home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sudah di Ujung Lidah, Tapi Tak Juga Ingat. Fenomena Apa Ini?

Sudah di Ujung Lidah, Tapi Tak Juga Ingat. Fenomena Apa Ini?

Anda mungkin pernah terjebak di situasi ini: ada orang yang bertanya kepada Anda mengenai sesuatu hal yang jelas-jelas Anda tahu dengan pasti. Namun, seketika Anda lupa sebenarnya apa, sih, satu kata yang Anda cari itu? Yang Anda ingat hanyalah huruf awalnya adalah S dan terdiri dari beberapa suku kata. Anda juga ingat sepertinya ada huruf E dan R, tapi Anda tidak dapat mengingat dengan jelas kata apa yang sebenarnya sudah siap terucap di ujung lidah Anda tersebut.

Inilah yang dikenal dengan fenomena tip of the tongue, alias “ujung lidah”. Kenapa ini bisa terjadi?

Penyebab fenomena tip-of-the-tongue atau “di ujung lidah”

Tip-of-the-tongue adalah perasaan percaya diri bahwa seseorang tahu akan suatu kata, namun gagal untuk mengingatnya kembali (Schwartz, 1999, 2002). Kegagalan dalam mengucapkan suatu kata ini terjadi karena seseorang “dihalangi”, “diganggu”, dan “dicegah” untuk mengingat suatu kata. Namun, setelah banyak penelitian baru yang muncul, kegagalan dalam mengucapkan suatu kata ini terjadi karena adanya kegagalan seseorang dalam mengingat kembali kata yang ingin diucapkan. Pada beberapa kasus, ini terjadi akibat gangguan pada tahapan dalam lexical retrival, yaitu “tempat” penyimpanan kata dalam memori manusia (Gollan & Brown, 2006).

Fenomena ini normal dan umum terjadi karena menurut simpulan dari penelitian yang pernah dilakukan, melupakan kata yang sudah di ujung lidah terjadi setidaknya sekali dalam seminggu dalam kehidupan sehari-hari seorang manusia (James & Burke, 2000; Schwartz, 2002). Gollan & Acenas (2004) dan Golan dkk. (2005) menyatakan bahwa fenomena ini lebih sering dialami oleh para bilingual alias orang yang menguasai lebih dari satu bahasa, karena orang-orang yang bicara lebih dari satu bahasa cenderung mengetahui lebih banyak kata daripada orang yang hanya menguasai satu bahasa.

Penelitian yang pernah dilakukan soal fenomena top-of-the-tongue

Roger Brown dan David McNeill (1996) adalah peneliti pertama yang melakukan penelitian formal tentang hal ini. Dalam penelitiannya, Brown dan McNeill merekayasa para respondennya untuk merasakan tip of the tongue. Pertama-tama, peneliti memberikan arti dari kata yang jarang digunakan dalam bahasa Inggris (sampan, ambergris, nepotism) dan meminta responden untuk menyebutkan kata mana yang sesuai dengan arti yang sebelumnya telah disampaikan. Responden segera memberikan jawaban yang benar, dan ada juga responden yakin bahwa mereka tidak pernah mendengar kata-kata tersebut.

Selanjutnya, peneliti merekayasa adanya tip-of-the-tongue. Responden yang sebelumnya telah mengetahui arti kata dari masing-masing kata asing tersebut diminta untuk mengganti kata asing tersebut dengan kata lain yang memiliki pengucapan yang serupa. Seperti saat ada arti dari sampan yang diberikan, responden diminta untuk mencari kata lain yang pengucapannya serupa, seperti saipan, siam, Cheyenne, sarong, sanching, dan symphoon.

Hasilnya, responden memberikan jawaban kata lain yang cenderung serupa dari kata asing pertama yang mereka ketahui. Sebanyak 49% dalam peneitian, responden memilih kata dengan kesamaan huruf pertama, dan sebanyak 48% memilih huruf dengan banyak suku kata yang sama dengan kata asing pertama.

Hal ini menjelaskan bahwa saat Anda dilanda dengan tip-of-the-tongue, Anda dapat mengidentifikasikan kata yang ingin Anda ucapkan. Ciri yang terpikirkan oleh Anda, seperti huruf pertama atau jumlah suku kata, cenderung benar dengan huruf yang ingin Anda ucapkan. Selain itu, Anda juga cenderung untuk mengganti kata yang tidak terpikirkan itu dengan kata lain yang cenderung sama pengucapannya.

Gollan & Acenas (2004) dan Golan & Brown (2006) juga menyatakan bahwa orang yang menguasai lebih dari satu bahasa kadang menggantikan kata yang ingin diucapkan ke bahasa lain yang ia kuasai.

Jadi…

Seperti yang diungkapkan di atas, tidak perlu malu jika Anda melupakan suata kata atau nama yang sudah ada di ujung lidah, karena fenomena ini adalah yang normal terjadi pada manusia, bahkan lebih sering terjadi dibandingkan fenomena déjà vu yang biasanya dirasakan hanya satu hingga dua kali dalam hidup seseorang (Brown, 2004). Tetap terbuka jika Anda sebenarnya mengetahui istilah-istilah penting, yang tidak boleh adalah bilang paham, namun sebenarnya tidak, setuju?

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Cognition 7th Edition by Matlin. Diakses pada 2 September 2016

http://www.columbia.edu/cu/psychology/metcalfe/PDFs/Schwartz_Metcalfe_inPress.pdf. Diakses pada 2 September 2016

http://mercercognitivepsychology.pbworks.com/w/page/32859313/Tip-of-the-Tongue%20Phenomenon. Diakses pada 2 September 2016

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Gadis Rima Astari Diperbarui 01/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Satya Setiadi
x