home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Tonsilitis Kronis, Saat Radang Amandel Tak Kunjung Sembuh

Tonsilitis Kronis, Saat Radang Amandel Tak Kunjung Sembuh

Radang amandel atau tonsilitis adalah penyakit yang umum dialami oleh anak-anak berusia 5-7 tahun. Gejalanya ditandai dengan amandel yang tampak merah dan membengkak. Tonsilitis kronis terjadi ketika gejala radang amandel berlangsung lebih dari 2 minggu dan sering kambuh. Oleh sebab itu, diperlukan penanganan medis untuk menghentikan peradangan kronis pada amandel.

Penyebab tonsilitis kronis

Amandel atau tonsil merupakan sepasang organ kecil yang terletak di belakang tenggorokan. Pada anak-anak, amandel rentan mengalami infeksi akibat virus atau bakteri sehingga sering mengalami peradangan. Saat terinfeksi, amandel akan bengkak dan menimbulkan rasa sakit saat menelan.

Radang amandel bisa berlangsung sementara (akut) yang akan sembuh dalam beberapa hari. Namun, tonsilitis kronis menyebabkan peradangan berlangsung lebih lama serta lebih sering kambuh dalam waktu kurang dari setahun.

Meski lebih sering dialami oleh anak-anak, tonsilitis kronis ini juga bisa dialami oleh anak remaja dan orang dewasa.

Radang amandel alias tonsilitis yang berlangsung lama dan berulang bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut studi berjudul Chronic Tonsillitis and Biofilms, beberapa faktor penyebab dari tonsilitis kronis di antaranya:

  • Infeksi bakteri yang kebal terhadap antibiotik karena pengobatan antibiotik untuk radang amandel yang tidak tuntas
  • Kondisi sistem imun yang lemah sehingga tidak bisa menghalau infeksi bakteri pada amandel
  • Kebiasaan tidak sehat seperti merokok dan kurang menjaga kebersihan mulut
  • Paparan radiasi

Terdapat juga temuan yang menunjukkan bahwa tonsilitis yang sering kambuh berhubungan dengan kelainan genetik.

Tonsilitis memang bisa disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Namun, peradangan kronis pada amandel lebih sering berkaitan dengan infeksi bakteri, yaitu bakteri Streptococcus grup A. Bakteri ini merupakan bakteri yang sama dalam menyebabkan penyakit radang tenggorokan yang sering dialami anak-anak, yaitu strep throat.

Gejala yang membedakan tonsilitis akut dan kronis

operasi amandel

Tonsilitis dapat dikatakan kronis apabila gejala radang amandel telah berlangsung lebih dari 10 hari atau 2 minggu. Penderita tonsilitis kronis umumnya mengalami gejala yang lebih serius dibandingkan radang amadel akut.

Peradangan amandel yang sering kambuh bisa menyebabkan terbentuknya batu amandel, yaitu benjolan putih yang terbentuk dari penumpukan bakteri, sel-sel mati, dan partikel kotor. Batu amandel ini dapat menyebabkan bau napas tak sedap.

Selain itu, ada pula gejala lain yang dialami akibat radang amandel kronis, seperti:

  • Pembengkakan amandel
  • Radang tenggorokan
  • Benjolan lunak di leher akibat pembengkakan getah bening
  • Nyeri pada rahang, leher, dan telinga akibat pembengkakan kelenjar getah bening
  • Kesulitan membuka mulut
  • Kesulitan menelan makanan
  • Mendengkur atau ngorok saat tidur
  • Suara serak bahkan hampir hilang
  • Demam tinggi berulang

Komplikasi radang amandel kronis

Peradangan pada amandel yang berlangsung pada waktu lama bukan hanya menyebabkan rasa mengganjal, perih, dan nyeri pada tenggorokan. Jika dibiarkan tanpa pengobatan medis, tonsilitis kronis berisiko menimbulkan berbagai gangguan dan penyakit komplikasi, seperti:

  • Gangguan pernapasan, bisa sangat terasa saat tidur
  • Meluasnya infeksi pada jaringan lain di sekitar amandel
  • Penyebaran infeksi pada organ lain yang menyebabkan demam rematik dan radang ginjal (glomerulonefritis).
  • Pembentukan kantung bernanah pada amandel (abses peritonsil)

Apabila mengalami gejala tonsilitis kronis, segera periksakan diri ke dokter spesialis THT (telinga, hidung, tenggorok). Dalam mendiagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengamati gejala.

Untuk memastikan apakah radang tenggorokan kronis disebabkan oleh bakteri, dokter akan melakukan rapid test yang hasilnya keluar lebih cepat atau tes usap (swab test) untuk mengambil sampel cairan di belakang tenggorokan. Sampel selanjutnya diteliti di laboratorium untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri Streptococcus. Anda akan memeroleh hasilnya dalam beberapa hari.

Cara mengobati tonsilitis kronis

operasi amandel

Pengobatan untuk tonsilitis kronis bertujuan untuk menghentikan peradangan, mengatasi gejala, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Jika dari hasil pemeriksaan dikonfirmasi penyebab peradangan pada amandel adalah bakteri, pengobatan melalui antibiotik akan diberikan. Selain itu, dokter akan meresepkan obat pereda nyeri, seperti ibuprofen, paracetamol, atau obat semprot untuk meredakan gejala sakit tenggorokan.

