home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Manakah yang Lebih Sesuai Saat Cedera, Kompres Panas atau Kompres Dingin?

Manakah yang Lebih Sesuai Saat Cedera, Kompres Panas atau Kompres Dingin?

Cedera merupakan salah satu risiko yang mungkin timbul dan perlu dihindari saat berolahraga. Sebagai pertolongan pertama, pada umumnya kita mengompres bagian yang cedera untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan. Ada dua metode untuk kompres cedera, yakni kompres hangat dan dingin. Lantas, manakah metode yang tepat sesuai dengan kondisi cedera Anda?

Jenis kompres untuk meredakan cedera

Kompres hangat dan dingin merupakan dua jenis metode yang mudah dan paling sering digunakan untuk meredakan berbagai keluhan. Namun, tahukah Anda kapan saat yang tepat untuk menggunakan kompres hangat atau kompres dingin?

Selain itu, apa saja perbedaan manfaat dan bagaimana cara melakukan masing-masing metode kompres tersebut? Dalam keadaan apa saja kompres tidak boleh Anda gunakan? Nah, selengkapnya bisa Anda simak melalui ulasan berikut ini.

Kompres hangat

bantal pemanas kompres hangat

Sangat umum digunakan saat demam, kompres hangat juga bisa membantu mengelola nyeri dan cedera. Dikutip dari University of Rochester Medical Center, kompres hangat bisa membawa lebih banyak darah untuk mengurangi kekakuan sendi dan kejang otot.

Bagaimana cara kerja kompres hangat?

Suhu hangat dapat memperlebar pembuluh darah sehingga aliran darah dan suplai oksigen lebih mudah mencapai daerah yang sakit. Metode ini akan membantu relaksasi dari otot dan mengurangi nyeri. Kompres dengan suhu hangat juga akan mengurangi kekakuan dan meningkatkan rentang gerak bagian tubuh yang nyeri.

Kapan sebaiknya kompres hangat?

Kompres hangat umumnya merupakan metode yang tepat untuk membantu menurunkan demam. Pembuluh darah yang melebar akibat suhu hangat bisa membantu pengeluaran panas dari tubuh. Sebagai kompres cedera, metode ini biasa untuk meredakan nyeri otot atau sendi yang sudah berlangsung lama (kronik) sebelum melakukan aktivitas.

Beberapa kondisi masalah kesehatan juga bisa Anda redakan dengan bantuan kompres hangat, antara lain:

  • nyeri dan kekakuan akibat arthritis,
  • kejang leher akibat sakit kepala,
  • kram atau ketegangan otot, dan
  • tendinosis, nyeri tendon dalam jangka panjang (hanya setelah peradangan reda).

Walau bisa mengurangi rasa nyeri, kompres hangat tidak boleh Anda gunakan pada luka yang baru atau cedera yang berlangsung kurang dari 48 jam. Hal ini malah memperburuk kondisi luka akibat penumpukan cairan pada lokasi yang cedera dan meningkatkan nyeri.

Kompres hangat juga tidak boleh Anda gunakan pada luka terbuka dan luka yang masih terlihat bengkak. Orang yang memiliki kondisi tertentu, seperti diabetes, infeksi kulit, penyakit pembuluh darah, multiple sclerosis, dan trombosis vena dalam, sebaiknya menghindari kompres hangat. Beberapa kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko luka bakar pada kulit.

Jika ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dulu ke dokter Anda sebelum menggunakan kompres hangat untuk cedera.

Bagaimana cara melakukan kompres hangat?

Kompres hangat untuk cedera otot kronik bisa Anda berikan melalui handuk yang direndam dalam air hangat, botol berisi air hangat, atau bantal pemanas yang khusus dirancang untuk mengompres.

Suhu yang digunakan untuk mengompres juga harus Anda perhatikan agar tidak terlalu panas. Sebaiknya, lakukan kompres hangat dengan suhu sekitar 40 derajat Celcius hingga 50 derajat Celcius.

Biasakan untuk tidak mengompres lebih dari 20 menit, kecuali jika Anda mendapat saran dari dokter. Pastikan pula Anda tidak langsung meletakkan sumber panas ke kulit, karena hal ini dapat menyebabkan luka bakar atau iritasi.

Kompres dingin

ice pack kompres dingin

Kompres dingin merupakan metode utama dalam kompres cedera yang termasuk dalam terapi dingin atau cryotherapy. Metode ini jadi solusi paling sederhana untuk mengelola rasa sakit dan bengkak akibat cedera.

Bagaimana cara kerja kompres dingin?

Kompres dingin biasa dipakai pada daerah yang bengkak atau memar. Berkebalikan dengan kompres hangat, melakukan kompres dingin dalam suhu rendah bisa merangsang penyempitan diameter pembuluh darah dan memperlambat aliran darah yang menuju ke lokasi cedera.

