Semua yang Perlu Anda Tahu Sebelum Menggunakan Tampon

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Menggunakan tampon di Indonesia memang belum umum karena pembalut masih dianggap sebagai pilihan utama wanita yang sedang haid. Padahal, tampon bisa menjadi alternatif yang baik untuk pembalut. Apalagi jika Anda adalah wanita yang aktif dan dinamis secara fisik. Itulah mengapa tampon banyak digunakan oleh atlet, penari, atau pelatih kebugaran. Sebelum Anda mencoba tampon saat haid, simak dulu informasi seputar tampon berikut ini.

Apa bedanya tampon dan pembalut?

Tampon dan pembalut adalah produk kesehatan wanita yang digunakan untuk menyerap darah menstruasi. Tampon dibuat dari kapas lembut yang berbentuk silinder. Berbeda dengan pembalut yang dipasang pada pakaian dalam dan menyerap darah menstruasi yang keluar, tampon menyerap darah menstruasi dari dalam vagina. Anda pun tak perlu khawatir dengan pembalut yang bergeser, terlalu pendek, atau terlalu tebal.

Ada berbagai jenis tampon yang tersedia, sesuai dengan ukuran dan tingkat daya serapnya. Mulai dari daya serap rendah hingga tinggi, Anda bisa menyesuaikan dengan aliran menstruasi Anda saat itu. Jangan menggunakan tampon dengan daya serap tinggi pada hari aliran Anda sedikit dan sebaliknya.

Bagaimana cara menggunakan tampon?

Ketika Anda akan menggunakan tampon, pastikan tubuh Anda dalam keadaan tenang rileks. Jika Anda gugup atau ragu, otot-otot Anda akan menegang sehingga tampon akan semakin sulit masuk. Setelah itu, ikuti langkah-langkah di bawah ini.

Cuci tangan Anda dengan sabun dan air bersih dan keringkan. Jika ini pertama kalinya Anda mencoba tampon, pilih produk dengan daya serap yang rendah atau sedang. Kemudian, cari posisi yang menurut Anda paling nyaman. Anda bisa berdiri dengan satu kaki ditumpangkan pada bibir toilet atau dengan berjongkok.

Tahan ujung belakang tampon dengan tangan dominan Anda dan pastikan bahwa benang atau tali yang menempel pada tampon mengarah keluar vagina Anda. Dengan tangan satunya, bukalah labia atau bibir vagina Anda. Bagian ini adalah lipatan kulit di sekitar bukaan vagina Anda. Jangan takut keliru dengan uretra atau saluran kemih karena uretra sangat kecil sehingga tampon atau jari tidak mungkin bisa masuk.

Secara perlahan, posisikan tampon ke dalam labia dan dorong ke dalam. Setelah tampon berada di dalam vagina, gunakan jari telunjuk Anda untuk memastikan tampon masuk dengan sempurna. Benang atau tali tampon seharusnya berada di luar bibir vagina Anda. Jika tampon sudah masuk dengan sempurna, Anda seharusnya tidak bisa merasakannya. Kalau Anda merasa tidak nyaman, itu berarti tampon belum Anda pasang dengan benar. Buang tampon tersebut dan ulangi lagi dengan tampon yang baru.

Untuk mengganti atau membuang tampon, cuci bersih tangan Anda dan keringkan. Secara perlahan, tarik benang atau tali tampon yang berada di luar vagina Anda.

Seberapa sering Anda harus mengganti tampon?

Anda tidak disarankan untuk menggunakan tampon jika tidak sedang haid atau jika laju darah menstruasi Anda sangat sedikit. Sebaiknya Anda mengganti tampon setiap 3 sampai 5 jam sekali. Satu buah tampon bisa digunakan tak lebih dari 6 jam. Maka, hindari penggunaan tampon selama Anda tidur di malam hari. Jika Anda memang ingin menggunakan tampon selama tidur, jangan lupa pasang alarm dan langsung ganti tampon Anda saat bangun. Menggunakan tampon terlalu lama bisa meningkatkan risiko Toxic Shock Syndrome yang bersifat fatal.   

