home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengulik Alergi Kafein Seperti pada Kopi yang Berbeda dengan Sensitivitas Kafein

Mengulik Alergi Kafein Seperti pada Kopi yang Berbeda dengan Sensitivitas Kafein

Kopi adalah salah satu minuman yang sangat populer di seluruh dunia. Dahulu, kopi menjadi pendamping camilan, tetapi kini semua orang dapat menikmati berbagai jenis kopi dengan atau tanpa makanan. Namun, tidak semua orang dapat menikmati kopi dan salah satunya disebabkan oleh reaksi alergi terhadap kafein.

Apa itu alergi kafein seperti pada kopi?

Kafein adalah zat stimulan alami yang merangsang kerja otak, sistem saraf pusat, jantung, dan otot. Kafein juga berfungsi menghambat pemicu rasa kantuk di otak dan menggantinya dengan memproduksi hormon stres adrenalin, sehingga Anda pun lebih fokus.

Selain kopi, Anda juga dapat menjumpai kafein di teh, soda, coklat, hingga minuman berenergi. Bahkan, zat stimulan ini juga dipakai dalam beberapa obat.

Umumnya, dosis maksimal kafein yang terbilang aman bagi orang dewasa adalah 400 miligram per hari atau setara dengan empat cangkir kopi.

Sementara itu, alergi kopi adalah jenis alergi makanan yang menganggap asupan kafein sebagai senyawa berbahaya. Akibatnya, tubuh memproduksi antibodi (imuniglobulin E) yang memicu setiap sel tubuh melawan balik dan menyebabkan peradangan.

Peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat konsumsi kafein ini menimbulkan beragam gejala, seperti:

Umumnya, makanan pemicu alergi adalah protein yang terkandung dalam telur, susu, kacang, dan seafood. Namun, penyebab alergi kafein hingga saat ini belum diketahui.

Bila Anda mengalami gejala alergi yang disebutkan, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Alergi kafein versus sensitivitas kafein

Beberapa orang mungkin menganggap reaksi tubuh yang muncul setelah mereka minum kopi atau minuman berkafein lainnya adalah sensitivitas terhadap kafein. Faktanya, ada perbedaan yang cukup signifikan antara alergi kafein dengan sensitivitas kafein.

Sensitivitas terhadap kafein biasanya mengacu pada masalah pencernaan. Pasalnya, lambung yang tidak cocok dengan kafein tidak dapat mencernanya dengan baik. Akibatnya, muncul beberapa gejala yang berkaitan dengan sistem pencernaan, seperti:

  • jantung berdebar,
  • kembung,
  • diare,
  • gugup,
  • sulit tidur,
  • asam lambung naik, serta
  • gelisah dan sakit kepala.

Sementara itu, alergi kopi yang termasuk dalam alergi makanan disebabkan oleh reaksi imun terhadap makanan atau minuman yang dikonsumsi. Gejala alergi makanan seperti pada kafein dapat memengaruhi kulit, saluran pencernaan, hingga sistem pernapasan, meliputi:

  • ruam dan benjolan merah di kulit,
  • kulit terasa gatal,
  • pembengkakan di bibir dan lidah,
  • mulut, bibir, dan lidah terasa gatal,
  • kram perut, serta
  • diare.

Kapan saya harus ke dokter?

obat asam urat dan kolesterol

Bila jenis alergi makanan ini tidak segera ditangani, gejalanya akan bertambah parah dan Anda berisiko mengalami syok anafilaksis. Meski terbilang cukup jarang, kondisi ini pernah terjadi pada beberapa orang. Namun, belum dapat dipastikan apakah syok anafilaktik ini disebabkan oleh kafein sendiri atau ada pemicu lainnya.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala:

  • kesulitan bernapas dan berbicara,
  • sakit perut,
  • mual dan muntah,
  • detak jantung meningkat,
  • suara mengi ‘ngik-ngik’ akibat penyempitan saluran pernapasan, serta
  • pusing dan pingsan.

Seperti kebanyakan jenis alergi lainnya, dokter akan melakukan pemeriksaan berupa tes kulit alergi sebagai prosedur diagnosis. Hal ini dilakukan dengan menaruh sedikit alergen pada lengan dan melihat apakah terdapat reaksi yang muncul setidaknya dalam waktu 24 jam.

