home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Histeroskopi

Apa itu histeroskopi?|Kapan saya perlu menjalani histeroskopi?|Pencegahan & peringatan|Prosesedur histereskopi|Komplikasi histereskopi
Histeroskopi

Apa itu histeroskopi?

Histeroskopi adalah sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam uterus atau rahim dengan menggunakan teleskop kecil (histeroskop).

Dikutip dari Cleveland Clinic, prosedur ini secara umum memungkinkan dokter melihat ke dalam rahim Anda untuk mendiagnosis dan mengobati penyebab perdarahan abnormal.

Histeroskop yang digunakan tergolong tipis dan mempunyai lampu, sehingga bisa dimasukkan melalui vagina.

Tidak hanya menjadi bagian dari proses diagnosis, prosedur ini juga dapat dijadikan sebagai pengobatan untuk kondisi tertentu.

Biopsi juga dapat dilakukan bersamaan dengan histeroskopi untuk mengambil sampel dari lapisan rahim.

Berbeda dengan histerektomi, prosedur histeroskopi digunakan untuk menemukan penyebab perdarahan pada rahim, terutama haid berat dan perdarahan setelah masa menopause.

Histeroskopi juga dapat digunakan untuk mengetahui jika Anda memiliki fibroid, polip, kanker endometrium, atau bentuk rahim yang tidak lazim.

Kapan saya perlu menjalani histeroskopi?

Sudah dijelaskan sedikit di atas apabila prosedur ini digunakan untuk mendiagnosis atau mengobati masalah pada rahim.

Ini dapat dilakukan untuk membantu menemukan penyebab infertilitas atau keguguran.

Maka dari itu, histeroskopi bisa menjadi prosedur pengobatan infertilitas sehingga Anda bisa melakukan program hamil.

Anda dapat melakukan prosedur histerektomi untuk berbagai kondisi seperti:

1. Polip dan fibroid

Histeroskopi dapat dilakukan untuk menghilangkan pertumbuhan non-kanker yang ditemukan dalam rahim seperti polip atau fibroid rahim.

Walaupun keduanya bersifat jinak, Anda perlu menghilangkannya untuk meminimalisir terjadinya masalah kesuburan pada wanita yang berujung pada kondisi susah hamil.

2. Sindrom asherman

Walaupun tergolong penyakit yang langka, tetapi kondisi ini juga bisa menyebabkan wanita susah hamil.

Hal ini karena adanya perlekatan antara dinding dan leher rahim yang membuat ukuran rahim jadi mengecil.

Maka dari itu, diperlukan prosedur histeroskopi agar tidak terjadi perubahan aliran menstruasi serta kemandulan.

3. Septum

Kondisi ini merupakan salah satu kelainan bentuk rahim yang dapat terjadi pada wanita.

Prosedur histeroskopi dapat membantu menentukan apakah ada jaringan tambahan yang menggantung dari atas.

Perlu diketahui apabila septum uterus ini juga bisa terjadi sejak lahir.

4. Perdarahan abnormal

Manfaat lain histeroskopi lainnya adalah dapat membantu mengidentifikasi penyebab aliran menstruasi yang banyak dan lama.

Selain itu, prosedur ini juga bisa mengatasi terjadinya kondisi perdarahan setelah menopause.

Diperlukan prosedur ablasi endometrium dengan menggunakan histeroskop dan alat lainnya.

Prosesnya adalah menghancurkan lapisan rahim untuk mengobati penyebab perdarahan hebat.

5. Endometriosis

Biasanya, wanita dengan kondisi endometriosis hanya memerlukan prosedur laparoskopi.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan diperlukan prosedur histeroskopi untuk melihat kondisi rahim sekaligus biopsi apakah terjadi infertilitas atau tidak.

Selain kondisi di atas, histeroskopi juga dapat dilakukan untuk mencari alat kontrasepsi seperti IUD atau spiral.

Terkadang, alat ini bisa berpindah posisi sampai ke dinding rahim dan sekitarnya.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan, prosedur ini tidak boleh digunakan apabila Anda sedang hamil, menderita infeksi panggul, kanker rahim, atau setelah melakukan operasi rahim.

Pencegahan & peringatan

Apa yang perlu saya ketahui sebelum menjalani histeroskopi?

Prosedur ini akan dilakukan ketika dokter membutuhkan diagnosis lebih lanjut mengenai kondisi Anda agar bisa cepat hamil.

Lalu, dokter mungkin akan merekomendasikan penjadwalan histereskopi di minggu pertama setelah menstruasi selesai.

Pada waktu ini, dokter bisa memberikan pandangan yang lebih lengkap mengenai kondisi bagian dalam rahim Anda.

Prosesedur histereskopi

Apa yang harus saya lakukan sebelum menjalani histeroskopi?

Diskusikan dengan dokter Anda tentang apa saja yang harus diperhatikan sebelum melakukan prosedur.

Baik dari kesehatan fisik hingga apa saja yang harus dihindari.