Dalam kondisi tertentu, dokter akan merekomendasikan pengobatan tonsilitis kronis melalui operasi pengangkatan amandel. Namun, hal ini bergantung dari tingkat keparahan penyakit dan kondisi kesehatan Anda secara keseluruhan.

1. Antibiotik

Antibiotik sebagai obat radang amandel berguna untuk membasmi bakteri ataupun menghentikan infeksi yang menyebabkan pembengkakan amandel. Ketika mulai mengonsumsi antibiotik, gejala radang amandel kronis yang dialami mulai mereda secara perlahan.

Jenis antibiotik yang biasanya digunakan dalam mengobati tonsilitis kronis adalah:

Antibiotik hanya dapat digunakan untuk mengobati tonsilitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Jika radang yang Anda miliki disebabkan oleh infeksi virus, antibiotik tidak akan ampuh untuk mengobatinya.

Patuhi semua anjuran dari dokter terkait dengan aturan konsumsi antibiotik. Obat antibiotik bisanya diberikan untuk beberapa kali dan harus dihabiskan sekalipun kondisi Anda sudah jauh lebih membaik.

Jangan meminum obat antibiotik secara sembarangan. Hal itu berisiko menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, sehingga berpotensi meningkatkan risiko komplikasi.

2. Operasi pengangkatan amandel

Gejala tonsilitis kronis mungkin saja tidak kunjung membaik atau bahkan bertambah parah, sekalipun telah diberikan obat-obatan. Peradangan yang terjadi juga mereda untuk sementara saja, tapi kemudian kambuh lagi.

Jika hal ini terjadi, dokter akan merekomendasikan untuk melakukan tonsilektomi atau operasi pengangkatan amandel. Pada operasi ini seluruh bagian amandel akan diangkat sehingga tidak lagi menimbulkan peradangan yang mengganggu.

Meskipun amandel memang berperan dalam menghalau infeksi penyakit yang masuk melalui mulut, tapi radang amandel yang sering kambuh tentunya berdampak besar terhadap kondisi kesehatan Anda.

Gejala tonsilitis kronis bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti pekerjaan atau kegiatan belajar, bahkan bisa menimbulkan komplikasi berbahaya. Operasi amandel dapat membantu meningkatkan kualitas hidup Anda.

Namun, operasi amandel biasanya tidak menjadi pilihan pertama untuk setiap kasus tonsilitis kronis. Biasanya, dokter akan terlebih dulu menyembuhkan peradangan pada amandel semaksimal mungkin.

Pengobatan tonsilitis kronis melalui operasi akan menjadi pilihan yang terbaik jika:

  • Radang amandel terjadi sekitar 5-7 kali dalam 1 tahun.
  • Radang amandel terjadi setidaknya 5 kali selama 2 tahun berturut-turut, atau 3 kali selama 3 tahun berturut-turut.
  • Radang amandel terus-menerus menghambat pekerjaan, kegiatan belajar, bahkan menyulitkan aktivitas sehari-hari seperti berbicara, makan, dan tidur.
  • Pengobatan melalui antibiotik tidak lagi ampuh menyembuhkan peradangan.
  • Telah menimbulkan komplikasi, seperti gangguan tidur, penyebaran infeksi ke organ lain, dan kerusakan amandel.

Apabila terdapat gangguan lain yang menjadi dampak dari tonsilitis kronis, tapi tidak disebutkan, Anda bisa mendiskusikannya dengan dokter. Nantinya, dokter akan menentukan pengobatan apa yang paling tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Anda.

Terlepas dari jenis pengobatan yang akhirnya dijalani, Anda tetap perlu melakukan perawatan tonsilitis kronis secara mandiri. Pastikan agar tubuh selalu mendapatkan cairan yang memadai dengan banyak minum air. Perbanyak juga istirahat guna meningkatkan fungsi sistem imun sehingga Anda bisa lebih cepat pulih.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

bin Abu Bakar, M., McKimm, J., Haque, S., Majumder, A., & Haque, M. (2018). Chronic tonsillitis and biofilms: a brief overview of treatment modalities. Journal Of Inflammation Research, Volume 11, 329-337. https://doi.org/10.2147/jir.s162486

Regoli, M., Chiappini, E., Bonsignori, F., Galli, L., & de Martino, M. (2011). Update on the management of acute pharyngitis in children. Italian Journal Of Pediatrics, 37(1), 10. https://doi.org/10.1186/1824-7288-37-10

Randel, A. (2011). AAO-HNS Guidelines for Tonsillectomy in Children and Adolescents. American Family Physician, 84(5), 566-573. Retrieved from https://www.aafp.org/afp/2011/0901/p566.html

ENT Health. (2020). Tonsillitis. Retrieved 8 October 2020, from https://www.enthealth.org/conditions/tonsillitis/#:~:text=Patients%20with%20symptoms%20of%20tonsillitis,pharynx%20(rapid%20strep%20testing).

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 29/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.