Pengobatan alergi minuman berkafein seperti kopi

Alergi kopi atau minuman berkafein lainnya memang dapat diatasi dengan obat alergi makanan seperti antihistamin. Antihistamin ini bekerja untuk mengurangi gejala alergi, seperti gatal dan pembengkakan.

Bila penderita alergi kafein mengalami syok anafilaktik, Anda mungkin akan diberikan suntik epinephrine (adrenalin). Semakin cepat Anda mendapatkan pengobatan, semakin besar peluang untuk cepat pulih dari reaksi alergi makanan.

Cara mencegah alergi kopi

Salah satu cara mencegah alergi makanan atau setidaknya mengurangi risiko munculnya reaksi alergi kafein adalah berhenti mengonsumsinya. Meski terdengar mudah, kebiasaan minum kopi dan minuman berkafein lainnya tentunya sulit dihentikan.

Jenis makanan dan minuman yang biasanya mengandung kafein tinggi yang perlu Anda batasi antara lain:

  • kopi,
  • teh,
  • coklat,
  • minuman berenergi,
  • suplemen yang mengandung kafein, dan
  • obat-obatan yang mengandung kafein.

Berhenti mengonsumsi kafein tiba-tiba ternyata dapat menimbulkan gejala yang cukup mengganggu, mulai dari sakit kepala hingga cepat lelah. Pada beberapa kasus, kondisi ini juga dapat mengembangkan gejala seperti flu.

Oleh sebab itu, orang-orang yang hidup dengan alergi makanan, seperti kopi, menghentikan kebiasaannya secara bertahap. Berikut ini beberapa tips yang mungkin membantu Anda membatasi minum minuman berkafein.

  • Konsumsi minuman non-kafein di pagi hari, seperti teh herbal atau air lemon hangat.
  • Hindari kopi dengan label tanpa kafein karena mungkin mengandung 18 mg kafein.
  • Minum air yang banyak untuk menekan keinginan minum kopi, cola, atau minuman berkafein lainnya.
  • Rutin olahraga untuk mengatasi rasa lelah akibat tidak ada asupan kafein.
  • Beri tubuh waktu untuk beristirahat dengan tidur yang cukup dan lebih rileks.

Bila dikonsumsi dalam jumlah yang wajar, ada segudang manfaat kafein bagi kesehatan, seperti meningkatkan kewaspadaan. Meski alergi kafein terbilang cukup jarang, jangan sepelekan gejala yang muncul usai mengonsumsi kopi atau minuman lainnya.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Food Intolerance. (2019). Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Retrieved 14 October 2020, from https://www.allergy.org.au/patients/food-other-adverse-reactions/food-intolerance 

Sugiyama, K., Cho, T., Tatewaki, M., Onishi, S., Yokoyama, T., & Yoshida, N. et al. (2015). Anaphylaxis due to caffeine. Asia Pacific Allergy, 5(1), 55. doi: 10.5415/apallergy.2015.5.1.55. Retrieved 14 October 2020. 

Food Problems: Is It an Allergy or Intolerance. (2015). Cleveland Clinic. Retrieved 14 October 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10009-food-problems-is-it-an-allergy-or-intolerance 

Abrams, E., & Sicherer, S. (2016). Diagnosis and management of food allergy. Canadian Medical Association Journal, 188(15), 1087-1093. doi: 10.1503/cmaj.160124. Retrieved 14 October 2020. 

Sajadi-Ernazarova KR, Anderson J, Dhakal A, et al. (2020). Caffeine Withdrawal. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. Retrieved 14 October 2020, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430790/

Caffeine: tips for breaking the habit. (2014). Cleveland Clinic. Retrieved 14 October 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/15496-caffeine-tips-for-breaking-the-habit 

Suphioglu, C. (2012). Coffee Anyone Are You at Risk of Allergy. International Archives Of Allergy And Immunology, 159(3), 213-215. doi: 10.1159/000339733. Retrieved 14 October 2020.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Tanggal diperbarui 20/10/2020
x