Seperti memerhatikan obat-obatan yang sedang dikonsumsi, alergi, atau kondisi kesehatan lainnya sebelum menjalani operasi.

Penting untuk selalu mengikuti instruksi dokter untuk berhenti makan atau minum sebelum operasi.

Lalu, Anda akan diberikan petunjuk sebelum operasi, seperti apakah diperbolehkan makan sebelum operasi.

Biasanya, Anda diharuskan berpuasa 6 jam sebelum prosedur. Namun, tetap diperbolehkan meminum cairan sampai beberapa jam sebelum operasi.

Bagaimana proses histeroskopi?

Sebelum prosedur dimulai, Anda akan diberikan obat yang akan membuat tubuh menjadi rileks.

Apabila dibutuhkan, dokter umumnya akan memberikan anestesi lokal atau bius total agar Anda tidak merasakan sakit.

Waktu yang diperlukan untuk melakukan histeroskopi adalah sekitar 5 menit hingga lebih dari 1 jam tergantung dari kondisi.

Berikut prosedur yang biasanya akan dilakukan:

  • Area vagina akan dibersihkan dengan menggunakan cairan khusus atau antiseptik.
  • Dokter akan melebarkan leher rahim untuk mempermudah masuknya histeroskop.
  • Histeroskop dimasukkan melalui vagina dan leher rahim agar mencapai rahim.
  • Rahim akan dipompa dengan gas (karbon dioksida) atau cairan untuk membersihkan darah atau lendir.
  • Lalu, dokter akan melihat rahim dan bukaan tuba falopi dari bantuan lampu histereskop.
  • Apabila pembedahan perlu dilakukan, alat kecil akan dimasukkan melalui histereskop.

Apa yang harus saya lakukan setelah menjalani histeroskopi?

Setelah prosedur, Anda diperbolehkan pulang pada hari yang sama atau pada keesokan harinya.

Begitu juga apabila Anda diberikan bius total, maka perlu menunggu sampai efek bius benar-benar hilang.

Tim medis akan menjelaskan pada Anda hasil dari histeroskopi serta penanganan yang diperlukan.

Merupakan hal yang wajar ketika merasakan ada gas di saluran pencernaan.

Kondisi ini biasanya akan berlangsung selama 24 jam. Lalu, mungkin Anda juga merasakan sakit di perut bagian atas.

Seharusnya, Anda dapat kembali melakukan aktivitas seperti biasa pada keesokan hari. Namun, ada kemungkinan bisa mengalami kram atau perdarahan ringan.

Maka dari itu, Anda akan diberi obat untuk membantu meringankan rasa sakit. Apabila terjadi demam, menggigil, hingga perdarahan hebat, segera temui dokter

Komplikasi histereskopi

Histeroskopi merupakan salah satu prosedur yang relatif aman. Namun, seperti operasi kecil lainnya, ada beberapa kemungkinan risiko atau komplikasi.

Hal ini terjadi kurang dari 1% kasus. Beberapa komplikasi atau risiko yang bisa terjadi, seperti:

  • Risiko yang berkaitan dengan anestesi atau bius.
  • Infeksi pada bagian tubuh tertentu.
  • Perdarahan hebat.
  • Cedera pada leher rahim, usus, atau kandung kemih.
  • Jaringan parut di dalam rahim.
  • Cairan yang menumpuk pada area tertentu.
  • Penggumpalan darah.
  • Reaksi terhadap zat yang digunakan untuk memperbesar rahim.

Anda dapat mengurangi risiko komplikasi dengan mengikuti instruksi dari dokter sebelum operasi, seperti berpuasa dan berhenti mengkonsumsi obat tertentu.

Mintalah ahli bedah untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai risiko pada Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hysteroscopy: Procedure, Uses & Recovery. (2020). Retrieved 4 September 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/10142-hysteroscopy

Hysteroscopy. (2020). Retrieved 4 September 2020, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/hysteroscopy

Hysteroscopy. (2020). Retrieved 4 September 2020, from https://www.acog.org/patient-resources/faqs/special-procedures/hysteroscopy

Laparoscopy and Hysteroscopy (booklet) . (2020). Retrieved 4 September 2020, from https://www.reproductivefacts.org/news-and-publications/patient-fact-sheets-and-booklets/documents/fact-sheets-and-info-booklets/laparoscopy-and-hysteroscopy-booklet/

What is a Hysteroscopy?. (2020). Retrieved 4 September 2020, from (2020). Retrieved 4 September 2020, from https://www.endometriosisaustralia.org/post/2016/08/15/what-is-a-hysteroscopy

Septate Uterus. (2020). Retrieved 4 September 2020, from https://www.texaschildrens.org/health/septate-uterus

Asherman’s Syndrome: Symptoms, Causes, Diagnosis & Treatments. (2020). Retrieved 4 September 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16561-ashermans-syndrome

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Atifa Adlina
Tanggal diperbarui 01/01/2021
x