Pada bagian tubuh Anda yang mengalami cedera akan terjadi proses peradangan dan kerusakan pembuluh darah. Hal ini akan menyebabkan sel-sel darah keluar dari pembuluh darah sehingga menyebabkan kulit berwarna merah kebiruan.

Es atau air dingin dapat menurunkan jumlah darah yang keluar tersebut. Penurunan aliran darah ini akan menyebabkan berkurangnya zat-zat perangsang inflamasi atau peradangan yang bergerak menuju lokasi cedera, sehingga dapat mengurangi bengkak dan nyeri.

Kapan sebaiknya kompres dingin?

Kompres dingin biasa digunakan untuk cedera akut yang terjadi dalam 24 hingga 48 jam setelah terjadinya cedera. Dikutip dari Southern California Orthopedic Institute, kompres untuk cedera ini bertujuan untuk membantu meminimalisir pembengkakan, mengurangi pendarahan, dan mengurangi kejang atau nyeri otot pada sekitar area cedera.

Metode kompres ini paling baik Anda gunakan untuk cedera olahraga dan berbagai kondisi lainnya, seperti:

  • keseleo atau terkilir, terbentur, dan memar,
  • tendinitis, peradangan pada tendon (jaringan ikat antara otot dan tulang),
  • bursitis, peradangan pada kantong pelumas (bursae) pada bahu, siku, pinggul, lutut, atau kaki, dan
  • nyeri sendi akibat asam urat.

Anda tidak menggunakan kompres dingin pada persendian atau otot yang kaku. Beberapa kalangan juga sebaiknya menghindari metode kompresi ini, seperti orang dengan gangguan saraf sensorik, memiliki sirkulasi darah buruk, atau diabetes yang dapat menyebabkan kerusakan saraf dan berkurangnya sensitivitas (mati rasa).

Bagaimana cara melakukan kompres dingin?

Pemberian kompres dingin untuk cedera, seperti keseleo dan memar, dapat menggunakan es, kantong gel, atau handuk yang dibasahi air dingin. Bungkus es untuk kompres terlebih dulu dengan handuk agar suhu dingin tidak menyentuh kulit secara langsung agar tidak merusak kulit Anda.

Sama seperti pada kompres hangat, sebaiknya Anda tidak menempelkan kompres dingin lebih dari 20 menit. Angkat kompres setelah 20 menit, dan berikan jeda selama 10 menit sebelum kemudian mulai mengompres lagi.

Berhenti melakukan kompres dingin jika Anda mengalami mati rasa pada kulit area pengompresan. Jika memiliki penyakit jantung, hindari menggunakan kantong es pada bahu kiri, atau bagian depan dan samping leher.

Apabila kompres dingin tidak membantu menghilangkan rasa sakit dan nyeri Anda, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih memadai.

Kesimpulan

Kompres dingin dan kompres hangat memiliki manfaat tersendiri. Kompres dingin lebih cocok untuk cedera yang sifatnya baru terjadi antara 24 hingga 48 jam setelah kejadian. Sementara itu, kompres hangat berguna meredakan nyeri yang sudah berlangsung lama (kronik). Walau berbeda manfaat, cara melakukan kedua metode kompres cedera ini hampir sama.

Penting bagi Anda untuk menghindari suhu yang terlalu ekstrem, baik terlalu panas atau terlalu dingin saat melakukan kompres. Hindari juga kontak langsung antara kulit dan sumber panas atau dingin.

Terakhir, tentu saja bijaksanalah dalam memilih metode kompres yang tepat untuk kondisi Anda. Jika masih memiliki pertanyaan lebih lanjut, konsultasikanlah ke dokter Anda untuk menemukan solusi tepat masalah Anda.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pierce-Smith, D., Turley Jr., R., & Joseph, T. Ice Packs vs. Warm Compresses For Pain – Health Encyclopedia. University of Rochester Medical Center. Retrieved 26 September 2016, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=85&contentid=p00918.

Moe, J., Hanrahan, J., & Turley, R. Cold Therapy (Cryotherapy) for Pain Management – Health Encyclopedia. University of Rochester Medical Center. Retrieved 26 September 2016, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=134&contentid=95.

Gotter, A., & Marcin, J. (2019). Treating Pain with Heat and Cold. Healthline. Retrieved 19 April 2021, from https://www.healthline.com/health/chronic-pain/treating-pain-with-heat-and-cold.

Should You Ice or Heat an injury?. South Carolina Orthopedic Institute. Retrieved 19 April 2021, from https://www.scoi.com/patient-resources/education/articles/should-you-ice-or-heat-injury.

Should You Use Ice or Heat for Pain? (Infographic). Health Essentials from Cleveland Clinic. Retrieved 19 April 2021, from https://health.clevelandclinic.org/should-you-use-ice-or-heat-for-pain-infographic/.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Priscila Stevanni Diperbarui 06/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan