Menurut American Diabetes Association, memiliki diabetes bukan berarti Anda tidak boleh mengonsumsi makanan manis sama sekali.

Pasien diabetes tetap boleh menyantap kudapan dan buah-buahan manis.

Namun, dengan catatan, porsi makan makanan manis untuk pasien diabetes tetap disesuaikan dan diseimbangkan dengan konsumsi makanan bernutrisi untuk diabetes lainnya.

Jika menyantap kurma dalam jumlah besar hingga melebihi kebutuhan karbohidrat harian tentunya akan berbahaya untuk kondisi diabetes Anda.

Apalagi jika asupan kurma lebih banyak dari porsi makanan sumber protein, lemak, dan vitamin lainnya, hal ini tentu berisiko bagi kesehatan Anda.

Oleh karena itu, seperti makanan manis lainnya, kurma sebaiknya dikonsumsi dalam porsi terkecil dari keseluruhan kebutuhan nutrisi harian Anda.

Alternatifnya, Anda bisa menjadikan kurma sebagai camilan untuk diabetes agar porsinya tidak berlebihan.

8 Buah Terbaik yang Aman untuk Gula Darah Pengidap Diabetes

Berapa banyak konsumsi kurma yang ideal?

Sebenarnya tidak ada ukuran yang pasti berapa jumlah kurma yang aman dikonsumsi para diabetesi.

Pasalnya, hal ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian setiap pasien yang bergantung dari intesitas aktivitas harian, berat badan, dan tingginya kadar gula darah.

Beberapa pasien, terutama yang memiliki diabetes tipe 1, biasanya pun harus menerapkan aturan makan berdasarkan perhitungan karbohidrat harian agar gula darahnya lebih terkontrol.

Nah, konsumsi camilan dan buah-buahan seperti kurma ini perlu diikutsertakan dalam perhitungan karbohidrat harian.

Oleh karena itu, pasien diabetes memang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam atau spesialis gizi guna menentukan porsi ideal untuk camilan dalam rencana pola makan (diet) sehatnya.

Secara umum, konsumsi camilan manis sebaiknya memang tidak melebihi anjuran konsumsi gula tambahan, yakni 10% dari total energi atau setara dengan 50 gram (4 sendok makan) per hari.

Jadi, jika satu buah kurma kering mengandung 18 gram gula, artinya Anda perlu membatasi konsumsi kurma maksimal 2-3 buah per hari.

Dengan catatan, Anda tidak mengonsumsi camilan manis lainnya.

Penting untuk diingat bahwa dalam menjalani gaya hidup sehat yang menjadi kunci pengobatan diabetes, Anda memang tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan.

Hal ini tidak lain bertujuan menjaga kadar gula darah tetap terkendali.

Konsumsi kurma dalam jumlah terbatas tetap diperbolehkan. Akan tetapi, agar tetap sehat, pasien diabetes juga perlu menyertakan menu makanan bernutrisi lainnya dan aktif berolahraga.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Barbagallo, M., & Dominguez, L. J. (2015). Magnesium and type 2 diabetes. World journal of diabetes6(10), 1152–1157. https://doi.org/10.4239/wjd.v6.i10.1152

Foshati, S., Nouripour, F., & Akhlaghi, M. (2015). Effect of Date and Raisin Snacks on Glucose Response in Type 2 Diabetes. Nutrition and Food Sciences Research2(1), 19-25. http://nfsr.sbmu.ac.ir/article-1-59-fa.pdf

Alkaabi, J. M., Al-Dabbagh, B., Ahmad, S., Saadi, H. F., Gariballa, S., & Ghazali, M. A. (2011). Glycemic indices of five varieties of dates in healthy and diabetic subjects. Nutrition journal10, 59. https://doi.org/10.1186/1475-2891-10-59

American Diabetes Association. (2021). Carb Counting and Diabetes. Retrieved 30 March 2021, from https://www.diabetes.org/healthy-living/recipes-nutrition/understanding-carbs/carb-counting-and-diabetes

National Institute Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2021). Diabetes Diet, Eating, & Physical Activity |  Retrieved 30 March 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/diet-eating-physical-activity#whatFood

Kementerian Kesehatan. (2019). Penting, Ini yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Konsumsi Gula, Garam dan Lemak . Retrieved 30 March 2021, from https://promkes.kemkes.go.id/penting-ini-yang-perlu-anda-ketahui-mengenai-konsumsi-gula-garam-dan-lemak#:~:text=Menurut%20Permenkes%20Nomor%2030%20Tahun,natrium%20per%20orang%20per%20hari.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 22/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x