Apa itu Toxic Shock Syndrome?

Toxic shock syndrome (TSS) adalah penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi bakteri, bukan karena tampon itu sendiri. Umumnya sindrom ini disebabkan oleh racun yang diproduksi oleh bakteri Staphylococcus aureus (staph), tapi pada beberapa kasus penyebabnya adalah racun dari bakteri Streptococcus (strep) grup A.

TSS bisa terjadi pada wanita yang menggunakan tampon. Tampon tak hanya menyerap darah menstruasi Anda, tapi juga berbagai cairan alami yang dibutuhkan oleh vagina. Terutama jika darah menstruasi Anda sedang sedikit tapi Anda memakai tampon dengan daya serap tinggi. Akibatnya, berbagai bakteri bisa tumbuh dan berkembang biak, termasuk bakteri penyebab TSS.

Penyakit ini jarang sekali terjadi pada wanita yang menggunakan tampon. Hanya 17 dari 100.000 wanita yang memiliki risiko terserang TSS setiap tahunnya. Namun, ada baiknya Anda berjaga-jaga dan memahami gejalanya. Biasanya TSS ditandai dengan munculnya ruam pada kulit, demam tinggi, mual atau muntah-muntah, diare, kulit pucat, dan nyeri otot atau kepala.

Apakah Anda masih perawan setelah menggunakan tampon?

Keperawanan Anda tidak akan hilang karena penggunaan tampon. Anda hanya akan kehilangan status perawan Anda melalui penetrasi vagina. Anda juga tak perlu khawatir selaput dara Anda akan sobek ketika memasukkan tampon. Selaput dara adalah jaringan kulit sangat tipis yang menempel pada dinding vagina, bukan menutupi seluruh bukaan vagina seperti yang banyak dipercaya orang. Selaput dara memiliki bukaan pada bagian tengah yang memungkinkan darah menstruasi keluar. Selain itu, selaput dara juga bersifat elastis sehingga jika bisa meregang mengikuti tampon ataupun penis. Jadi sangat kecil kemungkinannya selaput dara akan sobek ketika menggunakan tampon. Namun, jika selaput dara memang sobek karena celahnya yang terlalu sempit atau tipis, keperawanan Anda tidak lantas menghilang karena sobeknya tidak disebabkan oleh penetrasi vagina.

BACA JUGA:

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Mengenal Fungsi Testis, Anatomi, dan Risiko Penyakit yang Menyertainya

    Fungsi testis sangat penting sebagai salah satu bagian organ reproduksi pria. Kenali anatomi testis normal dan risiko penyakit yang menyertai berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Adinda Rudystina
    Kesehatan Pria, Kesehatan Penis 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

    Semua Hal yang Penting Diperhatikan Pasca Operasi Usus Buntu

    Pasca operasi usus buntu Anda tidak dianjurkan kembali beraktivitas. Anda juga perlu menghindari beberapa pantangan setelah operasi usus buntu.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Kesehatan Pencernaan, Radang Usus Buntu 19 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

    Segudang Manfaat Daun Sirih Hijau dan Merah yang Sayang Dilewatkan

    Anda pasti sudah akrab dengan manfaat daun sirih untuk hentikan mimisan. Meski begitu, masih ada banyak lagi khasiat daun sirih untuk kesehatan. Penasaran?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    5 Manfaat Propolis, Getah Lebah yang Penuh Khasiat (Tidak Kalah dari Madu!)

    Propolis disebut-sebut berkhasiat sebagai obat herbal untuk mengatasi gejala herpes, mengobati luka kulit, dan meredakan maag. Benarkah?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara tahan lama

    Berbagai Cara Agar Pria Tahan Lama Saat Berhubungan Seks

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
    hidung meler

    7 Penyebab Hidung Meler serta Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
    urat menonjol pada orang muda

    6 Penyebab Urat Anda Menonjol dan Terlihat Jelas di Kulit

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    pertolongan pertama keracunan makanan

    Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Ivena
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit