Lebih Baik Pakai Pembalut Kain Atau Pembalut Sekali Pakai?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Juni 2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Beberapa dekade lalu, pembalut kain lebih umum dipakai oleh wanita yang sedang haid karena masih sangat jarang ada yang memproduksi menstrual cup, tampon, ataupun pembalut sekali pakai secara massal. Meski begitu, bentuk pembalut kain zaman dulu mirip dengan pembalut sekali pakai zaman sekarang. Pembalut ini hanya terbuat dari beberapa lapis kain yang dipotong persegi panjang, dan diselipkan ke celana dalam. Tapi pernahkah Anda penasaran, apakah pembalut kain jadul ini lebih aman dan sehat dibandingkan dengan pembalut kertas sekali pakai, yang katanya banyak bahan kimianya? Intip di sini perbandingannya.

Ketika Anda menggunakan pembalut kain….

Pemakaian pembalut kain dirasa lebih hemat waktu dan biaya, serta lebih ramah lingkungan karena Anda tak perlu repot untuk bolak-balik mengganti pembalut. Secara teknis, Anda memang bisa saja memakai satu pembalut (apapun jenisnya) yang sama selama seharian penuh meski tidak terasa nyaman — asal tidak bau dan merembes bocor. Selain lebih ramah lingkungan, memakai pembalut kain dapat mengurangi risiko ruam iritasi di selangkangan yang sering muncul akibat bahan pembalut kertas yang umumnya kasar dan mengandung bahan kimia.

Namun Frederico Patiricia dokter spesialis kandungan, dikutip dari Kompas, mengatakan bahwa kalau memakai pembalut kain terlalu lama akan menyebabkan area vagina dan sekitarnya gampang lembap. Pasalnya, bahan kain yang dipakai untuk pembalut bekerja layaknya bahan kaos katun yang gampang menyerap keringat. Hal inilah yang dapat memicu pertumbuhan bakteri di organ kewanitaan Anda.

Bakteri yang berlebihan di dalam vagina bisa menyebabkan iritasi, peradangan, bau setelah berhubungan seks, keputihan abnormal, dan gejala lainnya. Untuk mencegah hal ini, Anda tetap harus rutin mencuci, membilas dan mengeringkan kain pembalut setiap habis dipakai.

Ketika Anda menggunakan pembalut sekali pakai…

Di sisi lain, meski daya tampung pembalut kertas sekali pakai jauh lebih kuat daripada pemablut kain namun pembalut ini diproduksi massal setelah melewati berbagai proses kimiawi. Bahan kertas yang digunakan umumnya berasal dari kertas daur ulang  yang sudah dicuci dan disteril memakai bahan kimia dan pemutih.

Ada kemungkinan bahwa pembalut sekali pakai yang ada di pasaran pada umumnya mengandung beberapa bahan berbahaya seperti klorin, dioxin, serat sintetis dan aditif petrokimia. Temuan ini didapat setelah tim periset mencoba membakar pembalut kertas sebagai percobaan. Ketika pembalut dibakar, asap yang keluar tebal dan berwarna kehitaman tanda adanya bahan-bahan kimia yang bereaksi terhadap panas.

Meski lebih steril karena Anda bisa mengganti pembalut setiap 3-4 jam sekali, pembalut sekali pakai dapat menambah volume sampah rumah tangga.

Jadi, mana yang lebih baik: Pembalut kain atau pembalut sekali pakai?

Sebetulnya, kedua pembalut ini sama berisiko dan sama bermanfaatnya untuk menampung darah menstruasi yang keluar. Namun, jika ditelisik mana yang lebih sehat, itu semua tergantung cara pemakaian Anda. Semua risiko di atas umumnya bisa dicegah kalau Anda memerhatikan kebersihan vagina selama menstruasi.

Disarankan juga jangan membuang pembalut di dalam toilet. Pembalut yang menumpuk akan menyebabkan mampet dan menjadi sampah polutan setelahnya. Bersihkan pembalut dari cairan menstruasi setelah digunakan, mengingat banyak hewan yang tertarik dengan aroma cairan menstruasi. Sehabis itu, lapisi dengan bungkus plastik atau koran bekas saat membuang.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit